Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Dave Brownsound: “Semangat Itu Rasanya Kembali Lagi!”

Published

on

Dave Brownsound & Deryck Whibley

Deryck Whibley & Dave Brownsound saat tampil di APMAs 2015 kemarin. (Sumber: Youtube)

Sebuah perang saudara di Republik Demokratik Kongo saat itu menjadi inspirasi Sum 41 untuk merilis album ketiga, Chuck. Mereka merilisnya pada 12 Oktober 2004 yang ternyata mendapat sambutan cukup baik. Dari tiga album sebelumnya, Chuck bisa dibilang paling sukses. Karena selain menghasilkan beberapa single seperti We’re All To Blame, Pieces, Some Say, dan No Reason Why, album ini mendapat sertifikasi platinum di Negara asalnya, Kanada dan gold di Amerika, ditambah masuk dua nominasi ‘album of the year’ yang salah satunya berhasil mereka menangkan.

Namun, dibalik kesuksesan itu ternyata ada sebuah perpecahan kecil yang merundung internal band punk tersebut. “Sebenarnya sudah sejak album Does This Look Infected? Dave (Baksh) mulai terlihat jenuh. Memang dia sempat berbicara tentang itu kepada kami, namun Dave berusaha untuk melawan rasa jenuh itu,” cerita Deryck Whibley seperti dilansir MTV. Lanjutnya, Deryck tidak pernah merasa ada masalah secara band ataupun pribadi dengan Dave, begitu juga sebaliknya. “Ini semua murni hanya kejenuhan,” tukas Dave menanggapi tentang rumor keluarnya dari Sum 41 sepuluh tahun lalu.

Ya, tepat pada 10 Mei 2006 silam Dave Baksh yang merupakan anggota ketiga pendiri Sum 41 memilih keluar dari band. Gitaris yang mendapat julukan ‘Brownsound’ itu mendapat titik jenuhnya saat mereka mulai menggarap album keempat, Underclass Hero. Di tengah penggarapannya, Dave hengkang dan posisinya baru digantikan Tom Thacker tiga tahun setelah itu. “Ini (Sum 41) merupakan bisnis yang berperasaan. Butuh waktu hingga dua tahun bagi saya untuk memutuskan hengkang karena minat saya yang tidak lagi seperti awal,” lanjut Dave.

Dave 'Brownsound' Baksh saat masih bersama Sum 41. (Sumber: MTV)

Dave ‘Brownsound’ Baksh saat masih bersama Sum 41. (Sumber: MTV)

Video klip Some Say pun jadi peninggalan terakhir baginya setahun sebelum hengkang. Menghindari punk seperti menjadi pilihan tepat bagi pria kelahiran 1980 tersebut, pasalnya Dave ternyata berhasil mengembalikan minat bermusiknya lagi. Pasca hengkang, Dave Baksh membentuk proyek baru bersama saudaranya yang bernuansakan metal, yakni Brown Brigade. Selang beberapa tahun setelahnya, dia juga sempat membentuk band baru lagi, yakni Organ Thieves yang lebih mengarah ke soul rock.

Kendati tidak sesukes band sebelumnya, Brownsound merasa cukup nyaman dan menikmati apa yang sudah jadi pilihannya itu. “Brown Brigade terasa seperti padang rumput yang lebih hijau ketimbang Sum 41. Bukan maksud saya meremehkan musik mereka, tapi secara pribadi saya membutuhkan tantangan sebagai gitaris. Saya ingin kembali pada akar bermusik saya dan memberikan penghormatan pada tiga band yang sangat mempengaruhi saya, Anthrax, Megadeth, dan Metallica,” imbuhnya. Into the Mouth of Badd(d)ness menjadi album pertama Brown Brigade yang dirilis 2007 bersamaan dengan album keempat Sum 41, Underclass Hero.

Kembali Lagi Lewat Pertemuan dan Latihan Singkat

Deryck Whibley ditemukan pingsan di dapur rumahnya. Ketika pingsan, tangan kanannya terlihat masih menggenggam botol minuman alkohol. Setelah dibawa ke Rumah Sakit, Deryck pun mengalami koma selama beberapa minggu. Nyawanya nyaris tak terselamatkan akibat liver dan ginjalnya yang rusak karena ketergantungan alkohol. Meski sempat mendapat perawatan intensif, vokalis dan gitaris Sum 41 ini pun akhirnya sadar dengan keadaannya yang tak sebaik sebelumnya.

browny-deryck

Deryck setelah keluar dari Rumah Sakit yang ditemui Brownsound sekitar Juni 2014. (Sumber: Altpress)

Kondisi tersebut ternyata membawa Dave Baksh menemui kembali eks rekan band-nya itu. Sebuah pertemuan singkat yang begitu mengikat bagi keduanya. “Pertemuan yang menyenangkan, sudah sekitar tujuh tahun kami tak saling jumpa. Dan ini membawa kita pada beberapa kebiasaan lama, berjemur di halaman belakang, bermain gitar dengan lagu-lagu favorit, bercanda, dan menonton film-film lucu,” tulis Deryck Whibley di situs resmi Sum 41 Juni 2014 lalu. Pertemuan keduanya yang merupakan teman sejak SMA ini sempat menjadi topik utama di beberapa media karena dikaitkan dengan rumor reuni Sum 41 bersama Dave.

Namun itu semua sempat ditampik oleh keduanya. Deryck menyatakan bahwa pertemuan mereka hanyalah untuk kembali mengakrabkan satu sama lain setelah cukup lama berpencar. “Tidak ada obrolan tentang musik yang sangat serius, kami murni hanya bersenang-senang,” ujar mantan suami Avril Lavigne itu. Namun kenyataannya, media sosial pun berbicara. Sekitar awal 2015 baik Deryck maupun Dave sempat beberapa kali berkicau tentang ucapan selamat bergabung lagi untuk Dave meski belum ada pernyataan resmi dari akun ofisial Sum 41. Tapi, beberapa bulan setelah itu munculah sesi foto Sum 41 bersama Dave Baksh.

Bulan Juli tahun lalu, Sum 41 mendapat kesempatan tampil di ajang penghargaan APMAs 2015 milik Alternative Press. Di sana tidak terlihat sosok Brownsound, yang ada hanya formasi Deryck Whibley (gitar & vokal), Jason McCaslin (bass), Tom Thacker (gitar), & Frank Zummo (drum). Mereka tampil membawakan medley lima lagunya, dan pada transisi lagu pertama Still Waiting menuju In Too Deep tiba-tiba saja Brownsound muncul dari balik panggung mengisi sesi part melodi yang jika di klipnya kita akan menemuinya muncul dari bawah kolam renang. Penampilan tersebut begitu emosional bagi mereka, terutama Dave, tak terkecuali penonton yang begitu ekstrim regenerasinya.

Sum 41 2015 line up

Formasi Terbaru Sum 41, dari kiri: Tom Thacker, Dave Baksh, Deryck Whibley, Cone McCaslin, & Frank Zummo (Sumber: Facebook)

Ditemui seusai tampil, Dave menyebut ini merupakan pertunjukan tergilanya. Karena berbagai alasan, jadwal latihan mereka berkali-kali tertunda. Hingga akhirnya Dave kembali masuk studio latihan bersama Sum 41 hanya sehari sebelum tampil di sana. “Kami hanya latihan sehari untuk tampil bersama lagi, sesuatu yang luar biasa,” katanya. Melalui sesi interview itu juga, pria yang identik dengan gitar Gibson-nya itu mengungkapkan jika rasa jenuhnya sudah bisa teratasi, dan musik punk terasa memanggilnya kembali.

Sayangnya, formasi ini terasa kurang tanpa eks drummer mereka Stevo Jocz yang hengkang di 2013. Meskipun begitu, Dave terlihat cukup antusias sama seperti rekan-rekan lainnya. “Saya sangat bersemangat untuk melakukan ini semua. Deryck telah mengulurkan tangan kepada saya, dan saya pun melihatnya sebagai sesuatu yang ingin saya ingin lakukan. Ini benar-benar suatu rahasia yang paling sulit untuk dijaga sepanjang hidup saya,” lanjutnya.

Kini, Sum 41 tengah melakukan proses rekaman untuk album keenamnya. Dua teaser lagu sempat diunggah melalui akun Instagram ofisial mereka. Masuknya kembali Brownsound tentu menambah bobot musik Sum 41 yang sebelumnya sempat pincang karena hanya diisi oleh riff gitar seadanya dari Deryck. “Band ini memang lebih baik menjadi kuintet seperti saat ini,” tutup Deryck Whibley yang terlihat optimis.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya