Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Persiapkan Ekspektasi, Tak Banyak Spekulasi

Published

on

Timeless 03

Dari kiri: Fajri, Fery, Bima, dan Anggra. (Dok. Timeless)

Saat itu Cold Summer dipilih jadi lagu terakhir yang dibawakan. Teriakan shoutout penonton hanya diiringi ketukan drum yang masih saja prima sampai lagu terakhir. Setelah gitarnya terjatuh, Bima tampak ngotot mengeluarkan vokalnya yang tak kunjung terdengar. Suara gitar dan bass pun demikian.

Masih terekam jelas bagaimana mereka berusaha tetap tampil meski di kepung hujan deras dan listrik mati. Penonton tak banyak pikir, lagu mereka cukup mudah dibuat sing along, jadi, tanpa listrik pun Timeless masih menghibur. Setahun silam, Lapangan parkir UNESA Lidah Wetan kala itu jadi salah satu saksi sangarnya band yang meroket dalam waktu tak kurang sampai tiga tahun.

Penampilan mereka kala itu membuka tur gerombolan band punk dari Solo, dan mungkin itu merupakan satu dari sekian banyak performa epik Timeless. Secara, semenjak debut EP We Believe For What We Do Is Timeless meluncur bebas. Mereka tidak berhenti menyambangi banyak gig, baik itu dalam-luar kota, besar-kecil, dibayar-tak dibayar; band ini jarang sekali mengecewakan.

Mini album yang mulanya bebas unduh pun akhirnya begitu diburu hingga diluncurkan ulang dalam dua format, CD dan kaset. Pengusung alternative rock ini secara mengejutkan juga muncul sebagai nominasi pendatang baru terbaik versi ICEMA 2014. Hebatnya lagi, perjalanan luar pulau ke Rock In Celebes 2015 menyusul setelahnya. Publikasi media tidak berhenti di satu pintu, bentuk apresiasi lain juga tidak bisa  dijabarkan satu persatu. Lihat saja total pendengar dan viewer di jejaring sosial mereka. Ya, Timeless memikat di waktu yang singkat.

Timeless 002

Golden Age & Timeless yang sedang berada di era-nya. (Dok. Timeless)

Bagi Timeless, semua yang mereka dapat benar-benar di luar ekspektasi karena selama ini baik Bima, Fajri, Fery, dan Anggra hanya bermusik sesuai keinginan. “Selama ini kami mengerjakan apa yang kami suka, bukan mengerjakan apa yang orang lain suka,” ujar Fery saat ditemui di salah satu kafe di kawasan Surabaya Timur. Jadi, ketika banyak yang menganggap Timeless sebagai band bagus, mereka pun tak sedikitpun terbeban untuk menyajikan karya yang harus selalu dianggap demikian. “Pokoknya kami memberikan yang terbaik. Kalo orang suka ya oke, itu bonus. Kalo gak suka ya gakpapa. Yang penting kami mainin apa yang kami suka,” lanjutnya.

Untuk itu, sebuah LP Between and Beyond tengah dipersiapkan. Single Golden Age juga telah merengkuh lebih dari seribu listener . Lewat single itu pula Timeless makin mantap menutup tahun 2016 dengan rilisan anyar. ‘Between choices, beyond expectation’; konsep itu jadi benang merah di album yang akan mereka rilis tahun ini juga. Intinya, tidak semua pilihan itu tepat, tapi yang perlu diperhatikan ialah bagaimana pilihan itu bisa sesuai. Timeless pun mengibaratkannya dalam musiknya, di mana mereka adalah bagian dari banyak pilihan musik di Surabaya. Pendengar pasti akan memilah antara yang terbaik atau yang disukai. Di sinilah Timeless coba memberikan ekspektasi bagi yang mendengarkannya.

Lakukan Produksi dan Distribusi Album Secara Mandiri

Timeless Proses Rekaman

Dibantu Aditya Arissaputra, Timeless menyelesaikan sembilan lagunya di L-One Studios. (Sumber: Instagram)

Berkaca dari rilisan pertamanya, Timeless terbilang ekspres. Mini albumnya dikerjakan dengan waktu yang singkat. Melalui arsip wawancara kami, bulan Juni 2014 mereka tengah bersiap masuk studio rekaman. Hebatnya, dua bulan setelahnya album tersebut sudah rilis. Dan sepertinya itu bisa saja terulang di album Between and Beyond. Meski tidak secepat itu, paling tidak Timeless tak butuh waktu sampai setahun untuk menyelesaikan satu buah album.

Namanya yang mulai diperbincangkan jadi faktor mereka mulai dicari. Termasuk juga record label yang coba mendekatinya. Meski begitu Timeless tetap memilih untuk mengerjakan dan merilisnya secara mandiri. Baik dari pembiayaan, produksi, hingga distribusi mereka hanya melibatkan orang-orang di dalam Timeless itu sendiri. “Sebenarnya ada beberapa tawaran dari label lain. Tapi berhubung ini album pertama, jadi kami mau ngerasain dulu gimana rasanya produksi sendiri. Sebagai musisi, setidaknya kami juga harus paham prosesnya,” imbuh Rudi.

Kini band yang dibentuk tahun 2013 tersebut sudah memasuki tahap produksi album. Proses itu dilalui setelah menghabiskan antara bulan Februari hingga Maret untuk rekaman, mixing dan mastering beserta revisinya. “Pengennya bisa secepatnya rilis, mungkin bisa setelah lebaran. Paling enggak tahun ini juga,” sahut Fajri. Pastinya, mereka cukup menikmati proses kreatif ini, beruntung semua masih berjalan sesuai plan sehingga kecil kemungkinan album ini molor.

Timeless Proses Rekaman 02

Demi menjaga mood, mengemas studio jadi lebih homey adalah solusinya. (Sumber: Instagram)

Saking menikmatinya, proses rekaman yang mereka lakukan di L-One Studios pun berlangsung cukup unik. Masing-masing personil berupaya menjaga mood dengan membawa properti kesukaannya seperti patung kucing pembawa hoki atau lebih dikenal dengan Maneki Neko, sarung tinju, bendera Amerika, sampai lampu kelap-kelip yang di pasang di set drum. “Tiap personil punya pressure-­nya masing-masing pas rekaman. Nah kami coba membuat gimana caranya supaya studio itu lebih berasa homey. Apalagi di kondisi-kondisi kayak gitu biasanya berbanding terbalik antara kemauan dan kemampuan,” lanjutnya lagi.

Mendengar lagu mereka sambil melihat cover artwork-nya di Soundcloud sudah cukup menyenangkan. Ditambah lagi proses pengerjaannya, mereka tampak santai dan terlihat menyenangkan jika dipantau dari postingan-postingan Instagramnya. Setidaknya mereka tidak banyak berspekulasi dalam prosesnya, justru malah mereka mulai memberikan serpihan-serpihan ekspektasi. Jadi, apa sudah siap menunggu rilisan anyar mereka?

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Zorv Dan Secuil Kisah Perantau Grunge Yang Sempat Meliar

Published

on

Berantakan: Wajah Blackbird yang porak-poranda akibat keliaran Zorv saat pesta launching albumnya lima tahun silam. (Foto: Ian Darmawan)

Sepekan lalu, fitur kenangan di Facebook tanpa sengaja menampilkan poster dari pesta perilisan album salah satu band bagus di zamannya. Sebuah gigs yang menjanjikan keliaran; seliar atraksi tong setan, senakal Sasha Grey, dan membabi-buta layaknya mulut netizen saat mengomentari RI 1 dengan stuntman-nya. Pada intinya, semua kebrutalan yang masih manusiawi sudah cukup mewakili flashback sesaat setelah melihat gambar tersebut.

Poster launching album Zorv ‘Savage’.

Album yang rilis dan dipestakan itu bernama Savage. Bersampul hitam, lengkap dengan rusa berakar. Hebatnya, akar yang tersaji secara visual itu juga melebur secara audio dan mendominasi 43 menit durasi album. “Kenapa akar? karena kita gak mau ngelupain dari mana asal kita. Don’t forget the root-lah,” cerita Ragil Herlambang, pembetot bass yang kami temui lima tahun lalu di tempat kerjanya. Ya, secara garis besar Savage bercerita tentang keliaran, namun masih pada batas yang wajar tanpa lari dari akarnya.

Mereka adalah Zorv. Band yang sebenarnya tidak terlalu lama berada di iklim Surabaya. Tapi di waktu yang terbilang singkat, mereka mampu memberikan bercak manis. Jurnallica menyebutnya sebagai duplikasi Nirvana, Jimi Multhazam menyematkan kata canggih untuk mereka, dan Rolling Stone Indonesia menganggap sebagai gairah baru skena Surabaya. “Jujur, Zorv gak terlalu expect banyak juga pada waktu itu. Yang penting kita pengen banget berkarya,” kenang Danishwara beberapa waktu lalu.

Lima tahun silam, berawal dari rekomendasi teman dan majalah impor yang sudah kandas, kami tergiring untuk berkenalan dan mencari tahu tentang siapa itu Zorv, hubungannya dengan Kurt Cobain dan Chris Cornell, optimistisnya terhadap grunge, kemudian membeli debut albumnya yang apik rilisan Wellstain Records. Dan lima tahun silam pula, kami merasakan terbanting-banting akibat mosphit liar saat pesta peluncuran album tersebut. Berlokasi di kafe kecil di Klampis; Blackbird yang sayangnya sudah kandas juga; di sana Zorv pamer seluruh lagu solid yang ada di rilisannya.

Keos: Setlist Zorv malam itu sukses menghantam telinga sampai tembok. (Foto: Ian Darmawan)

Malam itu gitar Danishwara tak seprima suara vokalnya. Tampak berkali-kali ia memutar potensio amplinya. Sesekali riff gitarnya juga terdengar meleset, bahkan beberapa fill terasa tak se-solid rekaman CD-nya. Tapi mau tak mau, tabrak sana-sini masih tetap terjadi. Kami juga berani bertaruh jika penonton yang ada pun tak mempedulikan kesempurnaan penampilan mereka. Toh, selama ketukan drum dan dentuman bass-nya tertib, beat yang terbangun lebih dari mampu untuk memecah keliaran. Terlepas dari gitarnya yang di bawah perform, perlu di highlight tentang vokalnya yang stabil serta aksen jelas, dan di sinilah mereka tampak pandai menyampaikan lirik-liriknya yang sebenarnya lirih.

Surabaya saat itu, malam itu, dan di tahun itu seperti menemukan tambang emas baru. Gairah grunge yang sebelumnya biasa saja, jadi bersahaja. Diikuti juga dengan munculnya warna-warni musik baru dari band seangkatan Zorv. Sebut saja Cotswolds, Taman Nada, Headcrusher, The Ska Banton, atau Humi Dumi. Bahkan hidung kami sebagai media lokal mengendus ada 10 album yang muncul di 2013, capaian yang melebihi tahun-tahun sebelumnya. Jumlah itu membengkak di tahun berikutnya jadi 27 rilisan. Seperti membungkan paradigma pendahulu kita hobi menyebut: “musik di Surabaya itu susah berkembang, gitu-gitu aja”.

—-

Pesta, Pisah, dan Rekaman yang Terbengkalai

Dari balik kaca, Balqi terlihat duduk santai mengamati ramainya ruas jalan Dharmawangsa. Lelah bersantai, dia masuk ke dalam ruangan, menyapa pelanggan sambil mengganti-ganti channel TV kabel. Setahun setelah pesta senang-senang itu, Balqi lebih banyak menghabiskan waktunya di Morven; usaha barbershop dia bersama beberapa rekannya. Di tahun itu juga ia menyelesaikan studi komunikasinya, mulai jarang berbicara tentang Zorv karena saat itu mereka sedang pasif bermusik.  Zorv yang sebelumnya tengah jadi perbincangan berkat materi dan performanya, belakangan mulai surut. Danishwara bertolak ke Inggris, melanjutkan studi. Otomatis, Zorv pincang sesaat. Sementara Ragil tampak masih melakukan rutinitasnya seperti biasa.

Zorv: Balqi (drum), Danishwara (gitar & vokal), Ragil (bass)

Mutlak memang kala di tiap pertemuan selalu ada perpisahan. Pertemuan Danish dan Ragil yang sama-sama perantau, tinggal di satu kos, membentuk band, hingga menelurkan album tampak begitu cepat berlangsung, secepat durasi album Savage berakhir. Dua tahun berselang, mungkin sekitar 2016 Zorv semakin tak bernyawa. Kelar studi di Inggris, Danish kembali ke Ibukota dan memulai karirnya. Begitupun Balqi yang sempat menetap di sana juga. Dan Ragil, pulang ke kampung halamannya di Madiun melanjutkan bisnis kulinernya.

Dari ketiga personil Zorv, Danish-lah yang paling aktif bermusik. Selepas vakum bersama trio grunge-nya, fans The Red Devils itu sempat membangun project ‘iseng’ bernama Hakash. Dan belum lama ini, sekitar tahun lalu ia kembali tergabung dalam Purpla bersama teman-temannya di Ibukota. Praktis, penampilan mereka pada akhir 2013 di Rock In Celebes jadi yang terakhir di masa aktifnya. “Tahun 2017, kita sempet main di nikahannya Balqi hahaha Kita bawain beberapa lagu waktu itu, serunya lagi ada Dul Jaelani yang featuring sama kita. Yah, kapan lagi main grunge di kawinan,” lanjut Danish.

Lalu sekarang, ke mana jejak Zorv berlanjut? Sempat ada isu yang menyebut jika Zorv tengah membuat sesuatu; kami pun tidak tahu itu apa. Tapi jika mengacu pada transkrip wawancara kami dengan mereka lima tahun silam, mereka sempat menyicil beberapa materi baru. Danish membenarkan sekaligus mengungkapkan kebingungannya terhadap materi-materi tersebut. “hahaha.. tadinya udah lupa loh. Bener ada, kita sempet rekaman di Natural Studio tahun 2013, tiga lagu baru dan rencananya waktu itu mau rilis EP judulnya Moonswimmer. Tapi mau dikemanain rilisannya jujur belum ada plan. Ada ide?”.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

Surabaya