Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Setelah Cikini, Akhirnya Silampukau Konser di Kota Asalnya

Published

on

Silampukauuuu

Silampukau saat konser di Cikini Maret kemarin. (Foto: Rolling Stone)

Setelah kenyang mondar-mandir menjalani tur di banyak kota, Silampukau akhirnya beranjak merealisasikan keinginannya sejak dulu, yakni membuat pertunjukan tunggal. Maret kemarin Kharis dan Eki sebenarnya sempat membuat konser tunggal, tapi itu di Jakarta. Dan kini berselang  lima bulan dari itu, akhirnya mereka akan mengadakan konser tunggal di kota asalnya, Surabaya. “Ini jadi cita-cita yang harus diusahakan. Apalagi setelah menjamurnya teknologi perekaman dan koneksi internet yang semakin cepat, lebih banyak konser dinikmati di dalam layar kaca. Silampukau ingin mengembalikan musik ke atas panggung, menyuguhkannya dengan layak, dan menjalin koneksi yang lebih riil dengan penonton,” tulis mereka dalam rilis pers-nya.

Dengan titel konser ‘Silampukau dan Kawan-Kawan’, band yang baru reuni dua tahun lalu ini akan menampilkan seluruh komposisi dari album Dosa, Kota, dan Kenangan. Mereka juga melibatkan kawan-kawan musisi yang pernah turut campur dalam pembuatan album tersebut. “Menyaksikan konser ini seperti menyantap sepiring rujak cingur di Surabaya. Cita rasa asli sebuah kota dinikmati di kota asalnya,” lanjut mereka. Konser tersebut akan diselenggarakan tepat sehari setelah negeri ini merayakan kemerdekaannya yang ke-71, yakni pada 18 Agustus di Gedung Kesenian Cak Durasim.

Terkait venue, Silampukau melihat bahwa Gedung Kesenian Cak Durasim merupakan salah satu tempat pertunjukan paling bersejarah di Surabaya. Gedung yang dibangun tahun 1976 itu menyimpan banyak jejak seniman-seniman lokal, termasuk Cak Durasim sendiri yang merupakan seniman populer dan kontroversial dengan narasi-narasi heroiknya. “Tanpa ingin dibebani oleh histori macam itu, konser ini hanyalah cita-cita sederhana kami yang ingin menyelenggarakan konser tunggal di kota sendiri” ungkapnya. Silampukau menyediakan 500 tiket terbatas untuk konser ini dengan harga Rp 50 ribu. Tiket bisa dibeli mulai 18 Juli hingga 17 Agustus di beberapa gerai offair, untuk Surabaya ada di Cempaka Music Store dan C20 Library Collabtive. Sementara di Malang dapat dibeli di Legipait dan Reka Records. Pemesanan tiket juga bisa dilakukan secara online melalui email mereka, [email protected]

Konser Silampukau

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Kenistaan Layar Laca di Mata Hockey Hook

Published

on

Artwork single terbaru Hockey Hook, Layar Nista. (dok. Hockey Hook)

Cerita tentang kekesalan terhadap tayangan televisi di Indonesia memang belum ada habisnya. Banyak musisi yang menumpahkan keluhannya lewat lagu, tak terkecuali dengan unit ska punk asal Kota Kembang, Hockey Hook. Kenistaan layar kaca mereka nyanyikan lewat single baru yang diberi judul Layar Nista.

Single yang rilis digital akhir November kemarin ini digarap sendiri oleh Hockey Hook dengan bantuan Ako selaku sound engineering di Red Studio Bandung. Lewat rilis persnya, Hockey Hook menyebut konten televisi di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari kata edukatif. “Konten televisi di Indonesia dipenuhi program-program tidak mendidik seperti sinetron yang ditayangkan siang hari, pengemasan variety show di beberapa kanal media yang penuh gosip selebriti, diwarnai juga cemoohan antar satu sama lain host. Tidak ketinggalan pula kampanye hitam politik di media Televisi yang tentunya saling menjatuhkan lawan,” sebut mereka.

Layar Nista ini dikemas lebih ke reggae dub ala California era 90an. Mereka juga menggandeng DJ Eone Cronik dari Eye Feel Six guna membangun nuansa scratch di lagu tersebut. Dan setelah ini, Hockey Hook kabarnya akan melempar mini album berisikan lima lagu yang sekaligus melanjutkan debut album yang rilis dua tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya