Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Kaleidoskop: Surabaya Dalam 15 Momen

Published

on

Tidak pernah ada kata terlambat. Meskipun sudah beranjak 48 jam dari tahun 2015, tim redaksi Ronascent coba menyajikan kaleidoskop singkat tentang hiruk-pikuk musik di Surabaya. Terlepas dari istilah kategori terbaik, di artikel ini kami hanya merangkum 15 momentum yang terjadi sepanjang tahun kambing kemarin. Tidak ada tendensi untuk berpihak atau berpromosi ria. Ini hanya pilihan redaksional yang dirasa layak mewakili rekam jejak, dan tentunya perlu disaksikan seberapa besar pengaruhnya dalam perkembangan scene lokal. Satu lagi, kenapa harus 15? simpel, karena yang baru kita lewati adalah tahun 2015.

01. Fenomena Silampukau

Silampukau NET TVTahun 2015 tidak lengkap rasanya jika tidak berbicara tentang moncernya kiprah Silampukau. Baik di scene lokal maupun nasional, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening berhasil jadi buah bibir di mana-mana. Berbagai macam media, mulai televisi, radio, online, cetak, sampai media Twitter abal-abal sekalipun berebut topik tentang mereka.

Semuanya berawal dari reuni mereka di 2014. Berbekal lagu Doa 1 yang dibawakan pertama saat comeback perdana di Coffee Toffee, ternyata jadi bukti bahwa Silampukau bermusik lagi bukan karena kelar masa jenuh, tapi tanggung jawab mereka atas karya-karya yang terlantar sejak 2009. Album Dosa, Kota, dan Kenangan adalah jawaban dari semuanya. Konklusi dari hasil selama setahun mereka bergelut di Mosok’iki Studio.

Terhitung sejak merilisnya pada 19 April kemarin, Silampukau seakan melejit sebagai band lokal bercita-rasa nasional. Bahkan, kini album tersebut sudah mendapat posisi ‘best of the best’ di berbagai kaleidoskop media nasional yang dikaitkan dengan: kebangkitan scene musik Surabaya. Ya, semoga saja.

02. Edisi Terakhir Sunday Market

sunday-market-13

Penampilan OM PMR di Sunday Market Vol.10. (Foto: Dedi Widianto)

Setelah menjadi perbincangan hangat selama empat tahun, salah satu penggagas konseptual market di Surabaya, Sunday Market mengakhiri edisi terakhirnya di angka ke-10. Tema ‘The Big Kampong’ menjadi konsep terakhir bulan Agustus lalu. Bukan tanpa alasan, pilihan Soledad & The Sisters Company (SATSCO) untuk menutup buku cerita Sunday Market karena alasan ambience yang belakangan sudah kurang kondusif.

Belakangan banyak konsep serupa yang muncul, lantas sebagai salah satu pioneer mereka memilih untuk memulai inovasi baru agar tidak terlihat usang dan serupa. Alhasil, Sunday Market yang selalu ditunggu-tunggu kini hanya bisa dirasakan melalui video-video after-movie-nya saja di Youtube. “Ketika sebuah project telah mencapai titik di mana harus diakhiri, maka Sunday Market kini berada di titik itu. Sudah saatnya kami memulai inovasi baru,” ujar Anitha Silvia, media relations SATSCO di salah satu diskusi di Design It Yourself (DIY) bulan Oktober kemarin.

03. Brotherground, Tonggak Baru Festival Underground Surabaya

Brotherground Fest

Penampilan Fraud bersama Hizkia (Crucial Conflict) dan Bagas (WolfxFeet) di Brotherground 26 Desember kemarin. (Foto: Capital Sub Scene)

Memasuki area underground, wilayah ini adalah area paling militan selama lima tahun kebelakang. Produktif karya dan regenerasi cukup rutin sehingga membangun sirkulasi yang baik. Salah satu band HC terpanas di Surabaya, Fraud pun menancapkan tonggak baru dengan menggelar Festival yang bertajuk Brotherground. “Surabaya sudah waktunya berbuat banyak untuk mendapat perhatian dari kota-kota lain. Brotherground adalah cara kami untuk merealisasikannya,” ucap gitaris Fraud, Kecenk.

Memanfaatkan momen perayaan lima tahun usia Fraud, Brotherground pertama sukses digelar pada 28 Februari 2015 dengan seluruh line-up yang berasal dari band-band lokal. Sepuluh bulan berselang, tepatnya 26 Desember 2015 Brotherground kedua kembali digelar. Kali ini dengan momen perilisan album kedua Fraud, Movement Before Mouthment. Berbeda dengan yang pertama, line up lokal di acara tersebut coba dipadukan dengan band-band luar kota. Hasilnya ternyata jauh lebih sukses dari sebelumnya.

04. Ekspansi Label Lokal

CSD 11Menilik lima tahun ke belakang, mungkin tahun 2015 bisa menjadi momen terbaik bagi label lokal. Hingga sekarang, mereka berhasil menjadi wadah bagi band lokal yang selama ini albumnya tersendat tak kunjung rilis. Konsistensi mereka juga menjadi tolok ukur produktivitas musisi-musisi lokal.

Tercatat sepanjang tahun 2015 kemarin tim kami mendapati empat label yang patut diperbincangkan. Keempatnya adalah George Rekords, Radioactive-Force Records, Subnoise Records, dan Beautiful Terror Records. Band-band baru seperti Hawk, Beyond Infinity, Hecht, atau Methiums berhasil jadi buruan penikmat musik berkat andil mereka. Bahkan, kolektif HC Punk kenamaan Amerika Antichrist Demoncore merilis ulang albumnya via George Rekords.

05. Band Lokal Senasional

Baragula at Thursday Noise

Baragula saat tampil di Thursday Noise Vol.6 April lalu. (Sumber: Mod-o)

Selain Silampukau, sebenarnya Surabaya juga menghasilkan beberapa band yang perlu diwaspadai pergerakannya. Dan mungkin saja di tahun 2016 ini radar media-media nasional mulai mendeteksinya satu per-satu. Siapa tidak kenal Fraud? band yang sensasional dan konsisten dengan berbagai movement-nya ini sudah mencicipi berbagai stage nasional, mulai dari Hammersonic hingga Bandung Berisik. Tahun 2015 kemarin giliran mereka memainkan beatdown-nya di panggung Hellshow 2015.

Selain itu, Timeless yang belakangan mulai memukau di pentas lokal beranjak terbang menuju ‘Rock In Celebes 2015’ di Makassar. Belum lagi Baragula yang mendapat tawaran banyak label Ibukota saat mendapat kesempatan tampil di ‘Thursday Noise Vol.6’ bulan April lalu. Kemudian ada The Ska Banton yang mencapai deal dengan label Bali St.Lukas untuk merilis debut albumnya The Master Of Situation, hingga Hi Mom! dan Amonra yang tampil di ‘Soundrenaline 2015’ Bali.

06. Cassette Store Day Pertama di Surabaya

CSD 02

Cassette Store Day 2015 yang digelar di Surabaya Oktober kemarin. (Foto: Rido Ramadhan)

Untuk pertama kalinya peryaan Cassette Store Day (CSD) ikut dirayakan pegiat-pegiat rilisan fisik di Surabaya. Berbeda dengan Record Store Day (RSD) yang sebelumnya kurang menggema, kali ini dengan konsep sedikit berbeda, CSD 2015 kemarin berhasil membawa pengunjung pada sensasi music trade yang sebenarnya.

Perilisan dua album band lokal turut mewarnai momen CSD 2015 kemarin yang diselenggarakan 18 Oktober 2015 di Aiola Eatery, Surabaya. Dua band tersebut adalah Hawk yang merilis EP Sarwari melalui label Beautiful Terror Records dan Beyond Infinity via Radioactive-Force Records. Selain itu, album Dosa, Kota, & Kenangan milik duo folk Silampukau juga dirilis versi kasetnya oleh Majemuk Records pada tanggal itu.

07. Munculnya Arekisme Sebagai Bentuk Peduli Musisi Terhadap Lingkungan Sosial & Kemanusiaan

Arekisme Foundation

Logo Arekisme Foundation

Movement yang dilakukan musisi tidaklah harus berupa album, single, ataupun event. Saat kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kemanusiaan dari musisi-musisi lokal mulai meningkat, sebuah social foundation bernama Arekisme pun akhirnya terbentuk. Ini merupakan sisi lain mereka yang selama ini selalu identik dengan sisi negatif sebagai anak band.

Arekisme yang baru terbentuk awal Desember berhasil merangkul musisi-musisi lawas di Surabaya. Musisi yang jadi inisiatornya pun tidak sedikit, terdapat perwakilan dari band-band seperti Blingsatan, Devadata, Heavy Monster, Little Skank, Fraud, Tulipe De Gezner, Valerian, The Flins Tone, Crucial Conflict, dan masih banyak lagi. Kini, tiga project sosial sudah mereka siapkan untuk tahun 2016 ini.

08. Dominasi Underground

Brotherground 03Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, era underground masih cukup dominan ketimbang lainnya. Sejak awal tahun 2015 sampai menjelang akhir tahun, band dari skena bawah tanah bergantian meluncurkan albumnya. Sebagai pembuka, band lawas Hate Of Pain merilis albumnya, 12 Years Stronger, Struggle, and Victory. Hanya berselang beberapa pekan saja giliran GAS melepas album Generasi Penghancur yang disambung pendantang baru Flowdown dengan rilisannya Sistem Menjerat dan Strength Of Change dengan album Young Bullet.

Memasuki paruh kedua 2015, dominasi underground masih belum runtuh. Unit death metal Descane dan brutal death metal Embryo Genesis bergantian merilis album. Beyond Infinity, Hawk, Humanure, dan Fraud menyusul setelahnya. Jika dihitung-hitung, tahun 2015 kemarin ada sekitar 18 band yang merilis album, dan 10 di antaranya berasal dari skena underground.

09. Konser Dragonforce di Surabaya

dragonforceKedatangan Dragonforce di Surabaya 14 Februari lalu menjadi angin segar bagi pergerakan konser di Kota Pahlawan. Nama lawas Log Zhelebour menjadi inisiator-nya dengan mendatangkan Herman Li cs untuk bermain di GOR Pancasila dengan band pembukannya Jamrud yang juga berasal dari Kota Surabaya.

Dengan titel ‘Maximum Overload Tour 2015’ Dragonforce berhasil menyita perhatian para metalhead Surabaya dari berbagai usia. Meski venue dinilai kurang representatif, namun setidaknya Dragonforce telah memberi hiburan yang tak terlupakan di awal 2015. Ya, karena memang Surabaya sedikit jarang kedatangan artis tenar dunia macam mereka.

10. Live Session: Perekam Audio Visual Musisi Lokal

live session

Sesi pertama Live Session yang diisi oleh Timeless. (Foto: Jozz Studio)

Mendengar kualitas audio yang yahud sudah jadi makanan biasa. Namun bagaimana jika kualitas perform sebuah band nyaris persis dengan audio-nya? Mungkin itu baru yang namanya esensi dalam bermusik. Melalui kolaborasi antara Ronascent dan Jozz Studio, program Live Session yang bertujuan merekam kualitas audio visual band lokal Surabaya mulai berjalan per Januari 2015.

Dengan konsep sebulan sekali, otomatis sepanjang tahun Live Session sudah menjangkau 12 band dengan berbagai genre. Timeless dengan lagunya Reminisce jadi pembuka yang sekaligus membuktikan kualitas bermusik mereka yang benar-benar yahud. Setelah itu beruntun Give Me Mona, The Wise, Muveno, My Mother Is Hero, Rasvan Aoki, Ampun Women, Bvas, Blingsatan, Hi Mom!, Hawk, dan Devadata sebagai penutupnya.

11. Reuni Klepto Opera

Klepto Opera

Formasi baru Klepto Opera. (Foto: Dok. Klepto Opera)

Pasca berkabung usai sang vokalis Benny Benhur meninggal dunia, tiga orang yang tersisa dari personil lama Klepto Opera, yakni YY, Tommy, dan Ejipt memutuskan berkumpul kembali unutk merekam materi-materi yang selama ini belum sempat terekam. Salah satu single juga sudah mereka luncurkan, Ode Untuk Yang Tersisa; sebuah lagu pengenang Benny Benhur. Selain lagu tersebut, Klepto Opera yang terbentuk sejak tahun 1996 telah menyelesaikan beberapa lagu lainnya. Bahkan, mereka juga merencanakan untuk merilis album baru yang dibantu oleh Damis, gitaris dari Rahnk sebagai pengisi vokal.

12. JPK: Kemasan Album Terunik

Kemasan Album Heavy Monster - JPK

Kemasan album Heavy Monster, JPK. (Sumber: Twitter)

Bagi musisi, album ibarat seorang anak yang harus diperlakukan sebaik mungkin. Begitu pula dengan Heavy Monster. Di usia yang memasuki 17 tahun, mereka tidak ingin membuang percuma momentum perilisan album ketiganya, JPK. Sebuah konsep kemasan korek api sekali pakai menjadikan album JPK sebagai packaging terunik yang hadir di tahun 2015. Ukurannya mungkin 10x lebih besar dari ukuran korek api tradisional biasanya, namun bedanya kita akan merasakan sensasi skankin yang membakar 10x lebih heboh daripada menyalakan korek api.

13. Pertemuan MD se-Surabaya Dengan Musisi Lokal

Jpeg

Forum diskusi antara MD radio Surabaya dengan pelaku musik di Kedai Kreasi.

Stagnasi skena lokal seringkali menjadi perbincangan yang membosankan di Surabaya. Namun, semuanya terasa berbeda saat para Music Director (MD) radio se-Surabaya membuat forum diskusi bersama musisi dan pengamat musik lainnya. Topik utamanya adalah mencari benang putus yang selama ini tidak mempertemukan musisi dengan radio. Selama ini radio dituding tidak banyak berkontribusi pada pergerakan independen, namun sebaliknya musisi justru tidak banyak paham tentang cara yang baik dan benar untuk mencapai ke sana. Tidak hanya sekali, ternyata animo dari tiap-tiap pembicara menghasilkan dua kali pertemuan dalam setahun. Dan, tinggal tunggu saja hasilnya.

14. Blingsatan Rajanya Video Klip

2 klip baru blingsatan

Cuplikan video klip Blingsatan, Berbeda Merdeka. (Sumber: Youtube)

Album ketiga Blingsatan memang masuk dalam daftar rilisan tahun 2014. Tapi, promo mereka hingga di penghujung 2015 belum usai. Yang paling menarik adalah produktivitas mereka dalam merilis video klip. Total sepanjang tahun Blingsatan telah merilis empat klip, antara lain Mari Kita Bersama, Berbeda Merdeka, Generasi Tak Terganti, dan Bersinar. Belum lagi video Live Session mereka yang membawakan lagu Nanti Esok Selamanya. Tiga klip, satu footage, dan satu live session setidaknya cukup menyematkan Blingsatan sebagai raja video klip tahun 2015 kemarin.

15. Das Aufklärung, Sinyal Kebangkitan Hip-Hop?

Das Aufklarung

Das Aufklärung. (Sumber: Facebook)

Kultur hip-hop yang pernah booming di era milenium kini memang sudah surut. Musik sejenis mereka mulai sulit ditemui, namun di tahun 2015 ada secercah sinar hip-hop yang beranjak muncul lagi. Tak peduli seleksi alam, ternyata hip-hop masih punya taring dan tetap berdiri. Das Aufklärung-lah salah satu pelakunya, memasuki penghujung tahun mereka melepas sebuah album bertajuk Licht In De Duisternis. Apakah karya mereka nantinya bisa menjadi sinyal kebangkitan hip-hop di Surabaya?

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
3 Comments

3 Comments

  1. indah prameswara

    4 January 2016 at 17:17

    That’s cool! Maju teruuuuus ronascent

  2. Bima Widinafi

    7 January 2016 at 18:25

    Banyak momen-momen keren yg justru nyaris dilupakan setelah setahun. kalian hebat!

  3. Dino Midadik Prasetya

    15 January 2016 at 16:38

    dragonforce-nya krg greget, udan sisan. untung indoor. tapi suwip tok wissss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya