Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

REVIEW

Bring Me The Horizon – That’s The Spirit: Menemukan Jati Diri Baru?

Published

on

  • Bring Me The Horizon - That's The Spirit
BMTH - That's The Spirit

BMTH – That’s The Spirit (Sumber: Amazon)

Mimpi apa band ini bisa bertahan dari paceklik jati diri dan kemudian menelurkan satu lagi hal yang membuat kita sulit untuk melupakan mereka—lagipula selain itu siapa pula yang bisa melupakan kharisma Oli Sykes sebrengsek apapun dia. Terserah Alternative Press dan webzine-webzine alternatif lain yang memberi nilai (hampir) sempurna pada album ini. That’s The Spirit tidak sesempurna itu, tapi juga tidak secacat Sempiternal. Fanatik deathcore/hardcore punk akan segera mencaci album ini, pengkhianat scene; tidak konsisten; buruk; melacur pop; dan segala komentar nyinyir lainnya.

Sementara kalian penikmat musik yang tidak pernah terlalu mempermasalahkan siapa band yang bermain tetapi apa yang mereka mainkan akan menganggap ini adalah hal baru. Segar, segar sekali. secara kualitas bisa dibilang jempolan. BMTH lebih kurang berhasil. Dan pantas mendapat tepuk tangan yang paling kencang. Juga ada dua kemungkinan lain bagi dua tipe penggemar BMTH. Penggemar sejak awal dan penggemar baru. Penggemar sejak awal yang cinta mati death metal, gagah dan masih bertahan dengan musik geraman bisa dipastikan sudah melupakan band ini karena mereka berhenti mendengarkannya sejak memasuki era Sempiternal. Tapi bagi penggemar baru, mungkin ini merupakan lagu termetal yang pernah didengar. Terlepas dari metal yang maknanya sendiripun makin kabur, kami sendiri sepakat untuk berpikir seterbuka mungkin untuk merekomendasikan ini jadi tentang salah satu album yang menarik tahun ini: That’s The Spirit tanpa berusaha membandingkan dengan BMTH-BMTH yang dulu karena memang sudah berjarak terlalu jauh.

Benang merah That’s The Spirit seperti kita ketahui bersama masih dipegang oleh Oli Sykes. Gaya vokal khas dan lirik yang berusaha sekalem mungkin. Oleh karena itu jangan heran bila Oli hengkang nasib BMTH tidak akan selamat. Tidak masalah gitaris Jona Weinhofen memilih pulang ke Australia dan bermain di I Killed The Prom Queen. Jordan Fish masuk sebagai kiboardis dan mengubah semuanya. Memegang peranan sebagai produser, dia juga berperan menambah unsur-unsur elektronika yang membuat That’s The Spirit menjadi benar-benar lepas dari belenggu album-album terdahulu. Untuk track Doomed, kita semua benci lagu itu. Apa lagi yang paling menjengkelkan selain mendengar lagu yang seolah berduet dengan Justin Bieber dan Skrillex. Tapi selanjutnya ada Happy Song yang membuat kita kembali optimis. Kalian akan menganggukan kepala saat suara bocah-bocah kecil berteriak lantang: S-P-I-R-I-T! Dan memang jantung album ini terletak pada lagu ini. Pukulan drum memang kencang tetapi tidak sekencang bayangan kalian (untuk itu dengar albumnya jangan hanya baca). Ada kontrol pada lagu ini. Ada yang ditahan. Tapi seketika itu pula terjadi pelepasan. Tipe-tipe rock stadium yang mampu membuat ribuan orang melonjak bersama.

Baiklah jujur saja kita akan membenci banyak lagu lagi di album ini. Lagu yang kadang terlalu membingungkan seperti Blasphemy—terkesan seperti memaksakan untuk elegan—dan Follow You—terdengar seperti Maroon 5 dengan Adam Levine yang kehilangan kemampuan untuk ceria. Dengarkan saja Throne yang bagus. Ada semangat modern rock ala 30 Second To Mars di lagu ini. Dua puluh langkah lebih maju pula dibanding Linkin Park (ini untuk kalian yang menganggap BMTH masa kini adalah jelmaan Linkin Park). Nu Metal sudah jadi sampah dan tentu saja BMTH tidak memainkan renik-renik lama. Jadi bisa dibilang ini adalah evolusi rock generasi Z yang cukup segar didengar telinga. Throne cocok sebagai pemancing kerusuhan di konser-konser langganan mereka—Reading Festival, atau konser puluhan ribu manusia di Wembley Stadium.

Terakhir adalah Drown. Meluncur sebagai single dan sudah dipastikan lagu ini akan disukai semua golongan—terlepas dari VEVO mereka yang terlalu melucu dengan surealis di mana drummer berubah jadi manusia kera dan darah yang mengucur berwarna hijau. Drown memakai formula baru yang tidak pernah dipakai di album Count Your Blessings (2006), Suicide Season (2008), There Is A Hell…. (2010) dan Sempiternal (2013). Suara Oli terdengar lebih alami tanpa paksaan ataupun teriakkan omong kosong.

Tracklist
01. Doomed
02. Happy Song
03. Throne
04. True Friends
05. Follow You
06. What You Need
07. Avalanche
08. Run
09. Drown
10. Blasphemy
11. Oh No

Advertisement
2 Comments

2 Comments

  1. Aldi Viantari

    4 December 2015 at 11:34

    aku penggemar sejak awal, jadi gak suka yg ini

  2. Edo Bamma R

    18 January 2016 at 13:41

    “metal yang maknanya sendiripun makin kabur”, now that’s the spirit :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

REVIEW

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan: Mengajak Berkontemplasi Tentang Problematika Manusia

Published

on

  • Barasuara - Pikiran dan Perjalanan (Darlin' Records)

Foto: Dok. Barasuara

Hampir empat tahun berselang setelah Taifun, akhirnya Barasuara secara resmi merilis album kedua mereka bertajuk ‘Pikiran dan Perjalanan’. Tak bisa dipungkiri, jadwal manggung yang padat serta kesibukan masing-masing personil membuat proses pengerjaan album ini memakan waktu yang cukup panjang. Tapi penantian panjang Penunggang Badai, sebutan fans Barasuara, nampaknya terbayar lunas di album ini.

Di album kedua ini, sepertinya Barasuara mencoba membuat identitas yang sangat kentara. Sama seperti Taifun, ‘Pikiran dan Perjalanan’ juga berisi sembilan lagu yang karakteristiknya “sangat Barasuara”. Di sisi musikalitas, album yang diproduseri oleh Iga Massardi, Gerald Situmorang, dan Marco Steffiano ini menyajikan beberapa warna baru seperti efek vokal, perkusi, serta paduan terompet dan saxophone yang manis. Kejeniusan Iga, Gerald, dan Marco dalam meramu materi dapat kita nikmati di album kedua ini. Terlebih lagi harmonisasi vokal antara Iga, Asteriska, dan Puti mampu disusun dengan pas dan nendang.

Bergeser ke ranah lirik. Peran Iga Massardi sebagai front-man mampu ia manifestasikan dalam lirik-lirik yang bercerita tentang berbagai macam problematika manusia. Sebagai pembuka, ‘Seribu Racun’ bercerita tentang seseorang yang mencoba melawan dan menjawab semua ketakutan dan pertanyaan dalam pikirannya. Lagu kedua yang juga diambil sebagai judul album mereka ‘Pikiran dan Perjalanan’ menceritakan tentang proses perubahan dan pengambilan keputusan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Lanjut ke lagu ketiga ,‘Guna Manusia, yang merupakan single andalan di album ini menceritakan fenomena penurunan tanah yang terjadi di Jakarta yang disebabkan oleh manusia. Sebuah sentilan yang elegan.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan

Sedikit melompat menuju lagu keenam berjudul ‘Masa Mesias Mesias’ yang bisa dibilang menjadi lagu paling outstanding di album ini. Dari segi musik, lagu ini tergolong unik dan fresh. Warna baru Barasuara terlihat jelas di lagu ini. Sementara dari segi lirik, lagu ini mungkin bisa digolongkan sebagai “lagu religi” layaknya ‘Hagia’ di album pertama Barasuara. Namun, jika dicermati kembali liriknya, lagu ini menceritakan tentang fenomena yang akhir-akhir terjadi yaitu aksi yang digadang-gadang membela agama yang justru malah memecah belah.

 

Bergeser menuju lagu kedelapan yang pertama kali dibawakan Barasuara pada tahun 2016 (Taifun Tour) yaitu ‘Samsara’. Lagu yang dirilis sebagai single terbaru Barasuara saat itu mampu menyedot banyak perhatian para Penunggang Badai. Lagu ini sendiri mengandung lirik yang unik. Dibuka dengan tiga kata “Samara, Ani, Jiyana”. Tiga kata ini bisa dibilang jadi peran utama atau representasi manusia di lagu ini. Diambil dari Bahasa Hindi, Samara berarti pertarungan/perjuangan, Ani berarti batasan, dan Jiyana yang berarti kekuatan. Di bagian akhir lagu terdapat repetisi lirik “Kita bisa tenggelam dan bisa padam. Atau bangkit berjalan lalu melawan” yang menegaskan bahwa lagu ini bercerita tentang kehidupan manusia yang berjuang dan bangkit dari setiap masalah yang dia hadapi.

‘Pikiran dan Perjalanan’ adalah sebuah memoir singkat dari Barasuara tentang problematika manusia yang dikemas secara apik dan menyentuh. Album ini sudah bisa kalian nikmati di layanan musik digital dan juga rilisan fisik. Selain itu, Barasuara bersama Darlin’ Records juga menggelar Release Party pada tanggal 13 Maret 2019.

Barasuara – Pikiran dan Perjalanan Tracklist:

  1. Seribu Racun
  2. Pikiran dan Perjalanan
  3. Guna Manusia
  4. Pancarona
  5. Tentukan Arah
  6. Masa Mesias Mesias
  7. Haluan
  8. Samara
  9. Tirai Cahaya
Continue Reading

REVIEW

We’re The Crew: Bahan Bakar Baru 1234!

Published

on

  • 1234! - We're The Crew

Cover artwork We’re The Crew garapan Prambudi. (Dok. 1234!)

Di luar dugaan. Sempat berpikir jika band ini hanya jadi project iseng semata, dan meramal usianya tak panjang, nyatanya salah. Pikiran itu sepertinya harus mulai digeser pelan-pelan, lantaran belum ada tanda-tanda 1234! bakal redup. Sebuah temuan di lapak musik salah satu gigs rokok beberapa bulan silam makin menguatkan dengan rilisnya single terbaru mereka, We’re The Crew.

Musik ini juga berisi, bukan dari lirik. Melainkan insturmen. Kehadiran violin, organ, dan perkusi di dalamnya menghidupkan nuanasa balada punk rock yang penuh cerita dan derita. Tapi masih tetap belum bisa mengalahkan kesenduan Baby I Love You-nya The Ramones.

We’re The Crew, lagu ini menarik. Selain konsep musiknya yang tidak melulu kencang, ini terdengar seperti anthem. Pendengar bakal membayangkan sebuah perjalanan tur dengan mobil butut berkeliling dari kota ke kota. Menempuh ratusan kilometer diiringi tracklist The Clash dengan mata perih akibat asap rokok dan alkohol. Berhenti sejenak di pinggir jalan, bernyanyi diiringi gitar bolong, bertemu orang baru, makan seadanya, lalu tidur di jalan. Dan begitu seterusnya sepanjang tur.

And let’s see. Itu bukan cuma teater of mind seorang pendengar. Nyatanya, lagu yang resmi dirilis 15 Juni kemarin itu memang di setting sebagai bahan bakar baru untuk perjalanan tur mereka. Dengan titel yang sama: We’re The Crew Tour 2018, 1234! meluncur ke 9 titik di 8 kota sejak Juni kemarin. Mulai Blitar, Madiun, Solo, Bandung, Jakarta, Bali, Kediri, dan tentunya kota asal mereka, Surabaya.

Dua pentolan band ini; Davin dan Paidun sempat berpesan “kasih review lagu ini yang paling kontra. Gak boleh ada bagus-bagusnya,” Tapi apa daya, kali ini musik mereka masih bagus, sama seperti Don’t Ruin yang menghiasi warna-warni sound di kompilasi keempat Ronascent kemarin. Jadi, satu-satunya yang paling kontra dalam lagu ini ada pada kemasannya. Khusus di kertas bagian lirik, potongannya tidak rata. Untung liriknya masih kebaca.

Continue Reading

REVIEW

Longest – Endless Collide: Realita Rock Dalam Balutan Metropop

Published

on

  • Longest - Endless Collide

Sampul album ‘Endless Collide’. (Dok. Longest)

Jika dibanding dengan tiga single dalam EP digital yang dilepas awal tahun lalu, Longest format baru ini terdengar tengah berupaya jadi lebih earcatchy. Nyatanya, mereka seperti menahan potensi musikalnya. Di beberapa part yang seharusnya bisa jadi klimaks, justru malah terdengar payah. Penggunaan tone-tone rendah seperti membunuh karakter si vokalis. Alhasil, tujuh lagu yang mereka suguhkan di album Endless Collide terdengar kurang fit sekalipun pendengar berkali-kali mengatur settingan equalizer.

Tapi tunggu dulu, nomor Alea Song yang ditempatkan pada urutan kedua seakan menjelaskan ‘maksud’ dari musik yang ingin mereka sodorkan. Beat yang santai, distori tipis, dan permainan reff; nampaknya Longest ingin menusuk segmen pendengar remaja yang penuh lika-liku percintaan dengan harapan menjadikan track ini sebagai soundtrack-nya. Make sense, toh kemasan album yang mereka tampilkan juga menyerupai deskripsi tadi. Simple dan minimalis merujuk pada realita perkotaan, percintaan, perselingkuhan, pertemanan, dan semua  elemen menarik yang bisa kita temui pada novel-novel metropop atau sinema remaja.

Coba dengar juga So High, Can High, genjrengan overdrive berpadu clean memang sedikit monoton, namun olah vokal dan lirik yang cukup menyatu seperti jadi part yang ditunggu-tunggu; karena musiknya yang terlampau santai sehingga pendengar sulit menikmatinya. Begitupun Toothless Moron, hanya saja lagu ini terdengar lebih berisi dan (mungkin) jadi satu-satunya yang menyambung benang merah dari lagu-lagu awal mereka. Selebihnya, coba kalian nikmati sendiri berdasarkan persepsi masing-masing. Masih ada single pertama mereka First, Strawberry Frost, Mistake and the Beautiful Sin, dan Leader Syndrome.

Terlepas dari itu semua, album yang dirilis pada momen Record Store Day (RSD) 2018 kemarin ini setidaknya sudah menunjukkan keseriusan Longest, yang merupakan pendatang baru dengan wajah lama di skena Surabaya. Hebatnya, album ini rilis setahun setelah mereka melempar demo EP berisi tiga lagu di awal tahun 2017 kemarin, di mana album itu rilis hanya berselang beberapa bulan setelah band ini dibentuk. Satu tahun bukan waktu yang singkat bagi Longest untuk merampungkan full album perdananya. Sempat beberapa kali bongkar-pasang personil jadi salah satu kendala dalam proses penggodokan materi. Namun Longest tetap mencoba konsisten berada dalam jalur alternative/indie rock yang mereka usung.

Perlu digarisbawahi, seburuk-buruknya album ini, Longest masih punya porsi instrumen yang terdengar meriah, meski beberapa kali terdengar false. Disarankan menggunakan headset berkualitas agar detail-detail apik dari gitar dan bass terdengar jelas. Last but not least, pelafalan lirik Bahasa Inggris tampaknya juga perlu dilatih karena dibeberapa track terdengar kurang pas. Overall, album ini cukup fresh dan cocok bagi kalian-kalian yang familiar dengan Basement maupun Foo Fighters.

Continue Reading

Surabaya