Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Berburu Diskon, Beside & Seringai

Published

on

ICC Showcase 18

Arian13 (Seringai) tampil dengan akselerasi maksimum di DBL Arena. (Foto: Rido Ramadhan)

Sejak awal hingga usai tepat di hari terakhir—setelah sebelumnya hanya sekedar mampir dan melihat-lihat jajaran merek-merek yang terpampang. Minggu, (20/3) kemarin mungkin menjadi puncaknya. Kendaraan yang parkir di depan DBL Arena—venue Indie Clothing Maret ini—terlihat lebih ramai. Memasuki DBL Arena sekitar pukul tujuh malam, banyak pemuda tanggung bergerombol sempat berputar-putar sebentar di lapak-lapak clothing sambil sesekali mencuri-curi pandang. Siapa tahu jadi lucky bastard dan menemukan diskon 70% itu. Dan mata tertuju pada Warlock, sebuah brand yang terlihat cukup ramai. Banyak muda-mudi yang sibuk memilih kaos kostum atau apparel pendukung di stand dengan penjaga masberto. Brand dengan komsep artwork sangar ini jadi salah satu pelapak yang paling ramai kunjungan di perhelatan Indie Clothing Carnival kemarin.

Brand lain bersinar dari kejauhan meski ramai dikerubung orang. Kamengski, brand dengan konsep kaos yang unik yang memelintir banyak hal dari budaya pop sampai hardcore punk ini hadir turun melapak juga di Indie Clothing Carnival. Yang membuat tergelitik adalah kaus berupa sindiran, misal Minor Threat—sebagai sesepuh straight edge hardcore—diplesetkan menjadi Menor Threat, dengan artwork yang hampir menyerupai aslinya, dan dipoles sedikit agar sesuai dengan parodi yang dimaksud. Juga kaus bertuliskan A.C.A.B, yang jamak diartikan oleh kaum anarkis sebagai ‘All Cops All Bastards,’ dengan seenak udel diubah menjadi ‘Aku Cinta Ayah Bunda.’ “Kausnya menang gini mas, dibikin lucu,” ujar salah satu shopkeeper Kamengski saat berbicara kepada salah satu pengunjung.

Suasana berbeda muncul tidak jauh dari booth-booth tadi. Beside yang naik panggung kira-kira pukul sembilan kurang, membuat venue  seolah seperti sedang sembahyang.  Bayangkan: semua penonton yang duduk menyemut di depan panggung, tiba-tiba saja langsung berdiri seketika saat Beside datang. Persis seperti apa yang terjadi saat sembahyang berjamaah, dan kali ini Beside adalah imamnya. Tapi doa-doa yang dikumandangkan tidak pernah terlalu jauh dari ajaran heavy metal. Dan semoga saja tidak terjadi lagi sebelas orang yang tewas seperti di konser AAAC beberapa tahun silam—yang termaktub dalam album terbaru mereka bertajuk Eleven Heroes. Momennya terjadi saat “Dosa Adalah Sahabat” membuat moshpit pecah.

ICC Showcase 01

Vokalis Beside menyerukan anthem-nya: Aku Adalah Tuhan. (Foto: Rido Ramadhan)

Saat Wall Of Death, mendadak arena penonton pecah jadi dua kubu. Beside membaginya menjadi dua bagian penonton, satu kubu kiri, satu kubu kanan. Dan saat komando dari imam besar dikumandangkan, penonton akan berlari dan bertubrukan satu sama lain. Begitulah Wall Of Death, dan bukannya pecah menjadi dua kubu dan kemudian kembali pamer joget capoeira di tengahnya yang longgar. Tapi tidak apa-apa, itu masih cukup seru meski perintah imam besar Beside tidak dipatuhi.

Tidak lama kemudian penonton melonjak lagi di lagu terakhir, Aku Adalah Tuhan. Track pamungkas ini tampil resmi tanpa seorang vokalis karena sang pemangku mic keluar dari singgasananya dan menuju ke arena lepas penonton. Ia meminta penonton untuk memboyongnya , mengangkatnya setinggi mungkin, dari depan sampai belakang. Benar-benar bernyali. ‘kulangkahkan kaki menuju surga, kulangkahkan kaki menuju neraka,’ lirik bernas yang dihempas tenaga-tenaga mulut pahit penonton—karena larangan merokok di dalam—menjadi klimas yang tak mudah untuk dilupakan.

Di penghujung acara, Seringai menjadi penampil terakhir di pagelaran Indie Clothing Carnival Surabaya. Seperti yang sudah-sudah dan seperti biasanya, unit oktan tinggi membawa sound yang benar-benar mumpuni, dan cukup purba. Mulai dari awal, instrumentalia Canis Dirus menyala, seperti kebiasaan konser-konser Seringai semenjak rilisnya Taring beberapa tahun silam. Sepintas kalian akan mengingat Metallica yang selalu membawakan instrumentalia pembuka di tiap konser mereka. Seringai juga punya itu. Lalu masuk satu-demi-satu bajingan kelas kakap ini. Dengan Sammy Bramantyo yang berhalangan hadir dan digantikan Deadbonz dari Dead Vertical—yang penampilan serta perawakannya mirip sekali dengan Sammy. High Octane Tracklist digeber: mulai dari Akselerasi Maksimum dan Puritan dari album High Octane Rock. Lalu ada Amplifier (‘show rock di Su-ra-ba-ya!’ gubahan lirik yang cukup fleksibel), lalu Individu Merdeka, ehm maaf, maksud kami Mengadili Persepsi, Serigala Militia, dan yang mengejutkan: Kilometer Terakhir—mimpi kalian terwujud para bikers 100 km/jam. Dan dari album Taring: Dilarang Di Bandung, yang dibawakan dengan jongkok ritual lalu loncat untuk menghormati eleven heroes-nya Beside di tragedi AAAC 2009 lalu. Fett Sang Pemburu, Program Party Seringai, lalu Tragedi yang merupakan ‘lagu bass’—dan Deadbonz rupanya cukup mampu untuk menggantikan Sammy, applaus! Yang pasti di sini semuanya moshing, seru dan brutal.

ICC Showcase 09

Keantusiasan penonton dibalik Barikade ICC Showcase 2016. (Foto: Rido Ramadhan)

Di hari sebelumnya, ada banyak kejutan dari penampil yang dihadirkan. Diantaranya adalah Begundal Lowokwaru yang bermain Jumat (18/3), dan Fraud di Sabtu (19/3). Begundal Lowokwaru masih saja ugal-ugalan, nge-punk, dan berandalan. Begundal asal Malang ini membawakan hits-hits mereka—yang seringnya si vokalis tak bernyanyi karena sing along penonton begitu hebatnya. Yang menggetarkan adalah saat Equality didendangkan. Nomor wajib bagi kaum punk yang rindu keseteraan. For you and me, and forever, ujar mereka tentang kesetaraan. Tak kalah dari Begundal Lowokwaru, Fraud yang bermain besoknya juga cukup buas. Energi yang dibawakan dedengkot Surabaya Hardcore ini meluap hingga menimbulkan moshing ajaib banjir keringat yang seolah siap merobohkan arena DBL.

Berbicara tentang venue sendiri, DBL Arena memang punya kapasitas yang cukup berkualitas. Dengan adanya tribun, para penonton yang takut asamurat bisa duduk di sana dan menghindari moshing buas. Tapi bagi pasukan berani moshing, tidak peduli salah urat, yang penting meluncur, mendarat ke bawah—tempat di mana tanding basket DBL dilakukan—dan pamer tarian pogo capoeira terbaru untuk kemudian bangga saat sneakers-mu menyentuh pelipis kawanmu. Pagelaran Indie  Clothing Carnival Surabaya bulan ini ditutup dengan gemerlap. Mengutip lirik Fett dari Seringai: selalu selesaikan semua pekerjaan, bintang pun jatuh berguguran! Hail Indie Cloth!

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

Surabaya