Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Trendy Bangsat: Panggung Underground yang Tergilas Setelah 15 Tahun

Published

on

Trendy Bangsat (sumber: Youtube)

Kilas balik dan mundur 15 tahun dari sekarang. Kala itu scene punk terlihat aktif, di saat bersamaan dari lingkaran underground dengan pesat bermunculan kolektif metal extreme yang di dominasi death metal hingga black metal. Kegiatan rutin mingguan di huni gig demi gig, media cetak berusia singkat dan terbatas, Studio Inferno sampai munculnya No Label Records. 15 tahun silam, tepatnya tahun 2000 skena musik di Surabaya sedang bergerliya.

Atmosfer underground berotasi cepat, di saat itu pula muncul titik jenuh terhadap sajian banyak gig yang hampir berkonsep serupa. Pada fase itu pula Trendy Bangsat muncul dan membawa propaganda bertajuk ‘Surabaya Underground Festival’; sebuah festival skala medium dengan sajian puluhan band berdurasi semalam suntuk. Ya, tepat pada 18 Maret 2000, konon acara musik kontroversi itu memulai edisi perdananya yang bertempatkan di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya.

Impiety, band black metal legendaris asal Singapura menjadi salah satu performer yang tampil di Trendy Bangsat (TB) #1. Hitam pekat, penuh adrenalin, berkeringat, distorsi gahar hingga ritual satanis jadi tajuk paling hits kala itu. Impiety yang hingga sekarang masih aktif pun tepat sasaran tampil di sana, pasalnya TB memang merangkul genre black metal dan sejenisnya. “Untuk yang kedua kalinya kami (Impiety,red) tampil di Indonesia, di salah satu tempat megah di Surabaya dengan ratusan penonton beratribut lengkap,” tulis Impiety dalam situsnya yang menyertai galeri foto penampilannya di TB. Saat itu mereka membawakan lagu-lagu andalannya seperti Nocturnized, Diabolical Witching Aggression, dan Lords of Apokalypse.

Ialah DRY beserta beberapa pentolannya yang jadi sosok di balik munculnya Trendy Bangsat. Kata ‘trendy’ sendiri kerap kali melekat pada musik-musik mainstream ABG saat itu. Erick, personil DRY mentransformasikan kata tersebut menjadi hajatan panggung metal yang rutin digelar meski dengan statistik naik-turun serta jadwal yang angin-anginan.

Impiety saat tampil di Trendy Bangsat #1 (sumber: mightyimpiety.com)

Namanya yang frontal berimbas dengan enggannya sponsor merapat. Alhasil, para panitia TB-pun harus memakai sistem kolektif yang di mana kucuran dana banyak meluncur dari uang pribadi, support, penjualan merch hingga registrasi band. Semua dilakukan serba mandiri walaupun jauh dari kata eksklusif. Meski begitu, Erick atau yang biasa dikenal sebagai Morgan beserta rekan-rekannya melalui Trendy Bangsat tidak pernah berhenti mengibarkan bendera underground di Surabaya apapun keadaannya selama hampir dua dasawarsa.

Trendy Bangsat menuai kesuksesan di awal. Konsepnya masih fresh dan berhasil menyedot banyak penonton hingga band yang berebut ingin tampil meskipun harus bayar untuk main pagi, bahkan inden untuk beberapa edisi ke dapan. Sayangnya momentum itu cuma bertahan di dua edisi awal (2000­-2001), setelah itu TB sempat vakum.

Empat tahun menghilang, per-2006 mereka pun kembali. Dengan konsep yang tidak berbeda jauh namun sedikit lebih matang, Trendy Bangsat yang sedianya dibuat tahunan menjadi tak teratur, bahkan pada 2009 event ini digelar sebanyak lima kali. Mulai dari GOR Pancasila, THR, UBHARA, Gedung Srimulat hingga UNMER secara bergantian pernah menjadi venue event yang makin hari kian mengalami penurunan kualitas ini. Kebijakan band regis lalu share tiket, pembatasan genre, lebih dari 20 band berdurasi non stop sejak pagi hingga malam, sampai venue yang berpindah­-pindah beberapa hari sebelum acara; semuanya melekat sebagai pemikiran TB yang mulai bergulir kembali di tahun 2006.

Konservatif dan Kontroversi yang Berakhir di Konser Balas Dendam

Trendy Bangsat #26 (11 Januari 2014)Setelah melewati berbagai gejolak, ekspektasi hingga kontroversi, Trendy Bangsat yang tampak kian usang termakan jaman akhirnya menempuh bagian ke 26-nya tahun lalu. ‘Konser Balas Dendam’, begitulah titel pada pamflet yang seharusnya digelar 11 Januari 2014. Sayangnya beberapa kendala harus menggagalkan gelaran tersebut. Berbagai kabar negatif bermunculan hingga akhirnya Trendy Bangsat #26 pun berhenti dan masih tanda tanya kontinuitasnya.

Melihat rekam jejaknya, tradisi metal konservatif banyak tumbuh dengan festival yang satu ini. Tidak sedikit juga band yang muncul dan loyal manggung di sana. 15 tahun bukan usia singkat, konsistensinya banyak diakui beberapa pelaku musik underground Surabaya. “Biarpun dari segi produksi TB bukan tergolong acara besar, tapi konsistensi mereka selama bertahun-tahun patut diapresiasi,” ujar pentolan dari GAS dan Tengkorak, Samir. Dalam pengamatannya, Trendy Bangsat merupakan satu-satunya event metal yang berlangsung cukup panjang bahkan bisa dibilang tertua.

Dari segi band, hampir semua kolektif bawah tanah Kota Pahlawan pernah merasakan sensasi tampil di Trendy Bangsat. Begitu juga band luar kota seperti Jasad, Siksa Kubur, Bleeding Corpse, Boikot, Serigala Malam, Vision Eyes dan Criminal Vagina pernah menjadi headliner bersama band-band lokal Surabaya baik tua ataupun muda. Trendy Bangsat dengan konsisten terus hadir walau atmosfer metal lemah tak bergairah.

Meski belum menyandang sebagai festival terbesar di Surabaya, tapi 25 kali berlangsung setidaknya Trendy Bangsat sudah turut berkontribusi dalam perkembangan scene underground di Kota Pahlawan. Selepas tajuk ‘Sebelas Menggilas’ dan ‘Dua Belas Beringas’, di edisi ke-20 dan 24, mungkin sekarang saatnya TB mendapat titel ‘Lima Belas Tergilas’ melihat banyaknya event underground dengan skala yang lebih besar dan konseptual bermunculan; semoga saja kedepannya Trendy Bangsat bisa digelar kembali dengan konsep yang lebih matang dan adaptif tentunya.

Rekam Jejak Trendy Bangsat:
2000 | Trendy Bangsat Part – 1
2001 | Trendy Bangsat Part – 2
2006 | Trendy Bangsat Part – 3, 4, 5
2007 | Trendy Bangsat Part – 6
2008 | Trendy Bangsat Part – 7, 8, 9, 10
2009 | Trendy Bangsat Part – 11, 12, 13, 14, 15
2010 | Trendy Bangsat Part – 16, 17, 18, 19
2011 | Trendy Bangsat Part – 20, 21, 22, 23
2012 | Trendy Bangsat Part – 24, 25
2014 | Trendy Bangsat Part – 26 (Batal)

Foto: Youtube & Impiety

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
2 Comments

2 Comments

  1. oakley sunglasses cheap

    29 September 2015 at 09:47

    Saved as a favorite, І like your web site!

  2. Edward Sulaiman

    7 October 2015 at 00:35

    Keren artikelnya, jgn sampe luput hal2 kek gini. Gimanapun juga ini rekam jejak musik surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya