Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Saturday Night Karaoke & Album Baru Bernuansa Punk Yang Fun

Published

on

SONY DSCBelakangan studio gig lebih sering muncul dengan event-event minimalis. Intensitasnya jauh mengalahi gig outdoor yang nyatanya mulai jarang di Surabaya. Tapi bukan itu yang hendak kita bahas karena baru-baru ini salah satu band Bandung, Saturday Night Karaoke (SNK) baru saja merasakan sesak dan senangnya studio gig di Surabaya. Kelompok musik yang berdiri sejak 2008 dan mengusung aliran musik macam pop punk tersebut singgah ke kota Pahlawan untuk mempromosikan album keduanya, Slurp!.

Bertempat di Bhinneka Studio, band yang sempat bubar tahun 2012 itu memainkan sejumlah lagu yang terdapat dalam album keduanya maupun album pertama, mulai dari Kobo-chan, Coffeeeeeaaarrrggghhh hingga lagu-lagu yang belum sempat terekam. Layaknya band pop punk lain, semua lagu yang mereka bawa terdengar cukup fun, pasalnya memang tidak butuh idelisme runcing setara anti-kapitalis atau kritik terhadap pemerintah untuk mengemas musik pop punk. Jadi cukup bersenang-senang mengikuti irama power chord.

“Punk kayaknya kehilangan fun deh akhir-akhir ini. Kayaknya juga terlalu banyak dibuat-buat, punk harus gini, punk harus gitu. Sejak kapan ada standar punk? Hehehe. Kita cuman mau buat sesuatu yang berbeda dari hal-hal tersebut,” tutur Prabu, pentolan SNK ketika diminta menjelaskan seperti apa musik yang ada di album kedua ini dan SNK bawakan. “We’re different punks. We know how to be fun and intricate at the same time,” lanjutnya.

Sebenarnya itu semua sudah tampak dari nama album Slurp! yang tak bermakna serta covernya yang kartun abis. Album yang unik meski tidak ada cerita unik di dalamnya. Meski begitu, siapa sangka kalau album tersebut di distribusikan oleh produsen Jepang, SP-records. Ya, tulisan Jepang yang berada dalam cover CD bukan cuman sebuah hiasan belaka untuk menarik perhatian. Tetapi itu benar-benar asli dari pihak distributor Jepang untuk menjelaskan seperti apakah SNK. “Kenalnya sama pihak SP-records itu berawal dari temen-temen dari Jepang yang katanya punya temen yang jalanin label pop punk/indie rock. Dan album ini sendiri bisa muncul karena ditagih sama si SP Records itu hahaha,” tambah Prabu.

Selain performance SNK yang sempat singgah-singgah ke kota lain seperti Malang dan Yogyakarta, acara tur kemarin juga diisi aksi panggung dari Egon Spengler, Relics, Cotswolds, serta Woodcabin; side project Prabu.

Memilih keluar dari media besar demi kebebasan dalam menulis. Menyukai artikel provokatif, subjektif dan apa adanya ketimbang artikel halus yang menjaga hati target tulisan. Penggila skena punk dan musik-musik berbau 80-an

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya