Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

Content Aggregator Dari Amerika Menyalahgunakan Album ((Auman))

Published

on

auman-eddysofyan

Grup musik ((Auman)) (Sumber: aumanrimau.wordpress.com)

Kolektif musik asal Palembang yang telah membubarkan diri, ((Auman)), sedang tersandung masalah pembajakan. Debut album mereka Suar Marabahaya (2012) baru-baru ini diketahui terjual secara ilegal oleh salah satu content aggregator tak bertanggung jawab. Tanpa ijin dan sepengetahuan mereka, album yg melejitkan nama ((Auman)) itu muncul di situs-situs seperti iTunes, Deezer, Spotify, Rhapsody, Guvera, dan CD Baby.

Hal tersebut pertama kali dilaporkan oleh Aprialdi Noor Idris, drummer dari Trendy Reject dan Time, kepada Rimauman Music, record label yang menaungi ((Auman)) pada 22 Desember 2015 lalu. Setelah ditelusuri, ternyata album tersebut sudah beredar ilegal di sana sejak 8 Desember 2015. Sebelumnya, Rimauman Music sendiri tidak pernah menjalin kerjasama apapun dengan content aggregator untuk memasukkan katalognya dalam penyedia layanan musik digital online. Bahkan record label yang berdomisili di Palembang itu menghalalkan file sharing untuk berbagi musik seperti di masa lalu, terutama saat tradisi tape trading masih berjalan untuk saling bertukar informasi antar scene musik lokal hingga internasional. Kasus pembajakan ini tergolong motif baru yang termasuk dalam pelanggaran penggunaan hak kekayaan intelektual secara komersial tanpa izin. Maka dari itu, Rimauman Music mencoba untuk terus mengusutnya.

Konsultan Rimauman Music yang berdomisili di Ibukota, Tata Trianti sudah melapor ke situs-situs penyedia layanan musik digital tersebut per 23 Desember 2015. Tujuannya adalah menjadikan situs tersebut sebagai rekan dalam menyelidiki dan mengincar content aggregator yang sudah memasukan album Suar Marabahaya. Sebagai respon dari laporan tersebut, Senin kemarin (28/12), album Suar Marabahaya telah diturunkan dari situs Spotify. Keesokan harinya, akun twitter @RimaumanMusic menyebut jika content aggregator nakal tersebut sudah berhasil mereka hubungi dan diketahui berasal dari Amerika Serikat. Namun hingga saat ini mereka belum mau mengumumkan nama aggregator tersebut.

Auman Suar Marabahaya

Sampul album ((Auman)), ‘Suar Marabahaya’

Farid Amriansyah, mantan vokalis ((Auman)), sekaligus manajer umum Rimauman Music, menyatakan tak menginginkan kemenangan finansial dari kasus ini. Ia hanya ingin ini bisa menjadi pelajaran bagi para pelaku musik dalam menyikapi era digital yang ekspansif. Selain itu, kasus ini juga menjadi pelajaran bagi Rimauman Music sebagai record label DIY untuk lebih aware dalam berurusan dengan birokrasi dan berkas-berkas. “Diomelin bolak-balik ama rekan kerja saya Tata Trianti soal penyiapan berkas, kalau kata Tata Trianti, gua butuh berkas, pinggirin dulu etos DIY lo,” Kalau menurut saya ini adalah bentuk etos DIY yang sedang diujicoba dalam penyelesaian kasus pelanggaran hak karya intelektual, a whole new level of struggle for me,” ujarnya lewat akun Instagram pribadinya @pelorrian.

Rimauman Music sendiri merupakan label yang lahir dari rahim ((Auman)). Mereka di inisiasi sebagai kontributor aktif yang mendorong perkembangan scene musik lokal dengan merilis band-band dari kota Palembang dan Sumatera bagian Selatan. Hingga kini beberapa band yang sudah dirilis karyanya antara lain Black//Hawk, Cloud, Resign, Hoax, Against Oppresion, dan beberapa lainnya masih dalam proses perilisan. Sebelum kasus ini mulai mencuat, Rimauman Music juga sempat terganjal kasus pelanggaran kekayaan intelektual dengan munculnya lagu ((Auman)) di program olahraga dua stasiun televisi nasional tanpa ijin. Kedua stasiun televisi itu akhirnya meminta maaf secara resmi dan menyelesaikan kasus dengan musyawarah dan mufakat.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Dopest Dope Pertanyakan Tujuan Hidup

Published

on

Dopest Dope (dari kiri): Ricky Mahardhika, Rifki Hidayat, Hengki Arisando & Sasmito Prawiro. (Dok. Artventure Management)

Setiap manusia di dunia tentu punya tujuan hidupnya masing-masing. Tujuan itupun beragam, bisa duniawi atau akhirat. Namun jika dimaknai lebih dalam, apakah semua manusia paham dengan tujuan dari kehidupan ini? Sebuah kebingungan pun menghinggapi Dopest Dope. Lewat single barunya Tuju, kelompok alternatif dari Surabaya ini mempertanyakan maksud dari pertanyaan tersebut.

Melalui rilis pers yang kami terima kemarin (30/8), Dopest Dope mengumumkan rilisnya single baru mereka sekaligus bercerita tentang kebingungannya. “Lagu ini (Tuju,red) berisi tentang kegelisahan seseorang yang bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dalam hidup. Apakah kematian adalah akhir? atau kehidupan sebenarnya dimulai setelah kematian? atau setelah mati akan dihidupkan kembali ke dunia dan begitu seterusnya?” tulis mereka melalui Artventure Management. Dalam lagu tersebut, Dopest Dope tampak mengajak pendengarnya untuk sedikit merenung dan mendapatkan jawabannya masing-masing.

Selain tentang lagu barunya, band yang tiga tahun lalu bekerjasama dengan Demajors untuk merilis debut album Close to Death ini juga memperkenalkan penggebuk drum barunya. Posisi Oldy Pandu Nugraha kini diganti oleh Hengki Arisando atau Sipenk yang sebelumnya lebih dikenal bersama unit stoner Hawk. Dalam single baru ini, Sipenk langsung terlibar dalam proses rekamannya. Begitupun Rifki Hidayat, gitaris anyar yang masuk setelah Close to Death rilis.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Sengatan Electric Bird di RSD 2019

Published

on

Electric Bird, trio garage pendatang baru di Surabaya. (Dok. Electric Bird)

Electric Bird punya kemampuan untuk menyengat. Ya, nama yang mereka miliki bukanlah sekadar tekstual belaka. Dibalik itu, tertanam sebuah representasi musik yang menyengat bagaikan listrik. Dengan tegangan tinggi, musik mereka mampu bertransformasi jadi sebuah musik. Sentuhan garage serta muatan rock yang berapi-api memperlihatkan tiga pemuda energik ini tengah bersiap terbang tinggi seperti pheonix.

Selama ini publik baru mengenal Electric Bird lewat single perdananya Wardogs. Lagu yang dilempar melalui kanal digital streaming akhir tahun lalu itu mendapat respon baik. Ditambah dengan kerinduan Surabaya akan band seperti ini, posisi mereka pun aman. Hingga memasuki awal 2019, tepatnya di Record Store Day (RSD) 2019 kemarin (28/4) Electric Bird memberanikan diri keluar kandang. Sebuah album bertitel Stings You Hard baru saja mereka rilis.

Bersama Let’s Go Cmon Baby (LGCD), Eisen, Rasvan Aoki dan beberapa band lain, momentum RSD 2019 Surabaya kemarin jadi hari perilisan karya fisik pertama Electric Bird, Stings You Hard. Album yang menghadirkan 11 lagu ini sudah mereka kerjakan sejak tahun lalu. Keseluruhannya mereka kerjakan sendiri, mulai rekaman hingga produksi rilisan fisiknya. Bahkan band yang dimotori oleh Danu (vokal & bass); Vicky (gitar); & Ari (bass) ini juga tengah menyiapkan perjalanan tur yang nantinya akan dijadikan alat promo album mereka.

Tidak berbeda jauh dengan single pertamanya, Wardogs. Dalam album yang berdurasi 45 menit ini Electric Bird banyak berbicara tentang situasi sosial yang masih menarik untuk di sentil. Seperti halnya Wardogs, lagu yang menyenggol tentang individu, kritik dan tanpa solusi. “Kami juga menulis beberapa fenomena, salah satunya genosida di Timur Tengah yang kami tuangkan dalam lagi East,” cerita Danu. Lanjutnya, tak luput band ini pun menggambarkan situasi berapi-apinya dalam berkarya lewat lagu Raging Fire. Pengaruh The Datsuns, Wolfmother, Soundgarden, hingga Jimi Hendrix ikut membentuk part demi part lagu mereka.

Pasca RSD, album Stings You Hard ini nantinya akan di distribusikan ke beberapa kota di luar Surabaya. Sementara untuk digital streaming masih bakal menyusul.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

Surabaya