Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Mengapa Ada Rhoma Irama di Synchronize Festival 2016?

Published

on

sychronize-fest

Rhoma Irama bersama Soneta Group akan jadi satu dari ratusan musisi Indonesia yang tampil di Sychronize Fest. (Foto: Putri Indah Macharani)

Solois Monita Tahalea mengaku ingin sekali menonton Rhoma Irama bersama Soneta Group nya. Hal ini dia sampaikan dalam jumpa pers Synchronize Fest 2016 di Graha Mitra, Gatot Subroto, Jakarta kemarin (19/10). Saat MC bertanya soal penampil mana yang paling ingin dilihat Monita, pemilik album Dandelion ini pun sontak menjawab, “aku ingin nonton Soneta sama bang Haji (Rhoma Irama),” ujarnya.

Bukan hanya Monita, beberapa penampil di Synchronize Fest pun mengaku ingin menonton kelompok musik legendaris milik Haji Rhoma Irama itu di hari kedua festival besutan Dyandra Promosindo tersebut. Seperti halnya solois Kunto Aji, gembong metalcore Solo, Down For Life, sampai sesama pemusik di era 70-an, OM PMR (Orkes Moral Pengantar Minum Racun, red) pun lega akhirnya bisa menonton lagi penampilan grup pelantun ‘Mirasantika’ itu. “Kami pun sejak tahun 70-an rasanya belum pernah berbagi panggung dengan Soneta Group,” aku Budi Padukone, gitaris OM PMR.

Synchronize Festival 2016 sendiri adalah acara pertama yang mempertemukan Soneta Group dengan puluhan band dan musisi dari berbagai genre. Di festival ini pula lah untuk pertama kalinya seluruh pengisi acaranya berasal dari negeri sendiri. Lantas sebagai penampil paling berumur dan legendaris, Soneta Group besutan Rhoma Irama pun didapuk sebagai headliner dalam festival yang akan digelar pada 28 – 30 Oktober nanti. Rencananya Soneta Group akan tampil di hari kedua, Sabtu, 29 Oktober 2016. “Gagasannya sangat cemerlang, karena acara ini akan mengangkat harkat para seniman indie untuk dapat eksis di Indonesia dengan persaingan global seperti sekarang ini,” ungkap Rhoma Irama.

Lanjutnya, meski awalnya sedikit heran saat diajak tampil, Rhoma Irama juga mengungkapkan salutnya terhadap digelarnya Synchronize Festival ini. “Saya hormat akan gagasan pemuda-pemuda ini karena ekonomi kreatif kita di Indonesia ini yang paling siap untuk bersaing dengan negara-negara lain. Oleh karena itu, dengan diback-up oleh BEKRAF, industri dengan seniman-seniman lintas musik tadi bisa tumbuh dan bersaing secara sehat di Indonesia. Makanya, saya agak kaget juga: gue dangdut diikutin juga nih?” jelasnya panjang lebar, soal kenapa dia berkenan untuk tampil di festival ini.

Mendapat persetujuan Rhoma Irama sendiri bukan perkara mudah bagi Synchronize Festival, hingga akhirnya sang raja dangdut mau tampil. “Kami butuh tiga kali bertemu, baru pak Haji (Rhoma Irama) mau,” kata Rizky Aulia, Program Director festival ini. Ia menambahkan,”Pendekatan dengan Rhoma Irama agar bersedia tampil memang agak berbeda. Kami datang tidak langsung meminta Soneta Group tampil begitu saja, tapi kami menginformasikan maksud dan tujuan dari festival ini (dulu).”

“Seberapa penting peran Rhoma Irama di dalam perjalanan hidup musik Indonesia serta betapa besarnya respon positif anak muda terhadap karya-karya beliau di masa kini,” ungkap pria yang biasa disapa Ucup itu.

Mewakili Era 70-an

Selain menjelaskan proses melobi sang raja Dangdut, Rizky Aulia pun menjelaskan bagaimana proses kurasi total 104 penampil untuk tampil di 5 panggung festival ini.

“Awalnya kami membagi musik Indonesia dengan memecahnya berdasarkan tahun. Siapa-siapa saja sih band yang punya peranan penting, at least pernah stand out di masanya. Sebut saja Soneta bersama Rhoma Irama, juga OM PMR mewakili era 70-an. Sementara Krakatau Group di era 80-an, dan Sheila on 7 di generasi 90-an,” jelas Ucup lagi.

“Dan yang bisa bermain di sini tidak harus rilisan (label) demajors. Sebut saja ada Maliq & D’Essentials, ada The Groove, bahkan ada Sheila on 7 juga bukan rilisan kami,” tambah David Karto, Festival Director, sekaligus bos dari Demajors.

Arek Suroboyo asli lulusan kuli aplikasi messenger Jepang-Korea ini masih berusaha bertahan di dunia digital sambil menyambung hidup menjadi peliput musik akhir pekan. Gemar sekali dengan Sheila On 7 dan kasur-bantal-guling

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Menanti Via Vallen di Jazz Traffic 2018

Published

on

Errol Jonathans (kanan) bersama Nelly Lawson (kiri) ketika sesi prescon Jazz Traffic siang tadi (24/8) di Garden Palace Hotel. (Foto: Adven Wicaksono)

Apa yang ada di benak pikiran kalian saat mendengar nama Via Vallen? irama dangdut koplo? atau malah Marko Simic? Sudahlah, sejenak simpan dulu perspektif kalian tentang penyanyi fenomenal satu ini. Kami pun sempat terkaget-kaget kala Jazz Traffic (JTF) secara ofisial mengumumkan nama tersebut sebagai line up. Surprise! Kami pikir, munculnya Fourtwnty, Lala Karmela atau Sheila On 7 tahun lalu merupakan kejutan luar biasa. Tapi nyatanya, ada yang lebih bombastis. Sebuah pertaruhan nama besar festival tahunan gagasan maestro jazz Bubi Chen!

“Saya mendapat kabar, Via akan memainkan repertoar-repertoar jazz meskipun dia sebenarnya penyanyi dangdut. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri tentang kekayaan pilihan musik di JTF kali ini,” jelas Errol Jonathans, Direktur Utama Suara Surabaya Media sekaligus chairman Jazz Traffic ketika sesi prescon siang tadi (24/8) di Garden Palace Hotel, Surabaya. Benar, di penampilannya nanti, Via Vallen tidak membawakan musiknya selama ini, melainkan sebagai Via Vallen Jazz Traffic Project; sebuah format langka yang digadang-gadang (mungkin) hanya bisa ditemui di festival musik ini.

Dari kiri: Aoki, Rasvan dan Eet Sjaharanie. (Foto: Adven Wicaksono)

Tidak jauh berbeda dengan Via, ada juga kolaborasi antar genre dan generasi yang bakal tersaji selama dua hari pergelaran. Ada Indra Lesmana Project (ILP) yang menawarkan jazz-rock-nya. Lalu Gilang Ramadhan Blue and Eet Sjaharabie Black hingga duo Rasvan Aoki yang akan berkolaborasi bersama penyanyi asal Perancis, Nelly Lawson.

Jadi, pada intinya Jazz Traffic masih dan akan terus membuka perluasan musik jazz melalui banyak hal, salah satunya dengan kolaborasi. JTF membiarkan jazz melebur dengan segala jenis musik, yang toh ujung-ujungnya berdampak positif pada peremajaan penikmat jazz. Secara keseluruhan, ada lebih dari 400 musisi yang akan menampilkan lebih dari 50 pertunjukan dalam 5 stage. Masih padat seperti tahun lalu, dan tentunya megah secara audio dan visual.

 

Teks: Rona Cendera | Foto: Adven Wicaksono

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Rilis Debut Album, Manic Monday Berkolaborasi Dengan 2 Musisi

Published

on

Formasi terkini Manic Monday. (Dok. Manic Monday)

Sempat tertunda cukup panjang, akhirnya debut album milik Manic Monday rilis pekan lalu (20/7). Kurang lebih berselang sekitar setahun setelah proses rekaman, Manic Monday memilih untuk mematangkan konsepnya terlebih dulu. Sampai akhirnye Issue dipilih jadi titel albumnya. Menurut mereka, nama Issue disepakati bersama sebagai jawaban dari pembuktian eksistensi Manic Monday.

Dalam album tersebut, Manic Monday menyematkan 10 lagu, dua diantaranya mereka berkolaborasi dengan Kiky dari The Flins Tone serta Kecenk dari Fraud. Jagoan pertama mereka ialah I Know I Can yang sudah diperdengarkan lewat video klipnya sejak awal 2017 lalu. Secara keseluruhan album ini bercerita tentang perasaan, karakter, dan ego setiap orang. Musiknya sendiri masih tetap dikemas alternatif, dengan distorsi dan ketukan drum-nya yang upbeat. Rilisan Grounderz Records tersebut sudah bisa diputar di kanal digital seperti Joox dan Spotify.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya