Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Peluncuran Album Yang Meriah Ala Heavy Monster

Published

on

Heavy Monster Launching (Rido) 01

Sebagai salah satu band senior di Surabaya, kemunculan album JPK dari Heavy Monster rasanya begitu dinanti untuk meregenerasi single-single seperti Paperboy, Andai (Ku Datang Lebih Cepat) atau One Message One Love. Lagipula, ini adalah album ketiga Heavy Monster, album penanda eksistensi mereka di usianya yang ke-17. Tidak ada yang tak berdansa kala mereka di atas panggung, apapun lagunya, irama mereka sudah menjadi ciri khas kejayaan Ska di Surabaya.

Atmosfer macam itu nampak kala launching album JPK yang bertempatkan di Atrium Surabaya Town Square (Sutos) minggu malam (1/2). Rasanya pecah ketika waktu menunjukan pukul 8 malam yang diiringi dengan masuknya satu per satu anggota Heavy Monster. Lupakan suasana pensi yang hanya dipenuhi remaja, kemarin semuanya pun berkumpul membaur segala usia dan kalangan untuk memberi hormat pada lahirnya album ketiga Heavy Monster.

Heavy Monster Launching (Rido) 02

“Kami tidak tertarik dengan industri besar, kami sangat tertarik untuk membesarkan surabaya sebagai kota dengan scene yang lebih menyeramkan dari Jakarta dan kota-kota lainnya,” sapa Hermawansyah, vokalis Heavy Monster selepas lagu kedua Hutan Beton. Tidak jauh berbeda dengan kolega seangkatannya Devadata, Blingsatan atau Crucial Conflict, pernyataan tadi sekaligus menjawab pertanyaan mengapa band-band Surabaya terkesan stagnan dan menang kandang. Heavy Monster mempertegas bahwa kemajuan scene kota kelahirannya lebih penting ketimbang nama bandnya.

Malam itu Heavy Monster benar-benar menjadi tuan rumah, total 29 lagu mereka bawakan dan tidak ada kata canggung. Semua sing along menandakan bahwa lagu-lagu yang dibawakan memang sudah di luar kepala, termasuk single terbarunya Maaf. Penampilan Harmawansyah dkk makin meriah kala mengundang rekan-rekannya untuk berduet. Mulai dari Anandra (The Ska Banton) yang membawakan Body & Soul dan lagu cover dari Frank Sinatra, Mood For Love. Lalu juga ada Eki Tresnowening (Silampukau) dengan dua lagu, Andai (Ku Datang Lebih Cepat) dan Kumenani Seorang Kekasih milik Iwan Fals. Tak ketinggalan pentolan Begundal Lowokwaru, Cipeng yang datang dari Malang juga menampilkan dua lagu, Tonight dan Equality.

Penampilan mereka kian memanas kala Aoki dari Rasvan Aoki membawakan Dan Semua Indah serta cover dari Ego Wrappin, A Love Song bersama Heavy Monster hingga vokalis band rock My Mother Is Hero, Yasser menutup setlist panjang Heavy Monster dengan lagu andalan One Message One Love dan Is This Love milik Bob Marley & The Wailers. Pesta kolektif Heavy Monster benar-benar menggugah selera, kali ini Atrium Surabaya Town Square yang biasanya ramai berkat penampilan band luar kota kemarin kembali ramai bahkan lebih dari biasanya.

Foto oleh: Rido Ramadhan

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Redaksi Ronascent

    20 February 2015 at 00:55

    Testing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Gastronout; Menggiring Pegiat Kreatif Sidoarjo Untuk Produktif (Lagi)

Published

on

Penampilan Silampukau di Gastronout. (Dok. AAA)

Selama setahun ke belakang, Sidoarjo terus berbenah. Mempercantik tiap sudut kota dengan taman hingga tempat hiburan. Baru-baru ini malah toko ofisial milik klub sepakbola Persebaya muncul di pusat keramaian kota Udang. Selain itu, dibangunnya mall dengan signature rollercoaster yang menembus kaca ruangan juga punya andil memadatkan salah satu kota Industri di Jawa Timur tersebut. Alhasil, Sidoarjo makin ramai, namun apakah industri kreatif-nya juga demikian?

Ya, mungkin banyak yang bertanya pada ke mana kehidupan seni di Sidoarjo? Coba mengerucut ke musik. Ke mana nama-nama seperti Relics, Remaja Tanpa Cinta, Pingpongdash, Mahkota Jaya Abadi, The Shantoso, Zombie vs Plants, Westfall, atau Dracula Omnivora? Beberapa mungkin memang sudah istirahat dengan tenang, namun ada diantaranya yang masih menggantung tanpa arah. Beberapa waktu silam kami juga sempat menyaksikan gig dari band-band grunge Sidoarjo di JJ Park, yang sayangnya tempat itu sudah ditutup.

Sampai di pekan lalu (13-15 Juli), sebuah acara bertajuk Gastronout digelar di Cannopi; kafe yang berada juga di pusat Sidoarjo tampak menyedot banyak muda-mudi setempat. Tidak kaget memang, pasalnya ada nama Silampukau di sana. Band yang sukses menarik perhatian penyuka folk itu berkesempatan tampil untuk kesekian kalinya di Sidoarjo. Hadir juga The Suku Dalu, pemain lama di skena kota tersebut. Kafe yang seharusnya minimalis pun terlihat sesak. Begitupun keesokan harinya, takkala dua band Malang; Young Savages dan Beeswax berbagi panggung dengan dua band Surabaya; Humi Dumi dan Cotswolds.

Selain pertunjukan musik, terdapat juga aktivitas cukil serta beberapa aktivitas lainnya. (Dok. AAA)

Gastronout sendiri merupakan event yang diinisiasi oleh AAA (Andasih; Alangen; Adamar). Kalau tidak salah, dalam Bahasa Jawa, ketiga kosa kata itu merujuk pada makna mengabdi dan bersenang-senang. Sejak Mei kemarin, AAA mulai membuat pergerakan kecil yang dinamai Palapa. Bukan sekadar pertunjukan musik, tapi juga berbagi ilmu serta pengalaman, mengadakan pameran, hingga workshop dalam satu acara.

Dan Gastronout sendiri ialah event ketiga mereka. Gastronout pun bukan sembarang nama. Kata ini jika dipenggal memiliki dua fonem; yakni Gas sebagai aksen atau kata yang biasanya digunakan untuk mengiyakan, “ayo budal nang sumur welot? gas, budal tok!”. Sementara astronout, tentu memaknai tentang menjelajah jauh melewati batas. Terendus sebercak aroma movement yang tulus dari anak-anak di kota ini. Meskipun di beberapa event ini mereka mendapat dukungan sponsor, tidak menutup kemungkinan ke depannya mereka berani berdiri mandiri meskipun dengan dana seadanya. Memang sudah seperlunya industri kreatif di Sidoarjo mulai mengikuti perkembangan kotanya yang kian maju dan terus berbenah. Mungkin, kolektif AAA inilah insiator barunya, menggiring para pegiat di kota ini untuk kembali produktif.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EVENTS

Gallery: Patua Youth Crew #4

Published

on

Weekend yang padat. Tim kami harus berbagi waktu dan tempat untuk meliput event-event di Surabaya selama Sabtu dan Minggu kemarin. Salah satunya reunian keempat dari gerombolan Patua Youth Crew yang digelar hari Sabtu kemarin (14/7) di Monkasel. Padatnya line up yang diangkat berdampak pada minimnya menit tampil tiap band. Tapi tetap saja, yang namanya reunian tidak pernah luput dari temu kangen. Dan itu membuat penonton ‘baru’ terlihat linglung, kemudian memilih peduli setan untuk larut saja ke dalam mosphit.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EVENTS

Silaturockme: Forum Dua Arah Antara Musisi & Media

Published

on

Forum yang mempertemukan antara musisi dan media, kini bukan lagi makanan langka. Apalagi jika membahas hal paling mendasar; tentang bagaimana di publish dan apa saja syaratnya? “Kene goblok-goblokan ae yo, cek podo takok. Mene gak ngisin-ngisini lek ketemu wong media (Kita di sini goblok-goblokan aja ya. Biar pada tanya semua, besok gak malu-maluin kalo ketemu orang media,red)” celetuk Abas, selaku host yang berduet dengan Cak Boker.

Diskusi bertajuk ‘Silaturockme’ yang digelar pekan lalu (1/7) di P-Two Cafe tersebut melibatkan Brian dari Vojo Music, Ian Darmawan (Ronascent), dan Wira (Apresiasi ID & M-Radio). Ketiganya saling berbagi pengalaman mereka ketika menemui berbagai macam musisi. Adapun forum tersebut berjalan dua arah dengan banyaknya pertanyaan silih berganti. Setelah diskusi, acara berlanjut ke gigs, dengan 11 band kolektif yang tampil secara acak berdasar hompimpa.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya