Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Fundistortion #2: Distorsi & Kepedulian Musisi Pada Hydrocephalus

Published

on

Fundistortion #2 (1)

Sambutan dari perwakilan Yayasan Bhakti Luhur di Fundistortion #2 kemarin. (Dok. Arekisme)

Setelah melewati beberapa kali tawaran harga, akhirnya sebuah jaket parka berwarna cokelat jatuh ke tangan pelelang yang beruntung. Tidak jauh-jauh, jaket rilisan Cocaine & Crimes itu jatuh ke tangan Abas, yang notabene member Arekisme sekaligus MC yang membuka sesi lelang tersebut. “Lumayan rek ben gak kademen,” sahut drummer KKHH itu sambil mengenakan jaket tersebut. Di bagian belakangnya bertuliskan kalimat ‘Movement Before Mouthment’; judul album milik band HC Fraud yang rasanya cukup merepresentasikan pergerakan masif musisi-musisi Surabaya yang tergabung dalam sosial foundation Arekisme.

Ya, sejak dibentuk akhir 2015 lalu Arekisme cukup aktif melakukan berbagai event sosial, termasuk yang mereka gelar kemarin (26/4) di Colors Pub & Resto. Dengan titel Fundistortion #2, Arekisme bermaksud melakukan penggalangan dana untuk para penderita hydrocephalus. Caranya, mereka membuat satu gig minimalis, di mana banyak musisi lokal ikut berkumpul dan berkontribusi dengan caranya masing-masing. Seperti halnya DJ Sonixx Synth, Ampun Women, Teenagers, Devadata, Crucial Conflict, dan Fraud yang tampil menghibur penonton dengan setlist-nya.

Sedangkan deretan brand lokal seperti Scarpa Cleaner, Warlock, Macguffin, DAS Rock, Xaverocx, dan Cocaine Crimes membuka booth dan menyisihkan 20% hasil penjualannya ke kotak donasi yang disediakan panitia Arekisme. Tidak cuma itu, beberapa diantara mereka juga melelang barang-barangnya untuk sepenuhnya disumbangkan. Tidak dilupakan juga duet MC Abas-Ndoway yang sukarela membuka sampai menutup event tersebut. Di luar itu, banyak pula musisi atau bahkan non musisi yang ikut terlibat; semuanya satu suara, yakni berbagi untuk sesama, menjadi intuisi, serta visi dan misi terbentuknya Arekisme.

Fundistortion #2 (2)

Penyerahan sumbangan secara simbolik oleh Bodhas, mewakili Arekisme kepadaYayasan Bhakti Luhur. (Dok. Arekisme)

Sesi donasi akhirnya ditutup dengan pelelangan Jack Daniel’s dari Colors Pub & Resto yang akhirnya menggenapkan jumah sumbangan menjadi Rp 6,450 juta. Hasil tersebut langsung diserahkan secara simbolik kepada perwakilan Yayasan Bhakti Luhur. “Yayasan Bhakti Luhur merupakan salah satu tempat khusus bagi anak-anak penderita hydrocephalus yang mana kebanyakan penderitanya adalah anak-anak yang dititipkan atau sengaja ditinggalkan orang tuanya,” jelas Arief, salah satu anggota Arekisme saat talkshow di Colors Radio.

Sesuai dengan titel acaranya, Fundistortion #2 kemarin menyuguhkan kesenangan di tengah gemuruh distorsi dari tiga band cadas. Di mulai dari Devadata yang khusus membawakan lagu milik Sepultura, Crucial Conflict yang  memblasting penonton dengan tempo-tempo cepat, hingga Fraud dengan beat-beat energiknya. Hingga kini, Arekisme sudah membuat lima event sosial yang dimulai per Januari kemarin. Pergerakan mereka pun tidak hanya sampai di sini, karena beberapa plan sudah disiapkan, termasuk membuat album kompilasi dari musisi-musisi di Surabaya.

 

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

Surabaya