Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

REVIEW

Stars And Rabbit – Constellation: Konstelasi Bintang Kelinci

Published

on

Stars and Rabbit - ConstellationDengar dan nikmati. Rebah dan hayati. Pejamkan mata dan ulang sekali lagi: itu adalah cara terbaik menikmati konstelasi sendu dari duo Stars And Rabbit. Penampilan yang tidak akan terlupakan di Folk Music Festival di Sutos beberapa waktu silam menjelma menjadi audio berkelas yang menemani sendunya hari; saat bangun tidur, akan tidur, dan bangun tidur lagi.

Like It Here menjadikan kita manusia lagi. Tidak peduli betapa lelahnya bekerja atau kuliah selama musik macam begini masih ada dan bisa diputar saat melepas lelah. Suara Elda bercorak khas; kekanakan, manja, renyah, gurih, kenyal seperti cimol yang membuat seluruh beban hilang seketika. Begitu juga The House di mana racauan Elda yang malu-malu manja membuat anda hanya butuh memandangi langit-langit kamar, merasakan synthetizer yang berjalan teriring petikan serius dari rekan Elda, Adi Widodo di gitar.

Berikutnya, Catch Me yang bernuansa reggae dan soul juga bisa jadi pilihan penyemangat. “Will you catch me…” ujar Elda, dan tentu kita akan mengangguk-angguk cepat. Kegelisahan not balok, kemuraman chord, tapi juga ceria dengan sedikit fill reggae. Benar-benar semua track di sini begitu penting sehingga harus di dengar sesederhana apapun itu.

Stars and Rabbit benar-benar makin menyenangkan di lagu Rabbit Run. Vokal Elda benar-benar mengapresiasi tabuhan perkusi yang bermain perlahan tapi pas. Sedangkan pada lagu Cry Little Heart, makna pun jadi nomor sekian karena yang penting pada lagu ini adalah begitu mudahnya diterima hingga I’ll Go Along yang tak kalah elegan.

You Were The Universe: astronot pesawat antariksa yang dikelilingi bintang bergemelapan. Sejauh ini tidak pernah ada band bersuara perempuan yang menyanyikan lagu tentang luar angkasa sebaik ini meski terdengar sederhana. Kita benar-benar bisa mendengar sisi lain dari suara gadis eksentrik asal Jogja ini. Dalam, serak, kuat, magis, menghanyutkan terlebih di track paling penting di album ini: Man Upon The Hill.

Jika kesepuluh track sisanya yang ada di album ini digabung, maka kekuatannya bisa diwakili oleh lagu ini. “Can i fall into your constellation…” dan desahan sensual Elda membuat kita kehilangan akal sehat. Penghayatan yang gila. Lagu yang membuat kita kembali menjadi manusia dengan nurani, hati, dan kebahagiaan. Inilah lagu yang paling membekas dari penampilan mereka di Folk Music Festival tahun lalu.

Sekali lagi kemagisan album yang turut dibantu master engineering sekelas John Davis ini tak perlu diragukan lagi. Constellation mengobati kebosanan akan musik pop ataupun folk yang makin generik. Stars And Rabbit-Bintang dan Kelinci. Entah apa korelasi keduanya. Tapi apapun itu, konstelasi keduanya berhasil.

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

REVIEW

We’re The Crew: Bahan Bakar Baru 1234!

Published

on

Cover artwork We’re The Crew garapan Prambudi. (Dok. 1234!)

Di luar dugaan. Sempat berpikir jika band ini hanya jadi project iseng semata, dan meramal usianya tak panjang, nyatanya salah. Pikiran itu sepertinya harus mulai digeser pelan-pelan, lantaran belum ada tanda-tanda 1234! bakal redup. Sebuah temuan di lapak musik salah satu gigs rokok beberapa bulan silam makin menguatkan dengan rilisnya single terbaru mereka, We’re The Crew.

Musik ini juga berisi, bukan dari lirik. Melainkan insturmen. Kehadiran violin, organ, dan perkusi di dalamnya menghidupkan nuanasa balada punk rock yang penuh cerita dan derita. Tapi masih tetap belum bisa mengalahkan kesenduan Baby I Love You-nya The Ramones.

We’re The Crew, lagu ini menarik. Selain konsep musiknya yang tidak melulu kencang, ini terdengar seperti anthem. Pendengar bakal membayangkan sebuah perjalanan tur dengan mobil butut berkeliling dari kota ke kota. Menempuh ratusan kilometer diiringi tracklist The Clash dengan mata perih akibat asap rokok dan alkohol. Berhenti sejenak di pinggir jalan, bernyanyi diiringi gitar bolong, bertemu orang baru, makan seadanya, lalu tidur di jalan. Dan begitu seterusnya sepanjang tur.

And let’s see. Itu bukan cuma teater of mind seorang pendengar. Nyatanya, lagu yang resmi dirilis 15 Juni kemarin itu memang di setting sebagai bahan bakar baru untuk perjalanan tur mereka. Dengan titel yang sama: We’re The Crew Tour 2018, 1234! meluncur ke 9 titik di 8 kota sejak Juni kemarin. Mulai Blitar, Madiun, Solo, Bandung, Jakarta, Bali, Kediri, dan tentunya kota asal mereka, Surabaya.

Dua pentolan band ini; Davin dan Paidun sempat berpesan “kasih review lagu ini yang paling kontra. Gak boleh ada bagus-bagusnya,” Tapi apa daya, kali ini musik mereka masih bagus, sama seperti Don’t Ruin yang menghiasi warna-warni sound di kompilasi keempat Ronascent kemarin. Jadi, satu-satunya yang paling kontra dalam lagu ini ada pada kemasannya. Khusus di kertas bagian lirik, potongannya tidak rata. Untung liriknya masih kebaca.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

REVIEW

Longest – Endless Collide: Realita Rock Dalam Balutan Metropop

Published

on

Sampul album ‘Endless Collide’. (Dok. Longest)

Jika dibanding dengan tiga single dalam EP digital yang dilepas awal tahun lalu, Longest format baru ini terdengar tengah berupaya jadi lebih earcatchy. Nyatanya, mereka seperti menahan potensi musikalnya. Di beberapa part yang seharusnya bisa jadi klimaks, justru malah terdengar payah. Penggunaan tone-tone rendah seperti membunuh karakter si vokalis. Alhasil, tujuh lagu yang mereka suguhkan di album Endless Collide terdengar kurang fit sekalipun pendengar berkali-kali mengatur settingan equalizer.

Tapi tunggu dulu, nomor Alea Song yang ditempatkan pada urutan kedua seakan menjelaskan ‘maksud’ dari musik yang ingin mereka sodorkan. Beat yang santai, distori tipis, dan permainan reff; nampaknya Longest ingin menusuk segmen pendengar remaja yang penuh lika-liku percintaan dengan harapan menjadikan track ini sebagai soundtrack-nya. Make sense, toh kemasan album yang mereka tampilkan juga menyerupai deskripsi tadi. Simple dan minimalis merujuk pada realita perkotaan, percintaan, perselingkuhan, pertemanan, dan semua  elemen menarik yang bisa kita temui pada novel-novel metropop atau sinema remaja.

Coba dengar juga So High, Can High, genjrengan overdrive berpadu clean memang sedikit monoton, namun olah vokal dan lirik yang cukup menyatu seperti jadi part yang ditunggu-tunggu; karena musiknya yang terlampau santai sehingga pendengar sulit menikmatinya. Begitupun Toothless Moron, hanya saja lagu ini terdengar lebih berisi dan (mungkin) jadi satu-satunya yang menyambung benang merah dari lagu-lagu awal mereka. Selebihnya, coba kalian nikmati sendiri berdasarkan persepsi masing-masing. Masih ada single pertama mereka First, Strawberry Frost, Mistake and the Beautiful Sin, dan Leader Syndrome.

Terlepas dari itu semua, album yang dirilis pada momen Record Store Day (RSD) 2018 kemarin ini setidaknya sudah menunjukkan keseriusan Longest, yang merupakan pendatang baru dengan wajah lama di skena Surabaya. Hebatnya, album ini rilis setahun setelah mereka melempar demo EP berisi tiga lagu di awal tahun 2017 kemarin, di mana album itu rilis hanya berselang beberapa bulan setelah band ini dibentuk. Satu tahun bukan waktu yang singkat bagi Longest untuk merampungkan full album perdananya. Sempat beberapa kali bongkar-pasang personil jadi salah satu kendala dalam proses penggodokan materi. Namun Longest tetap mencoba konsisten berada dalam jalur alternative/indie rock yang mereka usung.

Perlu digarisbawahi, seburuk-buruknya album ini, Longest masih punya porsi instrumen yang terdengar meriah, meski beberapa kali terdengar false. Disarankan menggunakan headset berkualitas agar detail-detail apik dari gitar dan bass terdengar jelas. Last but not least, pelafalan lirik Bahasa Inggris tampaknya juga perlu dilatih karena dibeberapa track terdengar kurang pas. Overall, album ini cukup fresh dan cocok bagi kalian-kalian yang familiar dengan Basement maupun Foo Fighters.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

REVIEW

Egon Spengler – Hijaunya Neraka; Manuver Horror ke Green Force

Published

on

Cover Album Single Hijaunya Neraka yang di desain oleh Albert. (Dok. Egon Spengler)

Seperti sebuah anomali. Hijau dan neraka; wajar jika banyak pertanyaan muncul seketika untuk menanggapi single baru Egon Spengler ini. Apakah mereka bercerita tentang ganja? kebakaran hutan? atau mungkin darah vampir? Pastinya, jika berkaca dari latar belakang dan album debutnya, Egon Spengler tidak pernah jauh dari pembahasan horror. Segala macam penyebutan mayat hidup selalu jadi nyawa band guyon yang belakangan mulai serius ini.

Aku bernyanyi walau suaraku parau / aku bernyanyi bersama temanku D.S.M / aku berlari bersama temanku Viking / aku berlari bersama anak-anak Greenforce /

Hingga pada akhirnya petikan lirik di atas menyegel rasa penasaran. Sesuatu yang tidak dikira-kira, Egon Spengler berbicara tentang Sepakbola! Oke, bagaimana ceritanya sosok Egon Spengler yang berkursi roda harus bermain bola? Sesuatu yang nyaris tak terduga seperti ketika Albert dkk memilih topik Persebaya di lagu terbarunya.

Gerombolan alumni ITS ini memang tidak lekat dengan olahraga lapangan hijau tersebut, tapi mereka mengakui jika lagu ini terinspirasi dari band seangkatannya; Deskripsi Sebuah Mahasiswa (DSM). Berawal dari lagu Green Force 1927 milik DSM, tahun 2016 Egon Spengler mulai mengerjakan lagu Hijaunya Neraka yang direkam di L-One Studios dua tahun lalu.

Bulan April kemarin, di momen Record Store Day (RSD) 2018, Egon Spengler pun merilis single tersebut ke dalam bentuk fisik sederhana yang dikerjakan ekspres. Kurang lebih sepekan sebelum RSD Surabaya bergulir, produksi CD di mulai. Di dalamnya, hanya ada dua lagu, yakni single Hijaunya Neraka itu sendiri, serta bonus track Green Force 1927 dari Deskripsi Sebuah Mahasiswa.

Perlukah membahas esensi lirik di lagu ini? Dari debut Ecto 1, Egon Spengler memilih jadi band yang tidak terlalu ambil pusing tentang lirik. Apalagi musik punk yang mereka bawa tidaklah menuntut kerumitan lingustik, yang penting ritmik dan mistik. Secara komposisi, Albert, Besta, Ikang, Tebo, dan Rombe juga masih terasa senada dengan benang merah mereka di awal. Hanya saja, track ini bisa jadi memberikan sedikit gambaran tentang lanjutan karya mereka. “Bisa jadi kita gak bercerita horror lagi, tapi bisa juga tetep horror. Liat nanti aja deh,” cerita Albert.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya