Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

Umur Tak Seluas Tanah; Aksi Solidaritas Untuk Salim Kancil dan Tosan

Published

on

Umur Tak Seluas Tanah

Suasana Museum Kanker Indonesia akhir pekan lalu (11/10) Foto. Awik Maulana

Kasus pembunuhan Salim Kancil dan penganiayaan terhadap Tosan di Lumajang membuat beberapa kalangan tergerak. Aksi-aksi solidaritas terhadap Salim Kancil dan Tosan pun bermunculan di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya. Salah satunya charity bertajuk ‘Umur Tak Seluas Tanah’ gagasan kolaborasi dari Komunitas Bawah Tanah di Surabaya kemarin Minggu (11/10) di Cafetaria Gelas, Museum Kanker Surabaya.

Dalam acara tersebut mereka mengumpulkan dana yang nantinya akan disumbangkan pada keluarga korban kekerasan di wilayah tambang pasir Lumajang. Acara yang dimulai sejak pukul 4 sore itu ditutup dengan penyalaan lilin berbentuk kuburan di depan foto Salim Kancil. Ratusan orang yang hadir lantas melakukan doa bersama untuk mengenang kepergiannya. “Harapannya melalui doa kita bersama setelah ini tidak ada lagi korban berjatuhan hanya karena sebuah keserakahan,” ujar ketua panitia, Bayu Hastutama.

Event ini sekaligus menjadi bukti bahwa musisi underground dan pelaku lain di dalamnya juga peduli terhadap hal-hal sosial. Menurutnya, stigma negatif yang selama ini melekat tidaklah sepenuhnya benar. ’’Kami tidak selalu identik dengan hal-hal negatif, bahkan kami lebih punya hati nurani dibandingkan mereka yang berkuasa sekarang ini,’’ lanjut Bayu yang juga vokalis dari Bvas dan Fraud tersebut.

Bayu dan rekan-rekannya pun tidak menyangka jika antusiasme pelaku underground sangatlah besar. Ekspetasi awal hanya sekitar 50-an penonton yang hadir, namun kenyataannya crowd membludak mencapai seratus orang. Bahkan, venue Cafetaria Gelas, Museum Kanker Indonesia begitu sesak oleh penonton. Sedangkan Ananto Sidohutomo, founder Museum Kanker Indonesia merasa salut kepada pelaku-pelaku underground Surabaya yang bersatu melakukan aksi solidaritas. ’’Hati mereka lembut, meski musik yang mereka dengar keras. Sebuah kekontrasan yang tujuannya sangat mulia dan penuh kemanusiaan,’’ ucapnya.

Event tersebut memang cukup membuat beberapa pengendara yang melintas jalan Kayoon terlihat penasaran. Sajian ala gigs mulai tone distorsi hingga gerombolan orang berbaju hitam memenuhi lokasi tersebut. Begitu kontras dengan keseharian Museum yang selalu tenang. Sekitar 17 band lokal Surabaya turut mengisi acara tersebut. Mereka melarutkan suasana duka dengan musik-musik yang bersemangat. Mulai dari US Dollar, Humanure, Strength Of Change, Rahnk, WolfxFeet, hingga The Ska Banton.

Sarjana strata satu jurusan sastra indonesia di Universitas Negeri Surabaya. Penikmat punk yang juga mantan penyiar di stasiun radio campursari.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. mario yoga

    14 October 2015 at 22:26

    Saluuut buat ank2 underground surabaya. Buktikan kalau underground gak selalu anarkis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya