Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Crimson Eyes Tour: Perjalanan Sigmun ke Jawa, Bali, dan Sulawesi

Published

on

Sigmun

Sigmun. Dari kiri ke kanan: Tama, Mirfak, Jono, dan Haikal. (Sumber: akun Twitter Sigmun)

Mengigau, meracau, dan berfantasi. Bermain dalam imajinasi. Melintasi batas kewarasan. Mengembara di alam bebas bawah sadar. Deskripsi yang tepat untuk menggambarkan musik surealis milik Sigmun. Haikal Azizi, Nurachman Andhika, Mirfak Prabowo dan Pratama Kusuma Putra adalah empat orang yang bertanggung jawab di balik kendali kelompok “freudian blues rock” asal Bandung yang aktif sejak 2011.

Sigmun kini tengah mengumpulkan energi untuk mengelilingi Pulau Jawa, Bali, dan Sulawesi dalam rangkaian Crimson Eyes Tour 2016. Turut serta dalam rombongan, dua roster Orange Cliff Records lainnya, Somnium dan Kaveman. Kota Surabaya pun akan jadi destinasi kelima yang disambangi pada Sabtu, 27 Februari 2016 mendatang bertempat di Gedung Srimulat.

Tidak hanya musik, Sigmun juga menawarkan merchandise asli mereka selama tur ini berlangsung. Di antaranya ada poster resmi Crimson Eyes Tour 2016 cetakan Månstråle. Poster karya Morrg (seniman sekaligus frontman Rajasinga) ini dijual dalam jumlah terbatas.

Sigmun-crimson eyes tour 2016

Poster Crimson Eyes Tour 2016. (Sumber: laman Facebook Sigmun)

Album penuh pertama Sigmun dirilis November 2015 lalu, bertajuk Crimson Eyes. Album ini menjadi perwujudan atas gagasan Sigmun tentang musik, yaitu kendaraan untuk melarikan diri dari jenuhnya kehidupan nyata sehari-hari menuju ruang baru yang mereka ciptakan sendiri dari jelajah alam bawah sadar. Raungan vokal melolong a la Robert Plant, riff gitar blues yang kokoh namun mengawang, gemuruh bass purba mendampingi suara drum yang chaotic, membuat musik Sigmun menjadi paduan bebunyian yang khas nan megah. Tak heran jika rilisan Orange Cliff Records ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan.

Berikut susunan jadwal Crimson Eyes Tour 2016 seperti dikutip dari laman Facebook resmi Sigmun. Kemungkinan jadwal tambahan akan diumumkan kemudian.

19 Februari 2016 – Semarang – w/ Somnium
20 Februari 2016 – Solo – Lokananta – w/ Somnium
21 Februari 2016 – Jogjakarta – IT Centre Kampus UAD – w/ Somnium
26 Februari 2016 – Malang – Godbless Cafe 2 – w/ Kaveman
27 Februari 2016 – Surabaya – Gedung Srimulat – w/ Kaveman
2 Maret 2016 – Denpasar – Twice Bar Kuta – w/ Kaveman
5 Maret 2016 – Denpasar – w/ Kaveman
19 Maret 2016 – Makassar
25 Maret 2016 – Jakarta – “Into the Inner Sanctum” showcase/tour closing showcase

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

NEWS

Kenistaan Layar Laca di Mata Hockey Hook

Published

on

Artwork single terbaru Hockey Hook, Layar Nista. (dok. Hockey Hook)

Cerita tentang kekesalan terhadap tayangan televisi di Indonesia memang belum ada habisnya. Banyak musisi yang menumpahkan keluhannya lewat lagu, tak terkecuali dengan unit ska punk asal Kota Kembang, Hockey Hook. Kenistaan layar kaca mereka nyanyikan lewat single baru yang diberi judul Layar Nista.

Single yang rilis digital akhir November kemarin ini digarap sendiri oleh Hockey Hook dengan bantuan Ako selaku sound engineering di Red Studio Bandung. Lewat rilis persnya, Hockey Hook menyebut konten televisi di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari kata edukatif. “Konten televisi di Indonesia dipenuhi program-program tidak mendidik seperti sinetron yang ditayangkan siang hari, pengemasan variety show di beberapa kanal media yang penuh gosip selebriti, diwarnai juga cemoohan antar satu sama lain host. Tidak ketinggalan pula kampanye hitam politik di media Televisi yang tentunya saling menjatuhkan lawan,” sebut mereka.

Layar Nista ini dikemas lebih ke reggae dub ala California era 90an. Mereka juga menggandeng DJ Eone Cronik dari Eye Feel Six guna membangun nuansa scratch di lagu tersebut. Dan setelah ini, Hockey Hook kabarnya akan melempar mini album berisikan lima lagu yang sekaligus melanjutkan debut album yang rilis dua tahun lalu.

Continue Reading

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Continue Reading

Surabaya