Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EVENTS

O.M PMR: Band Tua Yang Masih Digemari Anak Muda

Published

on

sunday-market-9

 

Umur boleh saja tua, tapi semangat dan gaya masih tetap muda. Itulah gambaran dari penampilan O.M PMR (Pengantar Minum Racun) minggu (16/8) malam kemarin. Band yang digawangi oleh Jhonny Madumatikutu (vokal), Aji Cetti Bahadursyah (perkusi), Yuri Mahippal (mandolin), Budi Padukone (gitar), Ima Maranaan (bass), dan Hari “Muke Kapur” (mini drum) membuat pengunjung Surabaya Town Square (Sutos) yang didominasi anak muda terhibur dengan lagu-lagu jenakanya.

Padahal, anak-anak muda yang menikmati penampilannya belum lahir saat O.M PMR mencapai kejayaannya pada tahun 1977 hingga 1987. ’’Iki ngerti gak aku nyanyi apa aja?’’ celetuk Jhonny. Tanpa diduga, anak-anak muda yang ada dihadapannya itu tak henti-henti menyanyikan hits-hits single andalan O.M PMR. Diantaranya seperti Judul-judulan, Bintangku Bintangmu, hingga Malam Jum’at Kliwon. Bahkan, beberapa lagu di album barunya yang mengcover band-band indie seperti Efek Rumah Kaca, Naif, Seringai, dan lain-lain pun dinyanyikan dengan kocak.

Apresiasi yang luar biasa dari penontonnya membuat O.M PMR makin semangat. Kurang lebih 10 lagu yang dimainkan, dirasa kurang bagi penontonnya. ’’Sumpah sek iki lagu terakhir, kesel awakku rek,’’ canda Jhonny saat penontonnya meminta O.M PMR tidak mengakhiri penampilannya.

sunday-market-13Tak pelak, pada lagu terakhir yang berjudul Ada Nggak Ada suasana atrium Sutos semakin meriah. Goyangan dangdut para penonton dan nyanyian mereka menandakan O.M PMR masih mempunyai fans yang banyak. ’’Lagi dong om Jhonny, lagi,’’ teriak Irysad Maulana, anak muda yang hadir malam itu.

Irsyad mengatakan sudah lama menanti O.M PMR untuk tampil di Surabaya. dia yang mengaku suka lagu-lagu band yang pernah menjadi pengiring Warkop DKI itu dari orang tuanya. ’’Dulu bapak sering banget muter kaset ini sebelum berangkat kerja, gara-gara itu jadi suka,’’ kenangnya.

Penampilan O.M PMR tersebut merupakan salah satu hiburan yang ada dalam event Sunday Market Vol. 10. Selain O.M PMR, beberapa performance lain seperti Ludruk Kartolo CS, Mondo Gascaro, Wayang Potehi Lima Merpati, Al Irsyad Drum Corps Surabaya, dan Kitseh-Ayren Mayden.

Event yang bertemakan ‘The Big Kampong’ tersebut juga menghadirkan 150 tenan yang menyajikan kuliner dan fashion. Selain itu suasana yang menggambarkan kampung-kampung tua di Surabaya pun disajikan dengan unik dalam event ini. ’’Biar kita bisa menikmati suasana kampung-kampung kecil di Surabaya,’’ ujar Alek Kowalski, project manager Sunday Market.

Foto oleh: Dedi Widianto

Sarjana strata satu jurusan sastra indonesia di Universitas Negeri Surabaya. Penikmat punk yang juga mantan penyiar di stasiun radio campursari.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Gallery: Perayaan Drowning In Sadness War Fighters

Published

on

Perayaan Drowning In Sadness, album pertama War Fighters berlangsung di Rumah Jaman Now (OJN) Surabaya. Kami menangkap beberapa momen bahagia dari hubungan para performer dengan penonton. Alhasil, inilah sajian visual bagi kalian yang tak sempat datang pada pesta perayaan War Fighters.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya