Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Kaleidoskop: Surabaya Dalam 15 Momen

Published

on

Tidak pernah ada kata terlambat. Meskipun sudah beranjak 48 jam dari tahun 2015, tim redaksi Ronascent coba menyajikan kaleidoskop singkat tentang hiruk-pikuk musik di Surabaya. Terlepas dari istilah kategori terbaik, di artikel ini kami hanya merangkum 15 momentum yang terjadi sepanjang tahun kambing kemarin. Tidak ada tendensi untuk berpihak atau berpromosi ria. Ini hanya pilihan redaksional yang dirasa layak mewakili rekam jejak, dan tentunya perlu disaksikan seberapa besar pengaruhnya dalam perkembangan scene lokal. Satu lagi, kenapa harus 15? simpel, karena yang baru kita lewati adalah tahun 2015.

01. Fenomena Silampukau

Silampukau NET TVTahun 2015 tidak lengkap rasanya jika tidak berbicara tentang moncernya kiprah Silampukau. Baik di scene lokal maupun nasional, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening berhasil jadi buah bibir di mana-mana. Berbagai macam media, mulai televisi, radio, online, cetak, sampai media Twitter abal-abal sekalipun berebut topik tentang mereka.

Semuanya berawal dari reuni mereka di 2014. Berbekal lagu Doa 1 yang dibawakan pertama saat comeback perdana di Coffee Toffee, ternyata jadi bukti bahwa Silampukau bermusik lagi bukan karena kelar masa jenuh, tapi tanggung jawab mereka atas karya-karya yang terlantar sejak 2009. Album Dosa, Kota, dan Kenangan adalah jawaban dari semuanya. Konklusi dari hasil selama setahun mereka bergelut di Mosok’iki Studio.

Terhitung sejak merilisnya pada 19 April kemarin, Silampukau seakan melejit sebagai band lokal bercita-rasa nasional. Bahkan, kini album tersebut sudah mendapat posisi ‘best of the best’ di berbagai kaleidoskop media nasional yang dikaitkan dengan: kebangkitan scene musik Surabaya. Ya, semoga saja.

02. Edisi Terakhir Sunday Market

sunday-market-13

Penampilan OM PMR di Sunday Market Vol.10. (Foto: Dedi Widianto)

Setelah menjadi perbincangan hangat selama empat tahun, salah satu penggagas konseptual market di Surabaya, Sunday Market mengakhiri edisi terakhirnya di angka ke-10. Tema ‘The Big Kampong’ menjadi konsep terakhir bulan Agustus lalu. Bukan tanpa alasan, pilihan Soledad & The Sisters Company (SATSCO) untuk menutup buku cerita Sunday Market karena alasan ambience yang belakangan sudah kurang kondusif.

Belakangan banyak konsep serupa yang muncul, lantas sebagai salah satu pioneer mereka memilih untuk memulai inovasi baru agar tidak terlihat usang dan serupa. Alhasil, Sunday Market yang selalu ditunggu-tunggu kini hanya bisa dirasakan melalui video-video after-movie-nya saja di Youtube. “Ketika sebuah project telah mencapai titik di mana harus diakhiri, maka Sunday Market kini berada di titik itu. Sudah saatnya kami memulai inovasi baru,” ujar Anitha Silvia, media relations SATSCO di salah satu diskusi di Design It Yourself (DIY) bulan Oktober kemarin.

03. Brotherground, Tonggak Baru Festival Underground Surabaya

Brotherground Fest

Penampilan Fraud bersama Hizkia (Crucial Conflict) dan Bagas (WolfxFeet) di Brotherground 26 Desember kemarin. (Foto: Capital Sub Scene)

Memasuki area underground, wilayah ini adalah area paling militan selama lima tahun kebelakang. Produktif karya dan regenerasi cukup rutin sehingga membangun sirkulasi yang baik. Salah satu band HC terpanas di Surabaya, Fraud pun menancapkan tonggak baru dengan menggelar Festival yang bertajuk Brotherground. “Surabaya sudah waktunya berbuat banyak untuk mendapat perhatian dari kota-kota lain. Brotherground adalah cara kami untuk merealisasikannya,” ucap gitaris Fraud, Kecenk.

Memanfaatkan momen perayaan lima tahun usia Fraud, Brotherground pertama sukses digelar pada 28 Februari 2015 dengan seluruh line-up yang berasal dari band-band lokal. Sepuluh bulan berselang, tepatnya 26 Desember 2015 Brotherground kedua kembali digelar. Kali ini dengan momen perilisan album kedua Fraud, Movement Before Mouthment. Berbeda dengan yang pertama, line up lokal di acara tersebut coba dipadukan dengan band-band luar kota. Hasilnya ternyata jauh lebih sukses dari sebelumnya.

04. Ekspansi Label Lokal

CSD 11Menilik lima tahun ke belakang, mungkin tahun 2015 bisa menjadi momen terbaik bagi label lokal. Hingga sekarang, mereka berhasil menjadi wadah bagi band lokal yang selama ini albumnya tersendat tak kunjung rilis. Konsistensi mereka juga menjadi tolok ukur produktivitas musisi-musisi lokal.

Tercatat sepanjang tahun 2015 kemarin tim kami mendapati empat label yang patut diperbincangkan. Keempatnya adalah George Rekords, Radioactive-Force Records, Subnoise Records, dan Beautiful Terror Records. Band-band baru seperti Hawk, Beyond Infinity, Hecht, atau Methiums berhasil jadi buruan penikmat musik berkat andil mereka. Bahkan, kolektif HC Punk kenamaan Amerika Antichrist Demoncore merilis ulang albumnya via George Rekords.

05. Band Lokal Senasional

Baragula at Thursday Noise

Baragula saat tampil di Thursday Noise Vol.6 April lalu. (Sumber: Mod-o)

Selain Silampukau, sebenarnya Surabaya juga menghasilkan beberapa band yang perlu diwaspadai pergerakannya. Dan mungkin saja di tahun 2016 ini radar media-media nasional mulai mendeteksinya satu per-satu. Siapa tidak kenal Fraud? band yang sensasional dan konsisten dengan berbagai movement-nya ini sudah mencicipi berbagai stage nasional, mulai dari Hammersonic hingga Bandung Berisik. Tahun 2015 kemarin giliran mereka memainkan beatdown-nya di panggung Hellshow 2015.

Selain itu, Timeless yang belakangan mulai memukau di pentas lokal beranjak terbang menuju ‘Rock In Celebes 2015’ di Makassar. Belum lagi Baragula yang mendapat tawaran banyak label Ibukota saat mendapat kesempatan tampil di ‘Thursday Noise Vol.6’ bulan April lalu. Kemudian ada The Ska Banton yang mencapai deal dengan label Bali St.Lukas untuk merilis debut albumnya The Master Of Situation, hingga Hi Mom! dan Amonra yang tampil di ‘Soundrenaline 2015’ Bali.

06. Cassette Store Day Pertama di Surabaya

CSD 02

Cassette Store Day 2015 yang digelar di Surabaya Oktober kemarin. (Foto: Rido Ramadhan)

Untuk pertama kalinya peryaan Cassette Store Day (CSD) ikut dirayakan pegiat-pegiat rilisan fisik di Surabaya. Berbeda dengan Record Store Day (RSD) yang sebelumnya kurang menggema, kali ini dengan konsep sedikit berbeda, CSD 2015 kemarin berhasil membawa pengunjung pada sensasi music trade yang sebenarnya.

Perilisan dua album band lokal turut mewarnai momen CSD 2015 kemarin yang diselenggarakan 18 Oktober 2015 di Aiola Eatery, Surabaya. Dua band tersebut adalah Hawk yang merilis EP Sarwari melalui label Beautiful Terror Records dan Beyond Infinity via Radioactive-Force Records. Selain itu, album Dosa, Kota, & Kenangan milik duo folk Silampukau juga dirilis versi kasetnya oleh Majemuk Records pada tanggal itu.

07. Munculnya Arekisme Sebagai Bentuk Peduli Musisi Terhadap Lingkungan Sosial & Kemanusiaan

Arekisme Foundation

Logo Arekisme Foundation

Movement yang dilakukan musisi tidaklah harus berupa album, single, ataupun event. Saat kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kemanusiaan dari musisi-musisi lokal mulai meningkat, sebuah social foundation bernama Arekisme pun akhirnya terbentuk. Ini merupakan sisi lain mereka yang selama ini selalu identik dengan sisi negatif sebagai anak band.

Arekisme yang baru terbentuk awal Desember berhasil merangkul musisi-musisi lawas di Surabaya. Musisi yang jadi inisiatornya pun tidak sedikit, terdapat perwakilan dari band-band seperti Blingsatan, Devadata, Heavy Monster, Little Skank, Fraud, Tulipe De Gezner, Valerian, The Flins Tone, Crucial Conflict, dan masih banyak lagi. Kini, tiga project sosial sudah mereka siapkan untuk tahun 2016 ini.

08. Dominasi Underground

Brotherground 03Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, era underground masih cukup dominan ketimbang lainnya. Sejak awal tahun 2015 sampai menjelang akhir tahun, band dari skena bawah tanah bergantian meluncurkan albumnya. Sebagai pembuka, band lawas Hate Of Pain merilis albumnya, 12 Years Stronger, Struggle, and Victory. Hanya berselang beberapa pekan saja giliran GAS melepas album Generasi Penghancur yang disambung pendantang baru Flowdown dengan rilisannya Sistem Menjerat dan Strength Of Change dengan album Young Bullet.

Memasuki paruh kedua 2015, dominasi underground masih belum runtuh. Unit death metal Descane dan brutal death metal Embryo Genesis bergantian merilis album. Beyond Infinity, Hawk, Humanure, dan Fraud menyusul setelahnya. Jika dihitung-hitung, tahun 2015 kemarin ada sekitar 18 band yang merilis album, dan 10 di antaranya berasal dari skena underground.

09. Konser Dragonforce di Surabaya

dragonforceKedatangan Dragonforce di Surabaya 14 Februari lalu menjadi angin segar bagi pergerakan konser di Kota Pahlawan. Nama lawas Log Zhelebour menjadi inisiator-nya dengan mendatangkan Herman Li cs untuk bermain di GOR Pancasila dengan band pembukannya Jamrud yang juga berasal dari Kota Surabaya.

Dengan titel ‘Maximum Overload Tour 2015’ Dragonforce berhasil menyita perhatian para metalhead Surabaya dari berbagai usia. Meski venue dinilai kurang representatif, namun setidaknya Dragonforce telah memberi hiburan yang tak terlupakan di awal 2015. Ya, karena memang Surabaya sedikit jarang kedatangan artis tenar dunia macam mereka.

10. Live Session: Perekam Audio Visual Musisi Lokal

live session

Sesi pertama Live Session yang diisi oleh Timeless. (Foto: Jozz Studio)

Mendengar kualitas audio yang yahud sudah jadi makanan biasa. Namun bagaimana jika kualitas perform sebuah band nyaris persis dengan audio-nya? Mungkin itu baru yang namanya esensi dalam bermusik. Melalui kolaborasi antara Ronascent dan Jozz Studio, program Live Session yang bertujuan merekam kualitas audio visual band lokal Surabaya mulai berjalan per Januari 2015.

Dengan konsep sebulan sekali, otomatis sepanjang tahun Live Session sudah menjangkau 12 band dengan berbagai genre. Timeless dengan lagunya Reminisce jadi pembuka yang sekaligus membuktikan kualitas bermusik mereka yang benar-benar yahud. Setelah itu beruntun Give Me Mona, The Wise, Muveno, My Mother Is Hero, Rasvan Aoki, Ampun Women, Bvas, Blingsatan, Hi Mom!, Hawk, dan Devadata sebagai penutupnya.

11. Reuni Klepto Opera

Klepto Opera

Formasi baru Klepto Opera. (Foto: Dok. Klepto Opera)

Pasca berkabung usai sang vokalis Benny Benhur meninggal dunia, tiga orang yang tersisa dari personil lama Klepto Opera, yakni YY, Tommy, dan Ejipt memutuskan berkumpul kembali unutk merekam materi-materi yang selama ini belum sempat terekam. Salah satu single juga sudah mereka luncurkan, Ode Untuk Yang Tersisa; sebuah lagu pengenang Benny Benhur. Selain lagu tersebut, Klepto Opera yang terbentuk sejak tahun 1996 telah menyelesaikan beberapa lagu lainnya. Bahkan, mereka juga merencanakan untuk merilis album baru yang dibantu oleh Damis, gitaris dari Rahnk sebagai pengisi vokal.

12. JPK: Kemasan Album Terunik

Kemasan Album Heavy Monster - JPK

Kemasan album Heavy Monster, JPK. (Sumber: Twitter)

Bagi musisi, album ibarat seorang anak yang harus diperlakukan sebaik mungkin. Begitu pula dengan Heavy Monster. Di usia yang memasuki 17 tahun, mereka tidak ingin membuang percuma momentum perilisan album ketiganya, JPK. Sebuah konsep kemasan korek api sekali pakai menjadikan album JPK sebagai packaging terunik yang hadir di tahun 2015. Ukurannya mungkin 10x lebih besar dari ukuran korek api tradisional biasanya, namun bedanya kita akan merasakan sensasi skankin yang membakar 10x lebih heboh daripada menyalakan korek api.

13. Pertemuan MD se-Surabaya Dengan Musisi Lokal

Jpeg

Forum diskusi antara MD radio Surabaya dengan pelaku musik di Kedai Kreasi.

Stagnasi skena lokal seringkali menjadi perbincangan yang membosankan di Surabaya. Namun, semuanya terasa berbeda saat para Music Director (MD) radio se-Surabaya membuat forum diskusi bersama musisi dan pengamat musik lainnya. Topik utamanya adalah mencari benang putus yang selama ini tidak mempertemukan musisi dengan radio. Selama ini radio dituding tidak banyak berkontribusi pada pergerakan independen, namun sebaliknya musisi justru tidak banyak paham tentang cara yang baik dan benar untuk mencapai ke sana. Tidak hanya sekali, ternyata animo dari tiap-tiap pembicara menghasilkan dua kali pertemuan dalam setahun. Dan, tinggal tunggu saja hasilnya.

14. Blingsatan Rajanya Video Klip

2 klip baru blingsatan

Cuplikan video klip Blingsatan, Berbeda Merdeka. (Sumber: Youtube)

Album ketiga Blingsatan memang masuk dalam daftar rilisan tahun 2014. Tapi, promo mereka hingga di penghujung 2015 belum usai. Yang paling menarik adalah produktivitas mereka dalam merilis video klip. Total sepanjang tahun Blingsatan telah merilis empat klip, antara lain Mari Kita Bersama, Berbeda Merdeka, Generasi Tak Terganti, dan Bersinar. Belum lagi video Live Session mereka yang membawakan lagu Nanti Esok Selamanya. Tiga klip, satu footage, dan satu live session setidaknya cukup menyematkan Blingsatan sebagai raja video klip tahun 2015 kemarin.

15. Das Aufklärung, Sinyal Kebangkitan Hip-Hop?

Das Aufklarung

Das Aufklärung. (Sumber: Facebook)

Kultur hip-hop yang pernah booming di era milenium kini memang sudah surut. Musik sejenis mereka mulai sulit ditemui, namun di tahun 2015 ada secercah sinar hip-hop yang beranjak muncul lagi. Tak peduli seleksi alam, ternyata hip-hop masih punya taring dan tetap berdiri. Das Aufklärung-lah salah satu pelakunya, memasuki penghujung tahun mereka melepas sebuah album bertajuk Licht In De Duisternis. Apakah karya mereka nantinya bisa menjadi sinyal kebangkitan hip-hop di Surabaya?

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
3 Comments

3 Comments

  1. indah prameswara

    4 January 2016 at 17:17

    That’s cool! Maju teruuuuus ronascent

  2. Bima Widinafi

    7 January 2016 at 18:25

    Banyak momen-momen keren yg justru nyaris dilupakan setelah setahun. kalian hebat!

  3. Dino Midadik Prasetya

    15 January 2016 at 16:38

    dragonforce-nya krg greget, udan sisan. untung indoor. tapi suwip tok wissss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading

BACKSTAGE

Mengejar Deadline Keselamatan & Kesehatan Kerja Pekerja Kreatif

Published

on

Ilustrasi: Syamsur Rijal

Wenak yo jeh, kerjomu mung laptopan tok (enak banget sih kamu, kerjamu cuma main laptop aja).”

Freelance-an gini, pasti tiap hari bisa bangun siang ya.”

“Band-band-an kan seneng-seneng doang, gak ada libur juga gak papa to.”

Pernah dengar kalimat-kalimat nggemesin seperti di atas? Bagi kawan-kawan pekerja industri kreatif, digital, dan media, bait-bait tersebut bisa jadi terasa bagai lagu lama. Banyak orang menganggap pekerjaan kita sebagai pekerjaan impian, karena syukur alhamdulillah banyak dari kita yang mungkin termasuk bajingan beruntung yang berkesempatan memiliki penghidupan dari kegiatan yang disenangi (bahkan merupakan hobi). Proses terjal menuju titik itu adalah cerita lain, yang orang pertama lihat tentu saja tampak luarnya dulu.

Ilusi independensi dan kebebasan yang terpancar dari praktek kerja para pekerja kreatif memang menggiurkan, terlebih jika sang penerima informasi menelan mentah-mentah bumbu gurih yang ditaburkan oleh mas-mbak motivator, bahwasanya “kerja dengan passion akan membuat kita serasa tidak bekerja”. Sebenarnya ungkapan ini keren dan benar, karena dorongan semangat dari rasa suka itu memang tiada duanya, tapi lantas bagaimana kalau passion justru disalahgunakan guna memangkas hak pekerja? Jangan sampai hal tersebut diterus-teruskan keberadaannya.

Sekilas Pekerja Ekonomi Kreatif Indonesia

Sebelum membahas lebih jauh soal hak pekerja kreatif, mari kita samakan pandangan dulu soal siapa saja yang terhitung sebagai pekerja ekonomi kreatif di sini. Diintisarikan dari bekraf.go.id, ekonomi kreatif adalah sektor yang tidak secara langsung bergantung pada mekanisme eksploitasi sumber daya alam, tapi lebih bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia yaitu ide-ide kreatif. Ada banyak subsektor di dalamnya, yaitu, Aplikasi & Pengembang Permainan; Arsitektur; Desain Interior; Desain Komunikasi Visual; Desain Produk; Fashion; Film, Animasi, & Video; Fotografi; Kriya; Kuliner; Musik; Penerbitan; Periklanan; Seni Pertunjukan; Seni Rupa; serta Televisi & Radio. Secara jumlah, pada tahun 2015 dari total 114.819.199 penduduk Indonesia yang bekerja 15.959.590 di antaranya bekerja di sektor ekraf (ekonomi kreatif). Jumlah tersebut meningkat hampir 800.000 orang dari tahun sebelumnya (Data Statistik & Hasil Survei Ekonomi Kreatif, kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik).

Dari sini bisa terlihat betapa minat masyarakat untuk berkiprah di sektor ini sebenarnya besar. Pun dari pemerintahan sendiri juga memberikan perhatian khusus pada potensi ekraf yang makin tak bisa dikesampingkan (hasil survei tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai ekspor dari sektor ini mencapai 19,4 miliar USD dan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya mencapai 852,24 triliun rupiah). Ekonomi kreatif digadang-gadang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Namun setelah ditengok lagi, sepertinya masih banyak PR yang perlu diusahakan bersama. Mulai dari soal perlindungan hukumnya, kesadaran masyarakat akan mekanisme dan hak pekerja kreatif, kesadaran para pekerjanya sendiri untuk melindungi hak kekayaan intelektual yang mereka miliki, dan yang sangat fundamental tapi kerap terlupa: mengadvokasi kesadaran para pekerja ekraf akan hak kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang tentunya berhak mereka dapatkan, layaknya kawan-kawan dari sektor lainnya.

Distorsi “Tak Berwujud”

Selain terlihat ‘senang-senang terus’, salah satu kesalahkaprahan yang kerap dirasakan pekerja kreatif terutama dari ranah digital adalah bahwa pekerjaan mereka dianggap harmless—karena sehari-harinya ‘hanya’ berhadapan dengan komputer. Di mata sebagian besar masyarakat kita, ‘risiko kerja’ masih cenderung seputar kecelakaan akibat mesin besar atau konstruksi; sesuatu yang bersifat tiba-tiba dan akibatnya berupa kerusakan ragawi, bahkan bisa merenggut nyawa. Resiko-resiko laten yang terjadi seiring berjalannya waktu seperti penurunan fungsi mata (desainer grafis, game developer, dll.), gangguan pendengaran (sound engineer), hingga gangguan mental akibat trauma (jurnalis) seperti dianggap tidak cukup penting untuk ditindaklanjuti.

Apalagi jika keluhannya ‘hanya’ terkait jam kerja yang berlebihan. Di atas kertas, sebagian besar kantor mencantumkan di kontrak kerja bahwa jam kerja karyawan adalah sebanyak 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Nyatanya banyak dari pekerja sekarang yang merasa bahwa kerja 10 jam atau lebih dalam sehari itu wajar. Kalau ada yang protes sedikit, salah-salah dicap manja.

Jika dilihat dari hasil survey yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2017, ada 26,32% pekerja Indonesia yang mengaku bekerja lebih dari 48 jam seminggu, dan dari jumlah itu 31,98%-nya adalah pekerja dari sektor ekonomi kreatif. Untuk situasi-situasi tertentu, jam kerja tambahan mungkin memang dibutuhkan guna tercapainya suatu target. Tapi bagaimana jika keadaan tersebut terjadi setiap hari nyaris tanpa putus dari tahun ke tahun? Beberapa kantor bahkan menyarankan karyawannya untuk tidak mengambil cuti, agar ‘potensi’ maksimal perusahaan bisa tercapai. Apakah kita sedang menyaksikan era perbudakan glamor, ketika satu orang bisa memegang beban kerja 4 orang, dan yang durasi kerjanya paling lama bangga dielu-elukan sebagai pekerja keras?

Padahal, sudah banyak contoh kasus bekerja melebihi batas yang akhirnya berujung fatal. Masih ingat kejadian meninggalnya seorang copywriter di Jakarta akibat bekerja 30 jam tanpa tidur? Karena belum ada aturan hukum yang jelas terkait pelanggaran unsur K3 yang efeknya bukan berupa celaka fisik yang kasat mata (Almarhumah langsung mendadak koma), pada akhirnya perusahaan tempat Almarhumah bekerja hanya sebatas dipanggil oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Memang sudah ada beberapa undang-undang yang bisa dijadikan acuan seperti UU no 1 tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja dan UU no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, tapi kedua UU tersebut tidak mengandung sanksi khusus bagi pelanggaran hak yang tidak meninggalkan bukti ‘kerusakan’ fisik.

Menyadari masih ada situasi seperti ini, sebagai salah satu pekerja yang berkiprah di bidang kreatif Ellena Ekarahendy (Art Director & Desainer Grafis) dan sejumlah kawan pun menginisiasi SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi). Tujuan dasarnya, untuk menjadi wadah bagi para pekerja media dan industri kreatif untuk berjejaring lintas profesi, berbagi pengetahuan dan kemampuan lintas disiplin, serta menjalin solidaritas agar bisa berkarya dalam ekosistem yang inklusif dan manusiawi. SINDIKASI sendiri mulai dibangun sejak akhir 2016, dan dalam momentum bulan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) pertengahan Januari-Februari lalu SINDIKASI menggelar Work Life Balance Festival—sebuah langkah advokasi dan edukasi berbalut selebrasi yang mereka adakan di 4 titik : Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta.

Kenapa isu K3 lah yang menjadi menu utama di event besar pertama SINDIKASI ini? Karena persoalan K3 ini masih belum familiar di telinga masyarakat, bahkan di kalangan pekerjanya sendiri—padahal ini adalah hak yang sangat mendasar. Jaminan hukum terkait K3 juga belum memadai. Maka dari itu, SINDIKASI sengaja menghadirkan Work Life Balance Festival ini sebagai ruang temu dan ruang dialog bagi para pekerja dan pemangku kepentingan dari sektor ekonomi kreatif dan sektor lainnya, sehingga elemen-elemen masyarakat ini dapat saling membicarakan kondisi ketenagakerjaan terkini dan bersama-sama mencari kemungkinan-kemungkinan solusinya.

Melawan Sekat, Menyadari Ambang Batas

Selain persoalan jam kerja, tim Riset dan Edukasi serta tim Advokasi SINDIKASI juga telah mengidentifikasi sejumlah tantangan lain yang kerap ditemui pekerja ekraf antara lain upah di bawah garis minimum, kontrak yang tidak jelas, dsb. Isu K3 ini bisa dibilang paling fundamental karena tanpa mental yang sehat kesehatan fisikpun ikut terancam, jika sudah demikian lantas bagaimana seseorang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan optimal? Masalahnya, membicarakan soal kesehatan mental masih menjadi hal yang relatif tabu di Indonesia. Bahkan BPJS Ketenagakerjaan pun belum memiliki mekanisme klaim perawatan penyakit mental, padahal kesehatan mental kini telah termasuk risiko utama dari kultur kerja saat ini. Dalam BPJS Kesehatan pun,seseorang baru bisa melakukan klaim penyakit mental jika telah ada dampak fisik pada penderitanya. Dan karena sulitnya akses yang tepat dan memadai, coping mechanism yang dianggap paling mudah diakses pun menjadi jalan keluar, yang tak jarang justru memperburuk kondisi individu itu sendiri, misalnya: pada alhokol atau penyalahgunaan obat-obatan. Kalau sudah begini, rasanya nirfaedah kalau solusinya hanya berkutat sebatas tunjuk-menunjuk siapa yang salah.

Tekanan kerja melewati ambang batas terjadi pula di banyak negara lain, dan dari sini sebenarnya kita bisa mulai membangun solusinya. Jepang, negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi (salah satu penyebabnya adalah tekanan kerja berlebih), memiliki sanksi tegas sebagai konsekuensi dari pelanggaran standar operasional kerja. Pada Oktober 2017, Pengadilan Tokyo menghukum perusahaan periklanan dan public relation Dentsu dengan denda sebesar 500 ribu yen karena seorang pekerjanya memutuskan mengakhiri hidup akibat beban kerja yang berlebih.

Pemerintah harus bisa setegas ini dalam menindak pelanggaran yang ada. Begitupun dengan manajemen perusahaan juga harus lebih bisa berpihak pada pekerjanya sendiri/klien yang menyediakan jasa untuk mereka, antara lain dengan cara mempertegas kewajiban dan hak kerja. Terlebih soal kontrak kerja, yang mana banyak perusahaan berbasis digital seringkali memberi kontrak kerja yang lebih menguntungkan perusahaan—pekerja bahkan bisa diputus kontrak sewaktu-waktu. Di era digital disruption di mana sistem kerja dan persaingan bisa datang dari mana saja dan terjadi pergeseran perilaku ekonomi, kita harus sigap menyesuaikan diri dalam pergeseran yang ada. Dan penyesuaian yang kita lakukan harus sesegera yang kita bisa—agar kesehatan dan keselamatan para pekerja tidak berlarut-larut menjadi ongkosnya.

Perekam momen, penganyam benang, tukang gambar, sekaligus pengamat tulisan di bodi truk. Menghabiskan 9-5 dengan mengasuh dunia maya, sesuai dengan namanya sendiri.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Tyaga: Kegigihan Rasvan dan Kesabaran Aoki

Published

on

Rasvan Aoki. (Foto: Randy Julyantara)

Sore itu di Qubicle Suropati 84 mulai terlihat kerumunan para pegiat skena. Tidak banyak memang, tapi untuk ukuran wadah open space minimalis yang terletak di kawasan Untung Suropati itu sudah bisa dibilang padat. Agenda malam itu adalah hearing session dari salah satu band paling seksi saat ini; Rasvan Aoki. Mereka seksi dari segi karakter suara si vokalis, dan seksi pula kemasan lagu-lagunya. Sejak tahun lalu sudah banyak yang meramalkan 2018 sebagai panggung mereka untuk unjuk gigi. Tidak berlebihan, pasalnya mereka sudah menunggu hampir lima tahun untuk bisa meretas.

Shofan Kusuma Firdaus, atau lebih dikenal sebagai Rasvan tampak jadi orang paling sibuk di sana. Gitaris sekaligus founder Rasvan Aoki ini sedang sibuk melipat booklet bandnya yang baru kelar dicetak. Di saat bersamaan, pria vegetarian itupun riweh berkoordinasi urusan teknis acaranya. “Mas, kaosnya Rasvan Aoki ada yang warna hitam gak?” tanya salah satu pengunjung yang hadir. Sambil lanjut melipat, ia pun menjawab “Ada, tunggu saya carikan,” jawab Rasvan. Di meja yang sama, dia langsung mencari merch bandnya yang akan dibeli sambil tetap berusaha memegang lipatan booklet di tangan kirinya.

Selesai melakukan transaksi dan menyelesaikan lipatan booklet seadanya, Rasvan beralih ke ruangan tempat berlangsungnya hearing session. Ia melakukan final brief terhadap beberapa rekannya sesaat sebelum acara dimulai. Tampak di sana ada Muhammad Firman, seorang pengamat musik yang didapuk jadi moderator, serta Aoki; vokalis bersuara seksi itu tadi. Berbeda dengan Rasvan, sosok Aoki cenderung lebih santai. Perempuan yang aktif bersama Waft Lab itu sejak di venue lebih banyak bertegur sapa dengan pengunjung yang hadir, sambil sesekali membantu Rasvan yang sibuk menyiapkan berbagai hal di hajatan perdana mereka di 2018 ini. Yes, tepat bulan Februari kemarin Rasvan Aoki menggelar hearing session album debutnya, Tyaga. Acara itu digelar hanya beberapa pekan setelah single ketiganya Untamed Heart rilis.

Rasvan dan Aoki saat hearing session di Qubicle Suropati 84. (Foto: Rona Cendera)

Ada dua hal yang menarik dari Rasvan Aoki; pertama tentang materinya. Band yang terbentuk di lingkungan kampus seni di kawasan Barat Surabaya ini punya sebongkah materi padat dan unik. kombinasi pop dan reggae-nya mampu berasimilasi jadi beberapa warna musik baru yang menggairahkan. Kedua, latar belakang duo pop ini yang sebenarnya kontradiktif; sosok Rasvan yang gigih dan Aoki yang lebih sabar nan santai. Uniknya, itulah yang jadi titik temu mereka. Ketika si Rasvan dominan di balik panggung, sebaliknya Aoki lah yang dominan di depan panggung. Ketika acara berlangsung, Aoki yang memiliki nama lengkap Intan Resta Rini memang lebih vokal dalam mempresentasikan karyanya. Seperti halnya ketika di stage, dialah yang selalu berhasil mencairkan suasana.

Di beberapa situasi, Aoki seringkali jadi protagonis dengan kesabarannya menghadapi tipikal Rasvan yang grusa-grusu. Dan sebaliknya, Aoki pun bisa jadi antagonis takkala kesibukannya tidak bisa di nalar.  Jadi, jika dibanding duo-duo pop lainnya di Surabaya, mungkin Rasvan Aoki bakal punya usia lebih panjang. Faktornya simpel, selama ada salah satu yang mau mengalah diantara mereka. Yah, meskipun dikeseharian sering beradu argumen, tapi nyatanya Tyaga tetap bisa lahir secara normal dan tidak prematur. Awalan yang baik bukan?

Mengutamakan Komposisi, Sisanya Saling Mengisi

Nuansa etnik begitu terasa digenggaman rilisan fisik album Tyaga. Oya, nama album mereka sendiri sebenarnya diambil dari bahasa Sansekerta yang bisa dimaknai sebagai suatu perbuatan atau kegiatan tanpa melihat hasil, atau tanpa mengharap imbal balik. “Bagi kami, Tyaga itu seperti melakukan segala kegiatan (positif) dengan tanpa mengharapkan hasil yang baik-buruk atau berhasil-gagal. Semuanya sama saja,” jelas Rasvan. Lalu, kenapa ‘Tyaga’? “Karena kami berkarya apa adanya. Untuk tanggapan pendengar, suka atau tidak suka, kami memilih pasrah,” lanjutnya lagi.

Di dalam album tersebut ada delapan lagu, tiga diantaranya sudah mereka perkenalkan lebih dulu. Ada Rindu, track legendaris Rasvan Aoki, di mana versi akustiknya lima tahun silam terselip nada dering Blackberry Messagner (BBM). Kemudian yang terbaru, ada When You’re Asleep serta Untamed Heart. Semuanya mereka kerjakan berdua, dengan dibantu oleh beberapa rekan-rekannya yang silih berganti mengisi di balik dan depan layar Rasvan Aoki. Sejak 2014, band ini bertransformasi dari akustik jadi format band yang dilengkapi sederet brass section. Nah, orang-orang itulah yang banyak membantu prosesnya, termasuk juga beberapa nama dibalik layar yang ada di lingkungan mereka. Seperti ketika mengolah When You’re Asleep. Lagu yang mulanya hanya bermuatan suara gitar clean dan vokal itu dirombak jadi lebih berwarna, melodrama, dan spiritual sebelum masuk dapur rekaman.

Rasvan Aoki. (Foto: Randy Julyantara)

Baik Rasvan maupun Aoki mengakui, keberadaan rekan-rekan musisi yang membantunya selama masa rekaman sangat-sangat membantu. Terbukti, di penghujung hearing session, mereka memperkenalkan satu persatu additional player-nya. “Mereka semua merupakan orang-orang yang punya andil besar dibalik proses pembuatan Tyaga,” lanjut Rasvan.

Sayangnya, meski berada di lingkungan yang apresiatif, Rasvan Aoki justru kesulitan mengolah bandnya. Polemik ini mereka namai: sistem. Seperti band pada umumnya, sistem manajemen ialah wajib untuk diolah secara jelas. Ketika memilih untuk diatasi sendiri, tentunya tidak akan optimal. Sudah sewajarnya musisi bekerja untuk membuat komposisi. Dan manajemen, cukup membangun relasi dan promosi. Klise seperti ini seringkali menggiring band pada titik kejenuhan dan pembubaran. Faktornya jelas karena awareness yang kalah bersaing, berujung pemasukan kian kering.

Sejak setahun lalu, Rasvan Aoki sempat mengeluhkan hal itu. Bahkan hingga sekarang, di saat mereka tengah menjalani sesi tur 10 kota, semua harus di handle sendiri. Walhasil, sosok Rasvan dan Aoki di sini dituntut untuk multifungsi. Mereka berbagi membuka networking, mereka juga berbagi membangun tim, mulai soundman, roadman, hingga mereka terlihat seperti stuntman. “Kami sudah beberapa kali ganti manajer, tapi belum ada yang cocok. Jadi, sekarang kami atur sendiri. Di luar urusan komposisi, ya kami saling mengisi,” lanjutnya.

Meskipun sempat keteteran, sering berselisih paham, pada ujungnya mereka pun mencoba untuk lebih ‘Tyaga’. Ya, mencoba berproses semaksimal mungkin dengan tulus dan ikhlas. Yoshie Nakano dan Masaki Mori menjadi perspektif mereka untuk menjalaninya. “Ego-Wrappin’ bisa melakukannya. Mereka bermusik, mengurus semuanya sendiri tanpa beban, mereka juga berkeluarga dan sampai sekarang masih tetap bermusik. Ya, mereka berdua jadi influence kami,” tambahnya. “Sekarang yang penting kami harus tetap produktif membuat komposisi. Sisanya, cukup saling mengisi,” tutup Rasvan.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya