Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Mengenang Netlabel Day di Surabaya

Published

on

Netlabel Datang Lagi

Selamat datang Netlabel Day!

Sebelum meluncur bebas jadi grup folk yang disukai berbagai strata, usia, ras, gender hingga jadi langganan obrolan media lewat album Dosa, Kota, dan Kenangan, Silampukau sempat merilis album mini yang publikasinya tak segencar album sesudahnya. Judulnya Sementara Ini, berisikan lima lagu dengan tulisan pengantar dari Nuran Wibisono. Di dalamnya Nuran mengisahkan tentang bagaimana menariknya komposisi milik Kharis dan Eki yang saat itu sedang bersemangat selepas vakum. ‘Sementara menunggu, Silampukau’; itu menjadi headline postingan situs Ayorek! Agustus dua tahun lalu. Masih terasa ambient-nya, secara tidak sedikit yang menunggu Silampukau hadir lagi dengan karyanya yang mengena di telinga dan pikiran. Tak banyak omong, tapi juga tak banyak karya, ya itulah mereka, grup folk apa adanya.

Dibalik rekaman apa adanya serta perilisan yang terbilang mengagetkan, muncul pula identitas SUB/SIDE di dalam kemasan .rar yang akan muncul setelah diunduh gratis dari situs web Ayorek!. Saat itu, SUB/SIDE menjadi salah satu netlabel yang aktif merilis beberapa album bagus, Silampukau contohnya. Sebelum itu netlabel bentukan tim redaksi Ayorek! ini sempat juga merilis ulang album pertama Taman Nada, kemudian reissue Megamix Koplo Goes to Breakcore milik Terbujurkaku, hingga beberapa sesi live dari Hi Mom!, Jessica Loves Monday dan kompilasi Piknik Akustik. Semuanya dirilis digital, kecuali SUB/SIDE Compilation Vol.1 yang sempat rilis fisik juga.

Masih di era yang sama, kurang lebih periode 2013-2014, muncullah Nerve Records. Masih satu benang dengan SUB/SIDE, Nerve bergerak sebagai label digital. Dua album sempat mereka rilis, pertama debut EP milik Tuan Tanah berjudul A Thousand Different Moving Pictures Can’t Describe This Feeling, kedua Our First EP dari kolektif emotive hardcore Reveur. Pergerakan kedua netlabel ini secara tidak langsung ikut meramaikan produktivitas musisi Surabaya untuk urusan pengarsipan karya. Dan ternyata keberadaan mereka mampu mendorong beberapa band yang pasif jadi aktif berkarya. Tidak tanggung-tanggung, sampai akhir 2014 kami sempat menghitung ada sekitar 27 rilisan yang lahir dari musisi lokal, enam album rilis digital dan tiga diantaranya lahir dari mereka.

Sayangnya, perburuan mereka untuk urusan pengarsipan karya musisi lokal harus tersendat. Selepas dua rilisan, Nerve Records seperti hilang ditelan bumi. Sedangkan SUB/SIDE? masih ada, tapi rilisannya tak kunjung keluar lagi. Dari 17 album yang sudah rilis di Surabaya sampai pertengahan tahun ini saja baru ada tiga band yang masih memilih jalur distribusi digital, itupun memanfaatkan jasa iTunes. Sisanya, CD dan kaset tape merajalela. Tidak salah jika belakangan Record Store Day atau Cassette Store Day benar-benar ramai pembeli. Itu tandanya, denyut nadi keberadaan netlabel di kota ini harus mulai dipertanyakan.

Entah kabar baik atau buruk. Jika dipandang secara positif, mungkin beberapa musisi atau penggerak label lebih memilih metode rilis fisik seiring dengan meningkatnya tren tersebut. Negatifnya, mungkin ekspansi netlabel kurang cocok tumbuh di lahan hijau Surabaya. Entah apa penyebabnya. Pastinya cukup disayangkan, melihat kota-kota lain juga gencar memanfaatkan jalur ini sebagai arus alternatif untuk tetap produktif. Jadi, selamat merayakan Netlabel Day yang kebetulan jatuh hari ini, sayang kami tidak ikut berbagi.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya