Memahami Konsep New Media Sampai Menjaga Mood Bersiar

Jpeg

Sharing Broadcast: Para penyiar Radiogasm mendapat penjelasan tentang ilmu dasar broadcast dan media dari Ulin Rostiti, Bung Djoko dan Hanamay. (Foto: Rona Cendera)

Munculnya internet merupakan berkah bagi banyak pihak, tak terkecuali media. Banyak turunan atau bentukan media baru selepas ekspansi digital. Sebut saja ‘New Media’, dari bentukan tersebut profesi jurnalis seakan diemban oleh semua orang tanpa perlu menyelesaikan studi khusus di bidang tersebut. Tapi, bukan tanpa masalah, kebebasan bersuara kerap kali memberi kebiasan. Maraknya informasi hoax, atau minimnya validasi berita sebelum dilempar ke masyarakat sangat sukar dihindari. “Makanya, orang-orang media itu adalah malaikat. Kenapa? soalnya mereka dituntut untuk tidak boleh salah. Jadi semua yang diberitakan harus sesuai dengan apa yang terjadi,” ujar Bung Djoko, tokoh senior Radio Suara Surabaya dalam sharing session Broadcast Development yang diadakan oleh Radiogasm kemarin Minggu (9/10) di Kedai 27 Surabaya.

Jika berbicara konsep new media, bisa jadi Radiogasm merupakan salah satunya. Mereka coba melepaskan diri dari paradigma radio konvensional. Tidak perlu pemancar, melainkan hanya butuh koneksi internet yang stabil, dan tentunya server + hosting.  Selain lebih modern, mereka juga menjadi radio yang mandiri, berdiri dengan semangat sendiri (baca: independen).

Berbeda dengan radio swasta, radio online yang sudah dibentuk sejak 2015 ini tak mengenal istilah SOP bersiar yang kaku. Apapun bisa dibahas dan menjadi topik obrolan, termasuk mengumpat ala Suroboyoan. Mereka tampak ingin menonjolkan jika radio itu benar-benar personal dan intim. Namun kembali lagi, oportuniti itu bisa berbalik jadi weakness. Di saat mengudara, tidak jarang ada topik yang melebar, over durasi, atau kesalahan-kesalahan teknis yang (mungkin) sedikit mengganggu jalannya program. Termasuk di dalamnya ialah mood bersiar. Mungkin ini jadi satu dari sekian banyak problema penyiar. Namun dengan enteng Bung Djoko memberi solusi. “Yang penting adalah preparation. Datanglah lebih awal, kalo perlu ciptakan iklim yang membuat kalian bersemangat terus. Ingat, radio online itu dapat dijangkau seluruh dunia. Bayangkan mereka semua mendengarkan kalian,” lanjutnya.

Semangat kemandirian yang dibawa oleh Radiogasm ternyata mendapat banyak sambutan positif. Salah satunya dari Station Manager Radio Suzana, sekaligus Programme Director Merdeka FM, Ulin Rostiti. Wanita yang cukup mengikuti perkembangan industri kreatif ini menyebut banyak ide gila yang muncul dari sosok-sosok di balik Radiogasm. Selain itu, konten yang disajikan cukup kental unsur lokal-nya. Angin segar memang, tapi Ulin juga mewanti-wanti, pasalnya belum tentu semua orang mengerti tentang itu. “Jangan sampai kita terlalu internal, terbawa euforia sendiri, sehingga orang lain tidak bisa menangkap apa yang kita maksud,” ujar wanita yang gemar mengenak syal itu. Sejalan dengan Ulin, Bung Djoko pun mengingatkan kepada seluruh tim supaya segera menetapkan visi misi, karena baginya visi saja belum cukup, melainkan butuh misi ke depan yang akan menentukan arah Radiogasm itu sendiri.

Sharing session ‘Broadcast Development’ tersebut bertujuan untuk merefresh tentang pemahaman-pemahaman dasar tentang media dan ilmu broadcasting, terutama untuk semua yang bersiar di Radiogasm. Secara, meski didirikan oleh mayoritas pekerja radio, seiring perkembangannya mereka turut dibantu oleh pelaku-pelaku kreatif lain, seperti dari sesama media, musisi indie sampai enterpreneur lokal. “Kami ngerasa hal-hal kayak gini harus lebih sering diadain. Soalnya kami dan temen-temen media lain pasti butuh meresfresh pemahaman tentang dasar media, terutama broadcasting,” sambung Arti Pijar mewakili Radiogasm.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *