Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

Sentuhan Teknik Rumit di Video Klip Terbaru Fraud

Published

on

fraud-giant-slayer

Salah satu cuplikan klip ‘Giant Slayer’ yang memakai teknik matte painting. (Source: Youtube)

Memang tidak ada yang tidak serius yang dilakukan oleh Fraud. Meski baru enam tahun, tidak sedikit pergerakan yang dilakukannya. Mulai dari album, tur, video klip sampai berbagai gimmick telah dikemas secara serius. Terbaru, unit hardcore beatdown asal Surabaya ini melepas klip anyar dari single keduanya, Giant Slayer. Berbeda dari dua klip sebelumnya, di sini Fraud coba bermain konsep terutama dari segi teknis visualnya. Dengan menggandeng Quickart Production, mereka mencoba bermain dengan teknik matte painting dan juga resolusi 4k.

Simpelnya, teknik matte painting merupakan background video yang menggabungkan beberapa frame langsung jadi satu. Seperti halnya gedung-gedung mewah pencakar langit yang sebenarnya sukar ditemui di setting klip Giant Slayer. “Semuanya berawal dari temen-temen Quickart yang nawarin konsep itu ke kami. Setelah beberapa kali ngobrol, akhirnya kami sepakat dan berbagi tugas. Konsep dan ide ceritanya dari kami, teknis pengerjaannya dari Quickart,”  jelas Kecenk, gitaris dari Fraud saat talkshow di Program KIRI milik Ronascent dan Radiogasm.

Memang tidak mudah, Riezky Trisna mewakili Quickart juga bercerita bagaimana susahnya menerapkan teknik tersebut. “Per 60 detiknya ada ratusan frame, jadi total ada sekitar ribuan frame yang kita gabungin di klip Giant Slayer,” ceritanya. Maka dari itu, meski memakan waktu sampai empat bulan, baik Fraud dan Quickart terlihat cukup puas dengan hasilnya. “Proses shoot-nya sih sebentar, yang lama cuma di revisi dan finishing,” lanjutnya lagi. Bisa dibilang untuk skala lokal, konsep tadi baru kali pertama dijamah oleh Fraud. Begitupun dengan menerapkan resolusi 4.000 piksel atau 4K. Sebagai band independen, belum banyak yang memilih resolusi tersebut.

Baik Fraud dan Quickart Production bukan untuk pertama kalinya bekerjasama. Di balik stage, tim Quickart sering membantu pendokumentasian band yang sudah menelurkan dua album tersebut. Bahkan, video klip Unscared yang rilis tepat setahun silam juga dikerjakan oleh mereka. Begitu pun dengan Wrong Roots, di mana Riezky Trisna ikut terlibat juga dalam penggarapannya. “Pokoknya menurut kami bentuk visual (video klip,red) dalam sebuah band sangat penting. Karena audio aja gak cukup untuk memperkenalkan sebuah band, terutama untuk pendengar yang ada di kota-kota lain,” imbuh Kecenk.

Video klip Giant Slayer sendiri baru diunggah ke Youtube kemarin (30/10). Dan sesuai dugaan, meski masih hitungan hari, viewer-nya pun terus bertambah dan hingga kini telah mencapai angka 1.400-an. Seusai klip tersebut, Fraud tidak menutup kemungkinan akan ada lagi klip-klip berikutnya. Satu yang sudah direncanakan sejak awal ialah track dari album kedua mereka, Hold Nothing. Selain itu, Bayu, Kecenk, Solim, dan Edel juga tengah merencanakan untuk menggarap single baru untuk tahun depan. Prosesnya kali ini berbeda dari biasanya, Fraud merencanakan untuk mengerjakan semuanya di alam terbuka, termasuk merekamnya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EVENTS

Gallery: Workshop Distribusi Musik Promosi Masa Kini

Published

on

Dalam acara Colleague Eksposura yang diselenggarakan di Grand City akhir pekan kemarin (16/2) terselip sebuah workshop yang membahas tentang “Distribusi Musik dan Promosi Masa Kini”. Sesi tersebut diisi oleh empat narasumber, yakni kedua personil Wake Up, Iris!, Deni Saha (Programme Director M-Radio) dan juga Kecenk (Fraud).

Continue Reading

Surabaya