Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Berburu Keramahan Barasuara di Taifun Tour

Published

on

Barasuara 001

Destinasi ketiga Taifun Tour yang berlangsung di Gelora Pancasila Surabaya Jumat (6/5) kemarin. (Foto: Adhi Widiyanto/@adhiwidi)

Jarum jam menunjuk tepat pada angka tujuh malam, dan Konser Taifun 2016 dalam beberapa menit saja akan segera dimulai. Saat itu halaman depan Gelora Pancasila masih penuh antrean yang menyemut dalam remangnya cahaya. Namun barisan tetap tertib hingga satu persatu memasuki gerbang gedung. Tampak juga bagaimana sebagian penonton yang hendak masuk mendadak tertuju pada sebuah galeri pameran dari tur perdana milik Barasuara yang jadi suguhan awal.

Ketika berada di dalam gedung, gemerlap cahaya panggung plus barikade jadi suguhan utama, itulah arena pertunjukan Barasuara. Sembari menunggu sound berdetak, sebagian penonton terlihat melepas lelah akibat antrean masuk dengan duduk di sekitar panggung. Namun tidak sedikit juga yang langsung berdiri membentuk shaf rapi di depan stage untuk menanti Iga Massardi cs meledak-ledak lagi di Surabaya. Meskipun belum genap seminggu perform apik mereka di kota yang sama, nyatanya konser tunggalnya ini tak mudah menyurutkan para pendengarnya untuk tetap membarakan suaranya.

Tak perlu lama menunggu, hentakan double drum dari kolaborasi Marco dan drumer muda Enrico Octaviano (adik kandung Marco) mulai merapatkan crowd yang terlihat sedikit longgar. Hagia jadi pembuka yang dipilih untuk menyapa dengan gaung sound yang makin menjadi-jadi ketika semua instrumen masuk bersamaan. Ruang persegi panjang tersebut resmi menggema dan terlalu gagah meski penonton belum sepenuhnya padat.

Barasuara 003

Barasuara dengan suaranya yang membara. (Foto: Adhi Widiyanto/@adhiwidi)

Lirik magis mulai dinyanyikan dan semua orang ikut bernyanyi dari track pertama hingga akhir. Bahkan saat Samara-lagu baru yang khusus dimainkan saat tur ini pun semua tetap bernyanyi. Beruntung sebelumnya Barasuara sempat memposting lirik lagu tersebut melalui akun instagram. “Entah lagu ini akan dilepas sebagai single atau album selanjutnya tapi saat ini Samara tidak ada dalam dua pilihan tersebut,” jelas Iga sang pentolan dalam press conference.

Selain lagu baru dan personil bayangan pada drum, Barasuara juga membuat arransemen khusus, di mana Taifun terdengar lebih santai tanpa pattern bass Gerald karena Putri Chitara mencoba bermain bass. Sementara Gerald sendiri memainkan gitas akustik untuk menambah kesan harmonis. Sendu Melagu diracik lebih beda diawal yang terasa megah karena double perkusi duet Marco bersaudara. Dan tetap, selama kurang lebih 60 menit , yang namanya lompatan demi lompatan masih tetap jadi salah satu kebiasaan mereka, beruntung tak sampai ada crowdsurfing ataupun banting gitar semalam; ya lain waktu lagi.

Barasuara 002

Menggelar tur album perdananya, dan Iga Massardi (kiri) masih tetap pakai batik. (Foto: Adhi Widiyanto/@adhiwidi)

Usai pertunjukkan, Barasuara keluar dari arenanya, menerobos pagar barikade dan masuk ke ladang penonton sambil menyapa hangat satu sama lain. Kuota yang tak seberapa memenuhi Gelora Pancasila ternyata membuat suasana jadi lebih akrab. Iga cs dan penonton saling mengobrol dan mengabadikan momen dengan hastagnya masing-masing.

Yap, inilah Barasuara yang beringas sekaligus ramah. Beberapa kali terdengar dari para personil kepada penonton yang menghampirinya. “Terima kasih ya sudah datang” ucap Gerald yang tiba-tiba menghampiri sambil terseyum meninggalkan seseorang penonton. Lantas teringat inilah konser tur yang hangat ramah meski ekspektasi penonton (mungkin) tak seperti kota lainnya. Meski begitu, Barasuara tetap tampil beringas, energik, membara, dan penuh kejutan di Surabaya.

Ini merupakan tur album perdana mereka semenjak album Taifun resmi rilis akhir tahun lalu. Dengan menggandeng Juni Concert dari Urban Gigs, Barasuara menjadwalkan tur di 6 kota di Pulau Jawa. Surabaya jadi destinasi ketiga setelah Yogyakarta dan Malang.

Pelaku musik yang tak pernah laku di pasaran. Kini sedang belajar menulis demi mencari cerminan diri sendiri.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya