Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Hear This Gain To All Of This Pain!

Published

on

holdc

Wajah lama Hold sebelum masuknya vokalis baru. (Source: Twitter)

Menanti lima tahun untuk sebuah debut album memang tidak sebentar. Setelah melewati beberapa rintangan entah itu kerikil atau tembok, bulan Juli kemarin Hold berhasil menuntaskan semuanya. Debut full album mereka bertitel All Of This Pain sukses diluncurkan dengan kemasan fisik serta materi yang berisik. Munculnya album itu sekaligus melanjutkan tren produktif band-band HC sejak lima tahun belakangan.

Dari segi materi, Hold terdengar berbeda. Kualitas sound dan beat-nya layak disejajarkan dengan band-band yang sudah mencuat sebelumnya, termasuk juga kualitas vokal yang berat menandakan era new school lebih dominan di band ini. Secara definitif, Hold tidak peduli dengan aliran patennya, mereka lebih suka disebut sebagai band Hardcore. Hanya saja, sejak single I’ve Got Nothing To Hide meluncur karakter vokal mereka cukup berpengaruh dalam membentuk dinamika musiknya.

Sayang, debut albumnya harus dibayar mahal. Karena beberapa alasan, lima bulan sebelum All Of This Pain keluar, Hold kehilangan posisi vokal. Sekejap saja perjuangan merekam materi album selama setahun terasa sia-sia. Beberapa plan yang telah disiapkan mau tidak mau harus berhenti sejenak, karena mereka kehilangan sektor yang vital, yakni vokal.

Beruntung Hold memang konsisten dengan langkahnya. Materi-materi album yang lebih dewasa di All Of This Pain berujung juga pada kedewasaan mereka dalam menyikapi situasi tersebut. Tidak butuh waktu lama, mereka langsung menggaet vokalis baru untuk mengisi posisi yang kosong. Beberapa plan langsung di restart dan Hold kembali tancap gas. Singkat, cepat, dan berisi; proses yang dialami kurang lebih sama seperti saat kita mendengarkan lagu-lagunya.

Hold new vocals

Hold dengan formasi barunya. (Source: Instagram)

Entah kebetulan atau tidak, benang merah situasi tersebut juga terhubung dengan titel All Of This Pain yang sudah ditetapkan sebagai judul album sebelum Dede Yoga (ex-vokalis Hold) hengkang. “Kita udah milih All Of This Pain jadi judul album itu jauh sebelum vokalis sebelumnya resign. Dan pas dia keluar, kita gak mengganti judulnya, tapi berusaha menyambungkannya jadi satu konsep,” jelas Hold.  Sampai akhirnya, seekor singa yang meraung ganas berupaya menerkam balik serangan elang tervisualisasikan di cover album sebagai analogi proses singkat keluar dari polemik.

Di Surabaya, Hold bukan pendatang baru lagi. Semangat militannya masih cukup terasa, apalagi melihat betapa agresifnya band ini sepanjang tahun. Debut albumnya rilis via label anyar Death Breath Records, yang ternyata merupakan label bentukan personil-personil Hold sendiri. Mereka semua terjun langsung ke dalam proses produksi albumnya. Begitu juga dengan rencana launching party beserta tur yang tengah dipersiapkan. “Kami membentuk Death Breath Records ini bukan untuk kepentingan pribadi. Pengennya kedepan label ini bisa jadi wadah untuk temen-temen lainnya juga,” lanjut mereka.

Kini Hold sudah siap menunjukan taringnya sebagai salah satu band HC yang berusaha mempertahankan dominasinya. Dan satu lagi, mereka coba melanjutkan eksistensi dengan formasi baru yang diyakini lebih solid dan bergerigi. And then, hear this gain to all of this pain!

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya