Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Menyatukan Darah, Menyatukan Cinta di One Blood One Love

Published

on

Penonton yang memadati area Loop Station kemarin minggu (10/1). Foto: Dollyfornia

Penonton yang memadati area Loop Station kemarin minggu (10/1). Foto: Dollyfornia

Ketika musisi tidak sekadar berkarya, tentu banyak hal lain yang bisa dilakukan. Seperti halnya membentuk satu social foundation, lalu menyalurkan kepeduliannya terhadap sesama dan lingkungan sosial. Mungkin juga sudah saatnya membuktikan jika musisi bukan cuma identik dengan hal negatif, tapi juga positif. Arekisme merupakan salah satu refleksinya. Hari minggu kemarin (10/1) puluhan musisi lintas generasi yang tergabung di Arekisme mengadakan event pertamanya bertajuk ‘One Blood One Love’. Acara tersebut menggabungkan konsep gig dengan kegiatan donor darah yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Loop Station Surabaya.

Sesuai dengan objektifnya, Arekisme coba menunjukan rasa pedulinya terhadap sesama. Mereka berkolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk melakukan kegiatan donor darah. Menariknya, tiap band yang terlibat di movement charity ini tidak hanya perform, mereka juga ikut berdonor, serta membagikan merch dan album secara cuma-cuma untuk pengunjung yang mendonorkan darahnya. “Ada sekitar 50 pendonor yang kemarin datang, jumlah ini cukup banyak, apalagi ini event pertama kami,” jelas Arief, personil Blingsatan yang ikut aktif dalam pergerakan Arekisme.

Penampilan Ignore di 'One Blood One Love'. Foto: Dollyfornia

Penampilan Ignore di ‘One Blood One Love’. Foto: Dollyfornia

Sejak pagi area outdoor Loop Station sudah sesak berkat penampilan dari band-band lokal. Mulai dari Charlie’s Rum & The Chaplin yang selalu sukses menarik banyak perhatian berkat genre dan instrumen-instrumen musiknya, ada juga Give Me Mona yang berkolaborasi dengan vokalis Heavy Monster, Harmawansyah, lalu performa jazzy dari Best Friends Project, ketukan rockabilly dari The Dynamite Rockers hingga penampilan band lainnya seperti Ignore, Juggernaut, Timeless, Tulipe De Gezner, hingga DJ Sonixx Synth. Mereka semua sukses meramaikan ‘early gig’ tersebut.

Arekisme sendiri merupakan social foundation yang dibentuk bulan Desember kemarin oleh beberapa musisi-musisi lokal. Setelah ‘One Blood One Love’, mereka juga sudah menyiapkan satu acara amal lain bertajuk ‘Fundistortion’ 17 Januari mendatang, yang nantinya akan menggalang dana untuk pendertia Cerebral Palsy. Setelah itu, kompilasi ‘Surabaya For Humanity Vol.1’ jadi proyek ketiganya yang direncanakan berjalan bulan Februari nanti.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

EVENTS

Penampilan Golden Mammoth di Surabaya

Published

on

Band bermuatan psychedelic rock asal Malaysia, Golden Mammoth berkesempatan menggelar pertunjukannya di Surabaya. Dalam acara yang digelar di Nens Corner tersebut, band ini berbagi panggung dengan sederet band lokal, mulai dari yang paling muda ada Eisen, kemudian Timeless, Rasvan Aoki hingga Let’s Go Cmon Baby yang kembali bereuni. Berikut foto-foto hasil liputan kami.

Continue Reading

EVENTS

Suaka Karya Sidoarjo: Berkumpulnya Para Penunggang Militia

Published

on

Ricky Siahaan, gitaris Seringai di Soundsations Suaka Karya Sidoarjo akhir pekan lalu (16/3). Foto: Luqman Darwis

Dua hari dihadapkan dengan cuaca mendung dan hujan tidak membuat acara Suakakarya menjadi sepi, pasalnya lineup mereka kali ini cukup untuk memadukan warna nasional dan lokal Sidoarjo. Bertempatkan di Lapangan Parkir Transmart Sidoarjo, Suakakarya kali ini masih membawa konsep kolaboratif. Ada beberapa komunitas yang digandeng, seperti pegiat fotografi Instanusantara dan Explore Sidoarjo yang memamerkan karya mereka sembari menanti tujuan utama dari acara ini: selebrasi bagi para Penunggang Badai dan Serigala Militia.

Penunggang Badai sebagai fans setia dari Barasuara meramaikan acara di hari pertama. Barasuara yang bermain pertama kali di Sidoarjo dapat membawa suasana menjadi sendu dan penuh hikmat untuk para penikmatnya. “Biar Tapi Jadi Bukti” yang jadi tagline Suakakarya kali ini dibuktikan oleh Barasuara yang beberapa waktu lalu baru saja merilis album terbaru mereka. Sebagai selebrasi awal, penampilan dibuka dengan lagu dari album baru yaitu Perjalanan dan Pikiran. Sejak awal pula para Penunggang Badai langsung terhanyut dalam suasana yang syahdu. Selain itu band yang beranggotakan 6 orang ini juga membawakan beberapa lagu dari album sebelumnya seperti Sendu Melagu dan Bahas Bahasa. Sebelum Barasuara tampil pun, lineup sebelumnya yang juga ikut meramaikan seperti Wake Up, Iris!, Espona, dan juga band lokal JR. Smith.

Irama musik keras Seringai menjadi penutup acara pada besoknya (16/3) kemarin. Tetap dengan lineup lagu yang menjadi favorit para Serigala Militia, membuat suasana venue menjadi tegang. Musik keras oleh Seringai disambut hangat dengan gerakan moshing sebagai bentuk luapan Serigala Militia dapat menyaksikan band favoritnya. Terlepas itu hari kedua juga diramaikan dengan penampilan band lainnya seperti Black Rawk Dog, Lepas Terkendali, dan juga Ismasaurus.

Foto & Teks: Luqman Darwis

Continue Reading

Surabaya