Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

The Lost Tapes From Suroboyo #2

Published

on

Smell Street 01Era terus berganti mengikuti arus waktu. Begitu pula dengan musisi yang dulu namanya sempat menghiasi scene Surabaya namun kini hilang dimakan jaman tergantikan generasi baru. Memang banyak dari mereka yang ada di era lawas itu mencapai kejayaannya, namun setelah itu terlupakan karena hilangnya ‘prasasti’ mereka.

Artikel ini hanya sekadar untuk mengingat nama-nama tersebut, karena sampai sekarang juga belum ada niatan bagi mereka untuk bereuni. Kali ini 10 list band dari Surabaya akan dihadirkan dari sekian banyak band yang telah hilang. Sayangnya, semua ini adalah band-band yang masih muncul di era 2000-an awal. Kenapa begitu? karena kami memang baru menyelami skena musik Surabaya di era itu.

Beberapa di antaranya memiliki lagu-lagu yang dapat diunduh sedangkan lainnya hanya berupa footage yang hanya bisa dilihat via kanal YouTube. Jadi, silakan membaca dan mungkin mau menambahkan list ini. Sekadar tambahan, artikel ini merupakan kelanjutan dari ‘The Lost Tape From Suroboyo’ yang sempat ditulis Praotozine dua tahun lalu.

African Air Conditioner

African Air Conditioner

African Air Conditioner

Indie rock Surabaya di era 2000 sangat beragam. Tiap band memiliki ciri khas musik yang sangat kuat. Sehingga dengan mendengarkan lagunya sekali saja, maka bisa dipastikan musik itu mudah dikenali berasal dari band mana. African Air Conditioner (AAC) merupakan salah satu perwujudan band Surabaya dengan musik yang cukup unik. Single mereka yang berjudul Start Mixed adalah kartu identitasnya. Tidak terlalu keras, easy listening, ditambah adanya klimaks pada bagian akhir. Start Mixed sudah sangat jelas mendeskripsikan seperti apa musik yang mereka bawa. AAC resmi mengumumkan bubar saat acara pertama BSO Musik Goes to Public tahun 2010 silam. Alasannya klise, karena kesibukan personil.

 

Apples In The Wonderland

Apples in the Wonderland

Apples in the Wonderland

Jika menyebut raja pensi, maka Heavy Monster-lah yang jadi jawabannya. Tetapi di era pertengahan 2000, Heavy Monster tidak sendirian, karena ada juga beberapa band lain. Salah satunya Apples In The Wonderland. Elize merupakan single favorit anak-anak SMA kala itu. Sekitar tahun 2008 masih banyak anak sekolah yang membawakannya di dalam kelas  dan menyanyikannya bersama-sama. Single tersebut masuk di album Welcome to The Wonderland yang bisa di download gratis di http://applesinthewonderland.blogspot.co.id/2008/10/free-download-mp3-welcome-to-wonderland.html?m=1.

Athenian

Athenian

Athenian

Era 2008-2009 merupakan awal era di mana metal Surabaya didominasi seragam putih abu-abu. Kemunculan band-band metal di kalangan pelajar SMA merambat begitu cepat dengan didukung pula adanya venue bernama Magnetzone. Salah satu band yang menjadi trigger kala itu adalah Athenian. Mereka bergerak sangat cepat dalam menyebarkan musiknya. Sayang, seperti hal yang akhirnya biasa terjadi pada skena-skena musik underground, rusuh menjadi main menu dalam tiap gigs. Imbasnya banyak venue potensial menutup diri dan melarang genre metal bermain yang secara tidak langsung berdampak pada eksistensi band-band sejenis Athenian. Kabar terakhir dari mereka ialah single reuni yang rilis awal tahun lalu. Ya, tapi hanya reuni, tidak lebih.

Blackstar

Blackstar

Blackstar

Blackstar perlahan meredup seiringan era hip-hop yang mulai tenggelam dengan genre-genre lainnya. Kemunculan Blackstar di tahun 2004 tidak lepas dari andil salah satu radio local Surabaya yang saat itu jadi tempat berkumpulnya mereka. Grup rap/hip-hop ini dikenal dengan beberapa single jowoan yang selalu bisa menggelitik, seperti Jaranan atau mungkin Tikus yang selalu jadi guyonan “raimu pancen elek kon koyok tekos”.

Deskripsi Sebuah Mahasiswa

Deskripsi Sebuah Mahasiswa

Deskripsi Sebuah Mahasiswa

Salah satu unit grindcore yang terbentuk di jurusan Despro ITS. Deskripsi Sebuah Mahasiswa (DSM) adalah band andalan Surabaya kala itu yang tidak cuma keras, tapi juga member hiburan menarik dengan lelucon-nya. Mereka memberi warna tersendiri untuk skena underground yang sedang berjaya-jayanya dengan musiknya yang hanya berdurasi tidak sampai semenit. Liriknya juga mudah dihafal dan sesekali konyol. Belum lagi penampilannya yang merepresentasikan bahwa metal tidak selalu garang. Paling tidak di dalam gigs mereka bisa dipastikan keringat bercucuran sembari misuh-misuh “Hee Cokk, kon ikulapo seh… blogh,” Layaknya band-band humor yang pernah ada di Indonesia, tidak mudah bagi DSM untuk mempertahankan eksistensi. Alhasil, umur band tersebut pun hanya seumur jagung. Memang DSM sempat berkumpul kembali di 2013, namun itu hanya menjadi sebuah teaser yang belum terwujud.

DRY

DRYTradisi black metal di Surabaya sepertinya tidak bisa jauh dari band yang satu ini, DRY. Mereka sudah ada sejak tahun 1990-an, meskipun baru mulai mengusung black metal lima tahun setelah itu. Tujuh single, tiga kompilasi, dan lima album sudah mereka lepas selama masa karirnya. Setelah album terakhirnya Badai Semusim yang rilis tahun 2012 nama mereka mulai redup. Bahkan, bukan cuma nama mereka. Era black metal rasanya juga mulai redup.

KKHH

KKHH (2)

KKHH

Band ini belum bubar, eksistensinya juga sebatas ada di beberapa event saja. Lalu kenapa Kuch Kuch Hota Hai (KKHH) kami masukan di kategorikan Lost Tapes? Karena band ini tak kunjung membuahkan album, padahal ya banyak yang menunggunya. Jika kalian sering melihat band yang tampil dengan kostum ala Robin lengkap dengan celana dalam di luar. Kemudian mereka memainkan lagu-lagu humor, dan kalian tertawa kemudian menyandu, itu tandanya kalian sepakat dengan keputusan kami.

Porn Ikebana

Porn Ikebana

Porn Ikebana

Kehadiran band berpersonil wanita cukup ramai di era tersebut. Selain karena genre indie sangat kental dengan nuansa feminim, personil wanita juga menjadi obat cuci mata bagi skena yang dipenuhi para lelaki. Porn Ikebana menjadi salah satu pioner band yang memiliki personil wanita yang membawa konsep musik apik. Single A Date With Mr. Bigfoot dan She Song sangat mudah diterima karena lagunya tidak kelam dan lebih terkesan ceria jika dibandingkan dengan musik-musik indie yang lagi ramai saat ini. Porn Ikebana juga sempat mengeluarkan sebuah rilisan fisik single dan EP, namun terbilang langka untuk dijumpai karena sudah tidak diproduksi lagi. Terakhir menemukannya adalah ketika Record Store Day 2013 atau 2014 yang diselenggarakan di Surabaya Town Square.

Super Mario

Super Mario

Super Mario

Mungkin Super Mario jadi salah satu bagian sisa-sisa kejayaan punk di Surabaya. Di luar dominasi Blingsatan dan eksistensi The Flins Tone hingga Give Me Mona; nama Super Mario sebenarnya juga tidak bisa dilupakan. Band yang masih member embel-embel ‘Melodic Hell Yeah’ ini punya materi yang bagus saat itu. Sayang karena era punk/pop punk/melodic selepas 2009 makin tergerus dengan underground, alhasil Super Mario serta beberapa band sejenis lainnya ikut hilang termakan zaman.

The Marskal

The Marskal

The Marskal

Kabar terakhir sekitar tahun 2009-an The Marskal hendak mengerjakan EP. Namun ya begitu, entah di pertengahan jalan atau mungkin di akhir band ini lenyap. Kini, di akun Myspace-nya masih tersimpan tiga lagu lama mereka yang sepertinya harus diselamatkan, karena kita tahu sendiri Myspace tidak lagi se-ekspansif dulu. Jadi, sewaktu-waktu lagu yang ada di sana bisa lenyap. The Marskal sendiri menamai dirinya band pengusung Ska 3rdwave yang mengkombinasikan hampir setiap musik yang kiranya dapat di kawinkan dengan irama Ska.

Memilih keluar dari media besar demi kebebasan dalam menulis. Menyukai artikel provokatif, subjektif dan apa adanya ketimbang artikel halus yang menjaga hati target tulisan. Penggila skena punk dan musik-musik berbau 80-an

Advertisement
2 Comments

2 Comments

  1. Erwin Napalm Death

    14 December 2015 at 12:50

    DRY!!!!

  2. diraresmawan

    15 December 2015 at 19:18

    jadi kangen masa2 lalu, kereeeeeeeng!!!!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Zorv Dan Secuil Kisah Perantau Grunge Yang Sempat Meliar

Published

on

Berantakan: Wajah Blackbird yang porak-poranda akibat keliaran Zorv saat pesta launching albumnya lima tahun silam. (Foto: Ian Darmawan)

Sepekan lalu, fitur kenangan di Facebook tanpa sengaja menampilkan poster dari pesta perilisan album salah satu band bagus di zamannya. Sebuah gigs yang menjanjikan keliaran; seliar atraksi tong setan, senakal Sasha Grey, dan membabi-buta layaknya mulut netizen saat mengomentari RI 1 dengan stuntman-nya. Pada intinya, semua kebrutalan yang masih manusiawi sudah cukup mewakili flashback sesaat setelah melihat gambar tersebut.

Poster launching album Zorv ‘Savage’.

Album yang rilis dan dipestakan itu bernama Savage. Bersampul hitam, lengkap dengan rusa berakar. Hebatnya, akar yang tersaji secara visual itu juga melebur secara audio dan mendominasi 43 menit durasi album. “Kenapa akar? karena kita gak mau ngelupain dari mana asal kita. Don’t forget the root-lah,” cerita Ragil Herlambang, pembetot bass yang kami temui lima tahun lalu di tempat kerjanya. Ya, secara garis besar Savage bercerita tentang keliaran, namun masih pada batas yang wajar tanpa lari dari akarnya.

Mereka adalah Zorv. Band yang sebenarnya tidak terlalu lama berada di iklim Surabaya. Tapi di waktu yang terbilang singkat, mereka mampu memberikan bercak manis. Jurnallica menyebutnya sebagai duplikasi Nirvana, Jimi Multhazam menyematkan kata canggih untuk mereka, dan Rolling Stone Indonesia menganggap sebagai gairah baru skena Surabaya. “Jujur, Zorv gak terlalu expect banyak juga pada waktu itu. Yang penting kita pengen banget berkarya,” kenang Danishwara beberapa waktu lalu.

Lima tahun silam, berawal dari rekomendasi teman dan majalah impor yang sudah kandas, kami tergiring untuk berkenalan dan mencari tahu tentang siapa itu Zorv, hubungannya dengan Kurt Cobain dan Chris Cornell, optimistisnya terhadap grunge, kemudian membeli debut albumnya yang apik rilisan Wellstain Records. Dan lima tahun silam pula, kami merasakan terbanting-banting akibat mosphit liar saat pesta peluncuran album tersebut. Berlokasi di kafe kecil di Klampis; Blackbird yang sayangnya sudah kandas juga; di sana Zorv pamer seluruh lagu solid yang ada di rilisannya.

Keos: Setlist Zorv malam itu sukses menghantam telinga sampai tembok. (Foto: Ian Darmawan)

Malam itu gitar Danishwara tak seprima suara vokalnya. Tampak berkali-kali ia memutar potensio amplinya. Sesekali riff gitarnya juga terdengar meleset, bahkan beberapa fill terasa tak se-solid rekaman CD-nya. Tapi mau tak mau, tabrak sana-sini masih tetap terjadi. Kami juga berani bertaruh jika penonton yang ada pun tak mempedulikan kesempurnaan penampilan mereka. Toh, selama ketukan drum dan dentuman bass-nya tertib, beat yang terbangun lebih dari mampu untuk memecah keliaran. Terlepas dari gitarnya yang di bawah perform, perlu di highlight tentang vokalnya yang stabil serta aksen jelas, dan di sinilah mereka tampak pandai menyampaikan lirik-liriknya yang sebenarnya lirih.

Surabaya saat itu, malam itu, dan di tahun itu seperti menemukan tambang emas baru. Gairah grunge yang sebelumnya biasa saja, jadi bersahaja. Diikuti juga dengan munculnya warna-warni musik baru dari band seangkatan Zorv. Sebut saja Cotswolds, Taman Nada, Headcrusher, The Ska Banton, atau Humi Dumi. Bahkan hidung kami sebagai media lokal mengendus ada 10 album yang muncul di 2013, capaian yang melebihi tahun-tahun sebelumnya. Jumlah itu membengkak di tahun berikutnya jadi 27 rilisan. Seperti membungkan paradigma pendahulu kita hobi menyebut: “musik di Surabaya itu susah berkembang, gitu-gitu aja”.

—-

Pesta, Pisah, dan Rekaman yang Terbengkalai

Dari balik kaca, Balqi terlihat duduk santai mengamati ramainya ruas jalan Dharmawangsa. Lelah bersantai, dia masuk ke dalam ruangan, menyapa pelanggan sambil mengganti-ganti channel TV kabel. Setahun setelah pesta senang-senang itu, Balqi lebih banyak menghabiskan waktunya di Morven; usaha barbershop dia bersama beberapa rekannya. Di tahun itu juga ia menyelesaikan studi komunikasinya, mulai jarang berbicara tentang Zorv karena saat itu mereka sedang pasif bermusik.  Zorv yang sebelumnya tengah jadi perbincangan berkat materi dan performanya, belakangan mulai surut. Danishwara bertolak ke Inggris, melanjutkan studi. Otomatis, Zorv pincang sesaat. Sementara Ragil tampak masih melakukan rutinitasnya seperti biasa.

Zorv: Balqi (drum), Danishwara (gitar & vokal), Ragil (bass)

Mutlak memang kala di tiap pertemuan selalu ada perpisahan. Pertemuan Danish dan Ragil yang sama-sama perantau, tinggal di satu kos, membentuk band, hingga menelurkan album tampak begitu cepat berlangsung, secepat durasi album Savage berakhir. Dua tahun berselang, mungkin sekitar 2016 Zorv semakin tak bernyawa. Kelar studi di Inggris, Danish kembali ke Ibukota dan memulai karirnya. Begitupun Balqi yang sempat menetap di sana juga. Dan Ragil, pulang ke kampung halamannya di Madiun melanjutkan bisnis kulinernya.

Dari ketiga personil Zorv, Danish-lah yang paling aktif bermusik. Selepas vakum bersama trio grunge-nya, fans The Red Devils itu sempat membangun project ‘iseng’ bernama Hakash. Dan belum lama ini, sekitar tahun lalu ia kembali tergabung dalam Purpla bersama teman-temannya di Ibukota. Praktis, penampilan mereka pada akhir 2013 di Rock In Celebes jadi yang terakhir di masa aktifnya. “Tahun 2017, kita sempet main di nikahannya Balqi hahaha Kita bawain beberapa lagu waktu itu, serunya lagi ada Dul Jaelani yang featuring sama kita. Yah, kapan lagi main grunge di kawinan,” lanjut Danish.

Lalu sekarang, ke mana jejak Zorv berlanjut? Sempat ada isu yang menyebut jika Zorv tengah membuat sesuatu; kami pun tidak tahu itu apa. Tapi jika mengacu pada transkrip wawancara kami dengan mereka lima tahun silam, mereka sempat menyicil beberapa materi baru. Danish membenarkan sekaligus mengungkapkan kebingungannya terhadap materi-materi tersebut. “hahaha.. tadinya udah lupa loh. Bener ada, kita sempet rekaman di Natural Studio tahun 2013, tiga lagu baru dan rencananya waktu itu mau rilis EP judulnya Moonswimmer. Tapi mau dikemanain rilisannya jujur belum ada plan. Ada ide?”.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

Surabaya