Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

Siapkan Klip ‘Got No Job’, Heavy Monster Juga Resmikan Website

Published

on

Heavy Monster 01

Heavy Monster. (Foto: Dok.Heavy Monster)

Ini merupakan project kolaborasi seni antara Heavy Monster dengan seniman muda street art Surabaya yang bergelut lebih dari satu dekade di ranah seni visual, yakni X-go (Bunuhdiri). Salah satu single Heavy Monster  berjudul Got No Job mempertemukan mereka dalam kolaborasi ini, lebih tepatnya dalam pembuatan video klipnya.

Setelah melewati waktu yang tidak sebentar, proyek ini pun rampung dan akan di diputar perdana besok Jumat (13/5) di Galeri Art AJBS Surabaya. Acara tersebut dikemas dengan titel ‘Muda Liar Berbahaya II’; sebuah event street art berformat pameran visual dari Serikat Mural Surabaya & Bunuhdiri Studio. Baik pameran dan video klip ini mempunyai satu tema yang sama, sehingga inline untuk jadi satu konten menarik yang disuguhkan bagi sesama pelaku dan penikmat seni.

Melalui rilis pers-nya, konsep gagasan klip ini berawal dari X-go yang segera disampaikan oleh salah satu personil Heavy Monster, Dauz yang kemudian disambut baik oleh bandnya. “Tidak butuh waktu lama, proses brainstorming untuk ide, teknis pengerjaan, dan persiapan lainnya dimulai sejak Agustus tahun lalu,” tulis mereka. Selain menjadi konseptor, di video ini, X-go juga menjadi art director-nya yang memadukan antara musik dan street art.

Launching & Screening V-Clip Heavy Monster

Flyer launching & screening perdana klip ‘Got No Job’

Pengerjaan video yang membutuhkan dana kolektif kurang dari Rp 10 juta ini memakai teknik stencil dengan cutting manual. Tujuannya agar bisa memunculkan nuansa street art, seperti tampilan jalan yang sekitarnya dipenuhi poster dan coretan graffiti. “Bisa dibilang teknik itu masih jarang digunakan dalam pembuatan music video, khususnya di Indonesia yang lebih didominasi oleh perform band dengan setting studio,” jelas Dauz. Konsep itu makin pas karena lagu Got No Job sendiri tidak bisa dilepaskan dari itu semua.

Dari segi teknis, prosesnya dilakukan secara independen, baik dari produksi hingga pembiayaannya. Dengan menggunakan teknik cut & spray atau lebih dikenal dengan stencil art dan beberapa teknik tempel poster serta lettering (karaoke version), X-go bersama tim Bunuhdiri membuat 100 cetakan stencil secara manual yang memakan waktu kurang lebih dua bulan.

Proses pengambilan gambar dimulai Maret kemarin dengan tim videografi dari Mama Bikin Production (MBP). Pilihan tempat jatuh pada Rooftop Warlock Store dengan pertimbangan lokasi yang sesuai dengan konsep jalanan itu tadi. Dengan melibatkan banyak pihak, selama tiga hari proses pengambilan gambar dilakukan. Berbagai media yang tersedia di lokasi seperti tembok rusak, kayu palet, tandon air, pintu besi dan benda urban lainnya menjadi media cetak strecil yang dibantu tim artistik lapangan dari Perompak Tembok (PKTK).

Proses editing video-nya sendiri memakan waktu sampai seminggu, tepatnya dari awal April dengan menggunakan teknik cut to cut, kolase serta penambahan beberapa cuplikan video live Heavy Monster yang diberi efek siluet agar lebih match dengan teknik stencil yang bernuansa hitam putih.

Launching tersebut juga disertai dengan rilis nya website ofisial milik Heavy Monster yang beralamatkan di www.heavymonsterska.com. Jadi selain bisa diakses lewat akun ofisial Youtube Heavy Monster, klip berdurasi 5 menit 28 detik itu juga bisa dilihat di website yang mulai diluncurkan di hari yang sama.

Got No Job sendiri bercerita tentang bagaimana seorang seniman yang memilih seni sebagai profesi pilihannya. Dengan segala resiko yang didapat, lagu ini merefleksikan bagaimana masa sulit yang harus dilalui dengan penuh percaya diri dan keoptimisan dengan segala apa yang dimilikinya, di mana munculnya situasi yang menjebak karena harus memilih jalan hidup. Meski disampaikan dari sisi negatifnya, sebenarnya lagu ini Heavy Monster tujukan untuk menjadi sebuah renungan, terutama bagi sesama seniman.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Dopest Dope Pertanyakan Tujuan Hidup

Published

on

Dopest Dope (dari kiri): Ricky Mahardhika, Rifki Hidayat, Hengki Arisando & Sasmito Prawiro. (Dok. Artventure Management)

Setiap manusia di dunia tentu punya tujuan hidupnya masing-masing. Tujuan itupun beragam, bisa duniawi atau akhirat. Namun jika dimaknai lebih dalam, apakah semua manusia paham dengan tujuan dari kehidupan ini? Sebuah kebingungan pun menghinggapi Dopest Dope. Lewat single barunya Tuju, kelompok alternatif dari Surabaya ini mempertanyakan maksud dari pertanyaan tersebut.

Melalui rilis pers yang kami terima kemarin (30/8), Dopest Dope mengumumkan rilisnya single baru mereka sekaligus bercerita tentang kebingungannya. “Lagu ini (Tuju,red) berisi tentang kegelisahan seseorang yang bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dalam hidup. Apakah kematian adalah akhir? atau kehidupan sebenarnya dimulai setelah kematian? atau setelah mati akan dihidupkan kembali ke dunia dan begitu seterusnya?” tulis mereka melalui Artventure Management. Dalam lagu tersebut, Dopest Dope tampak mengajak pendengarnya untuk sedikit merenung dan mendapatkan jawabannya masing-masing.

Selain tentang lagu barunya, band yang tiga tahun lalu bekerjasama dengan Demajors untuk merilis debut album Close to Death ini juga memperkenalkan penggebuk drum barunya. Posisi Oldy Pandu Nugraha kini diganti oleh Hengki Arisando atau Sipenk yang sebelumnya lebih dikenal bersama unit stoner Hawk. Dalam single baru ini, Sipenk langsung terlibar dalam proses rekamannya. Begitupun Rifki Hidayat, gitaris anyar yang masuk setelah Close to Death rilis.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Sengatan Electric Bird di RSD 2019

Published

on

Electric Bird, trio garage pendatang baru di Surabaya. (Dok. Electric Bird)

Electric Bird punya kemampuan untuk menyengat. Ya, nama yang mereka miliki bukanlah sekadar tekstual belaka. Dibalik itu, tertanam sebuah representasi musik yang menyengat bagaikan listrik. Dengan tegangan tinggi, musik mereka mampu bertransformasi jadi sebuah musik. Sentuhan garage serta muatan rock yang berapi-api memperlihatkan tiga pemuda energik ini tengah bersiap terbang tinggi seperti pheonix.

Selama ini publik baru mengenal Electric Bird lewat single perdananya Wardogs. Lagu yang dilempar melalui kanal digital streaming akhir tahun lalu itu mendapat respon baik. Ditambah dengan kerinduan Surabaya akan band seperti ini, posisi mereka pun aman. Hingga memasuki awal 2019, tepatnya di Record Store Day (RSD) 2019 kemarin (28/4) Electric Bird memberanikan diri keluar kandang. Sebuah album bertitel Stings You Hard baru saja mereka rilis.

Bersama Let’s Go Cmon Baby (LGCD), Eisen, Rasvan Aoki dan beberapa band lain, momentum RSD 2019 Surabaya kemarin jadi hari perilisan karya fisik pertama Electric Bird, Stings You Hard. Album yang menghadirkan 11 lagu ini sudah mereka kerjakan sejak tahun lalu. Keseluruhannya mereka kerjakan sendiri, mulai rekaman hingga produksi rilisan fisiknya. Bahkan band yang dimotori oleh Danu (vokal & bass); Vicky (gitar); & Ari (bass) ini juga tengah menyiapkan perjalanan tur yang nantinya akan dijadikan alat promo album mereka.

Tidak berbeda jauh dengan single pertamanya, Wardogs. Dalam album yang berdurasi 45 menit ini Electric Bird banyak berbicara tentang situasi sosial yang masih menarik untuk di sentil. Seperti halnya Wardogs, lagu yang menyenggol tentang individu, kritik dan tanpa solusi. “Kami juga menulis beberapa fenomena, salah satunya genosida di Timur Tengah yang kami tuangkan dalam lagi East,” cerita Danu. Lanjutnya, tak luput band ini pun menggambarkan situasi berapi-apinya dalam berkarya lewat lagu Raging Fire. Pengaruh The Datsuns, Wolfmother, Soundgarden, hingga Jimi Hendrix ikut membentuk part demi part lagu mereka.

Pasca RSD, album Stings You Hard ini nantinya akan di distribusikan ke beberapa kota di luar Surabaya. Sementara untuk digital streaming masih bakal menyusul.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

Surabaya