Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

REVIEW

Blink 182 – California: Kembali Maknai Punk Meski Tanpa Tom

Published

on

  • Blink 182 - California
Cover Blink 182 - California

Cover album California yang dikerjakan oleh seniman Inggris, D*Face. (Source: blink182.com)

Sempat sinis dan berpendapat bahwa Blink 182 lebih baik bubar atau ganti nama. Berharapnya segera reuni (lagi), karena memang tidak ada yang pernah bisa menggantikan punkers futuristik bernama Tom DeLonge. Sekalipun dua personil yang tersisa coba mengkloning begundal-bedundal punk rock dari seluruh dataran Los Angeles, rasanya tetap saja tak tergantikan. Tapi, nampaknya kenyataan tak berkata demikian. Blink 182 seperti hidup kembali. Tak ada ganti nama. Tak ada upaya reuni. Tak ada bubar. Tak ada kloningan DeLonge: yang ada hanyalah Mark Hoppus, Travis Barker, plus Matt Skiba dari Alkaline Trio sebagai kuda hitam baru yang bermain lepas dan seolah menjadi The New Blink 182 dengan album penuh bertajuk sebuah kota penuh dosa di daratan Amerika: California.

Jutaan orang sudah jadi pendengar Blink 182 sejak usia belia, terutama saat toilet jokes yang tidak lucu-lucu amat seringkali mereka tampilkan. Saat betapa cueknya mereka bugil, entah dalam videoklip atau sekadar foto. Saat dengan seenak-udelnya mengubah kemarahan punk jadi selucu buang air di celana. Saat mereka menguasai MTV dan membuat industri hiburan melirik pop-punk sebagai sesuatu yang menjanjikan: ini era Blink 182 di mana hits seperti All The Small Things, sampai Stay Together For The Kids jadi langganan radio mainstream. Itulah era mereka di mana lagu macam I Miss You atau Always jadi teman mereka yang sedang belajar ciuman dengan lidah waktu ABG. Blink 182 sudah jadi salah satu dari yang mempengaruhi gaya hidup sebagain besar orang hingga saat ini, Ya, saat ini. Generasi muda yang akhirnya gemar bertopi terbalik dengan celana tiga-perempat dan memakai sneakers dan menarik kaus kaki tinggi-tinggi. Haram hukumnya pergi ke sekolah tanpa pakai items dari Macbeth. Efek yang sebegitunya. Mereka bukan pelopor utamanya, tapi salah satu yang cukup berpengaruh saat itu.

Tapi pahlawan generasi itu tidak lagi tampak harmonis. Hubungan Mark, Tom, dan Travis tiba-tiba saja memanas. Merenggang. Makin ke sini makin rumit. Proyek supergrup Angels And Airwaves milik Tom, dikatakan seperti punya pengaruh terhadap pertikaian ini. “Tom ingin membuat musik Blink 182 seperti  AVA,” ujar Mark di sebuah wawancara. Alhasil, Tom hengkang dari band, sementara Mark dan Travis terus berjalan, merekrut Matt Skiba yang notabene tidak bersuara cempreng seperti Tom. Setelah beberapa kali jamming, dan akhirnya… muncullah California.

Ini bukan yang terbaik dari Blink 182. Dan tidak akan pernah bisa menyaingi album-abum Blink di era sebelumnya (mungkin). Tapi juga tidak bisa dipandang remeh. Matt Skiba bukanlah Tom DeLonge dengan segala ciri khasnya, dan bagusnya dia sadar akan hal itu. Alhasil, Matt menjadi dirinya sendiri dan bermain tanpa tekanan. Album California pun masih mempertahankan benang merah Blink 182 yang dijaga oleh gaya vokal Mark dan permainan drum khas Travis: sementara Matt, memberi kesegaran dan nafas baru. Mungkin secara teknik juga tidak kalah dibanding Tom.

Blink 182 00

Tidak Muda Lagi: Travis, Mark & Skiba. (Source: Yahoo)

Dalam California, pembuka Cynical mungkin sedikit membosankan dan kurang ‘uh!’—sebagai pembuka yang biasaya diisi oleh lagu yang ‘grrr!’. Tapi track selanjutnya, Bored To Death memberi kesegaran baru: meskti tidak ada perubahan drastis, juga tidak terlalu berpatokan pada gaya lama. Semua normal saja meski harus diakui era pop punk selalu berada di titik sulit. Bila dibandingkan dengan Neighborhood sebagai album terakhir dengan Tom, California mempunyai lagu yang sedikit lebih pelan dan ‘sopan’. Tapi tidak mengapa toh keriput di wajah Mark Hoppus tidak bisa lagi berbohong: Blink 182 sudah menjadi bapak-bapak berumur. Simak Home Is Such A Lonely Place yang kontemplatif. Segarang apapun punk di masa mudanya, kegelisahan paruh baya tidak dapat ditutup-tutupi. Tapi lagu-lagu ala masa muda yang tak pernah berakhir pun masih terasa ugal-ugalan di Built This Pool dan Brohemian Rhapsody—sempat mengira ini cover Queen ternyata hanya lelucon.

Beberapa track mengingatkan pada era Blink 2000-an seperti Left Alone yang menggabungkan awalan gula-gula di awal, dan jadi keras di intro. Tapi Rabbit Hole menampilkan bagaimana seharusnya punk dimainkan: menghentak dan membuat cewek-cewek kegerahan. Satu hal yang dicatat—dan mungkin bisa diamati sendiri—adalah berkurangnya hook-hook cantik yang dilempar Travis yang biasanya gemar beratraksi dibalik drum set-nya. Ketukan-ketukan standar yang kebanyakan mengisi album ini, dan itu sepertinya bukan gaya darinya.

Beruntungnya Blink 182 bukan tipe band dengan satu frontman yang menentukan arah band: selain Tom, mereka juga punya Mark. Jadi tidak terlalu aneh saat mereka merekam California tanpa Tom: Mark masih ada sebagai benang merah dan kita masih bisa merasakan hawa ‘Blink 182’ di dalamnya. Lain halnya misal Green Day ditinggal Billie Joe atau Rancid ditinggal Tim Armstrong; pastilah akan jadi aneh saat mereka buat album baru. Jelas tampak bahwa tiang penyangga utama Blink bukan hanya terletak pada Tom, tapi juga Mark. Bahkan Travis. Jadi sebenarnya Blink 182 dapat diibaratkan seperti sebuah segitiga yang untuk bisa tergambar sempurna harus diisi oleh Tom, Mark dan Travis. Tapi dengan Matt Skiba; mungkin masih berbentuk segitiga walaupun tidak lagi sama sisi.

Tracklist:
01. Cynical
02. Bored to Death
03. She’s Out of Her Mind
04. Los Angeles
05. Sober
06. Built This Pool
07. No Future
08. Home Is Such a Lonely Place
09. Kings of the Weekend
10.Teenage Satellites
11. Left Alone
12. Rabbit Hole
13. San Diego
14. The Only Thing That Matters
15. California
16. Brohemian Rhapsody

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

REVIEW

We’re The Crew: Bahan Bakar Baru 1234!

Published

on

  • 1234! - We're The Crew

Cover artwork We’re The Crew garapan Prambudi. (Dok. 1234!)

Di luar dugaan. Sempat berpikir jika band ini hanya jadi project iseng semata, dan meramal usianya tak panjang, nyatanya salah. Pikiran itu sepertinya harus mulai digeser pelan-pelan, lantaran belum ada tanda-tanda 1234! bakal redup. Sebuah temuan di lapak musik salah satu gigs rokok beberapa bulan silam makin menguatkan dengan rilisnya single terbaru mereka, We’re The Crew.

Musik ini juga berisi, bukan dari lirik. Melainkan insturmen. Kehadiran violin, organ, dan perkusi di dalamnya menghidupkan nuanasa balada punk rock yang penuh cerita dan derita. Tapi masih tetap belum bisa mengalahkan kesenduan Baby I Love You-nya The Ramones.

We’re The Crew, lagu ini menarik. Selain konsep musiknya yang tidak melulu kencang, ini terdengar seperti anthem. Pendengar bakal membayangkan sebuah perjalanan tur dengan mobil butut berkeliling dari kota ke kota. Menempuh ratusan kilometer diiringi tracklist The Clash dengan mata perih akibat asap rokok dan alkohol. Berhenti sejenak di pinggir jalan, bernyanyi diiringi gitar bolong, bertemu orang baru, makan seadanya, lalu tidur di jalan. Dan begitu seterusnya sepanjang tur.

And let’s see. Itu bukan cuma teater of mind seorang pendengar. Nyatanya, lagu yang resmi dirilis 15 Juni kemarin itu memang di setting sebagai bahan bakar baru untuk perjalanan tur mereka. Dengan titel yang sama: We’re The Crew Tour 2018, 1234! meluncur ke 9 titik di 8 kota sejak Juni kemarin. Mulai Blitar, Madiun, Solo, Bandung, Jakarta, Bali, Kediri, dan tentunya kota asal mereka, Surabaya.

Dua pentolan band ini; Davin dan Paidun sempat berpesan “kasih review lagu ini yang paling kontra. Gak boleh ada bagus-bagusnya,” Tapi apa daya, kali ini musik mereka masih bagus, sama seperti Don’t Ruin yang menghiasi warna-warni sound di kompilasi keempat Ronascent kemarin. Jadi, satu-satunya yang paling kontra dalam lagu ini ada pada kemasannya. Khusus di kertas bagian lirik, potongannya tidak rata. Untung liriknya masih kebaca.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

REVIEW

Longest – Endless Collide: Realita Rock Dalam Balutan Metropop

Published

on

  • Longest - Endless Collide

Sampul album ‘Endless Collide’. (Dok. Longest)

Jika dibanding dengan tiga single dalam EP digital yang dilepas awal tahun lalu, Longest format baru ini terdengar tengah berupaya jadi lebih earcatchy. Nyatanya, mereka seperti menahan potensi musikalnya. Di beberapa part yang seharusnya bisa jadi klimaks, justru malah terdengar payah. Penggunaan tone-tone rendah seperti membunuh karakter si vokalis. Alhasil, tujuh lagu yang mereka suguhkan di album Endless Collide terdengar kurang fit sekalipun pendengar berkali-kali mengatur settingan equalizer.

Tapi tunggu dulu, nomor Alea Song yang ditempatkan pada urutan kedua seakan menjelaskan ‘maksud’ dari musik yang ingin mereka sodorkan. Beat yang santai, distori tipis, dan permainan reff; nampaknya Longest ingin menusuk segmen pendengar remaja yang penuh lika-liku percintaan dengan harapan menjadikan track ini sebagai soundtrack-nya. Make sense, toh kemasan album yang mereka tampilkan juga menyerupai deskripsi tadi. Simple dan minimalis merujuk pada realita perkotaan, percintaan, perselingkuhan, pertemanan, dan semua  elemen menarik yang bisa kita temui pada novel-novel metropop atau sinema remaja.

Coba dengar juga So High, Can High, genjrengan overdrive berpadu clean memang sedikit monoton, namun olah vokal dan lirik yang cukup menyatu seperti jadi part yang ditunggu-tunggu; karena musiknya yang terlampau santai sehingga pendengar sulit menikmatinya. Begitupun Toothless Moron, hanya saja lagu ini terdengar lebih berisi dan (mungkin) jadi satu-satunya yang menyambung benang merah dari lagu-lagu awal mereka. Selebihnya, coba kalian nikmati sendiri berdasarkan persepsi masing-masing. Masih ada single pertama mereka First, Strawberry Frost, Mistake and the Beautiful Sin, dan Leader Syndrome.

Terlepas dari itu semua, album yang dirilis pada momen Record Store Day (RSD) 2018 kemarin ini setidaknya sudah menunjukkan keseriusan Longest, yang merupakan pendatang baru dengan wajah lama di skena Surabaya. Hebatnya, album ini rilis setahun setelah mereka melempar demo EP berisi tiga lagu di awal tahun 2017 kemarin, di mana album itu rilis hanya berselang beberapa bulan setelah band ini dibentuk. Satu tahun bukan waktu yang singkat bagi Longest untuk merampungkan full album perdananya. Sempat beberapa kali bongkar-pasang personil jadi salah satu kendala dalam proses penggodokan materi. Namun Longest tetap mencoba konsisten berada dalam jalur alternative/indie rock yang mereka usung.

Perlu digarisbawahi, seburuk-buruknya album ini, Longest masih punya porsi instrumen yang terdengar meriah, meski beberapa kali terdengar false. Disarankan menggunakan headset berkualitas agar detail-detail apik dari gitar dan bass terdengar jelas. Last but not least, pelafalan lirik Bahasa Inggris tampaknya juga perlu dilatih karena dibeberapa track terdengar kurang pas. Overall, album ini cukup fresh dan cocok bagi kalian-kalian yang familiar dengan Basement maupun Foo Fighters.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

REVIEW

Egon Spengler – Hijaunya Neraka; Manuver Horror ke Green Force

Published

on

  • Egon Spengler - Hijaunya Neraka

Cover Album Single Hijaunya Neraka yang di desain oleh Albert. (Dok. Egon Spengler)

Seperti sebuah anomali. Hijau dan neraka; wajar jika banyak pertanyaan muncul seketika untuk menanggapi single baru Egon Spengler ini. Apakah mereka bercerita tentang ganja? kebakaran hutan? atau mungkin darah vampir? Pastinya, jika berkaca dari latar belakang dan album debutnya, Egon Spengler tidak pernah jauh dari pembahasan horror. Segala macam penyebutan mayat hidup selalu jadi nyawa band guyon yang belakangan mulai serius ini.

Aku bernyanyi walau suaraku parau / aku bernyanyi bersama temanku D.S.M / aku berlari bersama temanku Viking / aku berlari bersama anak-anak Greenforce /

Hingga pada akhirnya petikan lirik di atas menyegel rasa penasaran. Sesuatu yang tidak dikira-kira, Egon Spengler berbicara tentang Sepakbola! Oke, bagaimana ceritanya sosok Egon Spengler yang berkursi roda harus bermain bola? Sesuatu yang nyaris tak terduga seperti ketika Albert dkk memilih topik Persebaya di lagu terbarunya.

Gerombolan alumni ITS ini memang tidak lekat dengan olahraga lapangan hijau tersebut, tapi mereka mengakui jika lagu ini terinspirasi dari band seangkatannya; Deskripsi Sebuah Mahasiswa (DSM). Berawal dari lagu Green Force 1927 milik DSM, tahun 2016 Egon Spengler mulai mengerjakan lagu Hijaunya Neraka yang direkam di L-One Studios dua tahun lalu.

Bulan April kemarin, di momen Record Store Day (RSD) 2018, Egon Spengler pun merilis single tersebut ke dalam bentuk fisik sederhana yang dikerjakan ekspres. Kurang lebih sepekan sebelum RSD Surabaya bergulir, produksi CD di mulai. Di dalamnya, hanya ada dua lagu, yakni single Hijaunya Neraka itu sendiri, serta bonus track Green Force 1927 dari Deskripsi Sebuah Mahasiswa.

Perlukah membahas esensi lirik di lagu ini? Dari debut Ecto 1, Egon Spengler memilih jadi band yang tidak terlalu ambil pusing tentang lirik. Apalagi musik punk yang mereka bawa tidaklah menuntut kerumitan lingustik, yang penting ritmik dan mistik. Secara komposisi, Albert, Besta, Ikang, Tebo, dan Rombe juga masih terasa senada dengan benang merah mereka di awal. Hanya saja, track ini bisa jadi memberikan sedikit gambaran tentang lanjutan karya mereka. “Bisa jadi kita gak bercerita horror lagi, tapi bisa juga tetep horror. Liat nanti aja deh,” cerita Albert.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya