Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Tame Impala Live In Jakarta: Perjalanan Transedental yang Disiplin

Published

on

Jpeg

Setelah menunggu sekitar lima tahun, Tame Impala akhirnya kembali ke Tanah Air. (Foto: Nadia Maya)

Lima tahun berlalu sejak panggung pertamanya di Tanah Air, Jumat malam lalu (29/4) band psychedelic rock asal Australia, Tame Impala kembali menggelar konser di Jakarta. Sebelumnya mereka juga pernah jadi salah satu lineup dari sebuah festival musik di Jakarta 2011 lalu, dan kali ini merekalah sajian utamanya—bahkan opening act-nya pun bisa dibilang ngeri, yaitu Barasuara. Bertempat di Lapangan Parkir Selatan Senayan, Tame Impala sukses membuat ribuan penonton bergerak dari berbagai penjuru menuju Senayan menerjang kemacetan khas Jumat malam Ibu Kota yang ganas.

Konser malam itu berlangsung dengan jadwal yang cukup saklek, di mana Barasuara naik panggung satu jam sebelum Tame Impala yang dijadwalkan naik jam 8 malam. Jadwal yang bisa dibilang ‘kepagian’ ini menyebabkan penampilan paten Barasuara ‘hanya’ ditonton crowd yang baru terisi separo venue, bisa jadi juga karena separo sisanya masih berjuang menerobos arus lalu lintas jam pulang kantor. Tapi permainan mereka malam itu tetap saja membakar seperti biasanya, bahkan semakin mengukuhkan reputasi mereka yang sepertinya memang ditakdirkan untuk menjajah arena-arena besar macam Senayan. Di sela-sela performance, Iga Massardi (vokal, gitar) sempat bercerita bahwa dia juga hadir di gelaran Tame Impala di Jakarta yang sebelumnya sebagai seorang fans, bahkan sempat foto bareng dengan seluruh personil plus gitar Fender buluk miliknya (Iga bilang “waktu mereka masih open”), dan masih tidak bisa percaya kalau kini dia bersama bandnya lah yang mendapatkan kehormatan sebagai pembuka.

Jarum jam mencapai 20.30 malam, akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga. Kevin Parker, Jay Watson, Cam Avery, Dominic Simper, dan Julien Barbagallo menempati posnya masing-masing sambil diiringi jeritan euforia penonton. Dengan sedikit sapaan dan tanpa banyak omong mereka langsung memulai proses hipnotis penonton dengan lagu pertama Let It Happen. Permainan visual warna-warni, tata lampu atraktif, confetti dan smoke gun sontak mengubah lahan yang sehari-harinya merupakan hamparan aspal biasa menjadi kuil luminasi psikadelik, seakan mengamini ekspektasi penonton akan paket performa ideal Tame Impala.

“Hai Jakarta! Terima Kasih,” sapa Kevin Parker sambil menyelipkan sedikit kosa kata Bahasa Indonesia, “feels good to be back here,” yang langsung dijawab dengan teriakan penonton seperti sudah tak kuasa menahan memendam rindu. Meski menu utamanya adalah lagu-lagu dari album ketiga Currents, tapi tentu saja nomor-nomor sakti dari album Innerspeaker (2010) dan Lonerism (2012) seperti Mind Mischief dan Why Won’t They Talk to Me? dibawakan dengan iringan tarik suara berjamaah segenap penonton yang hadir. Ekstase yang dirasakan penonton makin memuncak saat Elephant dibawakan, dan daya magis Tame Impala tak surut sedikitpun di lagu-lagu selanjutnya. Dreamlike sound yang mereka hadirkan berpadu dengan sajian visual yang mendukung terasa bagaikan tiket menuju out-of-body experience tanpa perlu mengkonsumsi substansi nakal sedikitpun.

Jpeg

Encore jadi pelengkap penampilan Kevin Parker cs di Jakarta kemarin. (Foto: Nadia Maya)

Menuju separuh perjalanan konser, Kevin Parker mengajak penonton untuk slowin’ down sejenak dengan anthem akhir hubungan Yes I’m Changing, yang langsung membuat penonton yang tadinya lompat-lompat jadi singalong secara emosional. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu bassline genit “The Less I Know the Better” berkumandang dan crowd pun kembali meliar.

Selama konser Kevin Parker cs jarang mengobrol dengan penonton, paling-paling menyapa standar saja, dan penonton pun tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Tapi menjelang akhir set Parker sempat memuji performa Barasuara, walaupun agak sedikit terpeleset pengucapannya. “Just want to say thank you, maaf kalo salah sebut…Barasuari? Oh, Barasuara! Almost there. It’s always hard to go out after a band that was so good,” pujinya.

Jakarta sendiri merupakan destinasi terakhir tur Asia Tenggara mereka untuk album Currents, menjadikan konser kali ini terasa spesial baik bagi penonton maupun bagi Tame Impala sendiri. Dan terasa makin spesial bagi penontonnya karena setelah silam dari panggung usai membawakan Apocalypse Dreams dan serangkaian teriakan “WE WANT MORE” Tame Impala kembali naik tahta untuk membawakan dua encore yang sangat ditunggu-tunggu, yakni Feels Like We Only Go Backwards dan New Person, Same Old Mistakes (yang terakhir disebut ini telah dicover Rihanna dan menjadi salah satu track di album terbarunya, ANTI). Sebuah ending yang trippy dalam skala majestic.

Overall, konser Tame Impala kali ini gila dan sangat memuaskan jika tidak bisa dibilang sempurna. Mulai dari awal saat para kru Tame Impala mengeset instrumen dan peralatan sound sambil mengenakan jas lab putih, seperti menjanjikan bahwa konser malam itu hadir dengan sangat terkonsep. Visual yang memanjakan dan halusinatif. Sound yang ciamik sangat pas dengan area konser yang outdoor, membuat banjir reverb yang ada pun terasa begitu nikmat, bagaikan mendengarkan versi CD-nya. Sebenarnya bakal lebih mantap kalau mereka lebih banyak menyelipkan jamming di beberapa lagunya, tapi nampaknya kali ini Parker cs memilih untuk setia pada durasi versi studio saja.  Satu-satunya yang bisa dibilang ‘mengganggu’ dari konser Tame Impala kemarin adalah banyaknya jumlah tangan berhandphone yang tak kunjung turun dari hadapan jarak pandang penonton lain. Akhirnya, tepat pukul 10.00 malam WIB Tame Impala benar-benar tutup lapak setelah bermain selama kurang lebih 1,5 jam, dan masih terdengar para penonton yang mencoba keberuntungan dengan berteriak “WE WANT MORE”.

Perekam momen, penganyam benang, tukang gambar, sekaligus pengamat tulisan di bodi truk. Menghabiskan 9-5 dengan mengasuh dunia maya, sesuai dengan namanya sendiri.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

EVENTS

Super Generation Fest 2018: Kehangatan Shoegaze Memecah Dinginnya Bandung

Published

on

Tanggal 24 November mungkin menjadi hari yang paling dinanti shoegazer dan “sobat indie” Indonesia. Band shoegaze legendaris asal Britania Raya, RIDE dan band shoegaze asal New York, DIIV didaulat menjadi line-up utama di Super Generation Fest 2018 di Eldorado Dome, Lembang, Bandung.

Super Generation Fest 2018 bisa dibilang sebagai event musik irit line-up. Praktis hanya empat band yang nangkring di list pengisi acara. Namun dengan nama besar seperti RIDE dan DIIV sudah bias dipastikan animo penonton akan gila. Apalagi dengan harga tiket yang terhitung murah untuk band sekelas RIDE dan DIIV. Terbukti, antrean penukaran tiket sudah terlihat memanjang di sore hari. Ya walaupun sudah diumumkan bahwa show dimulai pukul tujuh malam, namun sejak sore sudah banyak penonton yang datang; sebuah capaian positif tentunya.

Pukul 19.30 WIB show dimulai. Dibuka oleh kolektif post-rock asal Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun yang mampu memanaskan suasana. Kurang lebih tujuh track dibawakan UTBBYS malam itu. Cukup singkat memang, namun UTBBYS mampu membayarnya dengan penampilan yang apik. Setelah UTBBYS, band beraliran elektronik asal Bandung, Rock N Roll Mafia menjadi penampil selanjutnya. Hmmm, cukup awkward dan kurang pas memang jika band beraliran elektronik di daulat menjadi band pembuka. Terbukti crowd ketika RNRM tampil tidak begitu antusias. Hanya segelintir orang yang ikut berdansa dan bergumam. Agaknya kurang worth it jika melihat waktu yang termakan cukup lama untuk menyiapkan lighting khas RNRM dan sound yang terdengar kurang bersih.

Setelah RNRM selesai, seketika barisan shoegazer usia muda maju untuk menyambut DIIV. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, akhirnya DIIV memulai penampilan pertama mereka di Indonesia. Riuh penonton yang semangat tak terbayar di awal penampilan. Di tiga lagu awal, technical error menghiasi set DIIV namun akhirnya bisa diatasi. Mencoba membayar kesalahan di awal, Zach dkk membawakan tembang lawas Follow yang membuat penonton mulai bernyanyi bersama. Atmosfer mulai memanas ketika lagu Dopamine dibawakan. Kerumunan yang awalnya hanya head-banging akhirnya menghasilkan crowd-surf menyenangkan dan gila. Hampir di semua lagu lama seperti Under the Sun, Dust, dan Doused mampu mebuat penonton bercrowd-surf ria. Namun di sela-sela lagu lama yang dinantikan ternyata lebih banyak lagu baru yang dibawakan DIIV. Ini yang membuat penampilan DIIV menjadi kurang bertenaga. Penantian panjang penonton yang ingin mendengar track-track andalan di album Oshin ataupun Is The Is Are akhirnya tidak terbayarkan. Malah terkesan seperti sesi latihan untuk album baru DIIV. Ditambah attitude dan interaksi dari Zach yang kurang enak membuat set DIIV jadi cringe.

Dan akhirnya giliran sang legenda untuk naik panggung. Seketika pergantian penonton terlihat dengan jelas. Barisan shoegazer senior langsung memadati ruangan. Di buka dengan LannoyPoint, penonton sudah mulai ikut bernyanyi bersama. Track kedua, masih dari album terbaru RIDE, Charm Assault kembali memanaskan suasana. Disusul dengan track ketiga, Seagull yang diambil dari album Nowhere seketika membuat penonton bergemuruh dan bernyanyi bersama. “Haturnuhun”, ucap Mark Gardener setelah menyanyikan lagu ketiga. Penonton semakin dibuat menggila dengan lagu-lagu lawas andalan yang dibawakan seperti Leave Them All Behind, OX4, dan puncaknya Vapour Trail yang menjadi senjata pamungkas RIDE untuk membuat penonton bernyanyi semakin keras. Tidak seru jika tidak ada encore. Sebelum memainkan Drive Blind sebagai encore, RIDE sempat memainkan musik instrumental yang cukup panjang dan berinteraksi dengan penonton. Set RIDE yang sempurna akhirnya ditutup dengan lagu Chelsea Girl. Total RIDE membawakan 16 lagu dengan mulus dan fantastis. Jika ditanya apakah worth it? Jawabannya SANGAT WORTH IT! Bagi para shoegazer mungkin Super Generation Fest 2018 merupakan event musik terbaik tahun ini di Indonesia. Jika tahun ini sudah bias mendatangkan RIDE dan DIIV, apakah tahun depan bisa mendatangkan band shoegaze lain seperti My Bloody Valentine dan Slowdive? Well, kita tunggu saja.

Teks: Agita Bela Hakiki | Foto: Arina Habaidillah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya