Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Efek Rumah Kaca dan Regenerasi Pendengarnya

Published

on

Efek Rumah Kaca 01Setelah 2-3 tahun lamanya menghilang dari panggung musik karena sang vokalis yang belajar ke luar negeri serta kesehatan bassist yang tak begitu baik, Efek Rumah Kaca (ERK) akhirnya hadir kembali sembari membawa materi-materi baru untuk album ketiganya, Sinestesia. Mereka untuk pertama kalinya perform sekaligus memainkan lagu-lagu baru di Surabaya Jumat (6/11) kemarin di Pameran Otomotif  Surabaya 2015, Grand City Mall. Setidaknya delapan hingga sepuluh lagu ERK bawakan di atas panggung setinggi dua meter.

Putih serta Biru menjadi lagu wajib kala malam terik tersebut. Seakan sudah dirilis dalam bentukan fisik yang diedarkan bersama liriknya, fans ERK mampu menyanyikan beramai-ramai single Putih dan Biru. Sebenarnya tidak kaget karena sebelumnya ERK telah melepasnya dalam bentuk bebas unduh di website resmi mereka dan juga telah mengadakan konser tunggal bertajuk ‘Pasar Bisa Dikonserkan’ 18 September lalu di Bandung.

Selain teaser-teaser Sinestesia yang akan datang, ERK juga membawakan lagu-lagu dari album sebelumnya yang kebanyakan berasal dari album kedua, Kamar Gelap, seperti Mosi Tidak Percaya, Hujan Jangan Marah, Balerina, Laki-laki Pemalu, dan Tubuhmu Membiru. Sedangkan single dari album pertama yang mereka bawakan adalah Desember dan Cinta Melulu.

Ditemui seusai tampil, Cholil dkk berbicara mengenai progres albumnya yang telah digarap sejak 2010 lalu. Mereka menyatakan bahwa Sinestesia kini telah mencapai 95% dan hanya tinggal melakukan rekaman backing vocal serta mixing untuk penyempurnaan. Dari pembicaraan tersebut, dapat diramalkan album ketiga ERK bakal hadir dalam waktu dekat. ”Jika tidak ada kendala, album ini bakal keluar pada akhir tahun ini,” terang Akbar Bagus Sudibyo, sang drummer.

Efek Rumah Kaca 02Menarik untuk diamati bahwa single-single terbaru ERK ini sangatlah memper-memper dengan side project mereka, yaitu Pandai Besi. Mulai instrumen yang makin kian beragam hingga durasi lagu yang semakin panjang, yaitu menghabiskan waktu minimal delapan menit. Tidak salah jika beberapa personil Pandai Besi hadir di atas panggung ketika ERK menyanyikan single-single barunya.

Sinestesia, tak dapat dipungkiri, adalah album yang dinanti-nanti oleh para fans ERK. Proses pengerjaan yang telah dimulai sejak 2010 pastinya menjadikan Sinestesia bakal sangat matang dan jauh berbeda dibandingkan dua album sebelumnya. Akan tetapi, tetap perlu diingat dan dipertanyakan, apakah nantinya album ketiga ini mampu bersaing dengan debut album dari band-band pendatang baru, sekalipun kawan-kawan ERK mengatakan “Pasar Bisa Diciptakan” dan adanya kutipan dari majalah Rolling Stone yang mengatakan “ERK siap digilas oleh band-band baru.”

Fenomena akan band pendatang baru ini juga menjadi bahasan yang cukup menarik, terlebih adanya sebuah ulasan yang mengatakan bahwa seenak-enaknya musik dari para musisi baru ini, anehnya masih belum ada yang menyamai eksistensi ERK dan kawan-kawan sejawatnya, seperti White Shoes & The Couples Company atau The Upstairs. Pihak Ronascent pun menanyakan pendapat kawan-kawan ERK mengenai hal tersebut.

Tidak disangka Cholil, sang vokalis sekaligus pentolan ERK memberikan jawaban yang menarik. Ia turut mempertanyakan kenapa fenomena ini bisa terjadi di Indonesia. ”ERK sendiri lho sempat vakum selama dua tahun lebih. Kenapa setelah dua tahun lamanya kami vakum, orang-orang masih banyak yang mengundang kami? Padahal jika di luar sana, pastinya kami sudah digeser dan akan jarang manggung, digantikan oleh band-band baru. Itu berarti di sini ada sesuatu yang tidak jalan. Sore juga sama. Mereka juga sempat vakum, tapi waktu comeback langsung diterima oleh orang-orang.” terangnya.

Efek Rumah Kaca 03Menurut Cholil sendiri, hal tersebut ada kemungkinan dipicu oleh kemudahan akses internet. Gampangnya untuk mencari info dan refrensi musik baru membuat kesamaan selera sangat susah untuk dicari. Masing-masing personal terjebak dalam dunia musik mereka sendiri dan menjadi susah untuk bertoleransi mendengarkan genre musik yang lain. Berbeda jika dibandingkan di masa lalu yang musiknya terbatas oleh media yang menyajikan dan hampir selalu disukai oleh semua orang.

”Gun n Roses, Metallica, semua orang suka di jaman itu. Tapi masuk ke jaman Nirvana, ada beberapa orang yang uda ga suka. Ya itu, uda mulai spesifik orang-orang dalam memilih musik,” ucap musisi kelahiran 1976 itu. Fasilitas internet juga menjadikan scene indie bukan hal yang baru atau spesial lagi karena siapapun sekarang mampu menjangkaunya.

Cara berpikir rekan-rekan media jaman sekarang juga disinyalir oleh Cholil sebagai salah satu bentuk dasar kesusahan newcomer mencari eksistensi. Pemikiran up-to-date yang terfokus bahwa album-album baru dari band-band ternama adalah berita hot menjadikan pendatang baru hanya mendapatkan sepotong kecil kesempatan. ”Padahal kan ­up-to-date itu bisa juga melihat bagaimana pergerakan musik di Lawang. Karena itulah, wartawan musik jaman sekarang sebenarnya juga perlu untuk turun ke ‘bawah untuk tahu bahwa ada gagasan baru di sana.’”

”Entah juga sih, apa anak-anak jaman sekarang sudah terlalu nyaman dengan internet, sudah ga tau lagi gimana caranya memanfaatkan media, ataukah melihat bahwa masa depan ada di internet. Ya ga tau lagi. Tapi semisalkan ERK menjadi band baru di masa sekarang ini, mungkin kami juga akan mengalami problem yang sama. Karena itu, kami benar-benar beruntung terbentuk di mana selera orang-orang belum terpecah seperti jaman sekarang,” kata Cholil lebih lanjut.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya