Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Masuk Kategori Metal AMI Awards 2016, The Flins Tone: “We’re So Excited”

Published

on

ami-awards-2016

Daftar Nominasi ‘Karya Produksi Metal’ AMI Awards 2016.

Dibalik pemberitaan masuknya Raisa di sembilan nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2016 sampai sistem baru yang diterapkan dalam penilaiannya, terdapat satu keunikan sekaligus pencapaian yang tak biasa dari salah satu band lokal Surabaya, The Flins Tone (TFT). Band yang tahun lalu baru meluncurkan album Good News itu secara tak terduga masuk jadi satu dari ratusan musisi yang memperebutkan 71 trofi AMI Awards 2016.

Uniknya, mereka masuk ke dalam nominasi kategori Karya Produksi Metal, di mana The Flins Tone yang notabene mengambil root Punk harus bersaing dengan karya metal yang sesungguhnya. “Lucu dan bingung, soalnya kami satu-satunya band yang genrenya jauh dari metal di kategori itu. Tapi jujur, we’re so excited,” ujar vokalis The Flins Tone Kiky. Di kategori tersebut, album Good News milik TFT akan bersaing dengan Perang (Afterkoma), You’ve Created Your Own Monsters (Bless The Knights), Into The Black (Dead Vertical), dan Confession (Sunday Sad Story).

Meskipun berada di kategori yang tidak pada tempatnya, namun The Flins Tone menyambutnya dengan baik. Bagi mereka pencapaian ini seperti bonus tersendiri, karena sebelumnya mereka tidak pernah mengira akan jadi salah satu bagian dari penghargaan musik tahunan berskala nasional ini. “Bisa dapat kesempatan masuk nominasi AMI saja sudah sangat senang, mungkin harapan kami semoga saja dari sini jenis musik yang kami mainkan bisa lebih dihargai dan dapat ovation tersendiri,” lanjut Kiky.

AMI Awards yang tahun ini akan digelar 28 September mendatang mempunyai sistem penilaian baru di mana semua karya yang rilis per 1 Juli 2015 sampai 1 Juni 2016 dapat dinilai langsung secara digital oleh tim penilai. Penerapan tersebut merupakan permintaan para anggota reguler dan anggota Swara AMI Awards agar penilaian lebih transparan. “Model pemilihan secara digital ini merupakan respon terhadap munculnya keinginan para anggota AMI supaya penilaian dapat dilakukan lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” terang Dwiki Dharmawan, Ketua Umum AMI Awards 2016.

Sistem digital tersebut sepertinya berdampak pada munculnya karya-karya sidestream yang muncul di beberapa kategori khusus, dan The Flins Tone salah satunya. “Penghargaan ini cukup besar dan bergengsi di Indonesia, kerennya kali ini musisi-musisi independen juga bisa dapat kesempatan di sana,” kembali lanjut Kiky. Selain The Flins Tone, beberapa nama seperti Barasuara, Sarasvati, Dialog Dini Hari, sampai Max Havelaar juga muncul menghiasi persaingan AMI Awards kali ini.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

NEWS

Kenistaan Layar Laca di Mata Hockey Hook

Published

on

Artwork single terbaru Hockey Hook, Layar Nista. (dok. Hockey Hook)

Cerita tentang kekesalan terhadap tayangan televisi di Indonesia memang belum ada habisnya. Banyak musisi yang menumpahkan keluhannya lewat lagu, tak terkecuali dengan unit ska punk asal Kota Kembang, Hockey Hook. Kenistaan layar kaca mereka nyanyikan lewat single baru yang diberi judul Layar Nista.

Single yang rilis digital akhir November kemarin ini digarap sendiri oleh Hockey Hook dengan bantuan Ako selaku sound engineering di Red Studio Bandung. Lewat rilis persnya, Hockey Hook menyebut konten televisi di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari kata edukatif. “Konten televisi di Indonesia dipenuhi program-program tidak mendidik seperti sinetron yang ditayangkan siang hari, pengemasan variety show di beberapa kanal media yang penuh gosip selebriti, diwarnai juga cemoohan antar satu sama lain host. Tidak ketinggalan pula kampanye hitam politik di media Televisi yang tentunya saling menjatuhkan lawan,” sebut mereka.

Layar Nista ini dikemas lebih ke reggae dub ala California era 90an. Mereka juga menggandeng DJ Eone Cronik dari Eye Feel Six guna membangun nuansa scratch di lagu tersebut. Dan setelah ini, Hockey Hook kabarnya akan melempar mini album berisikan lima lagu yang sekaligus melanjutkan debut album yang rilis dua tahun lalu.

Continue Reading

Surabaya