Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

SURABAYA

Ronascent Compilation Outtatime

Published

on

img15

Cover Ronascent Compilation: Outtatime. (Artwork by Syamsur Rijal)

Terhitung sudah genap dua tahun proyek kompilasi ini terunda. Mulanya rilisan ini direncanakan dapat meluncur manis tiap akhir tahun sebagai paket kaleidoskop, tapi keadaan tidak berkata demikian. Setelah melewati beberapa kali pertemuan, brainstorm, hingga kejenuhan, terpikirkanlah satu kata yang cukup mewakili semuanya; outtatime. Karena keterlambatan tak bisa dihindari, justru perlu tetap diabadikan sebagai cerita menarik ke depannya.

Dengan titel Ronascent Compilation Outtatime, kompilasi rutin dari Ronascent ini bisa segera dinikmati secara digital bebas unduh 15 September kemarin melalui situs www.ronascent.biz. “Merekam histori tidak perlu menunggu 1 sampai 5 dekade ke belakang. Coba lihat setahun atau dua tahun ke belakang saja, banyak yang perlu diabadikan jadi satu benang merah untuk menyimpulkan satu bahasan dan alasan. Outtatime coba menjawab itu semua. Apa yang terjadi dalam pergerakan musik Kota Surabaya bisa kalian dengarkan dalam satu jam untuk kemudian mendapatkan jawabannya masing-masing,” jelas Ian Darmawan, produser eksekutif kompilasi tersebut.

Membaurkan dua edisi dengan karakterisiknya masing-masing. Tahun 2015 dengan dominasi underground, wajah lama, dan nama baru berpadu manis bersama rilisan-rilisan 2016 yang jauh lebih variatif. Overall, kedua sisi waktu ini mempunyai dinamika rollercoaster; diawali dengan santai, diakhiri dengan kencang, begitu seterusnya. Intinya, memang itu keadaan yang selalu dirasakan scene musik di kota ini. Berpikir santai, butuh waktu menunggu panas, bahkan harus tertinggal lebih dulu untuk tancap gas, epic! That’s way, tentu terasa jelas seperti apa atmosfer kota ini? Sebenarnya produktif, tapi (kurang) adaptif.

outtatime-black-track-listSebuah kesempatan mahal untuk bisa mendapat restu merembukkan 14 nama keren dalam kurun waktu dua tahun ke belakang. One hit wonder pemberi sinyal kebangkitan dari Ampun Women di dapuk jadi pembuka menggiring ke dua kelompok ska & grunge/alternatif gaek yang coba menggenggam generasi berikutnya. Dan Hecht terlihat sebagai ambient baru yang perlu diperbincangkan bersama sang konsisten Fraud, si kencang Humanure dan sound purba ala Hawk.

Menutup dengan geluduk gelap di lagu terakhir side 2015, suara ombak langsung terdengar menyegarkan diiringi instrumentalia duo Pathetic Experience. Dari sini, warna musik yang tersaji di 2016 makin ramai. Pig Face Joe yang baru saja bangkit menjelma jadi sosok perakit punk untuk kembali. Rooster hardcore yang punya kualitas geram dan meyakinkan, Hold, sampai band yang selalu ditunggu untuk meluncurkan single pertamanya Rasvan Aoki. Awan gelap kembali datang, Senandung Sore yang dulu terdengar hijau, kini mendadak hitam. Makin kelam dengan drone berdosis tinggi The Evening Wolves sampai pada puncaknya Valerian mempertontonkan power metal yang dulu begitu lekat dengan kota ini.

Finally, beberapa lagu baru muncul khusus di kompilasi ini. Bebas untuk diunduh dan di konsumsi secara bijak. Jangan jadikan kompilasi ini hanya sebagai predator memori hardisk. Jadikan Outtatime sebagai sensasi baru menikmati atmosfer scene musik Kota Pahlawan yang (katanya) selalu berjalan lebih lambat dari kota lain.

 

 

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

REVIEW

We’re The Crew: Bahan Bakar Baru 1234!

Published

on

Cover artwork We’re The Crew garapan Prambudi. (Dok. 1234!)

Di luar dugaan. Sempat berpikir jika band ini hanya jadi project iseng semata, dan meramal usianya tak panjang, nyatanya salah. Pikiran itu sepertinya harus mulai digeser pelan-pelan, lantaran belum ada tanda-tanda 1234! bakal redup. Sebuah temuan di lapak musik salah satu gigs rokok beberapa bulan silam makin menguatkan dengan rilisnya single terbaru mereka, We’re The Crew.

Musik ini juga berisi, bukan dari lirik. Melainkan insturmen. Kehadiran violin, organ, dan perkusi di dalamnya menghidupkan nuanasa balada punk rock yang penuh cerita dan derita. Tapi masih tetap belum bisa mengalahkan kesenduan Baby I Love You-nya The Ramones.

We’re The Crew, lagu ini menarik. Selain konsep musiknya yang tidak melulu kencang, ini terdengar seperti anthem. Pendengar bakal membayangkan sebuah perjalanan tur dengan mobil butut berkeliling dari kota ke kota. Menempuh ratusan kilometer diiringi tracklist The Clash dengan mata perih akibat asap rokok dan alkohol. Berhenti sejenak di pinggir jalan, bernyanyi diiringi gitar bolong, bertemu orang baru, makan seadanya, lalu tidur di jalan. Dan begitu seterusnya sepanjang tur.

And let’s see. Itu bukan cuma teater of mind seorang pendengar. Nyatanya, lagu yang resmi dirilis 15 Juni kemarin itu memang di setting sebagai bahan bakar baru untuk perjalanan tur mereka. Dengan titel yang sama: We’re The Crew Tour 2018, 1234! meluncur ke 9 titik di 8 kota sejak Juni kemarin. Mulai Blitar, Madiun, Solo, Bandung, Jakarta, Bali, Kediri, dan tentunya kota asal mereka, Surabaya.

Dua pentolan band ini; Davin dan Paidun sempat berpesan “kasih review lagu ini yang paling kontra. Gak boleh ada bagus-bagusnya,” Tapi apa daya, kali ini musik mereka masih bagus, sama seperti Don’t Ruin yang menghiasi warna-warni sound di kompilasi keempat Ronascent kemarin. Jadi, satu-satunya yang paling kontra dalam lagu ini ada pada kemasannya. Khusus di kertas bagian lirik, potongannya tidak rata. Untung liriknya masih kebaca.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

EVENTS

Silaturockme: Forum Dua Arah Antara Musisi & Media

Published

on

Forum yang mempertemukan antara musisi dan media, kini bukan lagi makanan langka. Apalagi jika membahas hal paling mendasar; tentang bagaimana di publish dan apa saja syaratnya? “Kene goblok-goblokan ae yo, cek podo takok. Mene gak ngisin-ngisini lek ketemu wong media (Kita di sini goblok-goblokan aja ya. Biar pada tanya semua, besok gak malu-maluin kalo ketemu orang media,red)” celetuk Abas, selaku host yang berduet dengan Cak Boker.

Diskusi bertajuk ‘Silaturockme’ yang digelar pekan lalu (1/7) di P-Two Cafe tersebut melibatkan Brian dari Vojo Music, Ian Darmawan (Ronascent), dan Wira (Apresiasi ID & M-Radio). Ketiganya saling berbagi pengalaman mereka ketika menemui berbagai macam musisi. Adapun forum tersebut berjalan dua arah dengan banyaknya pertanyaan silih berganti. Setelah diskusi, acara berlanjut ke gigs, dengan 11 band kolektif yang tampil secara acak berdasar hompimpa.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EVENTS

Gallery: Silaturockme

Published

on

Momen silaturahmi memang selalu jadi agenda rutin semua orang selepas lebaran. Begitulah yang melatarbelakangi kolektif Dilarang Duduk kala menggagas Silaturockme. Sebelas band yang tampil disamaratakan, main pertama atau terakhir ditentukan berdasarkan undian. Selain gigs, diselipkan juga obrolan berbobot dari beberapa perwakilan media, dalam forum tersebut meleburlah berbagai obrolan mendasar tentang sinergitas media dan musisi.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya