Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Michael Learns To Rockin’ Valentine Again

Published

on

MLTR 05

Jascha Richter saat tampil di Surabaya Senin kemarin (15/2). Foto: Rido Ramadhan

Lagi-lagi Valentine. Lagi-lagi muda-mudi bergandengan tangan, memakai baju couple, saling bertukar bunga, cokelat, jam tangan. Lagi-lagi cinta jadi komoditas—dan itu sangat menjual. Tapi untuk kesekian kalinya pop rock romantis asal Skandinavia menyambangi Indonesia, kali ini Surabaya masuk agenda tur valentine mereka. Michael Learns To Rock (MLTR), tak peduli sudah lewat dua hari dari hura-hura hari kasih sejagad. Tanggal 15 Februari kemarin jadi tolok ukur penting bahwa cinta sekaligus puja-puji tentangnya masih jadi agenda terdepan tiap bulan Februari.

Tidak berlebihan memang, karena bukan cuma di musik. Bahkan, sebuah badan riset sempat menangkap fakta menarik di mana 10 film terlaris karya anak bangsa tahun lalu hampir semuanya di dominasi kisah percintaan. Yah walaupun—kita bisa lihat—harga tiket resmi berkisar dari Rp 500 ribu sampai Rp 2 juta, berbanding lumayan dengan harga iseng calo yang dipatok Rp 630 ribu sampai Rp 2,3 juta; itu tidak jadi perkara sepertinya. Karena bukan sekadar faktor MLTR, tapi juga faktor momentum.

Di konser ini haram untuk berdiri—semagis apapun musik yang akan dibawakan nantinya. Di panggung besar nan megah, lampu yang menyorot Jascha Ritcher, Mikkel Lentz, dan Kere Wanscher, plus satu orang yang mengisi additional drum. Band pemilik sekitar 30 hits lagu yang tergabung dalam 10 album ini tidak butuh waktu lama lagi untuk mendapat jeritan histeris. Dengan setelan rapi nan elegan—baik musik dan penampilan yang memperlihatkan kegagahan mereka, meski tentu keriput tidak bisa dibohongi.

Masih dari atas panggung MLTR membawakan beberapa hits mulai dari Someday, Complicated Heart, Love Will Never Lie, sampai I’ll Wait For You. Bagian mendebarkan adalah saat Sleeping Child dibawakan. Yang teringat adalah sosok Ayah anda: pria setengah baya yang merangkul mesra ibunda tercinta menyusuri kenangan. Mungkin MLTR adalah renik klasik bagi anak-anak muda, tetapi bagi golongan yang pernah muda di era 90-an, MLTR adalah keabadian.

MLTR 11

MLTR dengan setelan rapi membuat penonton berapi-api. (Foto: Rido Ramadhan)

Suasana makin hangat saat MLTR menuju ke panggung yang cukup dekat dengan penonton—ini telah dipersiapkan. Panggung kecil yang pendek dan rendah tak ayal langsung membuat penonton menyemut. Lupakan aturan nomor satu bahwa penonton haram hukumnya untuk berdiri: semuanya berlarian ke depan dengan membawa kamera selfienya. Tak peduli bangku VVIP, VIP, Reguler, bos, karyawan, manager bau kencur, pemudi kuliahan, semuanya membaur. Persetan menghalangi yang ada di belakang, yang penting mengambil selfie dulu, unggah di Instagram, dan kelar.

Apalagi di sesi ini Jascha Ritcher membawakan Naked Like The Moon dengan hanya ditemani kibord-nya. Berturut-turut I’m Gonna Be Around, Forever and A Day dan Out of The Blue—yang ditemani isian gitar Mikkel Lentz. Spesial. Tapi tidak boleh lama-lama. Semua orang membayar di sini. Petugas keamanan patut dicaung jempol tinggi-tinggi karena lekas menyuruh duduk semua yang mengerumuni para punggawa Skandinavia. Menyerukan pepatah lama: dalam konser bukan artis, bukan pentonton yang berkuasa, melainkan petugas keamanan.

Konser tur cinta yang ditutup di Surabaya ini diakhiri dengan—tak tanggung-tanggung—tiga encore sekaligus. Teriakkan “we want more!” membuat MLTR mengeluarkan jurus andalannya: Paint My Love, Breaking My Heart dan That’s Why. Tepuk tangan nan meriah menutup pegelaran Michael Learns To Rock Valentine Tour 2015. Lagi-lagi Valentine. Lagi-lagi Someday, Sleeping Child, Out of The Blue, Paint My Love. Dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya MLTR sukses meromansakan momen valentine bagi pendengarnya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

EVENTS

Penampilan Golden Mammoth di Surabaya

Published

on

Band bermuatan psychedelic rock asal Malaysia, Golden Mammoth berkesempatan menggelar pertunjukannya di Surabaya. Dalam acara yang digelar di Nens Corner tersebut, band ini berbagi panggung dengan sederet band lokal, mulai dari yang paling muda ada Eisen, kemudian Timeless, Rasvan Aoki hingga Let’s Go Cmon Baby yang kembali bereuni. Berikut foto-foto hasil liputan kami.

Continue Reading

EVENTS

Suaka Karya Sidoarjo: Berkumpulnya Para Penunggang Militia

Published

on

Ricky Siahaan, gitaris Seringai di Soundsations Suaka Karya Sidoarjo akhir pekan lalu (16/3). Foto: Luqman Darwis

Dua hari dihadapkan dengan cuaca mendung dan hujan tidak membuat acara Suakakarya menjadi sepi, pasalnya lineup mereka kali ini cukup untuk memadukan warna nasional dan lokal Sidoarjo. Bertempatkan di Lapangan Parkir Transmart Sidoarjo, Suakakarya kali ini masih membawa konsep kolaboratif. Ada beberapa komunitas yang digandeng, seperti pegiat fotografi Instanusantara dan Explore Sidoarjo yang memamerkan karya mereka sembari menanti tujuan utama dari acara ini: selebrasi bagi para Penunggang Badai dan Serigala Militia.

Penunggang Badai sebagai fans setia dari Barasuara meramaikan acara di hari pertama. Barasuara yang bermain pertama kali di Sidoarjo dapat membawa suasana menjadi sendu dan penuh hikmat untuk para penikmatnya. “Biar Tapi Jadi Bukti” yang jadi tagline Suakakarya kali ini dibuktikan oleh Barasuara yang beberapa waktu lalu baru saja merilis album terbaru mereka. Sebagai selebrasi awal, penampilan dibuka dengan lagu dari album baru yaitu Perjalanan dan Pikiran. Sejak awal pula para Penunggang Badai langsung terhanyut dalam suasana yang syahdu. Selain itu band yang beranggotakan 6 orang ini juga membawakan beberapa lagu dari album sebelumnya seperti Sendu Melagu dan Bahas Bahasa. Sebelum Barasuara tampil pun, lineup sebelumnya yang juga ikut meramaikan seperti Wake Up, Iris!, Espona, dan juga band lokal JR. Smith.

Irama musik keras Seringai menjadi penutup acara pada besoknya (16/3) kemarin. Tetap dengan lineup lagu yang menjadi favorit para Serigala Militia, membuat suasana venue menjadi tegang. Musik keras oleh Seringai disambut hangat dengan gerakan moshing sebagai bentuk luapan Serigala Militia dapat menyaksikan band favoritnya. Terlepas itu hari kedua juga diramaikan dengan penampilan band lainnya seperti Black Rawk Dog, Lepas Terkendali, dan juga Ismasaurus.

Foto & Teks: Luqman Darwis

Continue Reading

Surabaya