Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Kompleksitas dan Emosional Sajama Cut di Album Hobgoblin

Published

on

Sajama Cut 2015 - 04

Hingga sekarang album Manimal masih menjadi tolok ukur kesuksesan Sajama Cut dalam memperdengarkan karya-karyanya. Namun kini lima tahun berselang mereka pun bersiap merobohkannya dengan album baru berjudul Hobgoblin, sebuah album yang melanjutkan kembali perjalanan band yang dikenal dengan progresi dan dinamika musiknya ini. Bekerjasama dengan Elevation Records, album Hobgoblin dijadwalkan rilis 10 Juni mendatang dengan format CD, kaset, digital dan juga vinyl.

Kompleksitas lirik, musikal, emosional, dan aransemen mendalam masih dijanjikan sebagai suguhan utama mereka. Leader juga multi-instrumentalist Sajama Cut, Marcel Thee menjelaskan bahwa album barunya masih tetap memiliki banyak varian genre, mulai dari rock, pop, punk, ambient, shoegaze, lo-fi dari berbagai era sehingga tidak bisa dirangkum dalam satu kalimat. “Elemen-elemennya begitu banyak, kami mengambil semuanya tanpa terdengar sebagai band fusion yang membosakan dan tidak organik,” jelasnya.

Bloodsport dipilih sebagai single pertama dari album ini. Lagu tersebut memberi kesan emosional pada pendengar yang seakan menentang realita keseharian urban yang tak berhenti melawan kestabilan jiwa. “Seringkali lagu-lagu di album ini berakhir jauh dari titik mulainya – dari chorus yang meluap ke bridge yang meloncat-loncat, ke breakdown yang kembali tenang,” lanjutnya. Bloodsport sendiri dapat di streaming langsung melalui akun Soundcloud Sajama Cut. Berbeda dengan sebelumnya, dalam album yang berisikan 11 lagu ini Marcel mulai meninggalkan gitarnya dan beralih ke instrumen kibor dan synthetizer.

“Setelah Manimal, gue tertarik untuk lompat keluar dari zona aman gitar. Kibor dan synthesizer – instrumen di mana gue minim keahlian sama sekali – menjadi sesuatu yang sangat menarik; instrumen dimana kenaifan dan ‘kebodohan’ gue malah akan memberi kejutan-kejutan baru. Dengan tidak mengenal sama sekali teori atau cara main yang ‘benar’ di instrumen-instrumen tersebut, kita mendapatkan perspektif dan pendekatan yang sama sekali baru. Benang merah emosi dan sense of melody yang khas Sajama Cut tentunya sangat ada – tapi kali ini kita memiliki fondasi lagu yang sedikit lebih kompleks dan secara emosi lebih dewasa lagi,” lanjutnya.

Sedangkan dari segi artistiknya, Sajama Cut menggandeng beberapa seniman, ilustrator, penulis puisi, kolase artist dan fotografer untuk membuat sebuah artbook berisikan interpretasi seluruh materi album Hobgoblin. “Sejak pertama kali Sajama Cut didirikan, lebih dari 10 tahun yang lalu, kami selalu mengaplikasikan pendekatan artistik terhadap musik yang kami buat,” imbuh Marcel yang dalam hal tersebut mengajak beberapa nama seperti Eric Krueger, Dwiputri Pertiwi, Ebes Rasyid, Ivan Timona, Banu Satrio dan masih banyak lagi. Beberapa format album Hobgoblin juga akan memiliki cover yang berbeda-beda.

Bagi band yang dimotori Marcel Thee, Dion Panlima Reza, Hans Citra Patria, Randy Apriza Akbar sendiri, album Hobgoblin merupakan puncak dari penantian sekitar empat tahun mereka. Sajama Cut mulai mereka draft materi pertama sejak 2011 di berbagai studio, mulai dari studio professional hingga home recording. Di tahun 2013 pengerjaan album mulai serius ditambah dengan kontribusi musisi tamu lokal dan internasional sekelas Ken Jenie (Jirapah), Danif Pradana(Sound Creator), Will Long (Celer), dan Catriona Richards.

Sajama Cut - Hobgoblin album coverTracklist:
1. History of Witches
2. Bloodsport
3. The German Abstract
4. Curtains for Euro
5. Beheadings
6. Dinner Companion
7. Fatamorgana
8. House of Pale Actresses
9. Recollecting Instances
10. Compassion
11. Rest Your Head on the Day

 

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

NEWS

Suara Rekah Tentang Fenomena Perisakan dan Perundungan

Published

on

Rekah, kolektif post-hardcore Jakarta yang baru saja melempar klip terbarunya.

Pernahkah kalian mengalami perisakan atau lebih dikenal sebagai bully? Jika pernah, maka kalian tidak sendirian. Unit Post-Hardcore asal Ibukota bersama Hantu Records & Publishing baru saja mengeluarkan karya terbaru berupa video musik dan zine.

Video musik yang disutradari oleh drummer Rekah sendiri, yaitu Johan Junior dan diproduseri oleh vokalis Nonanoskins, Zara Zahrina ini menjadi manifestasi dari pengalaman Faiz Alfaresi (vokalis Rekah) tentang perisakan yang pernah ia alami. Dibintangi juga oleh sang vokalis, video ini mengilustrasikan bagaimana perisakan dan perundungan bisa mendarah daging di ingatan para korbannya.

Video ini diisi dengan gambaran kehidupan seorang pemuda yang terlihat biasa saja sedang memasak mie instan ala anak kost di tanggal tua, menyeduh kopi untuk mencari inspirasi, dan menonton televisi untuk membunuh kebosanan. Dibalik normalnya rutinitas tersebut ternyata terdapat memori buruk yang masih menghantui. Sesekali memori itu muncul ke permukaan dan seakan menjadi nyata. Di sinilah pesan bahwa ingatan tentang pengalaman perisakan dan perundungan itu masih dapat tersimpan dan diingat oleh korbannya.

Sebagai klimaks, di video musik ini disajikan adegan di mana Faiz berada di satu ruangan dan disiksa. Adegan penyiksaan berdarah-darah ini disajikan dengan warna hitam putih seperti scene berdarah-darah yang ditayangkan di televisi agar tidak di permasalahkan KPAI. Di scene ini sepertinya representasi “GULAG” itu dijelaskan, bahwa perisakan dan perundungan yang masih banyak terjadi bisa diindikasikan sebagai “the next GULAG”. Jadi jika jaman dahulu “GULAG” merupakan salah satu sistem birokrasi milik Uni Soviet, sekarang “GULAG” bisa diartikan menjadi fenomena perisakan atau perundungan.

Selain itu, Rekah bersama Hantu Records & Publishing juga merilis zine yang bisa dipesan lewat Instagram @hanturecs. Zine ini memuat beberapa cerita tentang perundungan dan melalui zine ini diharapkan meberikan ruang untuk mengamplifikasi suara para korban. Lewat zine tersebut, kalian juga bisa mengunduh lagu terbaru rekah ini.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

NEWS

Menanti Via Vallen di Jazz Traffic 2018

Published

on

Errol Jonathans (kanan) bersama Nelly Lawson (kiri) ketika sesi prescon Jazz Traffic siang tadi (24/8) di Garden Palace Hotel. (Foto: Adven Wicaksono)

Apa yang ada di benak pikiran kalian saat mendengar nama Via Vallen? irama dangdut koplo? atau malah Marko Simic? Sudahlah, sejenak simpan dulu perspektif kalian tentang penyanyi fenomenal satu ini. Kami pun sempat terkaget-kaget kala Jazz Traffic (JTF) secara ofisial mengumumkan nama tersebut sebagai line up. Surprise! Kami pikir, munculnya Fourtwnty, Lala Karmela atau Sheila On 7 tahun lalu merupakan kejutan luar biasa. Tapi nyatanya, ada yang lebih bombastis. Sebuah pertaruhan nama besar festival tahunan gagasan maestro jazz Bubi Chen!

“Saya mendapat kabar, Via akan memainkan repertoar-repertoar jazz meskipun dia sebenarnya penyanyi dangdut. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri tentang kekayaan pilihan musik di JTF kali ini,” jelas Errol Jonathans, Direktur Utama Suara Surabaya Media sekaligus chairman Jazz Traffic ketika sesi prescon siang tadi (24/8) di Garden Palace Hotel, Surabaya. Benar, di penampilannya nanti, Via Vallen tidak membawakan musiknya selama ini, melainkan sebagai Via Vallen Jazz Traffic Project; sebuah format langka yang digadang-gadang (mungkin) hanya bisa ditemui di festival musik ini.

Dari kiri: Aoki, Rasvan dan Eet Sjaharanie. (Foto: Adven Wicaksono)

Tidak jauh berbeda dengan Via, ada juga kolaborasi antar genre dan generasi yang bakal tersaji selama dua hari pergelaran. Ada Indra Lesmana Project (ILP) yang menawarkan jazz-rock-nya. Lalu Gilang Ramadhan Blue and Eet Sjaharabie Black hingga duo Rasvan Aoki yang akan berkolaborasi bersama penyanyi asal Perancis, Nelly Lawson.

Jadi, pada intinya Jazz Traffic masih dan akan terus membuka perluasan musik jazz melalui banyak hal, salah satunya dengan kolaborasi. JTF membiarkan jazz melebur dengan segala jenis musik, yang toh ujung-ujungnya berdampak positif pada peremajaan penikmat jazz. Secara keseluruhan, ada lebih dari 400 musisi yang akan menampilkan lebih dari 50 pertunjukan dalam 5 stage. Masih padat seperti tahun lalu, dan tentunya megah secara audio dan visual.

 

Teks: Rona Cendera | Foto: Adven Wicaksono

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya