Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

SURABAYA

Perjalanan Terakhir Horrible Fest

Published

on

Horrible Fest

Horrible Fest tahun 2015 lalu yang digelar di Monkasel.

Dimulai dari 2009, sederet nama undeground dari berbagai kota berkumpul di Magnetzone dengan tatanan stage tergolong apa adanya. Horrible Fest saat itu jadi satu dari banyak macam gig underground yang tengah berjaya di Surabaya. Demented Heart, A Miles Of Ruins, Goddes Of Fate dan Imperium merupakan band luar kota yang menyaksikan langsung betapa kuatnya animo musik keras di kota ini. Ya, tapi itu tujuh tahun silam. Seiring berjalannya waktu, semua juga cukup merasakan deklinasinya.

Memang sekarang musik underground, khususnya metal masih tetap bernyawa. Hanya saja situasinya tidak semeriah dulu. Mungkin juga itu jadi salah satu penyebab kenapa Horrible Fest menemui ‘ajalnya’ di tahun 2016 ini. Sedikit firasat terasa kala event besutan Mortalium tersebut mengundur jadwalnya. Hingga ditetapkan 10 September besok, melalui rilis pers akhirnya mereka menjelaskan bahwa ini benar-benar akan jadi edisi terakhir mereka. “Tanpa perlu berlarut dalam kesedihan, episode terakhir dari Horrible Fest ini patut untuk kita rayakan,” tulis mereka.

Horrible Fest 01Jika dipandang secara realistis, tidak mudah memang mengemas event musik secara mandiri dan kontinu. Apalagi jika situasi scene yang bersangkutan naik turun apresiasinya. Bukan cuma Horrible Fest, banyak juga festival metal serupa yang lebih dulu angkat kaki dari hiruk pikuk pergelutan musik lokal. Trendy Bangsat dan Surabaya Berontak misalnya. “Kami bukan generasi Awal Horrible Fest. Namun waktu adalah mesin pembunuh paling ampuh bukan? Kita telah mempersiapkan suatu hari nanti Horrible Fest hanya akan jadi bagian dari sekeping sejarah skena musik Surabaya,” ujar Ketua Panitia Horrible Fest Reno Surya.

Keluar dari permasalahan klise seperti di atas, kemunculan Horrible Fest sendiri sangat patut diapresiasi. Melalui festival yang rutin digelar tiap tahun itu, potensi-potensi lokal mulai terlihat makin matang. Razorblades Terror, Descane, Rose Of Sadness, dan yang paling baru ada Deathroned. Setidaknya hasil keringat mereka sudah berhasil menunjukan kepada khalayak jika tanpa sponsor pun geliat musik lokal mampu bergerak militan.

“Menganut tulisan Pramoedya Ananta Toer, jika hidup hanya untuk menunda kematian maka 10 September besok bakal jadi hari terkuburnya kami yang liangnya telah kami sendiri siapkan. Bukan berarti kami akan hilang, tapi beberapa tahun mendatang dengan generasi yang akan datang, kami bersedia kembali dibangkitkan,” lanjutnya. Jadi, sebarkan, tebarkan, dan rayakan, kalimat penutup yang mempersilahkan kalian untuk hadir di Monumen Kapal Selam (Monkasel) menyaksikan penutupan Horrible Fest dengan line up yang sudah tidak asing lagi. Dan satu lagi, semoga kelak akan muncul sesuatu yang lebih mengerikan dari Horrible Fest. Tabik!

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Pesta Anak-Anak Bunga Yang Berusaha Jaga Lingkungan

Published

on

Tampilan mereka tidak rapi. Omongan mereka juga seenak udelnya. Mereka pemabuk, bermain musik keras, dan sarat akan konten dewasa. Ya, Dandelions sebenarnya bukan band yang ramah lingkungan, justru sebaliknya. Murni rock n roll, slengean. Seringkali, vokalis mereka, Njet menyuarakan “koruptor itu anjing” di tiap performnya. Bukan tanpa sebab, karena dari perilaku para tikus itu mereka menghasilkan beberapa lagu, sebut saja Impor. Suara-suara itulah yang jadi power bagi mereka untuk menyelematkan lingkungannya agar bebas doktrin dari segala perbuatan negatif.

Album penuh pertamanya Anak-Anak Bunga yang baru dirilis kemarin bermuatan pesan-pesan moral yang bagus untuk dicerna. Maka dari itu, akhir pekan kemarin (29/7) Dandelions berinisiatif menyambangi tiga tempat krusial; yakni Kampung Dupak Bangunrejo yang bekas lokalisasi, kemudian Kampung Seni THR dan puncaknya di tanah sengketa Tambak Bayan Tengah. Di tempat terakhir, band yang belum lama ini baru melempar klip (Bukan) Playboy tersebut benar-benar jadi tuan rumah yang baik. Selain mengundang tuan rumah yang sesungguhnya (warga Tambak Bayan), mereka juga mengundang beberapa gitaris untuk berkolaborasi, seperti Bima (Timeless), Rasvan (Rasvan Aoki), Wawa (Ampun Women), Adiee (Portal Addict/ex Dandelions), serta Happy Arabika (Pig Face Joe).

Tambak Bayan, tempat ini mengingatkan kita pada titik awal Silampukau yang melaunching debut albumnya Dosa, Kota, & Kenangan tahun 2015 silam. Penuh kesederhanaan, namun lagu-lagunya bermuatan banyak kritik yang satire, begitupun Dandelions. Dan semoga Tambak Bayan juga bisa menjadi titik awal yang bagu dari album terbaru mereka.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Holy Skateboard Video Premiere; Wahana Skate Yang Multisegmen

Published

on

Akibat tragedi bom yang terjadi di tiga Gereja di Surabaya Mei silam, pemutaran perdana video dari Holy Skateboard ikut kena imbasnya. Event yang seharusnya berlangsung beberapa jam setelah kejadian itu harus dibatalkan, lantaran venue M-Radio yang berdekatan dengan lokasi peledakan.

Dua bulan setelahnya, tepatnya kemarin Sabtu (28/7), acara tersebut akhirnya dilaksanakan. Venue pun bergeser ke Grand Dharmahusada Lagoon. Pergeseran cemerlang, karena vibes acara lebih terasa. Mulai dari anak-anak hingga orang tua melebur jadi satu di taman yang luas, hijau, dengan cuaca mendukung, serta lingkungan perumahan yang nyaman; seperti berada di taman keluarga, menikmati akhir pekan, berburu keringat agar sehat. Ada yang bermain skate, atau sekadar lari-lari kecil mengejar anaknya, atau cuma duduk malas dengan mulut berasap sambil menunggu pemutaran video skate dari Holy Skateboard.

Jadi, skate itu bukan lagi tentang anak muda yang energik, tapi sangat multisegmen. Sekalipun band model The Gamblezz, Timeless, hingga Egon Spengler yang atraktif dengan kostum yang … (lihat di foto), pada intinya, semua membaur dalam wahana skate yang multisegmen ini.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

NEWS

Rilis Debut Album, Manic Monday Berkolaborasi Dengan 2 Musisi

Published

on

Formasi terkini Manic Monday. (Dok. Manic Monday)

Sempat tertunda cukup panjang, akhirnya debut album milik Manic Monday rilis pekan lalu (20/7). Kurang lebih berselang sekitar setahun setelah proses rekaman, Manic Monday memilih untuk mematangkan konsepnya terlebih dulu. Sampai akhirnye Issue dipilih jadi titel albumnya. Menurut mereka, nama Issue disepakati bersama sebagai jawaban dari pembuktian eksistensi Manic Monday.

Dalam album tersebut, Manic Monday menyematkan 10 lagu, dua diantaranya mereka berkolaborasi dengan Kiky dari The Flins Tone serta Kecenk dari Fraud. Jagoan pertama mereka ialah I Know I Can yang sudah diperdengarkan lewat video klipnya sejak awal 2017 lalu. Secara keseluruhan album ini bercerita tentang perasaan, karakter, dan ego setiap orang. Musiknya sendiri masih tetap dikemas alternatif, dengan distorsi dan ketukan drum-nya yang upbeat. Rilisan Grounderz Records tersebut sudah bisa diputar di kanal digital seperti Joox dan Spotify.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya