Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Warna Pop yang Hilang Dari Pathetic Experience

Published

on

Pathetic Experience

Dhimas Zoso dan Bagussatya. (Dok.Pathetic Experience)

Sekitar tahun 2011 silam di Surabaya saat itu muncul beberapa proyek akustik yang menjanjikan. Sebut saja seperti Taman Nada, Rasvan Aoki, Senandung Sore, Altarise, dan juga Pathetic Experience. Nama-nama tersebut pun langsung menjadi langganan banyak gig, karena selain konsep yang menarik, format akustik adalah format yang simpel dan memang bisa jadi solusi bagi event maker yang belakangan kehabisan venue untuk menggelar acara besar dengan gempuran sound full set.

Tak terkecuali dengan Pathetic Experience. Dengan format duo, tanpa vokal, dan hanya bermodal dua gitar akustik, ternyata mendapat jalan yang cukup mulus untuk memperdengarkan musiknya dari venue ke venue. Proyek iseng bentukan Dhimas Zoso dan Bagussatya ini membawakan instrumentalia musik pop bernafaskan pentatonik jawa yang manis dan bisa dibilang syahdu.

Musik mereka ibarat musikalisasi kehidupan. Mereka selalu mereflesikan hal-hal kecil yang ada di sekitarnya, kemudian meramunya dengan campuran nada pop dan jawa. Bagi Pathetic Experience, lingkungan sekitarnya adalah sumber inspirasi. Seperti halnya saat meramu jingle Bakpao keliling di lagu The Bakpao sampai suasana gerimis di Kampung Tambak Bayan pada lagu Mù Guāng Zhī Yǔ. 

Namanya juga proyek iseng, berbicara plan, baik Zoso maupun Bagus tak banyak berwacana. Soal album terutama, sejak awal mereka hanya mematok band ini akan berjalan cukup santai, jadi pastinya akan berprogress lambat. Bahkan, di tahun kelimanya ini mereka memilih untuk produktif melepas single di internet, bukan mengemasnya jadi sebuah album. “Sebenernya pengen sih, tapi balik lagi ke waktu. Soalnya kita gak sepenuhnya fokus ke sini (Pathetic Experience, red),” ujar Zoso.

Pathetic Experience 01

Salah satu penampilan Pathetic Experience. (Dok. Pathetic Experience)

Sayangnya memasuki tahun kelima ini mereka justru memilih untuk vakum. Seiring perjalanan kuliah mereka sudah mencapai finish tahun lalu, kedua orang perantauan yang bertemu di kampus ITS ini harus lebih realistis. Bagus memutuskan untuk lanjut merantau ke Pulau Bali, sedangkan Zoso masih tetap berada di Surabaya, namun sepertinya akan lebih fokus ke proyek bermusik lainnya, Dhurma. “Vakumnya kami ini bukan untuk waktu yang lama. Toh kalo ada yang ngajak main trus kita berdua pas lagi bisa ya gakpapa. Cuma untuk urusan ngumpul dan proses kreatifnya mungkin bakal lebih pasif ke depannya,” imbuh Bagus.

Meskipun belum sempat merilis album, sebelum vakum di bulan Mei ini Pathetic Experience sekarang masih disibukan dengan proyek pembuatan album music scoring yang merupakan kolaborasi mereka dengan game develop asal Surabaya, Mojiken. Sementara itu untuk urusan perform, agenda terakhir mereka ada pada 16 Mei kemarin, saat perayaan anniversary Radiogasm di Warkop Premium Surabaya. Beruntung, salah satu rekan mereka juga berbaik hati mendokumentasikan perjalanan karir Pathetic Experience selama lima tahun ke belakang dalam sebuah video dokumenter yang mungkin akan di upload dalam beberapa waktu ke depan.

Lima tahun memang bukan waktu yang singkat. Kemunculan Pathetic Experience dengan lagu-lagu apik-nya mungkin akan dirindukan layaknya band-band pendahulunya yang silih berganti muncul dan tumbang. Apalagi, musik mereka sudah memberikan warna tersendiri di Surabaya, khususnya musik pop. Ya setidaknya mereka tidak tumbang untuk seterusnya, karena baik Zoso ataupun Bagus sudah mempunyai kecintaannya tersendiri pada Surabaya. Bahkan sebelum pindah ke Bali, Bagus baru membuat satu proyek bermusik anyar.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Zorv Dan Secuil Kisah Perantau Grunge Yang Sempat Meliar

Published

on

Berantakan: Wajah Blackbird yang porak-poranda akibat keliaran Zorv saat pesta launching albumnya lima tahun silam. (Foto: Ian Darmawan)

Sepekan lalu, fitur kenangan di Facebook tanpa sengaja menampilkan poster dari pesta perilisan album salah satu band bagus di zamannya. Sebuah gigs yang menjanjikan keliaran; seliar atraksi tong setan, senakal Sasha Grey, dan membabi-buta layaknya mulut netizen saat mengomentari RI 1 dengan stuntman-nya. Pada intinya, semua kebrutalan yang masih manusiawi sudah cukup mewakili flashback sesaat setelah melihat gambar tersebut.

Poster launching album Zorv ‘Savage’.

Album yang rilis dan dipestakan itu bernama Savage. Bersampul hitam, lengkap dengan rusa berakar. Hebatnya, akar yang tersaji secara visual itu juga melebur secara audio dan mendominasi 43 menit durasi album. “Kenapa akar? karena kita gak mau ngelupain dari mana asal kita. Don’t forget the root-lah,” cerita Ragil Herlambang, pembetot bass yang kami temui lima tahun lalu di tempat kerjanya. Ya, secara garis besar Savage bercerita tentang keliaran, namun masih pada batas yang wajar tanpa lari dari akarnya.

Mereka adalah Zorv. Band yang sebenarnya tidak terlalu lama berada di iklim Surabaya. Tapi di waktu yang terbilang singkat, mereka mampu memberikan bercak manis. Jurnallica menyebutnya sebagai duplikasi Nirvana, Jimi Multhazam menyematkan kata canggih untuk mereka, dan Rolling Stone Indonesia menganggap sebagai gairah baru skena Surabaya. “Jujur, Zorv gak terlalu expect banyak juga pada waktu itu. Yang penting kita pengen banget berkarya,” kenang Danishwara beberapa waktu lalu.

Lima tahun silam, berawal dari rekomendasi teman dan majalah impor yang sudah kandas, kami tergiring untuk berkenalan dan mencari tahu tentang siapa itu Zorv, hubungannya dengan Kurt Cobain dan Chris Cornell, optimistisnya terhadap grunge, kemudian membeli debut albumnya yang apik rilisan Wellstain Records. Dan lima tahun silam pula, kami merasakan terbanting-banting akibat mosphit liar saat pesta peluncuran album tersebut. Berlokasi di kafe kecil di Klampis; Blackbird yang sayangnya sudah kandas juga; di sana Zorv pamer seluruh lagu solid yang ada di rilisannya.

Keos: Setlist Zorv malam itu sukses menghantam telinga sampai tembok. (Foto: Ian Darmawan)

Malam itu gitar Danishwara tak seprima suara vokalnya. Tampak berkali-kali ia memutar potensio amplinya. Sesekali riff gitarnya juga terdengar meleset, bahkan beberapa fill terasa tak se-solid rekaman CD-nya. Tapi mau tak mau, tabrak sana-sini masih tetap terjadi. Kami juga berani bertaruh jika penonton yang ada pun tak mempedulikan kesempurnaan penampilan mereka. Toh, selama ketukan drum dan dentuman bass-nya tertib, beat yang terbangun lebih dari mampu untuk memecah keliaran. Terlepas dari gitarnya yang di bawah perform, perlu di highlight tentang vokalnya yang stabil serta aksen jelas, dan di sinilah mereka tampak pandai menyampaikan lirik-liriknya yang sebenarnya lirih.

Surabaya saat itu, malam itu, dan di tahun itu seperti menemukan tambang emas baru. Gairah grunge yang sebelumnya biasa saja, jadi bersahaja. Diikuti juga dengan munculnya warna-warni musik baru dari band seangkatan Zorv. Sebut saja Cotswolds, Taman Nada, Headcrusher, The Ska Banton, atau Humi Dumi. Bahkan hidung kami sebagai media lokal mengendus ada 10 album yang muncul di 2013, capaian yang melebihi tahun-tahun sebelumnya. Jumlah itu membengkak di tahun berikutnya jadi 27 rilisan. Seperti membungkan paradigma pendahulu kita hobi menyebut: “musik di Surabaya itu susah berkembang, gitu-gitu aja”.

—-

Pesta, Pisah, dan Rekaman yang Terbengkalai

Dari balik kaca, Balqi terlihat duduk santai mengamati ramainya ruas jalan Dharmawangsa. Lelah bersantai, dia masuk ke dalam ruangan, menyapa pelanggan sambil mengganti-ganti channel TV kabel. Setahun setelah pesta senang-senang itu, Balqi lebih banyak menghabiskan waktunya di Morven; usaha barbershop dia bersama beberapa rekannya. Di tahun itu juga ia menyelesaikan studi komunikasinya, mulai jarang berbicara tentang Zorv karena saat itu mereka sedang pasif bermusik.  Zorv yang sebelumnya tengah jadi perbincangan berkat materi dan performanya, belakangan mulai surut. Danishwara bertolak ke Inggris, melanjutkan studi. Otomatis, Zorv pincang sesaat. Sementara Ragil tampak masih melakukan rutinitasnya seperti biasa.

Zorv: Balqi (drum), Danishwara (gitar & vokal), Ragil (bass)

Mutlak memang kala di tiap pertemuan selalu ada perpisahan. Pertemuan Danish dan Ragil yang sama-sama perantau, tinggal di satu kos, membentuk band, hingga menelurkan album tampak begitu cepat berlangsung, secepat durasi album Savage berakhir. Dua tahun berselang, mungkin sekitar 2016 Zorv semakin tak bernyawa. Kelar studi di Inggris, Danish kembali ke Ibukota dan memulai karirnya. Begitupun Balqi yang sempat menetap di sana juga. Dan Ragil, pulang ke kampung halamannya di Madiun melanjutkan bisnis kulinernya.

Dari ketiga personil Zorv, Danish-lah yang paling aktif bermusik. Selepas vakum bersama trio grunge-nya, fans The Red Devils itu sempat membangun project ‘iseng’ bernama Hakash. Dan belum lama ini, sekitar tahun lalu ia kembali tergabung dalam Purpla bersama teman-temannya di Ibukota. Praktis, penampilan mereka pada akhir 2013 di Rock In Celebes jadi yang terakhir di masa aktifnya. “Tahun 2017, kita sempet main di nikahannya Balqi hahaha Kita bawain beberapa lagu waktu itu, serunya lagi ada Dul Jaelani yang featuring sama kita. Yah, kapan lagi main grunge di kawinan,” lanjut Danish.

Lalu sekarang, ke mana jejak Zorv berlanjut? Sempat ada isu yang menyebut jika Zorv tengah membuat sesuatu; kami pun tidak tahu itu apa. Tapi jika mengacu pada transkrip wawancara kami dengan mereka lima tahun silam, mereka sempat menyicil beberapa materi baru. Danish membenarkan sekaligus mengungkapkan kebingungannya terhadap materi-materi tersebut. “hahaha.. tadinya udah lupa loh. Bener ada, kita sempet rekaman di Natural Studio tahun 2013, tiga lagu baru dan rencananya waktu itu mau rilis EP judulnya Moonswimmer. Tapi mau dikemanain rilisannya jujur belum ada plan. Ada ide?”.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

Surabaya