Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Silampukau & Pertunjukan Intimnya di Surabaya

Published

on

Jpeg

Penampilan Silampukau di Libreria Eatery (15/1). Foto: Rona Cendera

Semenjak album Dosa, Kota, & Kenangan resmi dirilis tahun lalu, Silampukau sukses melakukan tur di berbagai kota. Mulai dari gig kecil hingga sekelas festival secara rutin memenuhi jadwal manggung band yang melejitkan lagu Doa 1 ini. Namun bukan Silampukau jika mereka tidak merindukan kotanya, terutama suasana pertunjukan yang intim. “Senang bisa berada di sini, sebuah pertunjukan intim, di mana kami akan membawakan lagu-lagu kami,” sahut Kharis Junandharu sebelum membuka pertunjukannya Jumat kemarin (15/1) di Libreria Eatery, Surabaya.

Libreria Eatery yang kebetulan baru saja diperluas tempatnya pun langsung penuh selepas maghrib. Tampak jelas wajah-wajah baru penikmat duo folk ini yang tidak ingin ketinggalan pertunjukan intim bertajuk ‘Malam Jatuh di Surabaya’. Tidak ada yang tidak ikut bernyanyi dan mengikuti ketukan irama mereka, Silampukau pun memainkan sebagian besar track dari albumnya ditambah dua lagu lawas.

Sesuai dengan titel acaranya, Kharis dan Eki memulai pertunjukannya sekitar pukul tujuh malam, saat yang pas untuk melantunkan Malam Jatuh di Surabaya sebagai pembuka. Masih dengan format akustik, dan tetap dibantu oleh bassis Rhesa Filbert. Selepas lagu pertama, drummer Let’s Go Cmon Baby (LGCB) Gede mengambil peran untuk menjaga ketukan drum di setlist Silampukau malam itu. Hingga suara akordeon dari Donnie Setiohandono mulai terdengar di beberapa lagu setelahnya.

Jpeg

Dari kiri: Kharis, Eki, Gede, dan Rhesa. (Foto: Rona Cendera)

Pukauan Silampukau tetap saja melekat, sahutan vokal antara Kharis dan Eki tetap selalu saling mengisi tanpa mengurangi kualitas permainan gitarnya masing-masing. Bedanya, penonton tak melulu disuguhkan lagu syahdu, karena tempo lagu mereka cenderung naik setingkat dari versi aslinya. Sehingga, nuansa satire yang seharusnya dibawakan sedikit muram jadi terasa menyenangkan, apalagi saat memenggal salah satu lirik Doa 1 “….murahan seperti, Ahmad …”.

Puncak pertunjukan mereka ada pada lagu Sampai Jumpa, satu lagu lama yang tahun 2014 lalu dikemas dalam sebuah EP bertitel Sementara Ini. Ya, meski pertunjukannya terbilang singkat, mereka tetap saja memikat. Satu, dua suara terdengar meminta encore, dan mungkin mereka lupa jika sedang berada di gigs lokal, bukan konser megah artis internasional yang kaya akan gimmick.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Tio Perdana

    21 January 2016 at 17:16

    selalu terpukau sama silampukau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

EVENTS

Penampilan Golden Mammoth di Surabaya

Published

on

Band bermuatan psychedelic rock asal Malaysia, Golden Mammoth berkesempatan menggelar pertunjukannya di Surabaya. Dalam acara yang digelar di Nens Corner tersebut, band ini berbagi panggung dengan sederet band lokal, mulai dari yang paling muda ada Eisen, kemudian Timeless, Rasvan Aoki hingga Let’s Go Cmon Baby yang kembali bereuni. Berikut foto-foto hasil liputan kami.

Continue Reading

EVENTS

Suaka Karya Sidoarjo: Berkumpulnya Para Penunggang Militia

Published

on

Ricky Siahaan, gitaris Seringai di Soundsations Suaka Karya Sidoarjo akhir pekan lalu (16/3). Foto: Luqman Darwis

Dua hari dihadapkan dengan cuaca mendung dan hujan tidak membuat acara Suakakarya menjadi sepi, pasalnya lineup mereka kali ini cukup untuk memadukan warna nasional dan lokal Sidoarjo. Bertempatkan di Lapangan Parkir Transmart Sidoarjo, Suakakarya kali ini masih membawa konsep kolaboratif. Ada beberapa komunitas yang digandeng, seperti pegiat fotografi Instanusantara dan Explore Sidoarjo yang memamerkan karya mereka sembari menanti tujuan utama dari acara ini: selebrasi bagi para Penunggang Badai dan Serigala Militia.

Penunggang Badai sebagai fans setia dari Barasuara meramaikan acara di hari pertama. Barasuara yang bermain pertama kali di Sidoarjo dapat membawa suasana menjadi sendu dan penuh hikmat untuk para penikmatnya. “Biar Tapi Jadi Bukti” yang jadi tagline Suakakarya kali ini dibuktikan oleh Barasuara yang beberapa waktu lalu baru saja merilis album terbaru mereka. Sebagai selebrasi awal, penampilan dibuka dengan lagu dari album baru yaitu Perjalanan dan Pikiran. Sejak awal pula para Penunggang Badai langsung terhanyut dalam suasana yang syahdu. Selain itu band yang beranggotakan 6 orang ini juga membawakan beberapa lagu dari album sebelumnya seperti Sendu Melagu dan Bahas Bahasa. Sebelum Barasuara tampil pun, lineup sebelumnya yang juga ikut meramaikan seperti Wake Up, Iris!, Espona, dan juga band lokal JR. Smith.

Irama musik keras Seringai menjadi penutup acara pada besoknya (16/3) kemarin. Tetap dengan lineup lagu yang menjadi favorit para Serigala Militia, membuat suasana venue menjadi tegang. Musik keras oleh Seringai disambut hangat dengan gerakan moshing sebagai bentuk luapan Serigala Militia dapat menyaksikan band favoritnya. Terlepas itu hari kedua juga diramaikan dengan penampilan band lainnya seperti Black Rawk Dog, Lepas Terkendali, dan juga Ismasaurus.

Foto & Teks: Luqman Darwis

Continue Reading

Surabaya