Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Adhitia Sofyan Senang Bisa Lepas Dari ‘Bedroom Musician’

Published

on

Adhitia Sofyan (Wicakisme)

Adhitia Sofyan

Melewati tiga album sudah lebih dari cukup bagi Adhitia Sofyan untuk sedikit merubah gaya bermusiknya. Solois yang dikenal mandiri dengan merekam sendiri lagunya dari kamar ini mencoba berbuat hal baru. “Sebenarnya tidak ada yang baru, rasanya sama seperti artis solo dengan session players-nya. Sama juga seperti ketika latihan di studio, yang terasa beda hanya porsi permainannya saja,” jelasnya sambil mempromosikan album keempat yang baru dirilisnya, Silver Painted Radiance.

Disamping kedewasaan dalam bermusik, Adhitia Sofyan mengaku tak jarang bosan dengan lagunya serta ekspresi penonton. “Ada juga kebosanan dengan lagu-lagu mellow yang sering dibawakan di panggung. Bosan juga melihat penonton yang termenung diam, mimiknya selalu sama dari awal sampai akhir lagu,” ujarnya. Dorongan-dorongan seperti itulah yang akhirnya menggiring penyanyi asal Bandung ini menggunakan elemen-elemen band saat rekaman. Sebagai awal, single Find Who You Are mulai diperdengarkan di radio-radio nasional. Lagu tersebut masih mengedepankan suara gitar akustik yang perlahan diikuti dan diiringi instrumen lainnya.

Bagi Adhitia Sofyan, format ini memang sudah tidak biasa lagi di dengar. Tapi bagi albumnya, ini adalah bentuk transformasi. Ia ingin terdengar lebih fresh, dan tentunya ingin menjangkau pendengar lebih luas lagi. “Kalau mereka kangen dengan versi Adhitia Sofyan yang lama, tinggal mendengarkan album pertama sampai ketiga. Atau kalau ini semua gagal, saya selalu bisa membuat album yang serupa di masa mendatang. Tapi pertanyaan paling penting adalah, bagaimana album ini bisa menarik pendengar-pendengar baru yang ingin berkenalan dengan musik saya,” terang Adhitia Sofyan kepada Ronascent.

Silver Painted Radiance cover

Cover album ‘Silver Painted Radiance’. (Source: Demajors)

Dari segi prosesnya, Adhitia Sofyan juga melakukan rembukan dengan personil lain. Jika sebelumnya tiap instrumen hanya sekadar menambal isian musik yang kosong, kini di album Silver Painted Radiance ia hanya membawa materi gitar dan vokal yang kemudian dikerjakan bersama-sama. “Kini gitar saya bukan pemain utama lagi, karena saat ini lagu dan kepentingan suaranya adalah yang lebih diutamakan,” imbuhnya. Solois yang turut mengisi soundtrack film Kambing Jantan The Movie ini pun bangga dengan hasilnya, bahkan merasa senang karena bisa melepaskan istilah ‘bedroom musician’ dari dirinya. “Senang sih, akhirnya bisa keluar dari gua bernama bedroom musician demi mencoba hal baru,” lanjutnya.

Album Silver Painted Radiance sendiri merupakan rilisan keempat Adhitia Sofyan setelah Quiet Down (2009), Forget Your Plans (2010), dan How To Stop Time (2012). Album ini dirilis oleh Demajors yang sebelumnya sudah tersedia versi digitalnya pada 14 Februari 2016. Sementara itu, bentuk fisik album yang berisikan sepuluh track ini baru mulai beredar per 21 Maret kemarin.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya