Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Bagaimana Blink 182 Bertahan Tanpa Tom Delonge?

Published

on

Blink 182

Kabar buruk datang dari trio rusuh Blink 182. Frontman sekaligus mesin band Tom Delonge resmi dipecat setelah melewati berbagai huru-hara yang terjadi bahkan sejak era Dogs Eating Dogs—EP mereka yang tak bagus-bagus amat. Dan, setelah bangkit dari ketepurukan serta mempersembahkan Neighboorhoods yang sejujurnya cukup segar; Blink 182 kembali tidak dapat menahan gejolak ego.

Ini adalah cerita tentang bagaimana persahabatan band pop punk dari sebuah garasi busuk yang akhirnya menjadi renggang dan saling berseteru setelah mencapai hall of fame dan kaya raya. Kegelisahan besar mulai terjadi, mulai dari para pemakai Macbeth; maniak Famous; gadis-gadis yang histeris dengan klip What’s My Age Again; dan semua orang yang merasa hidupnya tak sama lagi setelah mendengar kabar tersebut; tentu mereka akan bertanya, bagaimana kelanjutan Blink 182 setelah ini?

Ada banyak kesimpangsiuran yang terjadi. Tom Delonge vs Mark Hoppus dan Travis Barker. Bila kita maniak portal berita musik, versi yang dilontarkan kedua kubu saling berlawanan, seringkali menjatuhkan. Kami pun tidak membela kubu manapun; kami hanya membela Blink 182. Dan kehadiran Matt Skiba, Matt Shadows, Matt Bellamy atau siapapun itu sebenarnya juga tak mengubah apapun. Blink 182 sebenarnya telah tiada tepat setelah Tom dipecat, dan jadi akhir yang menyedihkan. Hilang sudah sebuah band yang lagunya sempat menjadi list wajib kala jamming; teman belajar merokok di toilet sekolah; band yang mengajari bagaimana memakai celana pendek dan topi terbalik bisa sekeren itu; Blink 182 sudah sepantasnya menjadi kenangan.

Alasan pemecatan Tom Delonge—seperti yang dijelaskan dari awal—sesungguhnya masih simpang siur. Sebenarnya tidak terlalu penting bagi kami untuk memperjelas, namun yang semua orang tahu bahwa berbagai proyek futuristik Tom macam Angels And Airwaves juga turut berpengaruh dalam perpecahan ini. Proyek bagus yang menunjukkan jatidiri Tom sebagai musisi yang luwes dan jenius; dan dengan ini ia harus mengorbankan Blink 182.

blink_182_Matt_SkibaKelanjutan Blink 182 yang paling baru mungkin dapat diamati lewat YouTube. Ada rasa penasaran yang membuat kita ingin mengetahui bagaimana Blink tanpa Tom. Bagaimana Matt Skiba akan mampu menghadirkan kembali semangat ugal-ugalan yang dirintis Mark dan kawan-kawan. Bagaimana Blink 182, sebagai juru bicara generasi pop punk mainstream akan bisa bertahan dari ketepurukannya.

Hanya ada dua pilihan: Blink 182 dengan Matt Skiba sudah seharusnya mencari nama baru. Seperti yang kita tahu, bahwa Blink 182 sudah bukan Blink 182 lagi sepeninggal Tom—karena sekali lagi, cukup sulit menggantikan posisi Tom yang sudah mengakar kuat sebagai signature band yang muncul di era awal 90an itu. Atau pilihan kedua ada di pundak Matt Skiba, sepesimis apapun para penggemar fanatik, Matt memang seharusnya mampu menyamai atau bahkan melebihi kapasitas Tom sebagai mesin dari band. Kita semua tahu reputasi Matt Skiba; punk rocker Alkaline Trio yang memang punya kharisma berbeda dengan Tom. Semua tentu mampu menilai secara subjektif. Dan kami mencoba melihat dari sudut pandang seobjektif mungkin.

Sebelum resmi pecah, Blink 182 sempat merilis album Neighborhood—sebuah album penuh yang sebenarnya muncul pasca hiatusnya mereka lima tahun silam. Albumnya terasa jauh lebih matang dari segi apapun: sound, musikalitas, lirik dan bahkan chemistry antara Mark, Tom dan Travis sudah begitu kuat. Simak Natives; ini adalah pop punk murni yang menunjukkan kapasitas Tom dan Mark sebagai salah satu rekan duet terhebat dalam sejarah punk. Vokal yang saling mengisi; Tom di awal, Mark di refrain, membuat kita tidak percaya; bagaimana chemistry yang sudah begitu kuat akhirnya pecah beberapa tahun  setelahnya. Atau dalam Even If She Falls, lagu penutup yang menunjukan letak keistimewaan Tom, baik dalam riff gitar maupun kekuatan vokal. Sulit berpikir Tom akan digantikan oleh Skiba yang masih tertatih saat membawakan Down beberapa pekan lalu.

Tapi perputaran itu pasti terjadi, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jika memang Blink 182 tetap lanjut sebagai trio punk, maka butuh waktu untuk terbiasa mendengar lagu-lagu mereka tanpa suara tenor nan fals yang sudah melekat, sebab gaya vokal Matt Skiba jelas begitu rapih ketimbang Tom Delonge. Namun jika Blink 182 harus bubar (lagi), mungkin album Greatest Hits bagian 2 akan muncul dalam beberapa waktu ke depan. Tentunya di luar hits-hits macam The Rock Show, I Miss You, Stay Together For The Kids, hingga All The Small Things, atau tracklist andalan lainnya. Kenapa? karena Blink sudah tak sanggup menjadi seperti apa yang selalu mereka teriakkan dalam First Date: “Forever and never, let’s make it’s last forever”.

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya