Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

Memperingati dan Mengaransemen Ulang Album Soundtrack Tiga Dara

Published

on

tiga-dara-1080x810

Bonita, Aimee Saras & Aprilia Apsari, memberi warna baru di Album Aransemen Ulang Lagu-Lagu Dari Film Tiga Dara. (Source: Demajors)

Di eranya, film ‘Tiga Dara’ (1956) merupakan salah satu karya yang terbilang sukses di pasaran. Tidak berlebihan jika film karya Usmar Ismail itu jadi aset penting di negeri ini, begitu pun album soundtrack-nya. Empat tahun setelah ‘Tiga Dara’ tayang, Saiful Bahri selaku penata musik meraih Piala Citra untuk Musik Terbaik FFI 1960. Dari situlah akhirnya SA Films dan Demajors berinisiatif membuat album soundtrack Arasnemen Ulang Lagu Orisinil Dari Film Tiga Dara. Momen ini bersamaan juga dengan peluncuran film ‘Ini Kisah Tiga Dara’ 1 September mendatang, sementara albumnya sendiri akan rilis 11 Agustus besok.

Demajors menjelaskan bahwa perusahaan rekaman  Dendang sebelumnya sempat merilis beberapa lagu orisinil soundtrack ‘Tiga Dara’ dalam format piringan gramafon 78 rpm (shellac). Fakta itu menunjukan bahwa lagu-lagu di dalamnya begitu populer dan penting untuk dirilis waktu itu. Sayangnya selama proses pencarian arsip berupa master rekaman format pita magnetik itu tak kunjung ditemukan. “Selain tidak ditemukannya arsip, kami juga mempertimbangan bahwa melakukan restorasi yang bersumber dari plat gramafon tidaKonser 60 Tahun TigaDarak akan memberikan hasil maksimal, maka diputuskan untuk membuat album aransemen ulangnya,” tulis Demajors di rilis pers-nya.

Menariknya,  beberapa talent muda di industri musik nasional ikut terlibat langsung. Beberapa diantaranya ialah Bonita, Aimee Saras, dan Aprilia Apsari. Di album tersebut mereka menyanyikan soundtrack utama Tiga Dara. Klip dari lagu itu juga baru diunggah ke Youtube Kamis kemarin (4/8). Disamping tiga nama tadi, beberapa musisi juga berkontribusi menyumbang suaranya seperti Mondo Gascaro, Danilla, Monita Tahalea, Anda Perdana, Deredia, Alsant Nababan, Nesia Ardi, Bonita & The Hus Band, Indra Aziz, dan Indra Perkasa.

Selain sebagai bentuk peduli pada warisan budaya film dan musik pop Indonesia, album ini juga menyajikan warna baru. Aransemen-aransemennya dibuat lebih menyesuaikan dengan selera masa kini yang diisi oleh Orkes Gadgadsvara di bawah pimpinan Indra Perkasa. Album ini baru akan di muncul di pasaran baik secara fisik dan digital per 11 Agustus mendatang, bersamaan dengan Konser 60 Tahun Tiga Dara di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Dopest Dope Pertanyakan Tujuan Hidup

Published

on

Dopest Dope (dari kiri): Ricky Mahardhika, Rifki Hidayat, Hengki Arisando & Sasmito Prawiro. (Dok. Artventure Management)

Setiap manusia di dunia tentu punya tujuan hidupnya masing-masing. Tujuan itupun beragam, bisa duniawi atau akhirat. Namun jika dimaknai lebih dalam, apakah semua manusia paham dengan tujuan dari kehidupan ini? Sebuah kebingungan pun menghinggapi Dopest Dope. Lewat single barunya Tuju, kelompok alternatif dari Surabaya ini mempertanyakan maksud dari pertanyaan tersebut.

Melalui rilis pers yang kami terima kemarin (30/8), Dopest Dope mengumumkan rilisnya single baru mereka sekaligus bercerita tentang kebingungannya. “Lagu ini (Tuju,red) berisi tentang kegelisahan seseorang yang bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dalam hidup. Apakah kematian adalah akhir? atau kehidupan sebenarnya dimulai setelah kematian? atau setelah mati akan dihidupkan kembali ke dunia dan begitu seterusnya?” tulis mereka melalui Artventure Management. Dalam lagu tersebut, Dopest Dope tampak mengajak pendengarnya untuk sedikit merenung dan mendapatkan jawabannya masing-masing.

Selain tentang lagu barunya, band yang tiga tahun lalu bekerjasama dengan Demajors untuk merilis debut album Close to Death ini juga memperkenalkan penggebuk drum barunya. Posisi Oldy Pandu Nugraha kini diganti oleh Hengki Arisando atau Sipenk yang sebelumnya lebih dikenal bersama unit stoner Hawk. Dalam single baru ini, Sipenk langsung terlibar dalam proses rekamannya. Begitupun Rifki Hidayat, gitaris anyar yang masuk setelah Close to Death rilis.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Sengatan Electric Bird di RSD 2019

Published

on

Electric Bird, trio garage pendatang baru di Surabaya. (Dok. Electric Bird)

Electric Bird punya kemampuan untuk menyengat. Ya, nama yang mereka miliki bukanlah sekadar tekstual belaka. Dibalik itu, tertanam sebuah representasi musik yang menyengat bagaikan listrik. Dengan tegangan tinggi, musik mereka mampu bertransformasi jadi sebuah musik. Sentuhan garage serta muatan rock yang berapi-api memperlihatkan tiga pemuda energik ini tengah bersiap terbang tinggi seperti pheonix.

Selama ini publik baru mengenal Electric Bird lewat single perdananya Wardogs. Lagu yang dilempar melalui kanal digital streaming akhir tahun lalu itu mendapat respon baik. Ditambah dengan kerinduan Surabaya akan band seperti ini, posisi mereka pun aman. Hingga memasuki awal 2019, tepatnya di Record Store Day (RSD) 2019 kemarin (28/4) Electric Bird memberanikan diri keluar kandang. Sebuah album bertitel Stings You Hard baru saja mereka rilis.

Bersama Let’s Go Cmon Baby (LGCD), Eisen, Rasvan Aoki dan beberapa band lain, momentum RSD 2019 Surabaya kemarin jadi hari perilisan karya fisik pertama Electric Bird, Stings You Hard. Album yang menghadirkan 11 lagu ini sudah mereka kerjakan sejak tahun lalu. Keseluruhannya mereka kerjakan sendiri, mulai rekaman hingga produksi rilisan fisiknya. Bahkan band yang dimotori oleh Danu (vokal & bass); Vicky (gitar); & Ari (bass) ini juga tengah menyiapkan perjalanan tur yang nantinya akan dijadikan alat promo album mereka.

Tidak berbeda jauh dengan single pertamanya, Wardogs. Dalam album yang berdurasi 45 menit ini Electric Bird banyak berbicara tentang situasi sosial yang masih menarik untuk di sentil. Seperti halnya Wardogs, lagu yang menyenggol tentang individu, kritik dan tanpa solusi. “Kami juga menulis beberapa fenomena, salah satunya genosida di Timur Tengah yang kami tuangkan dalam lagi East,” cerita Danu. Lanjutnya, tak luput band ini pun menggambarkan situasi berapi-apinya dalam berkarya lewat lagu Raging Fire. Pengaruh The Datsuns, Wolfmother, Soundgarden, hingga Jimi Hendrix ikut membentuk part demi part lagu mereka.

Pasca RSD, album Stings You Hard ini nantinya akan di distribusikan ke beberapa kota di luar Surabaya. Sementara untuk digital streaming masih bakal menyusul.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

Surabaya