Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Boja Krama #3: ‘Hangatnya’ Surabaya & Teman Sebangku

Published

on

Boja Krama #3 (2)

Teman Sebangku: Doly Harahap (kiri) & Sarita Rahmi (kanan). Foto: Nadia Maya

DIY gig Boja Krama yang dibidani Rumah Gemah Ripah kembali dengan episode ke-3 nya Rabu, (6/4) kemarin. Setelah gelaran ke-2 yang diadakan di Gedung Srimulat Februari lalu, tampaknya Rumah Gemah Ripah ingin kembali mengeksplor venue alternatif, dan kali ini pilihan itu jatuh ke C2O Library and Collabtive. Meski C2O sendiri sebenarnya sering juga menggelar showcase musisi-musisi lokal, interlokal, sampai internasional, tetap saja unik melihat sebegitu banyak orang berbondong-bondong ke perpustakaan untuk menyaksikan keramaian. Paradoks yang menggelitik.

Keseluruhan line up Boja Krama kali ini memiliki benang merah yang sama: musik kalem dan bisa tetap asik tanpa listrik sekalipun. Mungkin hal ini dilakukan dengan pertimbangan acara ini diadakan di sebuah perpustakaan yang berbatasan langsung dengan rumah warga, jadi dengan mengusung menu utama berupa sajian folk siapa tahu bisa sekalian mengedukasi warga sekitar bahwasanya tak semua acara di tempat alternatif perlu diinspeksi ormas setempat seperti tren baru-baru ini.

Line up malam itu terdiri dari tiga band setempat yaitu Silampukau, Taman Nada, dan Pathetic Experience, ditambah 1 tamu dari Bandung, Teman Sebangku. Boja Krama edisi ini sendiri sekaligus menjadi rangkaian tur “Berjalan Menuai” milik Teman Sebangku, yang di bulan ini juga akan merilis debut album penuhnya, Hutan Dalam Kepala.

Pertunjukan dibuka oleh Silampukau yang baru kembali dari konser tunggalnya di Cikini Maret kemarin. Area pertunjukan langsung dipadati penonton dan koor-koor panjang pun tak terhindarkan nyaris di ke-6 lagu yang mereka bawakan. Sebelum memulai Si Pelanggan, duo Kharis dan Eki sempat berujar bahwa lagu tersebut mereka persembahkan untuk kawan mereka yang datang jauh-jauh dari Bandung, yang tak lain dan tak bukan adalah gitaris Teman Sebangku, Doly Harahap; satu inisial nama yang dikenal sebagai tempat lokalisasi di Surabaya. Guyonan ini pun berlanjut di sela-sela penampilan Teman Sebangku, di mana vokalis mereka Sarita Rahmi mengatakan jika di Bandung juga ada kawasan serupa, yakni Saritem. “Jadi, kami itu adalah duo lokalisasi,” candanya sembari mencairkan suasana dan keringat.

Boja Krama #3 (1)

Silampukau, tampil membuka Boja Krama #3 di c2o Library kemarin (6/4). Foto: Nadia Maya

Udara yang sumuk didalam area pertunjukan tak lantas membuat penonton minggat segera. Taman Nada melanjutkan pertunjukan dan membawakan lagu-lagu andalan seperti Marilah Mari dan tentunya Pulang. Dilanjut dengan Pathetic Experience, duo adu petik senar instrumentalia bernafaskan musik tradisional Jawa dengan andalan jingle bakpao-nya. Surabaya saat itu memang sedang panas-panasnya, jadi cukup mengharukan saat melihat penonton tetap santai bertahan didalam area pertunjukan, ya meski tampak mlipir-mlipir ke kipas angin terdekat atau mengipas-ngipas dengan benda apapun. Beruntung, duo Bagus dan Zoso memberi angin segar lewat lagu Segara, satu lagu berbahasa Jawa yang artinya ‘laut’.

Tak terasa tibalah pada penampil terakhir, Teman Sebangku. Membawakan enam lagu dari EP Menari Bersama dan album penuh Hutan dalam Kepala seperti Perempuan Pagi dan single Alir dan Arah, duo Sarita dan Doly tampil enerjik walau takjub berat dengan panasnya Surabaya. “Pantesan ya lirik lagu kalian begitu literal, karena setiap hari kalian harus berhadapan dengan kenyataan seperti ini,” kata Sarita merujuk pada ‘hangat’nya udara di kota ini. Surabaya sendiri merupakan kota kelima dari tujuh kota yang akan mereka sambangi selama kurang lebih dua minggu perjalanan tur. Setelah Surabaya, rute akan mengarah kembali ke kota asal mereka di Bandung, yaitu ke Yogyakarta & Cirebon.

Album teranyar Teman Sebangku sendiri ternyata berjarak lima tahun dari rilisan sebelumnya. Kenapa begitu lama? Karena selama lima tahun itu Sarita dan Doly sempat berada dalam fase bergerak perlahan, berhenti bergerak, lalu bergerak lagi. Proses rekamannya sendiri memakan waktu tiga tahun lebih, yang turut melibatkan perasaan bingung dan tersesat, seperti di dalam hutan. Dari situlah judul album Hutan Dalam Kepala tercetus.

Boja Krama #3 (3)

Sarita Rahmi. (foto: Nadia Maya)

Selama kurun waktu tersebut pada mulanya mereka merasa bahwa musik hanyalah sekadar media yang bisa diputar kemudian didengar kembali untuk memberikan kegembiraan pada pendengar. Namun dengan berjalannya waktu, ‘hutan’ dalam kepala masing-masing personil tumbuh semakin kompleks seiring dengan proses pendewasaan yang menyadarkan mereka bahwa musik seharusnya berada dekat dengan penikmatnya. Sampai akhirnya makna yang coba mereka sampaikan bisa menuai cerita-cerita baru dan musikpun tak lagi sebagai media putar semata. Dari yang awalnya sempat berpikir untuk berhenti sama sekali, Teman Sebangku pun kembali berkarya sebagai pembuktian diri dan juga memuaskan teman-teman yang sudah mendengar dan mendukung musiknya.

Selepas itu Teman Sebangku mulai berjalan memperkenalkan materi-materi anyar dan langsung hadir di tujuh kota yaitu Bandung, Makassar, Bali, Malang, Surabaya, Jogja, dan Cirebon. Dengan membawa pernyataan #bernyanyidimanasaja Teman Sebangku ingin menyampaikan bahwa musik seharusnya mengisi dan ada dalam setiap ruang tanpa perlu dibatasi oleh berbagai hal. Dalam perjalanannya itu, duo yang sempat masuk nominasi ICEMA 2012 lewat single Menari ini khusus menyiapkan kenang-kenangan untuk teman-teman yang mereka jumpai selama perjalanan berupa CD EP Berjalan Menuai yang hanya bisa didapat selama tur tersebut.

Bersenjatakan kehangatan kombo permainan gitar tunggal Doly dan akrobat vokal Sarita, kini Teman Sebangku sedang menuai banyak hal menarik dalam tur-nya ini. Ternyata semesta mendukung, teman-teman di kota-kota tujuan tur seakan berada di frekuensi yang sama dan berupaya untuk mengupayakan harapan dan impian mereka. Dan semoga 16 April nanti Hutan dalam Kepala dapat tumbuh subur dan meneduhkan!

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan 14 Tahun Blingsatan & Meroketnya 6 Rilisan Baru Skena Punk

Published

on

14 Tahun Blingsatan (dari kiri): Saka, Amir, Arief. (Foto: Novan Rebellnoise)

Euforia band gaek asal Surabaya, Blingsatan kemarin tak terbendung lagi. Sehari pasca merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74, trio punk yang beranggotakan Arief, Saka, dan Amir itu juga merayakan hari jadinya yang ke-14. Dengan titel event Merocket #1 yang digelar di M-Radio Surabaya kemarin malam (18/8), mereka sekaligus melempar album The Best of Blingsatan, From The Past For The Future. Di tengah penampilannya, Blingsatan menyematkan seremoni pemotongan kue yang menandakan bertambahnya usia mereka. “Kue ini untuk kita semua, terima kasih yang sudah memberi support buat Blingsatan hingga kini!,” ujar Arief di sela-sela penampilannya.

Dalam setlist semalam, Blingsatan membawakan mayoritas lagu lama, seperti I Don’t Know Where, Belia, Si Sexy, Yang Muda Yang Bercinta, Waiting Is Hard Things To Do dan Berbeda Merdeka. Gigs semalam memang menjadi ajang bersenang-senang. Lupakan sejenak segala kesempurnaan di atas panggung, karena yang ada hanyalah sing along, alkohol, dan colekan kue tart yang menghiasi wajah ketiga personil Blingsatan.

Perayaan ulang tahun Blingsatan pun semakin marak dengan rilisan masal yang dilakukan oleh band-band penampil sebelumnya. Seperti Tulipe de Gezner yang akhirnya merilis album Berdiri Untuk Melangkah. Kemudian Melaju yang memperkenalkan mini albumnya Triakan Kebersamaan serta dua single baru yang meluncur masing-masing dari Dindapobia berjudul Overnow dan  Cheers The Punk dari Radiocase. Dan tentunya juga album digital The Best of Blingsatan, From The Past For The Future yang kabarnya akan menjadi pemanasan bagi Blingsatan untuk merilis album keempatnya.

Merocket #1 akhirnya ditutup lewat penampilan kolaboratif dari Hometown Rockers yang menampilkan musisi-musisi punk dari berbagai band seperti Happy Arabika (Pig Face Joe), Biyan (Plester-X), Paul (Give Me Mona), dan Ucup (Tulipe de Gezner). Menampilkan beberapa hits ala punk rock seperti Blitzkrief Bop, Basketcase, hingga When I Come Arround, mereka pun menutup pesta singkat Blingsatan yang selesai tidak lebih dari jam 9 malam, punk rock yang tertib!

 

Continue Reading

EVENTS

SUBNATION VOL.2: Gigs Penutup Ramadhan Klimaks

Published

on

Bagai oase di tengah padang pasir. Setidaknya frase tersebut lah yang menjadi acuan untuk gelaran Subnation Vol.2! Bulan ramadhan tidak membuat teman-teman diam dan malah terus aktif untuk berkarya. Terlebih lagi kegiatan Subnation kemarin jadi klimaks yang kompleks  sebelum ramdhan berakhir, karena Subnation Vol.2 tak hanya menyajikan performer terbaik tapi lengkap dengan sesi diskusi edukatif, hingga marketplace. Subnation pun melibatkan pasarnoise untuk tenant mereka. Sayang karena keterbatasan gear kami bawa, redaksi pun hanya berhasil menangkap para performer. Selebihnya kalian harus datang sendiri untuk menikmati gelaran event Subnation. Tunggu event mereka selanjutnya dan pantau informasinya melalui akun instagram @subnation031 Selamat menikmati.

Continue Reading

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

Surabaya