Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Dave Brownsound: “Semangat Itu Rasanya Kembali Lagi!”

Published

on

Dave Brownsound & Deryck Whibley

Deryck Whibley & Dave Brownsound saat tampil di APMAs 2015 kemarin. (Sumber: Youtube)

Sebuah perang saudara di Republik Demokratik Kongo saat itu menjadi inspirasi Sum 41 untuk merilis album ketiga, Chuck. Mereka merilisnya pada 12 Oktober 2004 yang ternyata mendapat sambutan cukup baik. Dari tiga album sebelumnya, Chuck bisa dibilang paling sukses. Karena selain menghasilkan beberapa single seperti We’re All To Blame, Pieces, Some Say, dan No Reason Why, album ini mendapat sertifikasi platinum di Negara asalnya, Kanada dan gold di Amerika, ditambah masuk dua nominasi ‘album of the year’ yang salah satunya berhasil mereka menangkan.

Namun, dibalik kesuksesan itu ternyata ada sebuah perpecahan kecil yang merundung internal band punk tersebut. “Sebenarnya sudah sejak album Does This Look Infected? Dave (Baksh) mulai terlihat jenuh. Memang dia sempat berbicara tentang itu kepada kami, namun Dave berusaha untuk melawan rasa jenuh itu,” cerita Deryck Whibley seperti dilansir MTV. Lanjutnya, Deryck tidak pernah merasa ada masalah secara band ataupun pribadi dengan Dave, begitu juga sebaliknya. “Ini semua murni hanya kejenuhan,” tukas Dave menanggapi tentang rumor keluarnya dari Sum 41 sepuluh tahun lalu.

Ya, tepat pada 10 Mei 2006 silam Dave Baksh yang merupakan anggota ketiga pendiri Sum 41 memilih keluar dari band. Gitaris yang mendapat julukan ‘Brownsound’ itu mendapat titik jenuhnya saat mereka mulai menggarap album keempat, Underclass Hero. Di tengah penggarapannya, Dave hengkang dan posisinya baru digantikan Tom Thacker tiga tahun setelah itu. “Ini (Sum 41) merupakan bisnis yang berperasaan. Butuh waktu hingga dua tahun bagi saya untuk memutuskan hengkang karena minat saya yang tidak lagi seperti awal,” lanjut Dave.

Dave 'Brownsound' Baksh saat masih bersama Sum 41. (Sumber: MTV)

Dave ‘Brownsound’ Baksh saat masih bersama Sum 41. (Sumber: MTV)

Video klip Some Say pun jadi peninggalan terakhir baginya setahun sebelum hengkang. Menghindari punk seperti menjadi pilihan tepat bagi pria kelahiran 1980 tersebut, pasalnya Dave ternyata berhasil mengembalikan minat bermusiknya lagi. Pasca hengkang, Dave Baksh membentuk proyek baru bersama saudaranya yang bernuansakan metal, yakni Brown Brigade. Selang beberapa tahun setelahnya, dia juga sempat membentuk band baru lagi, yakni Organ Thieves yang lebih mengarah ke soul rock.

Kendati tidak sesukes band sebelumnya, Brownsound merasa cukup nyaman dan menikmati apa yang sudah jadi pilihannya itu. “Brown Brigade terasa seperti padang rumput yang lebih hijau ketimbang Sum 41. Bukan maksud saya meremehkan musik mereka, tapi secara pribadi saya membutuhkan tantangan sebagai gitaris. Saya ingin kembali pada akar bermusik saya dan memberikan penghormatan pada tiga band yang sangat mempengaruhi saya, Anthrax, Megadeth, dan Metallica,” imbuhnya. Into the Mouth of Badd(d)ness menjadi album pertama Brown Brigade yang dirilis 2007 bersamaan dengan album keempat Sum 41, Underclass Hero.

Kembali Lagi Lewat Pertemuan dan Latihan Singkat

Deryck Whibley ditemukan pingsan di dapur rumahnya. Ketika pingsan, tangan kanannya terlihat masih menggenggam botol minuman alkohol. Setelah dibawa ke Rumah Sakit, Deryck pun mengalami koma selama beberapa minggu. Nyawanya nyaris tak terselamatkan akibat liver dan ginjalnya yang rusak karena ketergantungan alkohol. Meski sempat mendapat perawatan intensif, vokalis dan gitaris Sum 41 ini pun akhirnya sadar dengan keadaannya yang tak sebaik sebelumnya.

browny-deryck

Deryck setelah keluar dari Rumah Sakit yang ditemui Brownsound sekitar Juni 2014. (Sumber: Altpress)

Kondisi tersebut ternyata membawa Dave Baksh menemui kembali eks rekan band-nya itu. Sebuah pertemuan singkat yang begitu mengikat bagi keduanya. “Pertemuan yang menyenangkan, sudah sekitar tujuh tahun kami tak saling jumpa. Dan ini membawa kita pada beberapa kebiasaan lama, berjemur di halaman belakang, bermain gitar dengan lagu-lagu favorit, bercanda, dan menonton film-film lucu,” tulis Deryck Whibley di situs resmi Sum 41 Juni 2014 lalu. Pertemuan keduanya yang merupakan teman sejak SMA ini sempat menjadi topik utama di beberapa media karena dikaitkan dengan rumor reuni Sum 41 bersama Dave.

Namun itu semua sempat ditampik oleh keduanya. Deryck menyatakan bahwa pertemuan mereka hanyalah untuk kembali mengakrabkan satu sama lain setelah cukup lama berpencar. “Tidak ada obrolan tentang musik yang sangat serius, kami murni hanya bersenang-senang,” ujar mantan suami Avril Lavigne itu. Namun kenyataannya, media sosial pun berbicara. Sekitar awal 2015 baik Deryck maupun Dave sempat beberapa kali berkicau tentang ucapan selamat bergabung lagi untuk Dave meski belum ada pernyataan resmi dari akun ofisial Sum 41. Tapi, beberapa bulan setelah itu munculah sesi foto Sum 41 bersama Dave Baksh.

Bulan Juli tahun lalu, Sum 41 mendapat kesempatan tampil di ajang penghargaan APMAs 2015 milik Alternative Press. Di sana tidak terlihat sosok Brownsound, yang ada hanya formasi Deryck Whibley (gitar & vokal), Jason McCaslin (bass), Tom Thacker (gitar), & Frank Zummo (drum). Mereka tampil membawakan medley lima lagunya, dan pada transisi lagu pertama Still Waiting menuju In Too Deep tiba-tiba saja Brownsound muncul dari balik panggung mengisi sesi part melodi yang jika di klipnya kita akan menemuinya muncul dari bawah kolam renang. Penampilan tersebut begitu emosional bagi mereka, terutama Dave, tak terkecuali penonton yang begitu ekstrim regenerasinya.

Sum 41 2015 line up

Formasi Terbaru Sum 41, dari kiri: Tom Thacker, Dave Baksh, Deryck Whibley, Cone McCaslin, & Frank Zummo (Sumber: Facebook)

Ditemui seusai tampil, Dave menyebut ini merupakan pertunjukan tergilanya. Karena berbagai alasan, jadwal latihan mereka berkali-kali tertunda. Hingga akhirnya Dave kembali masuk studio latihan bersama Sum 41 hanya sehari sebelum tampil di sana. “Kami hanya latihan sehari untuk tampil bersama lagi, sesuatu yang luar biasa,” katanya. Melalui sesi interview itu juga, pria yang identik dengan gitar Gibson-nya itu mengungkapkan jika rasa jenuhnya sudah bisa teratasi, dan musik punk terasa memanggilnya kembali.

Sayangnya, formasi ini terasa kurang tanpa eks drummer mereka Stevo Jocz yang hengkang di 2013. Meskipun begitu, Dave terlihat cukup antusias sama seperti rekan-rekan lainnya. “Saya sangat bersemangat untuk melakukan ini semua. Deryck telah mengulurkan tangan kepada saya, dan saya pun melihatnya sebagai sesuatu yang ingin saya ingin lakukan. Ini benar-benar suatu rahasia yang paling sulit untuk dijaga sepanjang hidup saya,” lanjutnya.

Kini, Sum 41 tengah melakukan proses rekaman untuk album keenamnya. Dua teaser lagu sempat diunggah melalui akun Instagram ofisial mereka. Masuknya kembali Brownsound tentu menambah bobot musik Sum 41 yang sebelumnya sempat pincang karena hanya diisi oleh riff gitar seadanya dari Deryck. “Band ini memang lebih baik menjadi kuintet seperti saat ini,” tutup Deryck Whibley yang terlihat optimis.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

Mengejar Deadline Keselamatan & Kesehatan Kerja Pekerja Kreatif

Published

on

Ilustrasi: Syamsur Rijal

Wenak yo jeh, kerjomu mung laptopan tok (enak banget sih kamu, kerjamu cuma main laptop aja).”

Freelance-an gini, pasti tiap hari bisa bangun siang ya.”

“Band-band-an kan seneng-seneng doang, gak ada libur juga gak papa to.”

Pernah dengar kalimat-kalimat nggemesin seperti di atas? Bagi kawan-kawan pekerja industri kreatif, digital, dan media, bait-bait tersebut bisa jadi terasa bagai lagu lama. Banyak orang menganggap pekerjaan kita sebagai pekerjaan impian, karena syukur alhamdulillah banyak dari kita yang mungkin termasuk bajingan beruntung yang berkesempatan memiliki penghidupan dari kegiatan yang disenangi (bahkan merupakan hobi). Proses terjal menuju titik itu adalah cerita lain, yang orang pertama lihat tentu saja tampak luarnya dulu.

Ilusi independensi dan kebebasan yang terpancar dari praktek kerja para pekerja kreatif memang menggiurkan, terlebih jika sang penerima informasi menelan mentah-mentah bumbu gurih yang ditaburkan oleh mas-mbak motivator, bahwasanya “kerja dengan passion akan membuat kita serasa tidak bekerja”. Sebenarnya ungkapan ini keren dan benar, karena dorongan semangat dari rasa suka itu memang tiada duanya, tapi lantas bagaimana kalau passion justru disalahgunakan guna memangkas hak pekerja? Jangan sampai hal tersebut diterus-teruskan keberadaannya.

Sekilas Pekerja Ekonomi Kreatif Indonesia

Sebelum membahas lebih jauh soal hak pekerja kreatif, mari kita samakan pandangan dulu soal siapa saja yang terhitung sebagai pekerja ekonomi kreatif di sini. Diintisarikan dari bekraf.go.id, ekonomi kreatif adalah sektor yang tidak secara langsung bergantung pada mekanisme eksploitasi sumber daya alam, tapi lebih bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia yaitu ide-ide kreatif. Ada banyak subsektor di dalamnya, yaitu, Aplikasi & Pengembang Permainan; Arsitektur; Desain Interior; Desain Komunikasi Visual; Desain Produk; Fashion; Film, Animasi, & Video; Fotografi; Kriya; Kuliner; Musik; Penerbitan; Periklanan; Seni Pertunjukan; Seni Rupa; serta Televisi & Radio. Secara jumlah, pada tahun 2015 dari total 114.819.199 penduduk Indonesia yang bekerja 15.959.590 di antaranya bekerja di sektor ekraf (ekonomi kreatif). Jumlah tersebut meningkat hampir 800.000 orang dari tahun sebelumnya (Data Statistik & Hasil Survei Ekonomi Kreatif, kerjasama Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik).

Dari sini bisa terlihat betapa minat masyarakat untuk berkiprah di sektor ini sebenarnya besar. Pun dari pemerintahan sendiri juga memberikan perhatian khusus pada potensi ekraf yang makin tak bisa dikesampingkan (hasil survei tahun 2015 menunjukkan bahwa nilai ekspor dari sektor ini mencapai 19,4 miliar USD dan Produk Domestik Bruto (PDB)-nya mencapai 852,24 triliun rupiah). Ekonomi kreatif digadang-gadang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan. Namun setelah ditengok lagi, sepertinya masih banyak PR yang perlu diusahakan bersama. Mulai dari soal perlindungan hukumnya, kesadaran masyarakat akan mekanisme dan hak pekerja kreatif, kesadaran para pekerjanya sendiri untuk melindungi hak kekayaan intelektual yang mereka miliki, dan yang sangat fundamental tapi kerap terlupa: mengadvokasi kesadaran para pekerja ekraf akan hak kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang tentunya berhak mereka dapatkan, layaknya kawan-kawan dari sektor lainnya.

Distorsi “Tak Berwujud”

Selain terlihat ‘senang-senang terus’, salah satu kesalahkaprahan yang kerap dirasakan pekerja kreatif terutama dari ranah digital adalah bahwa pekerjaan mereka dianggap harmless—karena sehari-harinya ‘hanya’ berhadapan dengan komputer. Di mata sebagian besar masyarakat kita, ‘risiko kerja’ masih cenderung seputar kecelakaan akibat mesin besar atau konstruksi; sesuatu yang bersifat tiba-tiba dan akibatnya berupa kerusakan ragawi, bahkan bisa merenggut nyawa. Resiko-resiko laten yang terjadi seiring berjalannya waktu seperti penurunan fungsi mata (desainer grafis, game developer, dll.), gangguan pendengaran (sound engineer), hingga gangguan mental akibat trauma (jurnalis) seperti dianggap tidak cukup penting untuk ditindaklanjuti.

Apalagi jika keluhannya ‘hanya’ terkait jam kerja yang berlebihan. Di atas kertas, sebagian besar kantor mencantumkan di kontrak kerja bahwa jam kerja karyawan adalah sebanyak 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Nyatanya banyak dari pekerja sekarang yang merasa bahwa kerja 10 jam atau lebih dalam sehari itu wajar. Kalau ada yang protes sedikit, salah-salah dicap manja.

Jika dilihat dari hasil survey yang dirilis Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2017, ada 26,32% pekerja Indonesia yang mengaku bekerja lebih dari 48 jam seminggu, dan dari jumlah itu 31,98%-nya adalah pekerja dari sektor ekonomi kreatif. Untuk situasi-situasi tertentu, jam kerja tambahan mungkin memang dibutuhkan guna tercapainya suatu target. Tapi bagaimana jika keadaan tersebut terjadi setiap hari nyaris tanpa putus dari tahun ke tahun? Beberapa kantor bahkan menyarankan karyawannya untuk tidak mengambil cuti, agar ‘potensi’ maksimal perusahaan bisa tercapai. Apakah kita sedang menyaksikan era perbudakan glamor, ketika satu orang bisa memegang beban kerja 4 orang, dan yang durasi kerjanya paling lama bangga dielu-elukan sebagai pekerja keras?

Padahal, sudah banyak contoh kasus bekerja melebihi batas yang akhirnya berujung fatal. Masih ingat kejadian meninggalnya seorang copywriter di Jakarta akibat bekerja 30 jam tanpa tidur? Karena belum ada aturan hukum yang jelas terkait pelanggaran unsur K3 yang efeknya bukan berupa celaka fisik yang kasat mata (Almarhumah langsung mendadak koma), pada akhirnya perusahaan tempat Almarhumah bekerja hanya sebatas dipanggil oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Memang sudah ada beberapa undang-undang yang bisa dijadikan acuan seperti UU no 1 tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja dan UU no 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, tapi kedua UU tersebut tidak mengandung sanksi khusus bagi pelanggaran hak yang tidak meninggalkan bukti ‘kerusakan’ fisik.

Menyadari masih ada situasi seperti ini, sebagai salah satu pekerja yang berkiprah di bidang kreatif Ellena Ekarahendy (Art Director & Desainer Grafis) dan sejumlah kawan pun menginisiasi SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi). Tujuan dasarnya, untuk menjadi wadah bagi para pekerja media dan industri kreatif untuk berjejaring lintas profesi, berbagi pengetahuan dan kemampuan lintas disiplin, serta menjalin solidaritas agar bisa berkarya dalam ekosistem yang inklusif dan manusiawi. SINDIKASI sendiri mulai dibangun sejak akhir 2016, dan dalam momentum bulan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) pertengahan Januari-Februari lalu SINDIKASI menggelar Work Life Balance Festival—sebuah langkah advokasi dan edukasi berbalut selebrasi yang mereka adakan di 4 titik : Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta.

Kenapa isu K3 lah yang menjadi menu utama di event besar pertama SINDIKASI ini? Karena persoalan K3 ini masih belum familiar di telinga masyarakat, bahkan di kalangan pekerjanya sendiri—padahal ini adalah hak yang sangat mendasar. Jaminan hukum terkait K3 juga belum memadai. Maka dari itu, SINDIKASI sengaja menghadirkan Work Life Balance Festival ini sebagai ruang temu dan ruang dialog bagi para pekerja dan pemangku kepentingan dari sektor ekonomi kreatif dan sektor lainnya, sehingga elemen-elemen masyarakat ini dapat saling membicarakan kondisi ketenagakerjaan terkini dan bersama-sama mencari kemungkinan-kemungkinan solusinya.

Melawan Sekat, Menyadari Ambang Batas

Selain persoalan jam kerja, tim Riset dan Edukasi serta tim Advokasi SINDIKASI juga telah mengidentifikasi sejumlah tantangan lain yang kerap ditemui pekerja ekraf antara lain upah di bawah garis minimum, kontrak yang tidak jelas, dsb. Isu K3 ini bisa dibilang paling fundamental karena tanpa mental yang sehat kesehatan fisikpun ikut terancam, jika sudah demikian lantas bagaimana seseorang dapat mengerjakan pekerjaannya dengan optimal? Masalahnya, membicarakan soal kesehatan mental masih menjadi hal yang relatif tabu di Indonesia. Bahkan BPJS Ketenagakerjaan pun belum memiliki mekanisme klaim perawatan penyakit mental, padahal kesehatan mental kini telah termasuk risiko utama dari kultur kerja saat ini. Dalam BPJS Kesehatan pun,seseorang baru bisa melakukan klaim penyakit mental jika telah ada dampak fisik pada penderitanya. Dan karena sulitnya akses yang tepat dan memadai, coping mechanism yang dianggap paling mudah diakses pun menjadi jalan keluar, yang tak jarang justru memperburuk kondisi individu itu sendiri, misalnya: pada alhokol atau penyalahgunaan obat-obatan. Kalau sudah begini, rasanya nirfaedah kalau solusinya hanya berkutat sebatas tunjuk-menunjuk siapa yang salah.

Tekanan kerja melewati ambang batas terjadi pula di banyak negara lain, dan dari sini sebenarnya kita bisa mulai membangun solusinya. Jepang, negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi (salah satu penyebabnya adalah tekanan kerja berlebih), memiliki sanksi tegas sebagai konsekuensi dari pelanggaran standar operasional kerja. Pada Oktober 2017, Pengadilan Tokyo menghukum perusahaan periklanan dan public relation Dentsu dengan denda sebesar 500 ribu yen karena seorang pekerjanya memutuskan mengakhiri hidup akibat beban kerja yang berlebih.

Pemerintah harus bisa setegas ini dalam menindak pelanggaran yang ada. Begitupun dengan manajemen perusahaan juga harus lebih bisa berpihak pada pekerjanya sendiri/klien yang menyediakan jasa untuk mereka, antara lain dengan cara mempertegas kewajiban dan hak kerja. Terlebih soal kontrak kerja, yang mana banyak perusahaan berbasis digital seringkali memberi kontrak kerja yang lebih menguntungkan perusahaan—pekerja bahkan bisa diputus kontrak sewaktu-waktu. Di era digital disruption di mana sistem kerja dan persaingan bisa datang dari mana saja dan terjadi pergeseran perilaku ekonomi, kita harus sigap menyesuaikan diri dalam pergeseran yang ada. Dan penyesuaian yang kita lakukan harus sesegera yang kita bisa—agar kesehatan dan keselamatan para pekerja tidak berlarut-larut menjadi ongkosnya.

Perekam momen, penganyam benang, tukang gambar, sekaligus pengamat tulisan di bodi truk. Menghabiskan 9-5 dengan mengasuh dunia maya, sesuai dengan namanya sendiri.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya