Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

ROOKIES

Ellipsis: Referensi Instrumental Serius Yang Misterius

Published

on

Dari Kiri: Aulia Ramadhan, Feisarino, Aulia Lazuardi, & Elmar.

Satu lagi band asal Kota Kembang yang patut menjadi highlight musik Indonesia: Ellipsis. Tak mau banyak bicara, Ellipsis memilih untuk mengusung instrumental rock. Dua gitar, satu bass, satu drum, dan tanpa vokal, menjadi resep mereka dalam membius pendengarnya. Ellipsis adalah Elmar Shidqi Sulaiman (gitar), Feisarino Abitama (drum), Aulia Lazuardi (bass), dan Aulia Ramadhan (gitar).

Satu EP yang berjudul Adversities sudah mereka luncurkan tahun 2015 kemarin melalui Orange Cliff Records. EP ini menjadi pembuktian bagi mereka di tahun ketiganya. Peluncuran album tersebut juga dirayakan dengan sebuah sajian panggung bertajuk ‘Adversities Showcase’ September lalu di Salian Art Bandung bersama band lainnya, Heals, Kaitzr, dan Neat.

Adversities sendiri merupakan serangkaian petualangan yang berisi 5 lagu: Theorem, Closure, Angles, Two Keys, dan single andalannya Tigris. Tidak tanggung-tanggung, Adversities ternyata berhasil masuk dalam daftar nominasi single/mini album terbaik 2015 milik Jakartabeat.net, bersama nama-nama seperti Efek Rumah Kaca dan Tigapagi.

Banyak referensi yang turut andil dalam adonan musik mereka. Distorsi gitar atmosferik dari Tool, clean guitar ekspresif Toe, sedikit ritme ganjil nan eksotis The Mars Volta, ditambah melodi gitar yang repetitif. Semuanya harmonis memadu kasih dalam keosnya musik Ellipsis. Instrumental rock mereka cenderung misterius, ditambah lagi dengan aksi panggung yang ekspresif meski tanpa banyak bicara. Semuanya seakan membuat Ellipsis jadi kekuatan baru yang layak disimak.

Perjaka asli Surabaya yang sedang berkuliah di Bandung, calon insinyur, aktivis ludruk, pendengar musik dan curhatan teman (wanita). Bermain dan menulis musik untuk menyambung nyawa. Bermimpi menjadi ayah yang baik seperti Dave Grohl dan James Hetfield.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

ROOKIES

Nicolas Mora: Melodiusnya Country-Folk Malang

Published

on

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Nicolas Mora saat Live Session single barunya. (Dok. Nicholas Mora)

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

ROOKIES

Christianto Ario Yang Pedulikan Alter Ego-nya

Published

on

Peduli pada alter-ego, Christianto Ario lahirkan Kurosuke. (Dok. Christianto Ario)

Christianto Ario, gitaris sekaligus vokalis dari band Anomalyst ini tampak begitu tertarik dengan alter ego-nya. Terlihat memang, pasalnya ia merasa banyak hal yang jauh lebih menarik dari apa yang orang lain belum ketahui tentangnya; baik Anomalyst maupun hal pribadinya. Maka dari itu, akhirnya muncul Kurosuke; diadaptasi dari makanan kegemaran Ario yang berarti: Kuro, Susu dan Keju. Nama tersebut didapuk menjadi alter egonya, yakni sebuah project musik baru. Dalam proyek ini, Ario menyelesaikannya dalam waktu yang cukup singkat, hanya sekitar 2 minggu saja dan semua diselesaikan dengan spontan dan cepat.

Kurosuke sendiri lahir akibat kegelisahan yang membuat Ario tidak bisa tidur dan memutuskan untuk membuat album ‘alter ego-nya’. Semua instrumen pada album ini, baik vokal, gitar, bass, drum, hingga kibor dimainkannya sendiri, begitupun story dibaliknya. Ario menggambarkan kehidupannya di atas pukul 12 dinihari, tepatnya ketika fase insomnia muncul.

Jadi album ini berisikan tujuh lagu, dan yang menarik terdapat pada dua soundscape yang direkam sendiri oleh Ario di flyover Antasari pada pukul tiga pagi. Lagu lagu yang disajikkan dalam album Kurosuke banyak bercerita tentang kegelisahan perasaan dan fantasi. Sehingga dari lagu ke lagu, kita seperti dibawa untuk menyimak dan merasakan sensasi insomnia si Ario. Musiknya ringan, ceritanya pun ringan, tentunya pendengar tidak perlu berpikir terlalu dalam untuk memaknainya. Dalam album ini Christianto Ario banyak dibantu oleh Indisyazy dan Lafa Pratomo yang dikenal sebagai gitaris cadas sekaligus produser handal.

Pada akhirnya, Kurosuke pun menjadi sebuah proyek perdana Christianto Ario sebagai solois dan juga produser. Album ini yang menyajikkan sisi lain dari apa yang disajikkanya pada album Segara oleh Anomalyst yang juga masuk ke dalam jajaran album terbaik Indonesia tahun 2017.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Continue Reading

FEATURES

Sebuah Perkenalan: Rayssa Dynta

Published

on

Source: ryassadynta.com

Bila mendengarkan Something About Us milik Rayssa Dynta, beberapa orang mungkin masih asing dengan namanya. Rayssa Dynta adalah musisi muda asal Jakarta yang berhasil merilis EP berjudul Prolog dibawah naungan Double Deer Records. Dalam EP-nya, Rayssa memasukkan lima lagu dengan energi dan karakter yang soul-bearing bernuansa electro-pop. Lirik yang ditulis oleh Rayssa sendiri tak selalu bicara tentang romansa percintaan antar pasangan. Seperti pada lagu Best Tonight, Rayssa merefleksikan kemampuan berjuang untuk dirinya sendiri. Lalu bagaimana menjawab pertanyaan siapa Rayssa Dynta? “Rayssa Dynta is Rayssa Dynta. I don’t know what to say exactly — I’m a person, I’m a musician, I sometimes write. It’s always changing.” Rayssa sebenarnya sosok perempuan yang sederhana. Ia suka mendengarkan satu album hingga lelah sendiri, menggemari kartun, dan memilih untuk menggunakan warna hitam atau netral karena tak mau pusing perkara penampilan sebelum beraktifitas.

Wanita yang mulai menulis lagu sejak 2007 ini memutuskan jadi musisi karena dari semua hal yang telah ia coba, musik merupakan rewarding untuknya. “But I’m new so let’s see how this goes”, jawabnya sambil tertawa. Rayssa Dynta sebenarnya tak bisa dibilang sangat baru di dunia musik. Ia pernah beberapa kali berkolaborasi dengan musisi dari Double Deer, seperti Arrio di lagu Drown Me dan Artificial di lagu Rationale. Ia juga sempat berkolaborasi dengan Emir Hermono di lagu Call On U. Beberapa kolaborasi itulah yang akhirnya mendorong Rayssa mengerjakan EP Prolog dengan Double Deer. “I knew them from a friend, then I started helping them out with some projects and I guess that led to this whole thing”, jelasnya.

Walaupun sudah terbiasa mengerjakan beberapa proyek musik dan bekerjasama dengan musisi lain, bukan berarti Rayssa tak menemukan tantangan ketika mengerjakan mini albumnya tersebut. Sebagai musisi yang perdana mengerjakan EP-nya sendiri dan berhasil menyelesaikannya, Rayssa belajar banyak hal baru. Prosesnya tentu tak mudah dan tak sebentar. Hal ini menjadi menarik bagi Rayssa karena setting yang digunakan benar-benar berbeda dari biasanya. “With all off these electronic gizmos, music comes differently to me. At least that’s how I felt”, jawabnya. Solois yang sempat terjun di dunia modelling ini sebelumnya terbiasa menggunakan alat musik gitar akustik dan piano namun di sini ia harus beradaptasi dengan setting yang serba elektronik.

Bicara tentang EP, tentu juga tak lepas dengan karya seni visual yang digunakan sebagai identitas musisi itu sendiri. Cover-nya sendiri pun dikonsep dengan menarik. Bekerja sama dengan beberapa seniman visual, seperi Contempt Studio, Josephine Irene, dan Farah Shafia, buah apel menjadi sangat ikonik baik di EP hingga situs pribadinya. Ketika ditanya apa relasi buah apel dengan dirinya, Ryssa menyebut itu hanya art director dari EP Prolog ini yang mampu menginterpretasikan. “But if you ask me, it might portray my love for food”, tukasnya sambil tertawa. Bagaimana pun tak perlu banyak alasan untuk menjalin korelasi dengan Rayssa Dynta. EP Prolog dapat dinikmati di iTunes atau Spotify.

Kind of girl you won’t remember by the next 5 minutes. An endless river. I’m sorry, I’m not really good in self-description. But that’s all that I can write 🙂 Regards

Continue Reading

Surabaya