Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Bisakah Rilisan Fisik Bertahan di Surabaya?

Published

on

CSD 11

Salah satu lapak rilisan fisik di CSD 2015 Surabaya (Foto: Rido)

Kabar penutupan beberapa gerai Disc Tarra dan Duta Suara belakangan jadi topik yang ramai dibicarakan. Berbagai media meramal itu sebagai penguat akan kokohnya era digital yang berdampak pada menurunya penjualan rilisan fisik. Bagaimana tidak, Disc Tarra yang sempat memiliki 100 store di seluruh Indonesia akhir tahun ini harus menutup 40 di antaranya, begitu juga dengan Duta Suara.

Sebaliknya, layanan streaming musik akhir-akhir ini terus bermunculan. Baru-baru ini ada Volup (baca: vo lap) yang digagas musisi-musisi besar sekelas Pongky. Ekspansi digital seakan makin kuat setelah pihak Disc Tarra yang membenarkan kabar penutupan 40 gerai-nya punya plan untuk ikut bergerak di ranah maya. “Ada kemungkinan Disc Tarra menuju ke arah digital. Kami akan bekerjasama dengan salah satu aggregator music streaming,” mengutip penjelasan Miranty Paramitha, A&R International Disc Tarra kepada BBC Indonesia.

Kabar duka ini sejenak langsung mengingatkan kita pada fenomena gulung tikarnya Aquarius Mahakam tahun 2013 silam. Pasca kejadian itu, banyak pihak yang meramal rilisan fisik akan perlahan tutup usia. Lalu, apakah momentum itu akan terjadi per tahun depan? Apalagi selama ini Disc Tarra punya andil besar dalam pendistribusian karya musisi-musisi independen yang bernaung di bawah label distribusi seperti Demajors.

Di Surabaya sendiri, komoditas rilisan fisik memang beberapa tahun ini mengalami stagnasi. Akan tetapi momen perayaan Cassette Store Day (CSD) 2015 di Surabaya bulan Oktober kemarin membawa angin segar. Para pegiat rilisan fisik yang tergabung di Sub Records menangkap adanya tren rilisan konvensional itu mulai dilirik ‘kembali’. “Di CSD kemarin pendapatan tiap-tiap booth meningkat dari sebelum-sebelumnya. Gak sedikit juga yang mengincar rilisan band-band lokal. Saya rasa sih ini perkembangan yang bagus,” ujar pemilik Beautiful Terror Record, Eri Rukmana.

CSD 12Eri tidak sendiri, beberapa rekannya di Sub Records juga membenarkannya. Seperti Reno dari label Subnoise yang dengan yakin jika rilisan fisik masih punya taji. Dia meyakini masih banyak orang yang lebih mencari rilisan fisik ketimbang digital. “Pada dasarnya membeli rilisan fisik lebih dicari, karena kita tidak hanya mendengar, tapi juga memegang kemasan album,” ujarnya. “Mau berapa toko kaset yang ditutup pada dasarnya kita sih tidak begitu terpengaruh, buktinya toko kaset mandiri tetap bermunculan di Surabaya,” tambah Fadly, owner label Radioactive-Force. Apalagi dengan terbentuknya Sub Records, beberapa label lokal kini terlihat aktif memutar uang produksinya untuk rilisan-rilisan baru. Bahkan, kolektif HC Beatdown Fraud malah membentuk label mandirinya Grounderz Records untuk merilis album kedua mereka, Movement Before Mouthment.

Sependapat dengan mereka, eks vokalis Boomerang, Roy Jeconiah menilai rilisan fisik tidak akan hilang begitu saja. Musisi yang kini tengah sibuk dengan proyek anyar-nya Jecovox itu menyebut bahwa rilisan fisik adalah satu budaya yang patut dilestarikan meski era-nya tidak seperti dulu. “Kalau saya pribadi sih akan tetap mencetak album fisik karena ada beberapa kelebihannya yang gak bisa kita dapat di rilisan digital, dan sebaliknya. Tapi saya juga akan tetap mengikuti perkembangan era digital ini, karena tidak bisa dipungkiri lagi itu adalah kultur yang sekarang berlaku,” ujarnya.

Jika dibandingkan pertumbuhannya, rilisan fisik di skena musik Surabaya masih lebih agresif ketimbang rilisan digital. Di tiga tahun terakhir terdapat lima label lokal yang gencar membidik potensi lokal. Berbanding terbalik, netlabel justru tidak se-produktif itu. Di tahun 2015 ini belum ada netlabel mengeluarkan rilisan baru, begitu halnya dengan layanan streaming lokal. Mungkin untuk saat ini jejak ekspansi digital hanya sebatas di Bandcamp, iTunes, Deezer, ataupun Amazon.

Patut disyukuri pasalnya sejak beberapa tahun belakangan Surabaya tidak terlalu dimanja dengan banyaknya toko kaset besar yang berdampak pada munculnya music store independen. Nyatanya mereka berhasil survive dan jumlahnya terus bertambah. Berarti, apakah Surabaya masih menyandang status yang aman terkait pelestarian CD, kaset tape, dan vinyl? atau mungkin hegemoni digital baru akan menyebar satu dua tahun lagi?

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Edo Bamma R

    18 January 2016 at 14:18

    sebenarnya ada masalah lain yang mendasari kenapa rilisan fisik semakin surut di era serba digital ini, yaitu masalah kualitas suara dan kemudahan pemakaian.
    untuk cassette tape, kualitas suaranya bisa dibilang paling buruk diantara yang lain dan masalah ini tidak bisa dihindari.

    untuk vinyl alias piringan hitam, kualitas suara paling baik bahkan samnpai detik ini kualitas suara vinyl masih jadi yg terbaik dan dianggap sebagai “holly grail” nya pecinta audio, tapi kualitas suara itu tidak bisa menutupi kekurangan terbesar vinyl, yaitu harga (masalah klasik) dan pemakaian serta perawatan yg rumit.

    mungkin yang paling masuk akal untuk survive di era serba digital ini hanya CD, yang punya kualitas suara paling mendekati vinyl dan mempunyai kemudahan pemakaian maupun perawatan.
    dan satu lagi kelebihan CD yang juga sekaligus menjadi “pembunuhnya”, CD bisa dengan (sangat) mudah di rip dan dimainkan pada handphone ato digital player lainnya.

    memang memiliki album fisik tidak dipungkiri memberikan sensasi tersendiri dibanding album digital, tapi apakah sensasi ini bisa bertahan di tengah gempuran format digital?
    we can only wait and pray 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya