Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Kaleidoskop: Surabaya Dalam 15 Momen

Published

on

Tidak pernah ada kata terlambat. Meskipun sudah beranjak 48 jam dari tahun 2015, tim redaksi Ronascent coba menyajikan kaleidoskop singkat tentang hiruk-pikuk musik di Surabaya. Terlepas dari istilah kategori terbaik, di artikel ini kami hanya merangkum 15 momentum yang terjadi sepanjang tahun kambing kemarin. Tidak ada tendensi untuk berpihak atau berpromosi ria. Ini hanya pilihan redaksional yang dirasa layak mewakili rekam jejak, dan tentunya perlu disaksikan seberapa besar pengaruhnya dalam perkembangan scene lokal. Satu lagi, kenapa harus 15? simpel, karena yang baru kita lewati adalah tahun 2015.

01. Fenomena Silampukau

Silampukau NET TVTahun 2015 tidak lengkap rasanya jika tidak berbicara tentang moncernya kiprah Silampukau. Baik di scene lokal maupun nasional, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening berhasil jadi buah bibir di mana-mana. Berbagai macam media, mulai televisi, radio, online, cetak, sampai media Twitter abal-abal sekalipun berebut topik tentang mereka.

Semuanya berawal dari reuni mereka di 2014. Berbekal lagu Doa 1 yang dibawakan pertama saat comeback perdana di Coffee Toffee, ternyata jadi bukti bahwa Silampukau bermusik lagi bukan karena kelar masa jenuh, tapi tanggung jawab mereka atas karya-karya yang terlantar sejak 2009. Album Dosa, Kota, dan Kenangan adalah jawaban dari semuanya. Konklusi dari hasil selama setahun mereka bergelut di Mosok’iki Studio.

Terhitung sejak merilisnya pada 19 April kemarin, Silampukau seakan melejit sebagai band lokal bercita-rasa nasional. Bahkan, kini album tersebut sudah mendapat posisi ‘best of the best’ di berbagai kaleidoskop media nasional yang dikaitkan dengan: kebangkitan scene musik Surabaya. Ya, semoga saja.

02. Edisi Terakhir Sunday Market

sunday-market-13

Penampilan OM PMR di Sunday Market Vol.10. (Foto: Dedi Widianto)

Setelah menjadi perbincangan hangat selama empat tahun, salah satu penggagas konseptual market di Surabaya, Sunday Market mengakhiri edisi terakhirnya di angka ke-10. Tema ‘The Big Kampong’ menjadi konsep terakhir bulan Agustus lalu. Bukan tanpa alasan, pilihan Soledad & The Sisters Company (SATSCO) untuk menutup buku cerita Sunday Market karena alasan ambience yang belakangan sudah kurang kondusif.

Belakangan banyak konsep serupa yang muncul, lantas sebagai salah satu pioneer mereka memilih untuk memulai inovasi baru agar tidak terlihat usang dan serupa. Alhasil, Sunday Market yang selalu ditunggu-tunggu kini hanya bisa dirasakan melalui video-video after-movie-nya saja di Youtube. “Ketika sebuah project telah mencapai titik di mana harus diakhiri, maka Sunday Market kini berada di titik itu. Sudah saatnya kami memulai inovasi baru,” ujar Anitha Silvia, media relations SATSCO di salah satu diskusi di Design It Yourself (DIY) bulan Oktober kemarin.

03. Brotherground, Tonggak Baru Festival Underground Surabaya

Brotherground Fest

Penampilan Fraud bersama Hizkia (Crucial Conflict) dan Bagas (WolfxFeet) di Brotherground 26 Desember kemarin. (Foto: Capital Sub Scene)

Memasuki area underground, wilayah ini adalah area paling militan selama lima tahun kebelakang. Produktif karya dan regenerasi cukup rutin sehingga membangun sirkulasi yang baik. Salah satu band HC terpanas di Surabaya, Fraud pun menancapkan tonggak baru dengan menggelar Festival yang bertajuk Brotherground. “Surabaya sudah waktunya berbuat banyak untuk mendapat perhatian dari kota-kota lain. Brotherground adalah cara kami untuk merealisasikannya,” ucap gitaris Fraud, Kecenk.

Memanfaatkan momen perayaan lima tahun usia Fraud, Brotherground pertama sukses digelar pada 28 Februari 2015 dengan seluruh line-up yang berasal dari band-band lokal. Sepuluh bulan berselang, tepatnya 26 Desember 2015 Brotherground kedua kembali digelar. Kali ini dengan momen perilisan album kedua Fraud, Movement Before Mouthment. Berbeda dengan yang pertama, line up lokal di acara tersebut coba dipadukan dengan band-band luar kota. Hasilnya ternyata jauh lebih sukses dari sebelumnya.

04. Ekspansi Label Lokal

CSD 11Menilik lima tahun ke belakang, mungkin tahun 2015 bisa menjadi momen terbaik bagi label lokal. Hingga sekarang, mereka berhasil menjadi wadah bagi band lokal yang selama ini albumnya tersendat tak kunjung rilis. Konsistensi mereka juga menjadi tolok ukur produktivitas musisi-musisi lokal.

Tercatat sepanjang tahun 2015 kemarin tim kami mendapati empat label yang patut diperbincangkan. Keempatnya adalah George Rekords, Radioactive-Force Records, Subnoise Records, dan Beautiful Terror Records. Band-band baru seperti Hawk, Beyond Infinity, Hecht, atau Methiums berhasil jadi buruan penikmat musik berkat andil mereka. Bahkan, kolektif HC Punk kenamaan Amerika Antichrist Demoncore merilis ulang albumnya via George Rekords.

05. Band Lokal Senasional

Baragula at Thursday Noise

Baragula saat tampil di Thursday Noise Vol.6 April lalu. (Sumber: Mod-o)

Selain Silampukau, sebenarnya Surabaya juga menghasilkan beberapa band yang perlu diwaspadai pergerakannya. Dan mungkin saja di tahun 2016 ini radar media-media nasional mulai mendeteksinya satu per-satu. Siapa tidak kenal Fraud? band yang sensasional dan konsisten dengan berbagai movement-nya ini sudah mencicipi berbagai stage nasional, mulai dari Hammersonic hingga Bandung Berisik. Tahun 2015 kemarin giliran mereka memainkan beatdown-nya di panggung Hellshow 2015.

Selain itu, Timeless yang belakangan mulai memukau di pentas lokal beranjak terbang menuju ‘Rock In Celebes 2015’ di Makassar. Belum lagi Baragula yang mendapat tawaran banyak label Ibukota saat mendapat kesempatan tampil di ‘Thursday Noise Vol.6’ bulan April lalu. Kemudian ada The Ska Banton yang mencapai deal dengan label Bali St.Lukas untuk merilis debut albumnya The Master Of Situation, hingga Hi Mom! dan Amonra yang tampil di ‘Soundrenaline 2015’ Bali.

06. Cassette Store Day Pertama di Surabaya

CSD 02

Cassette Store Day 2015 yang digelar di Surabaya Oktober kemarin. (Foto: Rido Ramadhan)

Untuk pertama kalinya peryaan Cassette Store Day (CSD) ikut dirayakan pegiat-pegiat rilisan fisik di Surabaya. Berbeda dengan Record Store Day (RSD) yang sebelumnya kurang menggema, kali ini dengan konsep sedikit berbeda, CSD 2015 kemarin berhasil membawa pengunjung pada sensasi music trade yang sebenarnya.

Perilisan dua album band lokal turut mewarnai momen CSD 2015 kemarin yang diselenggarakan 18 Oktober 2015 di Aiola Eatery, Surabaya. Dua band tersebut adalah Hawk yang merilis EP Sarwari melalui label Beautiful Terror Records dan Beyond Infinity via Radioactive-Force Records. Selain itu, album Dosa, Kota, & Kenangan milik duo folk Silampukau juga dirilis versi kasetnya oleh Majemuk Records pada tanggal itu.

07. Munculnya Arekisme Sebagai Bentuk Peduli Musisi Terhadap Lingkungan Sosial & Kemanusiaan

Arekisme Foundation

Logo Arekisme Foundation

Movement yang dilakukan musisi tidaklah harus berupa album, single, ataupun event. Saat kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kemanusiaan dari musisi-musisi lokal mulai meningkat, sebuah social foundation bernama Arekisme pun akhirnya terbentuk. Ini merupakan sisi lain mereka yang selama ini selalu identik dengan sisi negatif sebagai anak band.

Arekisme yang baru terbentuk awal Desember berhasil merangkul musisi-musisi lawas di Surabaya. Musisi yang jadi inisiatornya pun tidak sedikit, terdapat perwakilan dari band-band seperti Blingsatan, Devadata, Heavy Monster, Little Skank, Fraud, Tulipe De Gezner, Valerian, The Flins Tone, Crucial Conflict, dan masih banyak lagi. Kini, tiga project sosial sudah mereka siapkan untuk tahun 2016 ini.

08. Dominasi Underground

Brotherground 03Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, era underground masih cukup dominan ketimbang lainnya. Sejak awal tahun 2015 sampai menjelang akhir tahun, band dari skena bawah tanah bergantian meluncurkan albumnya. Sebagai pembuka, band lawas Hate Of Pain merilis albumnya, 12 Years Stronger, Struggle, and Victory. Hanya berselang beberapa pekan saja giliran GAS melepas album Generasi Penghancur yang disambung pendantang baru Flowdown dengan rilisannya Sistem Menjerat dan Strength Of Change dengan album Young Bullet.

Memasuki paruh kedua 2015, dominasi underground masih belum runtuh. Unit death metal Descane dan brutal death metal Embryo Genesis bergantian merilis album. Beyond Infinity, Hawk, Humanure, dan Fraud menyusul setelahnya. Jika dihitung-hitung, tahun 2015 kemarin ada sekitar 18 band yang merilis album, dan 10 di antaranya berasal dari skena underground.

09. Konser Dragonforce di Surabaya

dragonforceKedatangan Dragonforce di Surabaya 14 Februari lalu menjadi angin segar bagi pergerakan konser di Kota Pahlawan. Nama lawas Log Zhelebour menjadi inisiator-nya dengan mendatangkan Herman Li cs untuk bermain di GOR Pancasila dengan band pembukannya Jamrud yang juga berasal dari Kota Surabaya.

Dengan titel ‘Maximum Overload Tour 2015’ Dragonforce berhasil menyita perhatian para metalhead Surabaya dari berbagai usia. Meski venue dinilai kurang representatif, namun setidaknya Dragonforce telah memberi hiburan yang tak terlupakan di awal 2015. Ya, karena memang Surabaya sedikit jarang kedatangan artis tenar dunia macam mereka.

10. Live Session: Perekam Audio Visual Musisi Lokal

live session

Sesi pertama Live Session yang diisi oleh Timeless. (Foto: Jozz Studio)

Mendengar kualitas audio yang yahud sudah jadi makanan biasa. Namun bagaimana jika kualitas perform sebuah band nyaris persis dengan audio-nya? Mungkin itu baru yang namanya esensi dalam bermusik. Melalui kolaborasi antara Ronascent dan Jozz Studio, program Live Session yang bertujuan merekam kualitas audio visual band lokal Surabaya mulai berjalan per Januari 2015.

Dengan konsep sebulan sekali, otomatis sepanjang tahun Live Session sudah menjangkau 12 band dengan berbagai genre. Timeless dengan lagunya Reminisce jadi pembuka yang sekaligus membuktikan kualitas bermusik mereka yang benar-benar yahud. Setelah itu beruntun Give Me Mona, The Wise, Muveno, My Mother Is Hero, Rasvan Aoki, Ampun Women, Bvas, Blingsatan, Hi Mom!, Hawk, dan Devadata sebagai penutupnya.

11. Reuni Klepto Opera

Klepto Opera

Formasi baru Klepto Opera. (Foto: Dok. Klepto Opera)

Pasca berkabung usai sang vokalis Benny Benhur meninggal dunia, tiga orang yang tersisa dari personil lama Klepto Opera, yakni YY, Tommy, dan Ejipt memutuskan berkumpul kembali unutk merekam materi-materi yang selama ini belum sempat terekam. Salah satu single juga sudah mereka luncurkan, Ode Untuk Yang Tersisa; sebuah lagu pengenang Benny Benhur. Selain lagu tersebut, Klepto Opera yang terbentuk sejak tahun 1996 telah menyelesaikan beberapa lagu lainnya. Bahkan, mereka juga merencanakan untuk merilis album baru yang dibantu oleh Damis, gitaris dari Rahnk sebagai pengisi vokal.

12. JPK: Kemasan Album Terunik

Kemasan Album Heavy Monster - JPK

Kemasan album Heavy Monster, JPK. (Sumber: Twitter)

Bagi musisi, album ibarat seorang anak yang harus diperlakukan sebaik mungkin. Begitu pula dengan Heavy Monster. Di usia yang memasuki 17 tahun, mereka tidak ingin membuang percuma momentum perilisan album ketiganya, JPK. Sebuah konsep kemasan korek api sekali pakai menjadikan album JPK sebagai packaging terunik yang hadir di tahun 2015. Ukurannya mungkin 10x lebih besar dari ukuran korek api tradisional biasanya, namun bedanya kita akan merasakan sensasi skankin yang membakar 10x lebih heboh daripada menyalakan korek api.

13. Pertemuan MD se-Surabaya Dengan Musisi Lokal

Jpeg

Forum diskusi antara MD radio Surabaya dengan pelaku musik di Kedai Kreasi.

Stagnasi skena lokal seringkali menjadi perbincangan yang membosankan di Surabaya. Namun, semuanya terasa berbeda saat para Music Director (MD) radio se-Surabaya membuat forum diskusi bersama musisi dan pengamat musik lainnya. Topik utamanya adalah mencari benang putus yang selama ini tidak mempertemukan musisi dengan radio. Selama ini radio dituding tidak banyak berkontribusi pada pergerakan independen, namun sebaliknya musisi justru tidak banyak paham tentang cara yang baik dan benar untuk mencapai ke sana. Tidak hanya sekali, ternyata animo dari tiap-tiap pembicara menghasilkan dua kali pertemuan dalam setahun. Dan, tinggal tunggu saja hasilnya.

14. Blingsatan Rajanya Video Klip

2 klip baru blingsatan

Cuplikan video klip Blingsatan, Berbeda Merdeka. (Sumber: Youtube)

Album ketiga Blingsatan memang masuk dalam daftar rilisan tahun 2014. Tapi, promo mereka hingga di penghujung 2015 belum usai. Yang paling menarik adalah produktivitas mereka dalam merilis video klip. Total sepanjang tahun Blingsatan telah merilis empat klip, antara lain Mari Kita Bersama, Berbeda Merdeka, Generasi Tak Terganti, dan Bersinar. Belum lagi video Live Session mereka yang membawakan lagu Nanti Esok Selamanya. Tiga klip, satu footage, dan satu live session setidaknya cukup menyematkan Blingsatan sebagai raja video klip tahun 2015 kemarin.

15. Das Aufklärung, Sinyal Kebangkitan Hip-Hop?

Das Aufklarung

Das Aufklärung. (Sumber: Facebook)

Kultur hip-hop yang pernah booming di era milenium kini memang sudah surut. Musik sejenis mereka mulai sulit ditemui, namun di tahun 2015 ada secercah sinar hip-hop yang beranjak muncul lagi. Tak peduli seleksi alam, ternyata hip-hop masih punya taring dan tetap berdiri. Das Aufklärung-lah salah satu pelakunya, memasuki penghujung tahun mereka melepas sebuah album bertajuk Licht In De Duisternis. Apakah karya mereka nantinya bisa menjadi sinyal kebangkitan hip-hop di Surabaya?

Advertisement
3 Comments

3 Comments

  1. indah prameswara

    4 January 2016 at 17:17

    That’s cool! Maju teruuuuus ronascent

  2. Bima Widinafi

    7 January 2016 at 18:25

    Banyak momen-momen keren yg justru nyaris dilupakan setelah setahun. kalian hebat!

  3. Dino Midadik Prasetya

    15 January 2016 at 16:38

    dragonforce-nya krg greget, udan sisan. untung indoor. tapi suwip tok wissss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan Hari Musik Nasional Bersama Music Gallery

Published

on

FUR ikut merayakan hari musik nasional di Music Gallery akhir pekan lalu (9/3) di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. (Foto: Arina Habaidillah)

Sabtu kemarin (9/3), acara kesembilan Music Gallery kembali digelar oleh BSO Band FEB UI. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Music Gallery kali ini bertempat di Tennis Indoor Senayan. Dari segi venue, 9th Music Gallery lebih oke, khususnya segi keamanan dan kenyamanan dibanding edisi sebelumnya yang berada di Kuningan City. Untuk segi line-up, 9th Music Gallery sepertinya kurang menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski mengusung kuartet asal Brighton, FUR,  nyatanya daya tarik 9th Music Gallery belum cukup besar untuk membuat Tennis Indoor penuh sesak. Namun kombinasi band lokal seperti The Upstairs, Elephant Kind, The Changcuters, Rumahsakit, Daramuda, dsb cukup mampu memberikan keseruan tersendiri.

Dimulai sejak pukul 14.00 WIB, keseruan sudah nampak terlihat. Di Ashbury Stage, Oscar Lolang menampilkan set yang manis seperti biasanya. Sementara di Haight Stage, Pamungkas dengan karismanya mampu membuat crowdnya ber-sing a long dengan cukup lantang. Menjelang sore, Ashbury Stage lumayan dibuat penuh oleh Rumahsakit yang membawakan hits-hits andalan mereka. Sebelum maghrib, pentolan Anomalyst, Christianto Ario Wibowo, bersama proyek alter ego nya, Kurosuke juga mampu membuat penonton di Haight Stage bersenandung. Ada yang unik di set Kurosuke, menggandeng vokalis Reality Club, Kurosuke dan Fathia Izzati menghadirkan harmonisasi manis lewat lagu ‘Velvet’ yang merupakan single terbaru Kurosuke.

Setelah maghrib, giliran tiga dara idola kaum adam dan kaum indie yang menyumbangkan suara mereka di Ashbury Stage. Obrolan ringan dan lagu syahdu dari Daramuda membuat penonton Music Gallery dengan enak menikmati senja; tingggal ditambah kopinya saja, semua penonton fix jadi anak skena indie folk. Setelah Daramuda turun panggung, atmosfer berubah 180 derajat menjadi kegilaan yang meroket. Kelompok Penerbang Roket memanaskan malam itu dengan deretan lagu andalannya. Sesekali crow surf dan mosh pit nampak dilakukan para Pencarter Roket. Bergeser ke Haight Stage, The Trees and The Wild disusul oleh Elephant Kind juga tak kalah seru membuat penonton berkaraoke malam itu.

Semakin malam nampaknya semakin gila. Dua band enerjik yang ini mampu menyuguhkan set yang menyenangkan. Di luar, The Changcuters dengan lagu-lagu lawasnya mampu mengembalikan memori masa SMP penonton. Momen unik juga sempat terjadi pada saat The Changcuters mendominasi panggung. Sebelum menyanyikan ‘Pria Idaman Wanita’, Tria (vokalis) sempat ngobrol dengan FUR yang ternyata menyaksikan The Changcuters dari backstage. Spontan Tria langsung berkata kepada FUR, “We’re the greatest band in Indonesia”. Para personel FUR pun merespon dengan tertawa dan tepuk tangan sebelum beranjak ke dalam untuk bersiap. Kemudian The Changcuters kembali melanjutkan kegilaan bersama Changcut Rangers malam itu. Sementara di dalam Haight Stage, dedengkot New Wave ibukota, The Upstairs menyuguhkan lantai dansa yang bertenaga. Sesekali Jimmy berceletuk bahwa mereka bangga karena bisa membuka band legend Psychedelic Furs.

Setelah The Upstairs, akhirnya 9th Music Gallery ditutup oleh FUR. Menghadirkan nuansa 60’s lewat lagu-lagunya, FUR yang pertama kalinya tampil di Indonesia ini mampu menyuguhkan atmosfer yang fun. FUR memang belum menelurkan full album, namun stok single-single dan lagu dari EP Self Titled mereka cukup membuat penonton koor massal. Disela-sela set FUR juga beberapa kali menyelipkan lagu baru, yang kemungkinan akan masuk di album pertama mereka nantinya. Ditutup dengan lagu ‘Angel Eyes’, Haight Stage dibuat histeris ketika William Murray (vokal) turun dari panggung untuk bernyanyi bersama dan menyapa penonton.

Well, sekalipun The 9th Music Gallery terasa kurang menggigit secara kuantitas dan atmosfernya. Namun cukup oke untuk menghabiskan akhir pekan dengan ciamik sekaligus merayakan Hari Musik Nasional yang juga jatuh pada 9 Maret. Selamat Hari Musik Nasional dan sampai jumpa di Music Gallery tahun depan. Cheers!

Teks: Agita Bela Hakiki | Foto: Arina Habaidillah

Continue Reading

REVIEW

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan: Mengajak Berkontemplasi Tentang Problematika Manusia

Published

on

  • Barasuara - Pikiran dan Perjalanan (Darlin' Records)
4

Foto: Dok. Barasuara

Hampir empat tahun berselang setelah Taifun, akhirnya Barasuara secara resmi merilis album kedua mereka bertajuk ‘Pikiran dan Perjalanan’. Tak bisa dipungkiri, jadwal manggung yang padat serta kesibukan masing-masing personil membuat proses pengerjaan album ini memakan waktu yang cukup panjang. Tapi penantian panjang Penunggang Badai, sebutan fans Barasuara, nampaknya terbayar lunas di album ini.

Di album kedua ini, sepertinya Barasuara mencoba membuat identitas yang sangat kentara. Sama seperti Taifun, ‘Pikiran dan Perjalanan’ juga berisi sembilan lagu yang karakteristiknya “sangat Barasuara”. Di sisi musikalitas, album yang diproduseri oleh Iga Massardi, Gerald Situmorang, dan Marco Steffiano ini menyajikan beberapa warna baru seperti efek vokal, perkusi, serta paduan terompet dan saxophone yang manis. Kejeniusan Iga, Gerald, dan Marco dalam meramu materi dapat kita nikmati di album kedua ini. Terlebih lagi harmonisasi vokal antara Iga, Asteriska, dan Puti mampu disusun dengan pas dan nendang.

Bergeser ke ranah lirik. Peran Iga Massardi sebagai front-man mampu ia manifestasikan dalam lirik-lirik yang bercerita tentang berbagai macam problematika manusia. Sebagai pembuka, ‘Seribu Racun’ bercerita tentang seseorang yang mencoba melawan dan menjawab semua ketakutan dan pertanyaan dalam pikirannya. Lagu kedua yang juga diambil sebagai judul album mereka ‘Pikiran dan Perjalanan’ menceritakan tentang proses perubahan dan pengambilan keputusan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Lanjut ke lagu ketiga ,‘Guna Manusia, yang merupakan single andalan di album ini menceritakan fenomena penurunan tanah yang terjadi di Jakarta yang disebabkan oleh manusia. Sebuah sentilan yang elegan.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Sedikit melompat menuju lagu keenam berjudul ‘Masa Mesias Mesias’ yang bisa dibilang menjadi lagu paling outstanding di album ini. Dari segi musik, lagu ini tergolong unik dan fresh. Warna baru Barasuara terlihat jelas di lagu ini. Sementara dari segi lirik, lagu ini mungkin bisa digolongkan sebagai “lagu religi” layaknya ‘Hagia’ di album pertama Barasuara. Namun, jika dicermati kembali liriknya, lagu ini menceritakan tentang fenomena yang akhir-akhir terjadi yaitu aksi yang digadang-gadang membela agama yang justru malah memecah belah.

 

Bergeser menuju lagu kedelapan yang pertama kali dibawakan Barasuara pada tahun 2016 (Taifun Tour) yaitu ‘Samsara’. Lagu yang dirilis sebagai single terbaru Barasuara saat itu mampu menyedot banyak perhatian para Penunggang Badai. Lagu ini sendiri mengandung lirik yang unik. Dibuka dengan tiga kata “Samara, Ani, Jiyana”. Tiga kata ini bisa dibilang jadi peran utama atau representasi manusia di lagu ini. Diambil dari Bahasa Hindi, Samara berarti pertarungan/perjuangan, Ani berarti batasan, dan Jiyana yang berarti kekuatan. Di bagian akhir lagu terdapat repetisi lirik “Kita bisa tenggelam dan bisa padam. Atau bangkit berjalan lalu melawan” yang menegaskan bahwa lagu ini bercerita tentang kehidupan manusia yang berjuang dan bangkit dari setiap masalah yang dia hadapi.

‘Pikiran dan Perjalanan’ adalah sebuah memoir singkat dari Barasuara tentang problematika manusia yang dikemas secara apik dan menyentuh. Album ini sudah bisa kalian nikmati di layanan musik digital dan juga rilisan fisik. Selain itu, Barasuara bersama Darlin’ Records juga menggelar Release Party pada tanggal 13 Maret 2019.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan Tracklist:

  1. Seribu Racun
  2. Pikiran dan Perjalanan
  3. Guna Manusia
  4. Pancarona
  5. Tentukan Arah
  6. Masa Mesias Mesias
  7. Haluan
  8. Samara
  9. Tirai Cahaya
Continue Reading

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

Surabaya