Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

East Ground: Suguhan Kantin Temaram yang Beringas

Published

on

East Ground 02

Puluhan orang datang tanpa peduli mereka gondrong atau tidak, membawa rokok di tangan kanan, kiri atau mengapitnya di sela bibir sudah tidak jadi masalah dan ini juga bukan waktunya membicarakan esensi arak hanya sebagai penghangat. Bersenang-senang intinya, dan Sages Of The Haze Tour Pt. II, sebuah tur dari label Orange Ciliff yang membawa rombongan band cult pekat aroma kabut 70-an hadir di Kantin kecil FIB Unair awal April kemarin (10/4).

Di mulai dari unit eksperimental Heast, duo doom Matiasu dan dedengkot heavy barokah Sigmun duduk di backstage beberapa jam sebelum main. Haikal Azizi, vokalis dan gitaris Sigmun sempat berbincang dengan kami seputar tur dan kapan debut album mereka mengorbit. “Untuk tur udah di beberapa kota, luar negeri juga sudah. Bahkan yang belum justru Jakarta.” ujarnya. Vokalis kharismatik dengan suara melingking ini menambahkan, “Kalau masalah album sih masih proses. Konsep udah ada. Tunggu aja surprisenya ha-ha-ha,” lanjutnya. Baiklah itu beberapa jam sebelum Sigmun menjalankan aksi. Kami membiarkan mereka istirahat sejenak selepas perjalanan Bandung – Surabaya yang melelahkan.

Menuju ke panggung, acara kemarin sebenarnya bertajuk East Ground yang dibuat kolektif oleh beberapa pihak mulai dari BSO Musik Unair, Ronascent, Radioactive-Force, Subnoise dan Takkanmati. Kenapa harus keroyokan? Mungkin karena itu salah satu cara yang diyakini dapat menarik massa banyak tanpa harus merogoh dana atau berafiliasi dengan sponsor. Nyatanya pun begitu, mulai dari penyelenggara hingga band membawa temannya masing-masing, dan itulah yang dinamai guyub. Perkenalan, tukar kartu nama, berbagi arak, rokok, hingga lapak-lapak rilisan fisik menemani temaramnya kantin FIB.

Tampak Hawk, Baragula, Hi Mom!, Relics, Timeless dan Bvas sudah berada di sekeliling stage yang minimalis. Mereka sudah bersiap menjejalkan sejenis kimiawi pada telinga penonton yang hadir. Dalam acara ini yang paling tampak ialah saat kita sudah tak peduli lagi apakah menjadi hype itu penting atau tidak. Berpenampilan lebih rockstar dengan boots Docmart atau pakaian bekas dari thriftstore sudah bukan jadi acuan. Dalam East Ground, musik menjadi musik sebagaimana mestinya—untuk dinikmati tanpa tendensi apapun. Jadi lupakan akun Instagram dan selfie as fuck dengan band; semua lebih menikmati musik dengan caranya masing-masing.

East Ground 03Hawk tampil pertama selepas maghrib, dan pertama pula dengan personil tak lengkap. Distorsinya membunuh, suaranya menggaung; awal menyenangkan setelah band debutan Disorient yang mengacau sebelum break maghrib. Selanjutnya Baragula, mereka ampuh begitu saja bermain coldwave. Musik yang unik; teman menenggak aspirin sambil melamunkan jalan raya yang lengang. Penampilan daya kejut datang dari Relics menjelang malam tapi belum malam-malam benar, kelompok hardcore asal Sidoarjo ini meraung-raung seakan menjadi paradoks dari Baragula. Suasananya panas dan kacau; moshpit, pengaruh alkohol, mic rusak hingga sound out yang sempat mati sejenak. Tapi tidak ada alasan untuk berhenti, justru pesta yang sebenarnya baru dimulai.

Malam semakin larut, dingin terasa samar dengan balutan keringat. Bvas tampil dengan agresinya. Nomor-nomor seperti Rima Berbisa, Naluri dan Ilustrasi Berhala Dunia dibawakan, tidak lupa satu lagu cover milik Klepto Opera, Dandellion yang selalu dinanti-nanti. Kemudian Timeless, menonton band ini tidak buang-buang waktu. Meski sisa tenaga terkuras sedangkan kantin sudah tutup dan persediaan air mineral terbatas, tetap saja penonton tidak bisa diam. Nomor-nomor di album perdana We Believe For What We Do Is Timeless seperti Cold Summer sampai Reminisce dibawakan sama persis dengan rekamannya. Gitaris mereka Fajri patut diacungi jempol, penampilannya atraktif meski sedikit fail. Melompat ke penonton hingga gitar yang melukai kepalanya sendiri; semuanya dilalui dengan Haha-hehe, wajar bila kemudian mereka hanya bermain dengan satu gitar di beberapa lagu setelahnya. Hadir juga Hi Mom!, mereka membuat kita berpikir lebih serius untuk memaknai liriknya. Salah satu daya tarik di East Ground, sebab belakangan ini Hi Mom! cukup jarang manggung.

Heast, Sigmun dan Matiasu Memberi Klimaks yang Maksimal

Mari memasuki hal yang sudah kita tunggu-tunggu. Empat orang asal Jakarta ini mengajak kita melamun mengawasi kejeniusan mereka—apalagi si vokalis-gitaris yang begitu eksploratif dengan banyak efek yang diputar-injak. Mereka adalah Heast, yang membuat rock menjadi sejenis logam panas, dipadu dengan distorsi kimiawi dan sedikit hitungan rumus. Penonton pun menghitung rumus dari eksperimen Heast dan hasilnya adalah anggukan kepala mengikuti tempo. Tidak berat-berat juga tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat terbang. Dari jarak kurang lebih satu meter dari Heast, kami merasakan ada atmosfer kelabu yang menyeruak. Bukan asap rokok bukan pula knalpot. Kedalaman Heast saat membawakan lagunya ibarat menciptakan awan yang paling gelap di stage. Suguhan menarik.

East Ground SigmunKita tahu Heast sebenarnya adalah gerbang bagi penampil selanjutnya. Dengan hanya tiga orang—minus si gitaris Nurachman Andika yang berhalangan hadir, Sigmun sudah bersiap mencampurkan zat psychedelic, stoner, Sabbath, Floyd, efek tua, batu Saturnus, Mekkah, lebah gurun, badai padang pasir: kami sendiri justru kesulitan mendefiniskan Sigmun. Seperti rumitnya teori bapak psikologi Sigmund Freud. Land Of The Living Dead menyeruak tajam menusuk. Musik Sigmun tak membuat kita terlihat keren, justru membuat kita lebih wise dan menikmati indahnya perjalanan menjadi tua. Tapi tak ada yang peduli disini, semua terpaku pada apa yang sedang terjadi.

Meski suara Haikal agak tenggelam oleh atmosfir musiknya tapi dari jauh pun kita bisa lihat si vokalis ini sedang menghayati perannya secara serius dan total. Memunculkan Bones yang menderu. Mencopoti tulang-belulang satu persatu. Sigmun menunjukkan kejeniusan mereka sebagai band dengan sound yang sebegitu mumpuni. Valley Of Dream meluncur tanpa sambutan dari pit—karena memang sambutan seperti inilah yang diperlukan; diam dan menghayati. Suara Haikal lagi-lagi menampilkan totalitas prima. Tak hanya Haikal, bassist Mirfak Prabowo dan drummer Pratama Kusuma Putra mengimbanginya dengan ketukan-ketukan primitif nan anggun. Dan outro yang terbaik dari Sigmun berdengung: melawan tata-surya, menubruki meteor. Tiba-tiba tempo menaik lima kali lipat dan ditambah lima kali lipat lagi jelang akhir lagu. Menurun lagi dan kita resmi mabuk—apalagi arak yang disediakan sesi konsumsi acara cukup ampuh.

East Ground MatiasuSebagai penutup, Sigmun mempersembahkan sesuatu yang sepertinya akan sulit sekali dilupakan meski mereka cukup pendiam tidak banyak berinteraksi atau bercakap dengan penonton. Dari album Cerebro, inilah The Long Haul; dengan gubahan sana-sini di akhir lagu yang ternyata merupakan improvisasi cemerlang: menakutkan. Musiknya begitu monoton, berat, kotor, lambat, panas. Menderu bak badai gurun mematikan. Sigmun memungkasi lagu ini dengan eksperimen gila, kami lagi-lagi sulit mendeskripsikannya, pastinya feeling yang didapat amat sangat spiritual.

Selanjutnya adalah Matiasu. Inilah penutup yang paling mematikan diantara semuanya, meski hanya dua orang yang terlibat dalam konsep stoner rock murni ini. Drum berat dan lambat, distorsi kasar dan kotor. Nomor-nomor dari album Doom Dance seperti Cult Of Serpent sampai Doom Dance dibawakan tanpa tersadari waktu telah memasuki dini hari, Jumat-pun berlalu berganti Sabtu. Sayangnya pergelaran ini harus berakhir: rombongan Sages Of The Haze Tour Pt.II langsung bertolak ke Bali dan secepatnya menuntaskan tur. Surabaya sudah aman bung, terima kasih kunjungannya!

Foto: Febri, Javiar Suryana & Rido Ramadhan

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

The 41st Jazz Goes to Campus: Kejayaan Musik Jazz Masih Dimulai Dari Kampus

Published

on

Jika menengok kembali sejarah musik jazz di Indonesia, dunia kampus memang berperan penting dalam perkembangan musik ini. Salah satunya adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Lewat Jazz Goes to Campus, musik jazz bisa dikenal dan mendapat tempat tersendiri di telinga mahasiswa. Tahun ini, JGTC sudah memasuki tahun ke-41. Sebuah perjalanan yang tak singkat memang. Konsistensi JGTC dalam menghadirkan sajian musik jazz yang segar mampu membuat acara ini bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Minggu, 2 Desember 2018, 41stJazz Goes to Campus yang mengusung tema“Bring The Jazz On” kembali digelar di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, JGTC selalu berhasil menyedot animo yang luar biasa. Sejak pukul 12.30 antrean sudah mulai penuh sesak untuk memasuki kawasan acara. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dan dibuka oleh penampilan dari beberapa band kampus dan pemenang JGTC Band Competition.

Menjelang sore, penonton mulai memadati Sprite Stage untuk menyaksikan Maliq & D’Essentials. Antusiasme penonton sangat liar sore itu. Sprite Stage penuh sesak dengan penonton yang ingin menyaksikan Maliq & D’Essentials. Membawakan tembang-tembang hits seperti Dia dan Untitled, Maliq & D’Essentials sukses memanaskan sore yang mendung kemarin. Bergeser ke Kopiko Stage, grup musik parodi asal Bandung, Project Pop juga mampu menyedot animo penonton yang ingin bernostalgia dengan lagu-lagu lawas mereka. Track andalan seperti Gara-gara Kahitna, Metal vs. Dugem, dan Ingatlah Hari Ini sukses membuat penonton bernyanyi bersama. Disela-sela lagu lama yang nangkring di setlists, Project Pop juga sempat membawakan lagubaru yang berjudul Coconut dan sukses mengajak penonton untuk bergoyang bersama.

Menjelang maghrib, JGTC sempat diguyur hujan yang cukup deras dan sempat membuat penonton yang tidak membawa jas hujan kocar-kacir mencari tempat berteduh. Untungnya hujan tidak berlangsung lama, karena di Indofood Stage, Vira Talisa sudah bersiap untuk menghangatkan malam setelah hujan. Walaupun tidak terlalu ramai, karena banyak penonton yang sudah memenuhi Kopiko Stage untuk menunggu Boyzlife, set Vira Talisa malam itu tetap syahdu. Pindah ke Kopiko Stage, Boyzlife dengan mudahnya membuat para penonton histeris. Hanya bermodalkan rekaman lawas lagu-lagu Boyzone dan Westlife, Keith Duffy dan Brian McFadden sukses berkaraoke bersama penonton. Set yang minimalis, tanpa band pengiring, dan hanya bermodal rekaman minus one membuat Boyzlife tidak memiliki daya tarik yang lebih selain hanya lagu-lagu hits lawas mantan boyband mereka dulu.

Kembali ke Sprite Stage, kali ini giliran Glenn Fredly yang menghangatkan malam para pecinta jazz di JGTC. Penuh dan lantang. Begitulah kira-kira gambaran crowd yang menonton Glenn Fredly kemarin. Dari awal set hingga akhir, semua penonton sangat kompak menyanyikan lagu-lagu Glenn Fredly. Terlebih lagi ketika lagu Terserah, koor massal yang gila bisa terdengar dari depan hingga belakang. Dan di panggung yang sama sebagai penutup JGTC, Reza Artamevia juga berhasil membawa para penonton bernostalgia dengan tembang-tembang lawas miliknya. Walaupun sudah tak muda lagi, Reza tetap energik dan interaktif dengan penonton JGTC.

Dengan tema yang diusung, pagelaran JGTC tahun ini cukup sukses membawa kembali musik jazz. Bermodal track record yang bagus JGTC menjadi salah satu festival jazz yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Seperti apakah kejutan JGTC tahun depan. We’ll see!

 

Teks: Agita Bela | Foto:  Adrian Daniarsyah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Impresional Made J Music di Launching Album Tiger Blood

Published

on

Akhir pekan kemarin (28/11), Gimme Shelter mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi Made J Music yang baru saja merilis album barunya berisikan 12 materi baru dengan titel Tiger Blood. Launching party ini turut menghadirkan kolaborasi serta perform dari beberapa musisi lain seperti  The Dissland, The Hydrant, dan The Eastbay. 

a free soul sun chaser who’s addict to experiment something beyond . Adore nature’s living material. Get her some food and no one’s hurt

Continue Reading

EVENTS

Super Generation Fest 2018: Kehangatan Shoegaze Memecah Dinginnya Bandung

Published

on

Tanggal 24 November mungkin menjadi hari yang paling dinanti shoegazer dan “sobat indie” Indonesia. Band shoegaze legendaris asal Britania Raya, RIDE dan band shoegaze asal New York, DIIV didaulat menjadi line-up utama di Super Generation Fest 2018 di Eldorado Dome, Lembang, Bandung.

Super Generation Fest 2018 bisa dibilang sebagai event musik irit line-up. Praktis hanya empat band yang nangkring di list pengisi acara. Namun dengan nama besar seperti RIDE dan DIIV sudah bias dipastikan animo penonton akan gila. Apalagi dengan harga tiket yang terhitung murah untuk band sekelas RIDE dan DIIV. Terbukti, antrean penukaran tiket sudah terlihat memanjang di sore hari. Ya walaupun sudah diumumkan bahwa show dimulai pukul tujuh malam, namun sejak sore sudah banyak penonton yang datang; sebuah capaian positif tentunya.

Pukul 19.30 WIB show dimulai. Dibuka oleh kolektif post-rock asal Bandung, Under The Big Bright Yellow Sun yang mampu memanaskan suasana. Kurang lebih tujuh track dibawakan UTBBYS malam itu. Cukup singkat memang, namun UTBBYS mampu membayarnya dengan penampilan yang apik. Setelah UTBBYS, band beraliran elektronik asal Bandung, Rock N Roll Mafia menjadi penampil selanjutnya. Hmmm, cukup awkward dan kurang pas memang jika band beraliran elektronik di daulat menjadi band pembuka. Terbukti crowd ketika RNRM tampil tidak begitu antusias. Hanya segelintir orang yang ikut berdansa dan bergumam. Agaknya kurang worth it jika melihat waktu yang termakan cukup lama untuk menyiapkan lighting khas RNRM dan sound yang terdengar kurang bersih.

Setelah RNRM selesai, seketika barisan shoegazer usia muda maju untuk menyambut DIIV. Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, akhirnya DIIV memulai penampilan pertama mereka di Indonesia. Riuh penonton yang semangat tak terbayar di awal penampilan. Di tiga lagu awal, technical error menghiasi set DIIV namun akhirnya bisa diatasi. Mencoba membayar kesalahan di awal, Zach dkk membawakan tembang lawas Follow yang membuat penonton mulai bernyanyi bersama. Atmosfer mulai memanas ketika lagu Dopamine dibawakan. Kerumunan yang awalnya hanya head-banging akhirnya menghasilkan crowd-surf menyenangkan dan gila. Hampir di semua lagu lama seperti Under the Sun, Dust, dan Doused mampu mebuat penonton bercrowd-surf ria. Namun di sela-sela lagu lama yang dinantikan ternyata lebih banyak lagu baru yang dibawakan DIIV. Ini yang membuat penampilan DIIV menjadi kurang bertenaga. Penantian panjang penonton yang ingin mendengar track-track andalan di album Oshin ataupun Is The Is Are akhirnya tidak terbayarkan. Malah terkesan seperti sesi latihan untuk album baru DIIV. Ditambah attitude dan interaksi dari Zach yang kurang enak membuat set DIIV jadi cringe.

Dan akhirnya giliran sang legenda untuk naik panggung. Seketika pergantian penonton terlihat dengan jelas. Barisan shoegazer senior langsung memadati ruangan. Di buka dengan LannoyPoint, penonton sudah mulai ikut bernyanyi bersama. Track kedua, masih dari album terbaru RIDE, Charm Assault kembali memanaskan suasana. Disusul dengan track ketiga, Seagull yang diambil dari album Nowhere seketika membuat penonton bergemuruh dan bernyanyi bersama. “Haturnuhun”, ucap Mark Gardener setelah menyanyikan lagu ketiga. Penonton semakin dibuat menggila dengan lagu-lagu lawas andalan yang dibawakan seperti Leave Them All Behind, OX4, dan puncaknya Vapour Trail yang menjadi senjata pamungkas RIDE untuk membuat penonton bernyanyi semakin keras. Tidak seru jika tidak ada encore. Sebelum memainkan Drive Blind sebagai encore, RIDE sempat memainkan musik instrumental yang cukup panjang dan berinteraksi dengan penonton. Set RIDE yang sempurna akhirnya ditutup dengan lagu Chelsea Girl. Total RIDE membawakan 16 lagu dengan mulus dan fantastis. Jika ditanya apakah worth it? Jawabannya SANGAT WORTH IT! Bagi para shoegazer mungkin Super Generation Fest 2018 merupakan event musik terbaik tahun ini di Indonesia. Jika tahun ini sudah bias mendatangkan RIDE dan DIIV, apakah tahun depan bisa mendatangkan band shoegaze lain seperti My Bloody Valentine dan Slowdive? Well, kita tunggu saja.

Teks: Agita Bela Hakiki | Foto: Arina Habaidillah

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya