Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Barasuara dan Ledakan Perdananya di Surabaya

Published

on

Barasuara 23

Barasuara di stage Psychofest 2015 (Foto: Ryo Dinata)

Jika melihat cover albumnya, Taifun menandakan suatu kondisi yang tenang, sunyi, dan penuh kedamaian. Tapi, saat mendengar lagu-lagunya, album tersebut sukses menjebak pendengarnya. Musik yang energik dengan ritme tempo yang tidak melulu kalem; Barasuara di sini tampaknya memang ingin merepresentasikan lagunya sebagai musik yang mudah panas, sepanas penampilannya di Psychofest 2015 akhir November kemarin (22/11) di Atrium Surabaya Town Square (Sutos).

Iga Massardi, selaku konseptor band ini pun tidak memungkirinya. Bahkan, pria yang kerap mengenakan batik saat tampil bersama Barasuara ini menyebut musiknya dibuat untuk bisa ‘meledak’ di atas panggung. Crowd Psychofest 2015 di awal memang sedikit dingin dan merasa aneh untuk sekadar berjingkrak sana-sini. Namun, seketika saja penampilan atraktif mereka merubah event tersebut serasa gig yang keos baik di bawa maupun atas panggung. “Surabaya bener-bener di luar ekspektasi kami. Semuanya mengesankan, semua ikut nyanyi, ikut merasakan aransemen fisikal Barasuara. Apresiasi yang luar biasa,” ucap Marco Steffiano, penggebuk drum Barasuara ditemui seusai tampil.

Barasuara 13

Puti Chitara & Asteriska (Foto: Ryo Dinata)

Lagu-lagu andalan mereka seperti Sendu Melagu, Nyala Suara, Hagia, hingga yang selalu ditunggu-tunggu Bahas Bahasa mampu membuat penonton betah berkeringat meski waktu beranjak larut. Penampilan mereka tidak singkat meski hanya membawa delapan lagu. Ya, istilah ‘meledak’ nampaknya memang layak menjadi image band ini. Mulai dari style hard rock bassis mereka Gerald Situmorang, hingga dua backing vokal Puti Chitara dan Asteriska yang tidak bisa diam sekalipun berbusana anggun. Belum lagi penampilan dingin dari gitaris dan vokalis Iga Massardi yang sesekali mengibaskan rambutnya, seolah menandakan mereka benar-benar band rock yang berada di gig underground.

Api & Lentera jadi penutup yang pas. Tidak perlu encore atau perbincangan panjang lebar untuk mengakhiri pertunjukan. Barasuara paham betul bagaimana menjaga bara penontonnya untuk mengisyaratkan jika setlist mereka terbatas. Apalagi sebelum mereka tampil, band-band lokal Surabaya sudah cukup menguras keringat. Mulai dari Mooikite, Timeless, Humi Dumi, hingga Hi Mom!, band-band tersebut makin menambah gairah ditambah kemasan acara yang cukup rapi dari anak-anak Psikologi UNAIR. Sesuai dengan tema acaranya, lokalitas memang tanpa batas, tapi yang namanya waktu harus ada batasnya. Dan, akhirnya Barasuara harus membatasi ledakan perdananya di Surabaya.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Avin bryan

    4 December 2015 at 11:35

    mbak icil cantiknya ūüôĀ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Folk Music Festival 2018: Beradaptasi Dengan Cuaca, Berkontemplasi Dengan Musik

Published

on

Tampak seorang penonton menggosokkan kedua tangan, sambil sesekali ditiup dengan nafasnya agar terasa hangat. Terlihat dari kejauhan, ia berbicara dengan rahang sedikit bergetar. Lawan bicaranya pun demikian, lipatan syal berbahan katun tampak memenuhi lehernya. Lalu kedua tangannya masuk ke kantung jaket tebal. Kemudian dari atas panggung, terdengar rintihan Danilla; “Awali dengan merintih dan tertawa/Menuai kenangan yang tak hentikanku jua”. Musiknya lirih, seketika membius semua penonton bersama cuaca yang mencapai 13¬į menyelimuti malam di kawasan Kusuma Agrowisata, Batu-Jawa Timur akhir pekan kemarin di Folk Music Festival (FMF).

FMF ke-4 berlangsung dingin. Bagi penikmat musik non-folk, pop atau sejenisnya, bisa dipastikan mereka akan membeku. Sebaliknya, para pengikut musikalisasi puisi-nya Reda, orasi Jason Ranti, Instrumentalia Gerald Situmorang, atau melankolisnya Mondo Gascaro tentu berasa hangat. Namun di situlah esensinya. FMF keempat masih konsisten menawarkan pengalaman menikmati musik yang beda; berada di dataran tinggi, dua panggung berjejer seperti menikmati festival dalam headphone, hingga bertemunya musik dan literasi; kandungan gizi yang pas dikala cuaca dingin seringkali membekukan daya intelektual. Selain itu, festival ini benar-benar mengajak penontonnya untuk beradaptasi dengan cuaca demi berkontemplasi bersama deretan menu-menu musik yang syahdu.

Kesampingkan ego lokalitas yang mengharapkan tumpukan musisi lokal kota setempat tampil di dua panggung megah, itu sudah terlalu butut. Kali ini FMF punya rekomendasi baru dalam Gang of Folk yang berhasil mendatangkan empat musisi potensial. Mereka datang cukup jauh, ada Diroad (Palembang), Sepertigamalam (Palembang), Holaspica (Bandar Lampung), dan Arief S. Pramono (Parepare). Keempatnya bisa disebut sebagai jati diri festival folk satu ini. Sementara lainnya, mulai dari Efek Rumah Kaca, Pohon Tua, Fourtwnty, dan juga White Shoes & Couples Company telah menjadi nyawa yang paling pandai membuat penonton melupakan dingin.

Tahun ini Folk Music Festival berbicara tentang segala macam pertemuan. Dan akhir pekan kemarin, tim kami dipertemukan kembali oleh Folk Music Festival, dan kami merekam beberapa pertemuan, perbincangan, hingga pertunjukan yang tersaji di sana. Silahkan menikmati!

Teks: Rona Cendera
Foto: Adven Wicaksono

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Pesta Anak-Anak Bunga Yang Berusaha Jaga Lingkungan

Published

on

Tampilan mereka tidak rapi. Omongan mereka juga seenak udelnya. Mereka pemabuk, bermain musik keras, dan sarat akan konten dewasa. Ya, Dandelions sebenarnya bukan band yang ramah lingkungan, justru sebaliknya. Murni rock n roll,¬†slengean.¬†Seringkali, vokalis mereka, Njet menyuarakan “koruptor itu anjing” di tiap performnya. Bukan tanpa sebab, karena dari perilaku para tikus itu mereka menghasilkan beberapa lagu, sebut saja¬†Impor. Suara-suara itulah yang jadi¬†power¬†bagi mereka untuk menyelematkan lingkungannya agar bebas doktrin dari segala perbuatan negatif.

Album penuh pertamanya Anak-Anak Bunga yang baru dirilis kemarin bermuatan pesan-pesan moral yang bagus untuk dicerna. Maka dari itu, akhir pekan kemarin (29/7) Dandelions berinisiatif menyambangi tiga tempat krusial; yakni Kampung Dupak Bangunrejo yang bekas lokalisasi, kemudian Kampung Seni THR dan puncaknya di tanah sengketa Tambak Bayan Tengah. Di tempat terakhir, band yang belum lama ini baru melempar klip (Bukan) Playboy tersebut benar-benar jadi tuan rumah yang baik. Selain mengundang tuan rumah yang sesungguhnya (warga Tambak Bayan), mereka juga mengundang beberapa gitaris untuk berkolaborasi, seperti Bima (Timeless), Rasvan (Rasvan Aoki), Wawa (Ampun Women), Adiee (Portal Addict/ex Dandelions), serta Happy Arabika (Pig Face Joe).

Tambak Bayan, tempat ini mengingatkan kita pada titik awal Silampukau yang melaunching debut albumnya Dosa, Kota, & Kenangan tahun 2015 silam. Penuh kesederhanaan, namun lagu-lagunya bermuatan banyak kritik yang satire, begitupun Dandelions. Dan semoga Tambak Bayan juga bisa menjadi titik awal yang bagu dari album terbaru mereka.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Holy Skateboard Video Premiere; Wahana Skate Yang Multisegmen

Published

on

Akibat tragedi bom yang terjadi di tiga Gereja di Surabaya Mei silam, pemutaran perdana video dari Holy Skateboard ikut kena imbasnya. Event yang seharusnya berlangsung beberapa jam setelah kejadian itu harus dibatalkan, lantaran venue M-Radio yang berdekatan dengan lokasi peledakan.

Dua bulan setelahnya, tepatnya kemarin Sabtu (28/7), acara tersebut akhirnya dilaksanakan. Venue pun bergeser ke Grand Dharmahusada Lagoon. Pergeseran cemerlang, karena vibes acara lebih terasa. Mulai dari anak-anak hingga orang tua melebur jadi satu di taman yang luas, hijau, dengan cuaca mendukung, serta lingkungan perumahan yang nyaman; seperti berada di taman keluarga, menikmati akhir pekan, berburu keringat agar sehat. Ada yang bermain skate, atau sekadar lari-lari kecil mengejar anaknya, atau cuma duduk malas dengan mulut berasap sambil menunggu pemutaran video skate dari Holy Skateboard.

Jadi, skate itu bukan lagi tentang anak muda yang energik, tapi sangat multisegmen. Sekalipun band model The Gamblezz, Timeless, hingga Egon Spengler yang atraktif dengan kostum yang … (lihat di foto), pada intinya, semua membaur dalam wahana skate yang multisegmen ini.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya