Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Menguak Emosi Dibalik Lagu Yang 13 Tahun Menghilang

Published

on

Ventriloquist Trauma - Klepto Opera

Artwork single Ventriloquist Trauma. (Dok. Klepto Opera)

Dibalik kisah penangkapan bandar narkoba, pembuka botol, soda, hingga detak jam, di situ juga terdapat sesosok pria yang tengah meratapi sebuah penyesalan. Menangis merintih, menyanyikan elegi, dan umpatan emosi yang tak tertahan; sudut ini begitu emosional, menggambarkan bagaimana pertunjukan Ventriloquist Trauma dimulai dan berjalan begitu kelam. Kesan noise, psychedelic, hingga doom begitu menjadi-jadi, menyambut teriakan amarah dan suara instrumen yang masuk bersamaan, mencabik-cabik pikiran sampai indera pendengar.

Tiga belas tahun silam, Ventriloquist Trauma (Hitchin My Life) lahir secara normal dari kolektif grunge Surabaya, Klepto Opera. Mungkin lagu ini tidaklah se-spesial lagu lainnya seperti Dandellion atau Grunge Is Dead. Nyatanya, lagu ini menyimpan banyak hal, memori dan asa yang sempat terputus dari band era pertengahan 1996 ini. Bagi mereka, ini merupakan satu dari sekian amunisi yang dipersiapkan untuk album Memorabilia. Namun apa daya, lagu yang sejak awal ditulis hingga kini baru satu kali dibawakan live harus menghilang dari peredaran.

Lagu ini bisa dibilang cukup emosional. Apalagi di masa itu, saat Yoyon menulisnya sekitar tahun 2002, menurutnya itu adalah era di mana musik yang mereka bawa belum terlalu mendominasi. “Penonton cuma menganga di menit-menit pertama. Baru pada moshing ya setelah masuk pertengahan lagu. Mungkin mereka nganggep-nya aneh di tahun-tahun itu,” ujar Yoyon atau lebih akrab dengan inisial YY. Bukan tanpa alasan, Ventriloquist Trauma (Hitchin My Life) memang menyuguhkan vokal tak lazim. Mendiang vokalis mereka, Benny Benhur memainkan part awal dengan nyanyian rintih, terdengar seolah-olah menangis. Namun saat memasuki reff, nuansa berubah. Teriakan vokalnya langsung mengaba-aba instrumen lain untuk masuk; part ini yang sontak membuat penonton moshing. Situasi seperti ini hanya terjadi di Nirvana Café Jakarta, saksi bisu ditampilkannya lagu ini untuk pertama dan (mungkin) satu-satunya. “Enggak tau kenapa, feel lagu ini susah banget di dapetin. Terutama pas di panggung,” kenangnya.

Klepto Opera Perform at Nirvana Cafe

Satu-satunya penampilan Klepto Opera dengan lagu Vrentiloquist Trauma di Jakarta. (Source: Youtube)

Part tersebut menyimpan banyak emosi yang tertahan. “So be it!// Don’t push me!” teriakannya seakan jadi titik pitam yang mampu mewakili berbagai amarah diri seseorang ketika ingin melawan dirinya sendiri. Dalam liriknya, YY menganalogikan suatu kondisi depresif. Perang batin yang pasti dialami tiap orang diterjemahkannya dengan cukup melodius.

Ventriloquist memang bisa diartikan sebagai cara berbicara menggunakan perut, itu artinya tubuh punya kendali sepenuhnya. Namun, situasi justru berkata lain. “Seorang ventriloquist tentu bisa mengendalikan sesuatu dalam dirinya untuk ditampilkan sesuai karakter yang diinginkan. Tapi ketika yang dikendalikannya jauh lebih kuat dari dirinya, maka sudah di luar kendali. Itulah yang sangat ditakuti dan membuat trauma tersendiri,” lanjut pria yang hingga sekarang masih aktif bergerak bersama Komunitas Boneka Tanah. Sementara itu, Hitchin My Life ditafsirkannya sebagai sesuatu yang hinggap dan terkurung di dalam tubuh tiap manusia. “Keduanya merupakan sudut pandang dan dua absolut yang berbeda,” ungkapnya.

Harta Karun dan Floopy Disk Terbatas

Saat itu Klepto Opera tengah bergelut mengerjakan materi baru di Studio Primitive Sidoarjo. Dengan menggantungkan mic ke timba sumur hingga kedalaman 10 meter, Benny bernyanyi dan berteriak dari bibir sumur untuk merekam suaranya. Mereka melakukan metode itu agar mendapat soundscape yang natural dan sesuai dengan keinginan. Apalagi di era tersebut (2000-an) tidaklah seperti sekarang. Teknologi belum canggih, kaset pita monochrome begitu berharga, terutama saat berfungsi sebagai penyimpan file master rekaman mereka.

Sayangnya, belum sampai merilis album Memorabilia, file master lagu Ventriloquist Trauma (Hitchin My Life) hilang. “Seingetku habisnya main di Nirvana Café itu, kasetnya hilang,” katanya. Alhasil, petualangan lagu tersebut berhenti sebagai lost tape yang tidak masuk di album manapun. Memang Klepto Opera bukan tipikal band minim karya. Tapi tetap saja, bagi musisi keberadaan satu lagu begitu penting. Akhirnya, lagu yang direkam tahun 2002 itu dinyatakan lenyap, bahkan berstatus lost tape ditambah juga tidak banyak yang tahu karena hanya sekali dimainkan.

klepto-opera

Dari kiri: Ejip (gitar), YY (gitar), Tommy (drum), Benny (vokal), & Platz (bass)

Beberap bulan semenjak kepergian vokalis mereka, Klepto Opera seakan mendapat harta karun. Tanpa sengaja, master lagu itu ditemukan saling tindih dengan barang-barang tak terpakai dan siap buang. Hal itu langsung saja menarik perhatian Yoyon. Sesuatu yang sudah dilupakan mendadak jadi emosional lagi. Ya, master lagu itu ditemukan di Gudang. Tepatnya setahun lalu, itu berarti sudah sekitar 13 tahun Ventriloquist Trauma (Hitchin My Life) yang telah dilupakan muncul kembali.

Melalui weblog Grungee Jumping mereka mengumumkan bahwa single tersebut dirilis pertama kali pada bulan Februari 2015. Ditandemkan dengan versi alternative dari lagu Superclassic Ego, single itu di mastering ulang dan teregernerasi dengan kualitas yang menyesuaikan zaman. Format floopy disk mereka pilih dengan mencetaknya terbatas, yakni 25 keping. “Floopy disk saat itu masih lazim digunakan, sekaligus juga untuk menarik mundur bagaimana seharusnya Ventriloquist Trauma (Hitchin My Life) dirilis saat itu,” jelasnya.

Klepto Opera kembali menyambung asa-nya. Bukan Cuma Ventriloquist Trauma (Hitchin My Life) saja, tapi beberapa lagu lama mereka pun mulai dikerjakan lagi setelah sempat vakum. Semuanya dirilis satu per satu dengan cara dan metode yang lebih modern tentunya. Formasinya pun sudah utuh meski tanpa sosok Benny yang begitu melekat karakternya di band ini. “Lagu tersebut mungkin saja dirilis lagi bersama album yang akan datang, tapi bisa juga dijadikan satu dengan lagu-lagu unreleased lainnya,” harap Yoyon mewakili rekan-rekannya. Melalui perjalanan yang panjang dan tak terduga, sebuah lagu yang mulanya biasa saja, sulit dimainkan, dan sulit dicerna jadi begitu historikal bagi band legendaris ini. Bisa jadi, kejadian ini merupakan representasi nyata dari isi lagunya, karena memang makna ventriloquist yang cukup luas di lagu ini.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading

BACKSTAGE

Mengejar Deadline Keselamatan & Kesehatan Kerja Pekerja Kreatif

Published

on

Ilustrasi: Syamsur Rijal

Wenak yo jeh, kerjomu mung laptopan tok (enak banget sih kamu, kerjamu cuma main laptop aja).”

Freelance-an gini, pasti tiap hari bisa bangun siang ya.”

“Band-band-an kan seneng-seneng doang, gak ada libur juga gak papa to.”

Pernah dengar kalimat-kalimat nggemesin seperti di atas? Bagi kawan-kawan pekerja industri kreatif, digital, dan media, bait-bait tersebut bisa jadi terasa bagai lagu lama. Banyak orang menganggap pekerjaan kita sebagai pekerjaan impian, karena syukur alhamdulillah banyak dari kita yang mungkin termasuk bajingan beruntung yang berkesempatan memiliki penghidupan dari kegiatan yang disenangi (bahkan merupakan hobi). Proses terjal menuju titik itu adalah cerita lain, yang orang pertama lihat tentu saja tampak luarnya dulu.

Ilusi independensi dan kebebasan yang terpancar dari praktek kerja para pekerja kreatif memang menggiurkan, terlebih jika sang penerima informasi menelan mentah-mentah bumbu gurih yang ditaburkan oleh mas-mbak motivator, bahwasanya “kerja dengan passion akan membuat kita serasa tidak bekerja”. Sebenarnya ungkapan ini keren dan benar, karena dorongan semangat dari rasa suka itu memang tiada duanya, tapi lantas bagaimana kalau passion justru disalahgunakan guna memangkas hak pekerja? Jangan sampai hal tersebut diterus-teruskan keberadaannya.

Sekilas Pekerja Ekonomi Kreatif Indonesia

Sebelum membahas lebih jauh soal hak pekerja kreatif, mari kita samakan pandangan dulu soal siapa saja yang terhitung sebagai pekerja ekonomi kreatif di sini. Diintisarikan dari bekraf.go.id, ekonomi kreatif adalah sektor yang tidak secara langsung bergantung pada mekanisme eksploitasi sumber daya alam, tapi lebih bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia yaitu ide-ide kreatif. Ada banyak subsektor di dalamnya, yaitu, Aplikasi & Pengembang Permainan; Arsitektur; Desain Interior; Desain Komunikasi Visual; Desain Produk; Fashion; Film, Animasi, & Video; Fotografi; Kriya; Kuliner; Musik; Penerbitan; Periklanan; Seni Pertunjukan; Seni Rupa; serta Televisi & Radio. Secara jumlah, pada tahun 2015 dari total 114.819.199 penduduk Indonesia yang bekerja 15.959.590 di antaranya bekerja di sektor ekraf (ekonomi kreatif). Jumlah tersebut meningkat hampir 800.000 orang dari tahun sebelumnya (Data Statistik & Hasil Survei Ekonomi Kreatif, kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik).

Dari sini bisa terlihat betapa minat masyarakat untuk berkiprah di sektor ini sebenarnya besar. Pun dari pemerintahan sendiri juga memberikan perhatian khusus pada potensi ekraf yang makin tak bisa dikesampingkan (hasil survei tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai ekspor dari sektor ini mencapai 19,4 miliar USD dan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya mencapai 852,24 triliun rupiah). Ekonomi kreatif digadang-gadang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Namun setelah ditengok lagi, sepertinya masih banyak PR yang perlu diusahakan bersama. Mulai dari soal perlindungan hukumnya, kesadaran masyarakat akan mekanisme dan hak pekerja kreatif, kesadaran para pekerjanya sendiri untuk melindungi hak kekayaan intelektual yang mereka miliki, dan yang sangat fundamental tapi kerap terlupa: mengadvokasi kesadaran para pekerja ekraf akan hak kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang tentunya berhak mereka dapatkan, layaknya kawan-kawan dari sektor lainnya.

Distorsi “Tak Berwujud”

Selain terlihat ‘senang-senang terus’, salah satu kesalahkaprahan yang kerap dirasakan pekerja kreatif terutama dari ranah digital adalah bahwa pekerjaan mereka dianggap harmless—karena sehari-harinya ‘hanya’ berhadapan dengan komputer. Di mata sebagian besar masyarakat kita, ‘risiko kerja’ masih cenderung seputar kecelakaan akibat mesin besar atau konstruksi; sesuatu yang bersifat tiba-tiba dan akibatnya berupa kerusakan ragawi, bahkan bisa merenggut nyawa. Resiko-resiko laten yang terjadi seiring berjalannya waktu seperti penurunan fungsi mata (desainer grafis, game developer, dll.), gangguan pendengaran (sound engineer), hingga gangguan mental akibat trauma (jurnalis) seperti dianggap tidak cukup penting untuk ditindaklanjuti.

Apalagi jika keluhannya ‘hanya’ terkait jam kerja yang berlebihan. Di atas kertas, sebagian besar kantor mencantumkan di kontrak kerja bahwa jam kerja karyawan adalah sebanyak 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Nyatanya banyak dari pekerja sekarang yang merasa bahwa kerja 10 jam atau lebih dalam sehari itu wajar. Kalau ada yang protes sedikit, salah-salah dicap manja.

Jika dilihat dari hasil survey yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2017, ada 26,32% pekerja Indonesia yang mengaku bekerja lebih dari 48 jam seminggu, dan dari jumlah itu 31,98%-nya adalah pekerja dari sektor ekonomi kreatif. Untuk situasi-situasi tertentu, jam kerja tambahan mungkin memang dibutuhkan guna tercapainya suatu target. Tapi bagaimana jika keadaan tersebut terjadi setiap hari nyaris tanpa putus dari tahun ke tahun? Beberapa kantor bahkan menyarankan karyawannya untuk tidak mengambil cuti, agar ‘potensi’ maksimal perusahaan bisa tercapai. Apakah kita sedang menyaksikan era perbudakan glamor, ketika satu orang bisa memegang beban kerja 4 orang, dan yang durasi kerjanya paling lama bangga dielu-elukan sebagai pekerja keras?

Padahal, sudah banyak contoh kasus bekerja melebihi batas yang akhirnya berujung fatal. Masih ingat kejadian meninggalnya seorang copywriter di Jakarta akibat bekerja 30 jam tanpa tidur? Karena belum ada aturan hukum yang jelas terkait pelanggaran unsur K3 yang efeknya bukan berupa celaka fisik yang kasat mata (Almarhumah langsung mendadak koma), pada akhirnya perusahaan tempat Almarhumah bekerja hanya sebatas dipanggil oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Memang sudah ada beberapa undang-undang yang bisa dijadikan acuan seperti UU no 1 tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja dan UU no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, tapi kedua UU tersebut tidak mengandung sanksi khusus bagi pelanggaran hak yang tidak meninggalkan bukti ‘kerusakan’ fisik.

Menyadari masih ada situasi seperti ini, sebagai salah satu pekerja yang berkiprah di bidang kreatif Ellena Ekarahendy (Art Director & Desainer Grafis) dan sejumlah kawan pun menginisiasi SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi). Tujuan dasarnya, untuk menjadi wadah bagi para pekerja media dan industri kreatif untuk berjejaring lintas profesi, berbagi pengetahuan dan kemampuan lintas disiplin, serta menjalin solidaritas agar bisa berkarya dalam ekosistem yang inklusif dan manusiawi. SINDIKASI sendiri mulai dibangun sejak akhir 2016, dan dalam momentum bulan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) pertengahan Januari-Februari lalu SINDIKASI menggelar Work Life Balance Festival—sebuah langkah advokasi dan edukasi berbalut selebrasi yang mereka adakan di 4 titik : Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta.

Kenapa isu K3 lah yang menjadi menu utama di event besar pertama SINDIKASI ini? Karena persoalan K3 ini masih belum familiar di telinga masyarakat, bahkan di kalangan pekerjanya sendiri—padahal ini adalah hak yang sangat mendasar. Jaminan hukum terkait K3 juga belum memadai. Maka dari itu, SINDIKASI sengaja menghadirkan Work Life Balance Festival ini sebagai ruang temu dan ruang dialog bagi para pekerja dan pemangku kepentingan dari sektor ekonomi kreatif dan sektor lainnya, sehingga elemen-elemen masyarakat ini dapat saling membicarakan kondisi ketenagakerjaan terkini dan bersama-sama mencari kemungkinan-kemungkinan solusinya.

Melawan Sekat, Menyadari Ambang Batas

Selain persoalan jam kerja, tim Riset dan Edukasi serta tim Advokasi SINDIKASI juga telah mengidentifikasi sejumlah tantangan lain yang kerap ditemui pekerja ekraf antara lain upah di bawah garis minimum, kontrak yang tidak jelas, dsb. Isu K3 ini bisa dibilang paling fundamental karena tanpa mental yang sehat kesehatan fisikpun ikut terancam, jika sudah demikian lantas bagaimana seseorang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan optimal? Masalahnya, membicarakan soal kesehatan mental masih menjadi hal yang relatif tabu di Indonesia. Bahkan BPJS Ketenagakerjaan pun belum memiliki mekanisme klaim perawatan penyakit mental, padahal kesehatan mental kini telah termasuk risiko utama dari kultur kerja saat ini. Dalam BPJS Kesehatan pun,seseorang baru bisa melakukan klaim penyakit mental jika telah ada dampak fisik pada penderitanya. Dan karena sulitnya akses yang tepat dan memadai, coping mechanism yang dianggap paling mudah diakses pun menjadi jalan keluar, yang tak jarang justru memperburuk kondisi individu itu sendiri, misalnya: pada alhokol atau penyalahgunaan obat-obatan. Kalau sudah begini, rasanya nirfaedah kalau solusinya hanya berkutat sebatas tunjuk-menunjuk siapa yang salah.

Tekanan kerja melewati ambang batas terjadi pula di banyak negara lain, dan dari sini sebenarnya kita bisa mulai membangun solusinya. Jepang, negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi (salah satu penyebabnya adalah tekanan kerja berlebih), memiliki sanksi tegas sebagai konsekuensi dari pelanggaran standar operasional kerja. Pada Oktober 2017, Pengadilan Tokyo menghukum perusahaan periklanan dan public relation Dentsu dengan denda sebesar 500 ribu yen karena seorang pekerjanya memutuskan mengakhiri hidup akibat beban kerja yang berlebih.

Pemerintah harus bisa setegas ini dalam menindak pelanggaran yang ada. Begitupun dengan manajemen perusahaan juga harus lebih bisa berpihak pada pekerjanya sendiri/klien yang menyediakan jasa untuk mereka, antara lain dengan cara mempertegas kewajiban dan hak kerja. Terlebih soal kontrak kerja, yang mana banyak perusahaan berbasis digital seringkali memberi kontrak kerja yang lebih menguntungkan perusahaan—pekerja bahkan bisa diputus kontrak sewaktu-waktu. Di era digital disruption di mana sistem kerja dan persaingan bisa datang dari mana saja dan terjadi pergeseran perilaku ekonomi, kita harus sigap menyesuaikan diri dalam pergeseran yang ada. Dan penyesuaian yang kita lakukan harus sesegera yang kita bisa—agar kesehatan dan keselamatan para pekerja tidak berlarut-larut menjadi ongkosnya.

Perekam momen, penganyam benang, tukang gambar, sekaligus pengamat tulisan di bodi truk. Menghabiskan 9-5 dengan mengasuh dunia maya, sesuai dengan namanya sendiri.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya