Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

The 8th ICE: Masih Tetap Berenergi di Tahun Kedelapan

Published

on

ICE Indoor

Salah satu booth di Indie Clothing Expo kemarin. (Foto: Rido Ramadhan)

Selesai sudah gelaran tiga hari The 8th Indie Clothing Expo (ICE) yang berlangsung di Grand City Surabaya dari tanggal 1-3 April kemarin. Seperti sebelum-sebelumnya, terlalu luas untuk mengukur parameter kesuksesan acara ini karena ada yang lebih penting untuk digarisbawahi. Ya, terlepas dari naik atau turunnnya jumlah pengunjung, booth, performer, ataupun harga parkir sepeda motor, ICE tetap membuktikan diri sebagai ‘pasar kaget’ sekaligus ‘surga’ bagi gaya hidup anak muda. Pemilihan tanggal muda jadi faktor utamanya, sehingga siapapun tidak ragu untuk berhedon ria.

KICK dan Dyandra Promosindo selaku penggagas acara ini melakukan proses kurasi yang makin ketat. Mereka menghadirkan lapak brand yang tidak terlalu banyak, tapi cukup berkualitas. Bisa dibilang ini jadi satu upaya dalam menghadapi pasar bebas ASEAN yang memang harus diwaspadai, terutama bagi industri kreatif. Begitu halnya dengan booth komunitas start up yang juga terlihat lebih padat dari kemarin. Padat di sini bisa dikatakan dengan berkualitasnya barang ataupun karya yang dipamerkan. Di dominasi vespa dan kustom garage, sisi inilah yang jadi spot menarik bagi pengunjung yang tidak suka belanja.

Secara keseluruhan memang layout The 8th ICE tidak banyak berubah. Baik indoor ataupun outdoor, semuanya masih mengingatkan kita pada The 7th ICE tahun lalu yang mengusung tema ‘wonderland’. Bedanya, ada wastafel area luar serta spot games ‘ballyard’ di dekatnya; mungkin ini yang paling mencolok. Dan satu lagi, tenant kuliner yang ikut serta tahun ini juga lebih banyak, lebih variatif, dan yang terpenting adalah tidak banyak ceritanya kehabisan stok minuman dingin. Waw!

Endah & Rhesa 07

Penampilan Endah & Rhesa di stage outdoor The 8th ICE. (Foto: Rido Ramadhan)

Begitupun dari sisi performer. Tiga hari tiga artis nasional; Naif, Endah & Rhesa, dan Deadsquad. Nama besar mereka sudah tidak perlu diragukan lagi, sehingga jadi daya tarik utama di pameran ini. Selama hadir di tiga hari berturut-turut, mungkin hari kedua adalah yang paling padat. Faktor Endah & Rhesa? Heavy Monster? atau karena malam minggu? Tidak seberapa penting, karena atmosfer hari kedua cukup merepresentasikan tema mereka; ‘Energice’, penuh dengan muda-mudi berenergi, doyan berdesakan dan royal berburu harga miring.

Selama menelusuri outdoor area, daya tarik Heavy Monster dan Devadata tidak pernah hilang dari tahun ke tahun di pergelaran ini. Nampaknya itulah yang jadi alasan kenapa mereka hadir di stage sebelum guest star naik. Keduanya bermain cukup prima yang ditopang sound yahud, serta sahut-sahutan bernyanyi dengan penonton. Selain kedua band tersebut, beberapa line up seperti The Flins Tone, Timeless, My Mother Is Hero, Taman Nada, hingga Babel juga tampil keren yang kebanyakan dari mereka membawa materi baru.

Duet mesra Endah & Rhesa begitu memukau. Permainan jemari mungil Endah begitu menyatu dengan beat slap dari suaminya, Rhesa. Meski hanya tampil berdua, toh luasnya stage tidak memberi kecanggungan di mata. Apalagi penampilan mereka kemarin banyak membawakan materi baru dari album Seluas Harapan. Kurang lebih begitulah rentetan tiga hari penuh sesak di tahun kedelapan Indie Clothing Expo. Naif menutup stage di hari pertama dengan penonton yang tak kalah ‘naif’. Kemudian Endah & Rhesa yang pamer kemesraan menemani muda-mudi kasmaran hingga pasukan mati Deadsquad yang sukses meluluhlantahkan dan merobohkan barikade jadi klimaks di hari terakhir. Di luar apresiatif atau tidaknya penonton, itu hanya klise dan masalah waktu saja. Selamat ICE, kalian selalu dapat tempat di hati para pemuda Surabaya.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

The Panturas & Sky Sucahyo Berselancar di Iklim Tropis Surabaya

Published

on

Sebagai kolektif surf-rock, The Panturas memang pandai membawa suasana pendengarnya menuju hawa pantai yang identik dengan tropis nan sejuk. Seperti yang mereka sajikan pada klip Fisherman’s Slut, di mana nuansa pantai hingga bajak laut memainkan imajinasi. Sayang, vibes tersebut gagal muncul kala mereka bertandang pertama kalinya ke Surabaya. Iklim tropis yang tidak sejuk sama sekali membuat penonton gagal berimajinasi liar.

Tampil di volume ketiga Jayabaya Raya yang berlangsung kemarin Minggu (28/10) di Skale Space, keempat pemuda ini memainkan nomor-nomor andalannya, termasuk Sunshine yang berkolaborasi dengan solois cantik Sky Sucahyo. Nama terakhir pun juga ikut menampilkan lagu-lagu andalan di iklim yang sama. Sky Suchayo yang melejit lewat Lejar nampak sedikit kurang menggairahkan kala setting panggung yang kurang sesuai untuk menampilkan musik-musik sederhananya. Namun siapa yang tidak terkesima oleh paras manisnya? Setelan dress abu-abunya menemani olah vokal, genjrengan ukulele serta tiupan kazoo yang menawan. Cara bernyanyinya mengingatkan kita sejenak pada Zooey Deschanel.

Kemarin juga ada Headcrusher, Beeswax dan Robot yang bergantian tampil menguras keringat penonton (meski tidak moshing). Anehnya, hanya pada saat penampilan Sky Sucahyo bertiup angin kencang cukup lama. Ya, bisa jadi dialah angin segar bagi para penonton yang terlalu lemas menonton pertunjukan musik dominan pria.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya