Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Mengintip Kemeriahan CSD Kedua di Surabaya

Published

on

cassette-store-day-2016-03

Dari Valerian sampai Ramones: Semua lapak yang ada di CSD 2016 Surabaya kemarin cukup beragam. (Foto: Rido Ramadhan)

Satu hal yang paling berkesan dari perayaan Cassette Store Day (CSD) 2016 di Surabaya kemarin (16/10) tidak akan lepas dari penampilan band-bandnya. Jika tahun lalu, hanya ada hiburan akustik, DJ dan music selector, kemarin dengan format gig, CSD seakan lebih menggigit. Pasalnya, tidak sedikit yang merana untuk menahan khilaf berlebih saat melihat berjejer dan bertumpuk rilisan fisik. Jadi, berdiri di luar area lapak sambil menyaksikan aksi band yang perform bisa jadi solusinya.

Perlu disimak juga terkait seberapa besar animo kota ini terhadap rilisan fisik. Merujuk dari kata khilaf tadi, terlihat benar bagaimana daya beli di sana kian bergelora. Mau rilisan lokal, nasional, atau internasional; semua jadi makanan utama. Paling terasa adalah ketika terjadi perburuan album fisik band lokal, seperti halnya album-album dari Egon Spengler, Timeless, Indonesian Rice, atau WolfxFeet yang begitu dicari, sampai para pelapak hanya bisa menjawab: “maaf ya, stoknya lagi habis”. Cukup menyenangkan, seperti band lokal kembali jadi primadona di kotanya sendiri.

Processed with Snapseed.

Penampilan dari Pijar, band perantauan dari Medan yang ikut meramaikan CSD di Surabaya kemarin. (Foto: Rido Ramadhan)

Satu lagi yang cukup disyukuri dari pergelaran kemarin; langit jauh dari mendung. Surabaya tetap cerah di malam hari, secerah saat band Ibukota Pijar memancarkan groove-groove dance, ketukan upbeat dengan lirik pop. Mereka menutup sesi full set band yang kemarin bergantian menampilkan Hecht, Silento, The Flins Tone, Hawk, dan Dhurma. Sejak muncul di pamflet, rasa penasaran timbul terhadap band ini. Lewat durasi kurang lebih setengah jam, Pijar memberi alasan mengapa mereka bisa muncul di tengah desakan musik keras yang tampil sebelumnya.

Meski tergolong baru, band ini pandai menjadi moodbooster penontonnya. Lagu-lagunya masih asing, bahkan album baru mereka Exposure tidak begitu nampak di booth-booth CSD. Tapi karena musik yang mereka bawa cukup easy listening jadi bukan perkara sulit bagi penonton untuk merapat, berjoget, sambil sesekali stage diving kecil-kecilan. Suasana makin riuh saat band rantauan asal Medan yang menetap di Ibukota ini memainkan anthem sejuta umat milik The Cure, yakni Boys Don’t Cry.

“Terima kasih Surabaya..terima kasih Surabaya…terima kasih Surabaya…” sebut vokalis mereka berkali-kali dengan tatapan kagum melihat betapa apresiatifnya gig kemarin. Selepas lagu tadi, crowd meminta encore yang tak perlu dipikir panjang, Pijar menggelontor satu lagu tambahan sebelum masuk ke sesi santai yang digiring ke DJ Dellen.

Processed with Snapseed.

Apapun musiknya, stage diving wajib hukumnya. (Foto: Rido Ramadhan)

Sebelum CSD berlangsung kemarin sempat penasaran juga kenapa album fisik yang muncul tak sebanyak tahun lalu. Tapi nyatanya itu tidak seberapa penting, karena memang sesi live band yang menghibur jauh lebih penting. “Dari sore sampe malem orang yang dateng terus nambah. Untuk gig skala medium dengan penonton mencapai angka 400 itu udah lumayan. Temen-temen dari pelapak juga keliatan puas, entah dari ramainya pengunjung atau transaksinya,” cerita Eri Rukmana menggambarkan suasana kemarin.

Eri bersama rekan-rekannya di Sub Record sejak tiga tahun kebelakang cukup getol mengangkat kembali era rilisan fisik, entah melalui acara ataupun memproduksi album fisik dengan labelnya masing-masing. “Salah satu yang paling kerasa itu dengan adanya persaingan sehat antar band. Jadi pas satu band baru rilis album, bandnya lainnya ikut terpacu untuk rilis album juga,” tambah Rudy dari George Rekord. Meski begitu, animo akan rilisan kaset yang dirasakan hampir di sebagian negeri ini ternyata sedikit memberi dampak kurang memuaskan. Akibat, vendor percetakan cukup ramai sejak beberapa bulan lalu, tiga rilisan band lokal yang dijadwalkan keluar saat CSD kemarin harus ditunda. “Banyak banget band-band dari kota lain yang ngantri ngerilis album, jadinya album Kolibri, Pedestrian Drama, sama Dandelions gak bisa ikutan CSD,” tutup Eri.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Silaturockme: Forum Dua Arah Antara Musisi & Media

Published

on

Forum yang mempertemukan antara musisi dan media, kini bukan lagi makanan langka. Apalagi jika membahas hal paling mendasar; tentang bagaimana di publish dan apa saja syaratnya? “Kene goblok-goblokan ae yo, cek podo takok. Mene gak ngisin-ngisini lek ketemu wong media (Kita di sini goblok-goblokan aja ya. Biar pada tanya semua, besok gak malu-maluin kalo ketemu orang media,red)” celetuk Abas, selaku host yang berduet dengan Cak Boker.

Diskusi bertajuk ‘Silaturockme’ yang digelar pekan lalu (1/7) di P-Two Cafe tersebut melibatkan Brian dari Vojo Music, Ian Darmawan (Ronascent), dan Wira (Apresiasi ID & M-Radio). Ketiganya saling berbagi pengalaman mereka ketika menemui berbagai macam musisi. Adapun forum tersebut berjalan dua arah dengan banyaknya pertanyaan silih berganti. Setelah diskusi, acara berlanjut ke gigs, dengan 11 band kolektif yang tampil secara acak berdasar hompimpa.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EVENTS

Gallery: Silaturockme

Published

on

Momen silaturahmi memang selalu jadi agenda rutin semua orang selepas lebaran. Begitulah yang melatarbelakangi kolektif Dilarang Duduk kala menggagas Silaturockme. Sebelas band yang tampil disamaratakan, main pertama atau terakhir ditentukan berdasarkan undian. Selain gigs, diselipkan juga obrolan berbobot dari beberapa perwakilan media, dalam forum tersebut meleburlah berbagai obrolan mendasar tentang sinergitas media dan musisi.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Gallery: Rockmaiden, Oase Gigs di Tengah Ramadhan

Published

on

Persiapan alat dan (mungkin) jam tarawih membuat acara kolektif ini molor. Meski begitu, gigs ini mampu menghibur, terlebih di tengah pasifnya skala gigs saat ramadhan. Jajaran band pengisi bermusik berdistorsi berat seperti Electric Bird, X60 Jaran, The Classhat, Dandelions, The Old Pines, dan Frank The Syndicate membayar segala kelelahan penonton dalam menunggu. Berikut foto-foto dari fotografer kami.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya