Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

MMIH: Surabaya Itu Bukan Kota Rock!

Published

on

MMIH

Dari kiri: Bodik, Yasser, Ucha, & Bonnie. (Dok. MMIH)

Pernyataan akan Surabaya sebagai barometer musik rock kini telah berbanding terbalik dengan kenyataannya. Melihat perkembangannya, banyak klaim yang menyebut Kota Pahlawan kini lebih di dominasi musik underground, folk, atau sejenisnya. Apalagi, memang belakangan tak banyak musisi rock bergerak militan. Ya, ini bukan lagi era festival rock Log Zhelebour seperti yang kita tahu cukup melegenda di masanya. Kini, semua musik mulai melebur, banyak pilihan, dan tak melulu jadi serpihan-serpihan scene yang mengatasnamakan genre tertentu. Lagipula, parameter apa saja yang menyebabkan kota ini disebut demikian?

Jadi, khusus untuk band rock, lupakan saja. Ini bukan momentum kalian. “Kami tidak lagi menganggap bahwa Surabaya adalah kota rock,” ucap gitaris nyentrik, Bonie. Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Kita tahu sendiri, Bonie merupakan gitaris dari salah satu band rock di Surabaya, My Mother Is Hero (MMIH). Ia bersama bandnya besar ketika mengusung musik yang mulai usang. “Sekarang Surabaya lebih cocok disebut sebagai kota seribu seni, soalnya banyak musisi sini yang berkibar dengan genre-nya masing-masing, tidak melulu musik rock,” tandasnya.

Baginya sudah usang untuk berbicara genre, atau beranjak membawa Surabaya kembali menjadi barometer musik rock. Betul, memang sudah sepantasnya masa lalu dibukukan menjadi sejarah terbaik yang pernah ada. Tugas generasi penerusnya adalah bagaimana menghidupkan kembali scene musik Kota Pahlawan dengan karakter baru tanpa keluar dari kulturnya. Layaknya persaingan pasar bebas ASEAN, semua bebas bersaing, tak terkecuali MMIH yang siap bersaing dengan musik rock-nya. Apalagi band ini sedang getol menyelesaikan album ketiga. “Kami sangat optimis jelasnya, mungkin bisa 69696969%,” sahut bassisnya, Bodik.

Photoshoot MMIH

Sesi photoshoot untuk album terbaru MMIH yang direncanakan rilis April ini. (Dok. MMIH)

Bahkan, band yang sudah menelurkan dua album ini juga mulai beranjak untuk tidak terpaku oleh pakem rock pada umumnya. Seiring pendewasaan musikalitas, MMIH mulai meleburkan banyak unsur di materi-materi baru. Kepada Ronascent mereka menyebut album ketiganya akan banyak raw dengan muatan instrument, full of dark song, lirik sarkastik, sound gitar fuzzy, dan tidak ada nada vokal yang mendayu. “Kami tetap band rock, tapi kami mencoba memberikan suguhan yang beda dari sebelum-sebelumnya,” lanjutnya. Jadi, sepertinya kalian harus melupakan MMIH yang pandai merangkai nada ear catchy, karena di rilisan berikutnya mereka akan mengeksplor habis-habisan musiknya, terutama dari segi sound.

Salah satu lagu baru yang sempat mereka perdengarkan ialah Guided Democracy melalui sesi Live Session Ronascent dan Jozz Studio tahun lalu. Lagu tersebut sudah menjadi bukti bahwa MMIH beranjak lebih fuzzy dan darkly. Kebetulan juga dalam prosesnya Bonie, Bodik, Ucha dan Yasser mendapat ide membuat lagu-lagu gelap, hingga membentuk perspektif bahwa lagu seperti itulah yang saat ini jadi lagu terbaik bagi mereka. Ditambah dengan lirik sarkasme, bukan lagi berbicara ‘memotivasi diri’ seperti kebanyakan yang ditemui pada album Sundial (2014).

Yasser selaku penulis lirik memaparkan bagaimana proses kreatifnya dalam menulis bait demi bait liriknya. Benar jika dirinya banyak menuliskan sindiran, tapi bukan berarti semuanya ditujukan untuk satu subjek, melainkan juga untuk dirinya sendiri. “Lirik dalam satu album ini seperti cerpen yang saya tulis, jadi antara satu lagu dan lagu lainnya akan saling berhubungan. Semua berdasarkan pengalaman pribadi yang pastinya juga orang lain rasakan. Pada intinya semua manusia selalu mencari kebahagiaan dan menghindari rasa sakit,” jelasnya. Contoh nyata ada di lagu Guided Democracy, di mana mereka menyentil tentang dampak dari senioritas yang ada di kalangan masyarakat manapun.

MMIH - Midst

Sampul album ketiga MMIH, ‘Midst’.

Bulan April ini menjadi istimewa bagi mereka. Pasalnya, album ketiga yang mereka sebut dengan Midst direncanakan rilis. Proses rekaman yang sudah dilakukan sejak tahun lalu kini telah melewati proses mixing dan mastering. Band yang terakhir melepas single Pertanda ini bahkan sudah mulai membuka sesi pre-order album yang kali ini mereka produksi dan distribusikan secara mandiri. Suguhan konseptual yang juga muncul di album sebelumnya diyakini akan lebih terkonsep detail. “Penamaan Midst melewati berbagai kualifikasi dari berbagai pihak sampai akhirnya disepakati nama itulah yang paling pas untuk mengkorelasikan antara titel dan isi keseluruhan album kami,” imbuh vokalis yang bergabung dengan MMIH sejak proses album kedua itu. Tak peduli momen ataupun segmen, karena bagi mereka, to be in the midst of rock that’s a wonderful.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya