Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Cassette Store Day 2015: Banyak Rilisan, Banyak Pengunjung

Published

on

CSD 05

Carousel saat tampil di CSD 2015 kemarin. (Foto: Rido Ramadhan)

Gaung rilisan fisik di Surabaya memang tidak seberisik di Ibukota. Terlihat dari sedikit lesunya beberapa acara bertajuk Records Store Day hingga Sub Record Fest yang beberapa kali digagas komunitas Sub Record. Meskipun masih minoritas, tapi konsistensi mereka bisa dibilang lumayan. Hingga di akhir pekan kemarin bertepatan dengan perayaan Cassette Store Day 2015 mereka turut berpartisipasi. Nyatanya, acara yang digelar kemarin minggu (18/10) di Aiola Eatery tersebut rilisan fisik lebih berasa gaungnya.

Salah satu pegiat rilisan fisik di Surabaya, Eri Rukmana turut merasakan bertambahnya animo orang-orang yang hadir kemarin. Menurutnya, Cassette Store Day 2015 ini jauh lebih diminati. “Kebetulan juga acaranya dari siang, booth-booth-nya juga lumayan banyak. Ada yang dari Sidoarjo dan Surabaya,” ujarnya. Bukan cuma itu saja, CSD 2015 kemarin turut dimeriahkan oleh perilisan beberapa album, dua diantaranya ada Beyond Infinity (metal) dan Hawk (stoner) yang merupakan pendatang baru di scene Surabaya.

Total ada enam band yang merilis album di CSD kemarin melalui tiga label lokal. Radioactive-Force melepas dua album solois, yakni Beyond Infinity (metal djent) dan Enterchapel (post rock). Kemudian Beautiful Terror Record meluncurkan EP Sarwari milik Hawk (stoner). Sedangkan George Rekords merilis ulang LP dari band Amerika, Antichrist Demoncore (grindcore).  Selain itu, duo folk yang kini sedang jadi perbincangan Silampukau pun merilis ulang album Dosa, Kota, dan Kenangan dalam format kaset via Majemuk Records

CSD 13Setidaknya sejak pukul 2 siang aktivitas jual beli berlangsung. Eri selaku perwakilan Sub Record berpendapat jika CSD 2015 ini menunjukkan perkembangan yang baik. Selain dari sektor pengunjung yang cukup ramai, rilisan kaset baru juga terus bertambah. “Bukan cuma ramai sih, transaksi di tiap booth juga menunjukan peningkatan,” lanjut Eri.

Selain kaset, pengunjung juga menemui banyak benda-benda yang tak jauh dari rilisan fisik. Seperti 90’s Vinyl Watch yang menjual jam dinding berbahan piringan hitam. Di Surabaya sendiri belum banyak yang memproduksi jenis jam seperti itu. Harganya pun terjangkau, bahkan pembeli bisa memesan desain custom sesuai keinginan.

Beranjak ke malam, Cassette Store Day tidak kehilangan taji. Pengunjung tetap satbil berdatangan yang tak sekadar mencari kaset buruannya, tapi juga ingin memanjakan telinga dengan suguhan live DJ dan akustik. Ada Carousel yang kembali tampil berdua mengalunkan musik folk-nya yang feminim dan lembut. Kemudian ada juga Magixridim dan Diani PS dengan set DJ-nya.

Pelaku musik yang tak pernah laku di pasaran. Kini sedang belajar menulis demi mencari cerminan diri sendiri.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. rico restutama

    22 October 2015 at 23:08

    maju terus musik SURABAYAAAAA! hawk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya