Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Brotherground 2015: Festival Megah Penutup Tahun

Published

on

Brotherground #2 Bayu (Fraud)

Bayu Hastutama, vokalis Fraud di Brotherground (26/12). Foto: Dollyfornia

Tahun 2015 benar-benar jadi tahun penting bagi skena underground. Bagaimana tidak, sejak awal tahun band-band sekelas Hate Of Pain, GAS, Flowdown, Strength Of Change, Descane, Embryo Genesis, hingga Humanure menancapkan rilisannya satu-persatu. Tak terkecuali dengan unit hardcore Kota Pahlawan, Fraud. bulan Desember kemarin, band yang berusia lima tahun ini merilis album keduanya bertajuk Movement Before Mouthment.

Sebagai pestanya, Brotherground Festival yang kali pertama diselengarakan Februari kemarin, kini dihadirkan lagi. Dan, jika kami sempat menyematkan Brotherground sebagai tonggak baru festival underground Surabaya, nyatanya itu bukan isapan jempol belaka. Dengan konsep ‘one day two stage’, Brotherground Fest digelar megah di kawasan Parkir Timur Plaza Surabaya akhir Desember lalu (26/12). Berbeda dengan helatan perdananya, kemarin Brotherground didaulat sebagai sesi peluncuran album kedua Fraud yang rilis melalui labelnya sendiri, Grounderz Records.

Terdapat dua stage yang menjadi tempat bagi 32 band. Letaknya saling berseberangan, di dekat pintu masuk terdapat Brother Stage dengan ukuran yang tidak sebesar panggung utamanya, yakni Grounderz Stage. Dengan layout demikian, adrenalin para metalhead dan HC kids ditantang. Mulai dari merasakan antrean loket yang panjang, hingga menguras keringat untuk berlari, headbanging, dan ber-moshing ria dari satu stage ke stage lainnya. Panas bukan lagi jadi perkara, karena sensasi seperti inilah yang sepertinya bagi mereka, dan juga kita hanya bisa merasakannya saat berada di festival underground luar kota.

Brotherground RTF

Revenge The Fate. (Foto: Dollyfornia)

Strike Out membuka Brother Stage di tengah teriknya matahari, dan beberapa jam berselang giliran US Dollar yang membakar panggung utama, Grounderz Stage. Tidak ada band yang tak tampil prima, setting panggung, tata lampu serta kualitas sound disajikan dengan kualitas terbaik. Tak heran jika penonton yang datang terus bertambah, bahkan kabarnya lebih dari 5 ribu tiket ludes terjual.

Selepas maghrib, beberapa band seperti The Ska Banton, My Mother Is Hero, Revenge The Fate dan The Cruel sukses besar membakar crowd. Performa mereka tetap panas, meski mendung mulai merundung. Tak kalah energik, unit old-school hardcore WolfxFeet makin tak terkendali. Ribuan penonton terhentak dengan ketukan cepat dari musik mereka, tidak ada yang diam. Semuanya bergemuruh, mulai sing along sampai ber-stage dive. Belum selesai, band-band yang tak kalah veteran dari mereka makin ‘mengacaukan’ gelaran Brotherground Fest. Outright membawakan beberapa lagu-lagu lamanya, begitu juga dengan Serigala Malam yang tidak sedikitpun kehilangan taring meski baru melewati masa vakumnya.

Hingga akhirnya rundown mengarah ke puncak acara, sekaligus puncak bagi Fraud untuk mempertontonkan performa terbaiknya. Single anyar mereka, Unscared menjadi nomor yang ditunggu-tunggu. Animo penonton pecah kembali, apalagi saat Bayu cs menampilkan kolaborasinya dengan beberapa nama lokal seperti Bodas (Devadata), Bagas (WolfxFeet), Hizkia (Crucial Conflict), dan Bima (US Dollar). Penampilan yang emosional, dan membuktikan bahwa kali ini Fraud bukan cuma sukses melepas album keduanya, tapi juga berhasil menjadi tuan rumah di kota-nya sendiri.

Kolektor Almamater , Mahasiswa FIKOM 0’15 UNIKA Widya Mandala , Physically Records Addict, Subnoise Records

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

Surabaya