Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

Timeless Wakili Surabaya di Rock In Celebes 2015

Published

on

Timeless kembali membuktikan kapasitasnya sebagai pendatang baru yang potensial di scene musik Surabaya. Band yang terbentuk tahun 2013 ini memastikan diri sebagai salah satu line up di festival musik terbesar Sulawesi, Rock In Celebes 2015 bersama Edane, Rosemary, The SIGIT, Burgerkill, Kelompok Penerbang Roket dan masih banyak lagi. Mereka akan tampil 15 November mendatang di kota ketiga, yakni Makassar.

Kesempatan itu datang berkat kualitas musik mereka yang cukup fresh dan menarik. Ardy Chambers, salah satu penggagas Rock In Celebes pun langsung terpikat saat mendengar lagu-lagu Timeless yang sempat direkomendasikan Alek Kowalski; konseptor Sunday Market Surabaya. “Timeless masuk jadi line up itu di detik-detik akhir setelah semua list band hampir fix. Itu juga berkat ketertarikan Ardy terhadap lagu-lagu kami,” jelas Rudi, road manajer Timeless.

Dengan begitu kolektif rock yang tahun lalu merilis EP We Believe For What We Do Is Timeless ini pun menjadi satu-satunya wakil Surabaya di Rock In Celebes 2015. Rudi mewakili rekan-rekannya pun cukup antusias, pasalnya memang ini bukan cuma kesempatan pertama mereka tampil di festival besar skala nasional, tapi juga pertama kalinya tampil di Kota Makasar. “Rock In Celebes itu salah satu event besar yang benar-benar mewadahi banyak musisi Indonesia di wilayah timur. Kami juga melihat banyak band berkelas di sana seperti High Voltage dan Popisdead. Dan satu lagi, penontonya juga apresiatif,” sahut Bima.

Rock In CelebesKesempatan ini tidak di sia-siakan oleh mereka. Timeless yang rencananya akan kembali masuk studio rekaman bulan Februari nanti sudah menyiapkan berbagai rangkaian promo. Seperti yang dikatakan Rudi, kini mereka tengah mengusahakan beberapa gig tambahan di Makasar. Menurutnya, ini adalah satu momen yang tepat untuk memperluas jangkauan pendegar Timeless di Ibukota Sulawesi Selatan itu. “Sebanyak-banyaknya gig bakal kami usahakan karena kami suka tur dan kami suka liburan haha,” celetuk mereka.

Selain mempersiapkan mental perform dan fisik, kabarnya mereka juga akan membawa beberapa rilisan dan merch untuk penonton yang ada di Rock In Celebes 2015. Bukan tanpa alasan, gimmick tersebut mereka lakukan sebagai pemanasan jelang rilisan keduanya. Terakhir kali Timeless melepas dua single-nya, Black Gold dan Bukan Berarti Kalah. Keduanya mereka lepas sebagai gambaran untuk materi-materi barunya nanti.

Timeless melepas EP pertama We Believe For What We Do Is Timeless di medio 2014 kemarin. Mini album yang kini sudah berstatus sold out itu dirilis dalam format tape dan digital download. Salah satu single andalan mereka Cold Summer juga mengisi tracklist Ronascent Compilation Vol.2 yang keluar di penghujung tahun yang sama.

Advertisement
2 Comments

2 Comments

  1. reno doremi

    26 October 2015 at 21:40

    gilak main di celebes, top temenan wis

  2. @arthoni2864

    30 October 2015 at 20:23

    skrg band lokal goes to national semua, semangat!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Dopest Dope Pertanyakan Tujuan Hidup

Published

on

Dopest Dope (dari kiri): Ricky Mahardhika, Rifki Hidayat, Hengki Arisando & Sasmito Prawiro. (Dok. Artventure Management)

Setiap manusia di dunia tentu punya tujuan hidupnya masing-masing. Tujuan itupun beragam, bisa duniawi atau akhirat. Namun jika dimaknai lebih dalam, apakah semua manusia paham dengan tujuan dari kehidupan ini? Sebuah kebingungan pun menghinggapi Dopest Dope. Lewat single barunya Tuju, kelompok alternatif dari Surabaya ini mempertanyakan maksud dari pertanyaan tersebut.

Melalui rilis pers yang kami terima kemarin (30/8), Dopest Dope mengumumkan rilisnya single baru mereka sekaligus bercerita tentang kebingungannya. “Lagu ini (Tuju,red) berisi tentang kegelisahan seseorang yang bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dalam hidup. Apakah kematian adalah akhir? atau kehidupan sebenarnya dimulai setelah kematian? atau setelah mati akan dihidupkan kembali ke dunia dan begitu seterusnya?” tulis mereka melalui Artventure Management. Dalam lagu tersebut, Dopest Dope tampak mengajak pendengarnya untuk sedikit merenung dan mendapatkan jawabannya masing-masing.

Selain tentang lagu barunya, band yang tiga tahun lalu bekerjasama dengan Demajors untuk merilis debut album Close to Death ini juga memperkenalkan penggebuk drum barunya. Posisi Oldy Pandu Nugraha kini diganti oleh Hengki Arisando atau Sipenk yang sebelumnya lebih dikenal bersama unit stoner Hawk. Dalam single baru ini, Sipenk langsung terlibar dalam proses rekamannya. Begitupun Rifki Hidayat, gitaris anyar yang masuk setelah Close to Death rilis.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Sengatan Electric Bird di RSD 2019

Published

on

Electric Bird, trio garage pendatang baru di Surabaya. (Dok. Electric Bird)

Electric Bird punya kemampuan untuk menyengat. Ya, nama yang mereka miliki bukanlah sekadar tekstual belaka. Dibalik itu, tertanam sebuah representasi musik yang menyengat bagaikan listrik. Dengan tegangan tinggi, musik mereka mampu bertransformasi jadi sebuah musik. Sentuhan garage serta muatan rock yang berapi-api memperlihatkan tiga pemuda energik ini tengah bersiap terbang tinggi seperti pheonix.

Selama ini publik baru mengenal Electric Bird lewat single perdananya Wardogs. Lagu yang dilempar melalui kanal digital streaming akhir tahun lalu itu mendapat respon baik. Ditambah dengan kerinduan Surabaya akan band seperti ini, posisi mereka pun aman. Hingga memasuki awal 2019, tepatnya di Record Store Day (RSD) 2019 kemarin (28/4) Electric Bird memberanikan diri keluar kandang. Sebuah album bertitel Stings You Hard baru saja mereka rilis.

Bersama Let’s Go Cmon Baby (LGCD), Eisen, Rasvan Aoki dan beberapa band lain, momentum RSD 2019 Surabaya kemarin jadi hari perilisan karya fisik pertama Electric Bird, Stings You Hard. Album yang menghadirkan 11 lagu ini sudah mereka kerjakan sejak tahun lalu. Keseluruhannya mereka kerjakan sendiri, mulai rekaman hingga produksi rilisan fisiknya. Bahkan band yang dimotori oleh Danu (vokal & bass); Vicky (gitar); & Ari (bass) ini juga tengah menyiapkan perjalanan tur yang nantinya akan dijadikan alat promo album mereka.

Tidak berbeda jauh dengan single pertamanya, Wardogs. Dalam album yang berdurasi 45 menit ini Electric Bird banyak berbicara tentang situasi sosial yang masih menarik untuk di sentil. Seperti halnya Wardogs, lagu yang menyenggol tentang individu, kritik dan tanpa solusi. “Kami juga menulis beberapa fenomena, salah satunya genosida di Timur Tengah yang kami tuangkan dalam lagi East,” cerita Danu. Lanjutnya, tak luput band ini pun menggambarkan situasi berapi-apinya dalam berkarya lewat lagu Raging Fire. Pengaruh The Datsuns, Wolfmother, Soundgarden, hingga Jimi Hendrix ikut membentuk part demi part lagu mereka.

Pasca RSD, album Stings You Hard ini nantinya akan di distribusikan ke beberapa kota di luar Surabaya. Sementara untuk digital streaming masih bakal menyusul.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

Surabaya