Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Deryck Whibley Kembali Produseri Albumnya Sendiri

Published

on

Deryck-Whibley

Titik Balik: Setelah melewati masa rehabilitasi, Deryck Whibley mencoba kembali produktif.

Masa rehabilitasi yang sempat dialaminya beberapa waktu lalu justru membuat Deryck Whibley kembali mendapatkan sentuhan bermusiknya. Vokalis sekaligus gitaris Sum 41 itu dengan bangga mengumumkan titel album bandnya yang sudah siap rilis bulan Oktober, 13 Voices. “Bisa dibilang album ini telah menyelamatkan hidupku dan aku ingin segera merilisnya,” ujar Whibley melalui rilis pers Hopeless Records yang Ronascent terima. Album tersebut sekaligus jadi debut Sum 41 bersama Hopeless yang baru-baru ini menggandengnya sebagai rooster andalan.

13 Voices akan rilis tepat pada 7 Oktober mendatang, di mana Deryck Whibley kembali berperan langsung sebagai produser seperti di dua album studio sebelumnya, yakni Underclass Hero (2007) dan Screaming Bloody Murder (2011). Melalui rilis pers, Sum 41 mengumumkan 10 tracklist yang ada di dalamnya, tapi belum diketahui single mana yang akan dilepas lebih dulu. Pastinya, faktor masuknya kembali gitaris mereka Dave ‘Brownsound’ Baksh jadi salah satu penguat akan dobrakan musikalitas mereka yang sempat hilang.

Sum 41 - 13 Voices

Sampul album terbaru Sum 41 ’13 Voices’ yang akan rilis 7 Oktober 2016. (Secret Signals/Hopeless Records)

Mewakili rekan-rekannya, Deryck menyebut album ini sebagai titik balik kehidupannya yang sempat terpuruk. “Aku (Deryck Whibley, red) harus mempelajari semuanya lagi, mulai dari bergerak sampai belajar bermain gitar lagi. Saat itu aku bahkan tidak mampu untuk berjalan, benar-benar masa-masa yang sulit, tapi di saat yang sama, kalau aku tidak punya materi apapun untuk direkam, rasanya aku tidak mungkin bisa sembuh secepat ini. Menulis dan membuat lagu memberiku alasan bahwa aku harus sembuh,” ujarnya.

Setelah melewati beberapa fase pasca rilisnya album kelima Screaming Bloody Murder lima tahun lalu, Sum 41 sempat mengalami pasang surut. Apalagi setelah drummer mereka Steve Jocz hengkang kemudian diikuti dengan kecanduan Whibley terhadap alkohol yang makin menjadi-jadi sehingga membawanya pada pusat rehabilitasi. Band punk yang muncul di tahun 1996 ini seakan hilang dari peredaran. Sentuhan mereka kembali muncul saat Altpress Awards tahun lalu, di mana Sum 41 tampil dengan formasi berlima dengan Brownsound yang kembali setelah sembilan tahun resign.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading

NEWS

Bedchamber Ajak Penonton Tentukan Ending Klipnya

Published

on

Bedchamber. (Foto: George Mundor)

Kurang lebih empat bulan setelah album Geography rilis, kolektif indie pop Ibukota, Bedchamber melempar video klip Moon kemarin (10/5). Video klip tersebut sekaligus jadi yang terbaru setelah empat tahun lamanya. Ya, Bedchamber terakhir kali merilis klip Perennial empat tahun silam. Dalam project ini, Nadine Hanisya dipercaya sebagai sutradara dengan menampilkan aktor senior Jim Adhi Limas. Klip tersebut sudah bisa dinikmati di akun Youtube ofisial milik Kolibri Rekords.

Dalam video ini Bedchamber coba mengisahkan tentang sosok pria feminim yang berusaha keluar dari tekanan. Jim Adhi Limas  yang memiliki simbolisme dan pemaknaan berlapis pun tampak menyatu dengan lagu yang ditulis oleh Ratta cs. Namun di akhir, Bedchamber sengaja memberikan ending yang kabur agar penonton bisa ikut terlibat menentukannya. “Di sini Bedchamber membuka kesempatan penonton untuk menginterpretasi dan menentukan sendiri kisah hidup pria tersebut. Silahkan berbagi, semua teori diterima!” tulis Bedchamber dalam rilis persnya.

Bersamaan dengan rilisnya Moon, Bedchamber juga mengumumkan dua titik turnya di Jatim, yakni Surabaya (11/5) dan Malang (12/5). Untuk yang di Surabaya, Bedchamber akan tampil di launching album terbaru Cotswolds, ‘Tadius Showcase’ akhir pekan ini bersama Closure, Gizpel, dan tentunya Cotswolds.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

NEWS

Winter’s Fault, Dibalik Harapan, Kelahiran & Single Baru Luise Najib

Published

on

Cover single terbaru Luise Najib. (Dok. Luise Najib)

Luise Najib, penyanyi wanita lulusan The Voice Indonesia 2013 ini akhirnya melempar single baru berjudul Winter’s Fault ke publik pada 2 Mei 2018; sekaligus jadi comeback setelah hampir setahun vakum. Winter’s Fault sendiri bercerita tentang harapan, juga seseorang yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan dan merubahnya secara perlahan. “Hari itu, aku melahirkan anak lelakiku”cerita Luise, tepat pada 3 Mei 2017, dan setahun kemudian, lahirlah single ini.

Berbeda dari lagu sebelumnya, Winter’s Fault lebih bernuansa sendu dan tenang. “Pada suatu malam di tahun 2013 aku terbangun, rasanya seperti berusaha mengingat mimpi, tapi semakin kerasa ku berusaha mengingatnya semakin buram ceritanya, hanya melodi-melodinya saja yang samar teringat, malam itu juga langsung aku rekam lagu ini,” lanjutnya.

Alunan piano yang dimainkan oleh Vicky Unggul, selaku co-producer di lagu ini berhasil menyelimuti warna vokal Luise Najib yang membawa perasaan kita ke dalam ruang gelap namun penuh kehangatan. Perpaduan musik elektronik dan pop mereka hasilkan berkat eksplorasi musik antara Luise Najib dan Vicky Unggul selama 2 tahun ini.

Luise mengaku semakin yakin akan jalur yang telah dia pilih. “Aku harap lagu ini bisa mengingatkan siapapun yang pernah atau sedang mengalami depresi, bahwa harapan itu selalu muncul di situasi yang tidak terduga, cinta dan kebahagiaan pasti akan selalu ada”, imbuh Luise mengenai harapannya di lagu ini.

Bersamaan dengan perilisan single terbarunya di berbagai platform seperti iTunes dan Spotify, Luise juga merilis official music video Winter’s Fault di YouTube. Dalam pembuatannya, ia menyutradarai sendiri video klip ini dengan dibantu Risky Jusuf sebagai DOP.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya